Minggu, 25 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

RD Ponsianus Ongirwalu: Dari Anak Nakal Menjadi Hamba Tuhan

Oleh: Johanis Kopong

​

​RD Ponsianus Ongirwalu: Setia Melayani di Tanah Perbatasan, Peziarahan Iman dan Pelayanan di Keuskupan Amboina

Baca juga: Polres Kepulauan Tanimbar Kawal Kunjungan Uskup Diosis Amboina ke Sifnana

​Saumlaki | suaraanaknegeri.com – Minggu, 25 Oktober 2026. Perjalanan hidup dan panggilan imamat RD Ponsianus Ongirwalu menjadi kesaksian tentang rahmat Tuhan yang bekerja melalui keterbatasan manusia. Berangkat dari keluarga petani sederhana, ia mengakui bahwa masa kecil dan remajanya tidak selalu berjalan sesuai harapan. Namun, melalui perjalanan panjang kehidupan, doa orang tua, dan panggilan Tuhan, langkahnya akhirnya tertuju pada altar dan pelayanan Gereja.

​Dalam sharing iman memperingati 22 tahun imamatnya, RD Ponsianus merefleksikan perjalanan hidup yang dipenuhi tantangan, pengorbanan, kehilangan, sekaligus pengalaman akan kasih Tuhan. Baginya, imamat bukanlah hasil kehebatan pribadi, melainkan buah rahmat dan belas kasih Allah.

​Ayat Kitab Suci yang menjadi pegangan hidupnya diambil dari Injil Lukas 1:38, ketika Maria berkata:

Baca juga: BRI Insurance Salurkan Santunan Klaim Marine Hull Rp130,5 Juta kepada Nasabah BRI Saumlaki

​”Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu.”

​Ungkapan tersebut menjadi dasar bagi RD Ponsianus untuk terus menjalani panggilan imamat dengan kerendahan hati dan kesediaan menerima kehendak Tuhan.

​Dari Anak Petani Menuju Altar Tuhan

​RD Ponsianus mengenang masa kecilnya sebagai anak petani yang tumbuh dalam kesederhanaan, di tengah kerja keras dan doa orang tuanya. Ia tidak menutupi kenyataan bahwa dirinya pernah dikenal sebagai anak yang nakal dan kerap membuat orang tua kecewa.

​Namun, pengalaman masa lalu itu tidak menjadi penghalang bagi perjalanan panggilannya. Dalam refleksinya, ia melihat bagaimana Tuhan tetap memandang manusia dengan belas kasih, bahkan ketika manusia masih bergumul dengan kelemahan dan keterbatasan dirinya.

​Dari kehidupan keluarga petani yang sederhana, ia kemudian melangkah menuju jalan imamat. Perjalanan itu menjadi pengingat bahwa panggilan Tuhan dapat bertumbuh dari kehidupan yang biasa, selama seseorang bersedia membuka hati dan menanggapi rahmat-Nya.

​Menembus Lautan dan Melayani Umat di Pulau-Pulau

​Menjadi imam Keuskupan Amboina berarti bersedia menjalani perutusan di wilayah kepulauan dengan kondisi geografis yang menantang. Dalam perjalanan pelayanannya, RD Ponsianus pernah bertugas di sejumlah wilayah, mulai dari Kepulauan Kei, Namrole dan Leksula di Pulau Buru, Jailolo di Halmahera Barat, hingga Sanana, Faobasaha, dan Taliabu yang disebutnya sebagai wilayah Talimas.

​Di berbagai tempat tersebut, ia menghadapi kenyataan pelayanan yang tidak selalu mudah. Perjalanan laut, medan yang sulit dijangkau, keterbatasan fasilitas kesehatan, serta kondisi sosial yang penuh dinamika menjadi bagian dari pengalaman perutusannya.

​Ia mengenang pengalaman ketika tubuh dilanda kelelahan, menghadapi lapar dan haus dalam perjalanan menggunakan perahu motor, serta merasakan kecemasan ketika ketegangan dan kerusuhan terjadi di wilayah pelayanan.

​Meski demikian, pengalaman tersebut tidak hanya menghadirkan kesulitan. Ia juga belajar mengenai arti kehadiran seorang imam di tengah masyarakat yang beragam, termasuk ketika melayani komunitas dengan mayoritas penduduk Muslim.

​Baginya, pelayanan tidak berhenti pada penyampaian khotbah atau pengajaran iman. Lebih dari itu, pelayanan harus diwujudkan melalui persaudaraan yang tulus, penghormatan terhadap perbedaan, pemeliharaan toleransi, dan kasih kepada sesama.

​Menemukan Kehangatan Iman di Tanah Tanimbar

​Perjalanan imamat RD Ponsianus kemudian membawanya ke Kabupaten Kepulauan Tanimbar, tanah yang dikenal dengan nilai persaudaraan dan kearifan lokal Duan Lolat.

​Lima Tahun Bersama Umat Paroki Santo Petrus dan Paulus Lorulun

​Pada 2017–2022, RD Ponsianus menjalankan tugas pelayanan di Paroki Santo Petrus dan Paulus, Lorulun. Selama lima tahun, ia mengalami kedekatan dengan umat yang menyambut pelayanan pastor dengan ketulusan, meskipun sebagian hidup dalam keterbatasan ekonomi.

​Ia menyaksikan bagaimana iman, persaudaraan, dan tradisi lokal menjadi bagian penting dalam kehidupan umat. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam sekaligus memperkaya pemahamannya mengenai makna pelayanan pastoral.

​Di tengah kesederhanaan umat, ia menemukan kekuatan iman yang tidak selalu tampak melalui kata-kata, tetapi hadir dalam sikap saling menerima, membantu, dan menguatkan.

​Melanjutkan Perutusan di Paroki Hati Kudus Yesus Olilit Barat

​Sejak 2023 hingga saat sharing iman ini disampaikan, RD Ponsianus melanjutkan tugas pelayanan di Paroki Hati Kudus Yesus, Olilit Barat.

​Di tempat ini, ia kembali meneguhkan komitmen untuk menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari umat. Anak-anak, kaum muda, orang tua, serta mereka yang mengalami keterbatasan dan tersisih menjadi bagian dari perhatian pelayanan pastoralnya.

​Baginya, spiritualitas Hati Kudus Yesus mengajak setiap pelayan Gereja untuk memiliki hati yang terbuka, peka terhadap penderitaan, serta bersedia hadir bagi mereka yang membutuhkan perhatian dan penguatan.

​Pelayanan pastoral bukan semata-mata menjalankan tugas kelembagaan Gereja, melainkan menghadirkan kasih Tuhan secara nyata di tengah kehidupan masyarakat.

​Kehilangan Orang Tua, Duka yang Menjadi Bagian dari Peziarahan

​Di balik perjalanan pelayanan yang panjang, RD Ponsianus juga menghadapi pengalaman kehilangan yang mendalam. Kedua orang tuanya, yang telah membesarkan dan mendukungnya dalam kesederhanaan, akhirnya dipanggil kembali ke rumah Bapa.

​Sebagai anak petani, ia mengenang pengorbanan orang tuanya dengan rasa haru. Keringat, doa, dan perjuangan mereka menjadi bagian penting dari perjalanan hidup yang membawanya hingga menjadi seorang imam.

​Kepergian orang tua menghadirkan kerinduan yang tidak mudah diungkapkan. Namun, di tengah panggilan untuk melayani Gereja dan umat, ia belajar menerima kehilangan dengan iman dan ketulusan.

​Dalam refleksinya, RD Ponsianus memaknai perjalanan tersebut sebagai bagian dari misteri kehidupan yang harus dijalani dengan penyerahan diri kepada Tuhan. Ia percaya bahwa kasih dan pengorbanan orang tuanya tetap menjadi warisan berharga yang menyertai langkah pelayanannya.

​Bunda Maria dan Tuhan Yesus, Sumber Kekuatan Imamat

​Di tengah berbagai tantangan, RD Ponsianus menempatkan doa dan relasi pribadi dengan Tuhan sebagai sumber kekuatan utama untuk bertahan dalam panggilan imamat.

​Ketika tubuh lelah, perjalanan terasa berat, atau hati diliputi kesedihan, ia kembali bersandar pada Tuhan Yesus dan memohon penyertaan Bunda Maria. Doa menjadi ruang untuk menemukan ketenangan, memperbarui semangat, dan meneguhkan kembali komitmen pelayanan.

​Dalam sharing imannya, ia mengungkapkan bahwa kekuatan untuk terus melayani bersumber dari Bunda Maria dan Tuhan Yesus.

​Ayat Lukas 1:38 kembali menjadi pegangan yang menuntunnya untuk menerima setiap tugas perutusan dengan rendah hati:

​”Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu.”

​Semangat penyerahan diri Maria menjadi teladan baginya. Seperti Maria yang menerima kehendak Allah, ia pun berusaha menjawab panggilan Tuhan dengan kesediaan untuk pergi dan melayani di mana pun dibutuhkan.

​Baginya, bukan berarti terbebas dari rasa lelah, kesedihan, atau kelemahan manusiawi. Sebaliknya, imamat mengajarkan bagaimana tetap setia ketika keadaan tidak selalu mudah dan bagaimana menemukan kekuatan melalui doa serta kepercayaan kepada penyelenggaraan ilahi.

​Imamat sebagai Kesaksian Kasih dan Kesetiaan

​Merefleksikan 22 tahun perjalanan imamat, RD Ponsianus Ongirwalu memandang seluruh pengalaman hidup dan pelayanannya sebagai karya rahmat Tuhan. Dari kehidupan keluarga petani, perjalanan pelayanan di berbagai pulau, hingga pengabdiannya di Lorulun dan Olilit Barat, setiap pengalaman menjadi bagian dari pembentukan dirinya sebagai pelayan Gereja.

​Ia menyadari bahwa perjalanan tersebut bukan tentang pencapaian pribadi, melainkan tentang kesediaan untuk terus menjawab panggilan Tuhan.

​Selama masih diberi kesehatan dan kesempatan, semangat perutusannya tetap diarahkan untuk melayani umat, menghadirkan kasih Hati Kudus Yesus, serta meneladani kerendahan hati Bunda Maria.

​Perjalanan dari seorang anak yang pernah dikenal nakal menjadi seorang imam merupakan kesaksian bahwa masa lalu tidak harus menentukan seluruh masa depan seseorang. Dalam iman, manusia selalu memiliki kesempatan untuk bertumbuh, berubah, dan menjadi sarana kasih Tuhan bagi sesama.

​Dengan ungkapan syukur, RD Ponsianus menutup refleksinya melalui kata-kata, “Deo Gratias”, yang berarti syukur kepada Allah.

​Ia juga menyampaikan ungkapan dalam bahasa lokal yang ditulisnya: ​”RATU NORKIT MONUK DEDESAR. UBILAA NORANG ITA DIDTINEMUN. KIDABELA. SYALOM – SALVE.”

​Ungkapan tersebut menjadi bagian dari penutup sharing iman yang menandai rasa syukur atas perjalanan panggilan dan pelayanan yang telah dilaluinya.

​Bagi RD Ponsianus Ongirwalu, 22 tahun imamat bukanlah garis akhir, melainkan bagian dari peziarahan panjang untuk terus setia kepada Tuhan dan melayani umat-Nya. ​Deo Gratias.

​(Sumber: Sharing Iman RD Ponsianus Ongirwalu, peringatan 22 tahun imamat)

Kategori:
Tags:

Terkini