Minggu, 25 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Pdt. Heberth Wahilaitwan Ajak Jemaat GBI Milos Setia Mengikut Tuhan

Oleh: Johanis Kopong

 

Belajar dari Istri Lot, Jemaat Diajak Fokus kepada Tuhan

Baca juga: Polres Kepulauan Tanimbar Kawal Kunjungan Uskup Diosis Amboina ke Sifnana

Saumlaki | suaraanaknegeri.com – Minggu, 25 Oktober 2026. Jemaat Gereja Bethel Indonesia (GBI) Miracle of the Lord in Solafide (Milos) Saumlaki mengikuti ibadah raya Minggu di gedung gereja yang berlokasi di Jalan Ir. Soekarno, Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Minggu (25/10/2026). Ibadah berlangsung dalam suasana sukacita melalui pujian, penyembahan, pemberitaan firman Tuhan, serta doa bersama.

Penyembahan dipandu oleh pelayan Tuhan, Ibu Ani Boritnaban, didukung tim singer dan pemusik yang mengiringi pujian dengan keyboard, drum, dan gitar. Lagu-lagu rohani mengantar jemaat untuk mempersiapkan hati, menaikkan syukur, dan bersekutu dalam hadirat Tuhan.

Belajar dari Istri Lot: Tetap Setia kepada Tuhan

Firman Tuhan disampaikan oleh Gembala Jemaat GBI Milos Saumlaki, Pdt. Heberth S. Wahilaitwan, S.Th. Dalam khotbahnya, ia mengajak jemaat untuk tetap setia kepada Tuhan, tidak terikat pada kehidupan masa lalu, serta terus mengarahkan pandangan kepada Tuhan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Baca juga: BRI Insurance Salurkan Santunan Klaim Marine Hull Rp130,5 Juta kepada Nasabah BRI Saumlaki

Pesan tersebut merujuk pada Lukas 17:30–32, khususnya peringatan Yesus agar umat mengingat istri Lot. Dalam Lukas 17:32 tertulis, “Ingatlah akan isteri Lot!”

Peringatan ini menjadi pengingat bagi orang percaya agar tidak membiarkan keterikatan pada kehidupan lama menghambat langkah iman. Kisah istri Lot dalam Kejadian 19:26 menceritakan bahwa ia menoleh ke belakang ketika sedang meninggalkan tempat yang diperintahkan Tuhan untuk ditinggalkan, lalu menjadi tiang garam.

Melalui kisah tersebut, jemaat diajak untuk belajar mengambil keputusan dengan iman, meninggalkan hal-hal yang menghambat pertumbuhan rohani, dan tetap melangkah dalam ketaatan kepada Tuhan.

Kemarahan Bukan Jalan Keluar dari Persoalan

Dalam khotbahnya, Pdt. Heberth juga mengingatkan bahwa kemarahan dan sikap terus-menerus mempersoalkan pengalaman masa lalu tidak memberikan jalan keluar bagi kehidupan.

Pesan yang ditekankan ialah pentingnya menjaga hati agar tidak dikuasai kekecewaan, kepahitan, maupun pengalaman yang menyakitkan. Menurut pokok khotbah tersebut, apabila seseorang terus memusatkan perhatian pada masa lalu, langkahnya dapat terhambat dan hubungannya dengan Tuhan pun dapat terganggu.

Sebaliknya, orang percaya diajak untuk memandang ke depan, memercayai janji Tuhan, serta menjalani kehidupan dengan pengharapan.

Pdt. Heberth turut menekankan bahwa perjalanan iman membutuhkan pengorbanan, konsentrasi, komitmen, dan fokus. Hal itu juga berlaku dalam pelayanan gereja, yang menuntut kesetiaan meskipun tidak selalu disertai penghargaan atau tanggapan positif dari orang lain.

Memandang kepada Tuhan dan Berpegang pada Pengharapan

Selain kisah istri Lot, khotbah tersebut merujuk pada Bilangan 21:8–9 tentang ular tembaga yang diperintahkan Tuhan kepada Musa untuk ditaruh pada sebuah tiang.

Dalam peristiwa itu, orang Israel yang dipagut ular diminta memandang ular tembaga tersebut agar tetap hidup. Kisah ini kemudian dihubungkan dengan Yohanes 3:14–15, yang berbicara tentang Anak Manusia yang harus ditinggikan supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup yang kekal.

Melalui rangkaian ayat tersebut, jemaat diarahkan untuk memahami pentingnya memandang kepada Tuhan Yesus, percaya kepada-Nya, dan menjadikan salib sebagai pengingat akan karya keselamatan serta panggilan untuk hidup dalam pertobatan.

Pesan ini sekaligus mengajak jemaat agar tidak berhenti pada persoalan yang sedang dihadapi, tetapi terus memelihara iman dan pengharapan kepada Tuhan.

Pelayanan yang Setia Tidak Pernah Sia-Sia

Salah satu bagian penting dalam khotbah ialah kesaksian mengenai perjuangan para misionaris yang menghadapi penolakan dan kesulitan ketika memberitakan Injil di wilayah Afrika. Dalam kisah yang disampaikan, pelayanan tersebut tidak langsung memperlihatkan hasil yang besar. Para misionaris menghadapi keterbatasan, penyakit, dan keadaan yang menguji ketekunan mereka.

Namun, kisah itu digunakan untuk menegaskan bahwa hasil pelayanan tidak selalu dapat dilihat pada saat seseorang sedang melayani. Benih firman Tuhan yang ditaburkan hari ini dapat bertumbuh dan menghasilkan buah pada waktu yang tidak disangka-sangka.

Pesan tersebut menjadi refleksi bagi jemaat dan para pelayan Tuhan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi penolakan, kekecewaan, atau keadaan yang terasa berat.

Pelayanan bukan semata-mata tentang jumlah orang yang hadir, besarnya bangunan gereja, maupun pengakuan dari sesama. Lebih dari itu, pelayanan merupakan bentuk kesetiaan kepada Tuhan yang hasil akhirnya berada dalam rencana dan waktu-Nya.

“Tidak pernah akan sia-sia kita,” demikian inti pesan yang ditekankan dalam khotbah tersebut.

Karena itu, jemaat diajak untuk tetap bertekun dalam doa, mengampuni mereka yang pernah menyakiti, dan tidak membiarkan pengalaman buruk menghentikan langkah pelayanan.

Berharap pada Pertumbuhan Gereja dan Generasi Berikutnya

Pdt. Heberth juga menyampaikan harapan agar pelayanan yang dibangun dengan doa, kerja keras, dan pengorbanan dapat terus bertumbuh pada masa mendatang.

Ia mengajak jemaat untuk tidak mengukur masa depan pelayanan hanya berdasarkan keadaan gereja saat ini. Menurut pesan khotbah tersebut, Tuhan dapat memakai generasi berikutnya untuk melanjutkan pekerjaan pelayanan, mengembangkan persekutuan, serta menjangkau lebih banyak orang melalui pemberitaan firman Tuhan.

Harapan itu menjadi dorongan agar keluarga-keluarga jemaat terus mendoakan anak-anak mereka, memberikan teladan iman, dan membuka diri terhadap panggilan Tuhan dalam kehidupan masing-masing.

Dengan demikian, kesetiaan dalam pelayanan hari ini dapat menjadi bagian dari fondasi bagi pertumbuhan rohani pada masa depan.

Jemaat Diajak Menjadi Kristen yang Bertumbuh dalam Iman

Menutup pemberitaan firman, jemaat kembali diingatkan untuk tidak sekadar menjalani kehidupan sebagai orang Kristen secara biasa-biasa saja, tetapi terus bertumbuh dalam iman, memiliki kerinduan yang mendalam kepada Tuhan, dan menunjukkan kesetiaan melalui kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut menegaskan pentingnya meninggalkan keterikatan pada masa lalu, memandang kepada Tuhan Yesus, dan terus berjalan dalam pengharapan meskipun menghadapi tantangan.

Setelah pemberitaan firman, ibadah dilanjutkan dengan persembahan. Worship leader, mewakili jemaat, menyampaikan terima kasih kepada Pdt. Heberth S. Wahilaitwan atas pelayanan firman Tuhan yang telah disampaikan.

“Atas nama jemaat, kami mengucapkan terima kasih kepada hamba Tuhan yang telah memberkati kami dengan kebenaran firman Tuhan,” ungkapnya.

Ibadah Ditutup dengan Doa dan Berkat

Dalam penyampaian informasi jemaat, Gembala bersama staf pelayan menyampaikan selamat datang kepada jemaat yang baru pertama kali mengikuti ibadah di GBI Milos Saumlaki. Jemaat juga dipersilakan kembali beribadah pada kesempatan berikutnya.

Informasi mengenai jadwal ibadah kelompok sel atau komsel disampaikan melalui grup WhatsApp masing-masing komsel.

Ibadah kemudian ditutup dengan doa dan berkat oleh Gembala Jemaat GBI Milos Saumlaki, Pdt. Heberth S. Wahilaitwan, S.Th.

Usai ibadah, jemaat saling berjabat tangan dan meninggalkan gedung gereja dengan sukacita.

Melalui ibadah Minggu tersebut, jemaat diingatkan kembali bahwa perjalanan iman membutuhkan kesetiaan, pengampunan, pengorbanan, dan ketekunan. Masa lalu tidak seharusnya menjadi penghalang untuk melangkah bersama Tuhan, sebab setiap benih pelayanan yang ditaburkan dengan iman memiliki makna dalam rencana-Nya.

Tuhan Yesus memberkati.

(Sumber: Narasi ibadah dan khotbah GBI Milos Saumlaki, Minggu, 25 Oktober 2026.)

Kategori:
Tags:

Terkini