Minggu, 25 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Uskup Diosis Amboina, Mgr. Seno Ngutra, Pr., Ajak Penerima Krisma Menjadi Terang bagi Sesama

oleh: Johanis Kopong

​

​Uskup Diosis Amboina, Mgr. Seno Ngutra, Pr., Tegaskan Makna Pelayanan dan Sakramen Krisma

Baca juga: Polres Kepulauan Tanimbar Kawal Kunjungan Uskup Diosis Amboina ke Sifnana

​Saumlaki | suaraanaknegeri.com – Minggu, 25 Oktober 2026 — Umat Katolik diajak untuk semakin menghayati iman melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan Uskup Diosis Amboina, Mgr. Seno Ngutra, Pr., dalam perayaan Ekaristi Kudus di Paroki Tri Tunggal Maha Kudus Sifnana, yang dirangkaikan dengan penerimaan Sakramen Penguatan atau Krisma bagi 68 umat, peringatan 25 tahun tahbisan imamat seorang imam, empat tahun tahbisan episkopal Uskup Amboina, serta penetapan sebuah kuasi paroki menjadi paroki definitif.

​Dalam suasana penuh syukur, perayaan tersebut menjadi momentum pembaruan iman sekaligus peneguhan panggilan umat untuk menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, lingkungan gereja, dan masyarakat.

​Sakramen Krisma dan Peneguhan Kehidupan Menggereja

​Dalam sambutannya, Mgr. Seno Ngutra mengajak umat untuk mensyukuri kehadiran Tuhan dalam kehidupan mereka. Ia menekankan bahwa penerimaan Sakramen Krisma bukan sekadar peristiwa seremonial, melainkan bagian dari perjalanan iman yang membawa tanggung jawab perutusan.

Baca juga: BRI Insurance Salurkan Santunan Klaim Marine Hull Rp130,5 Juta kepada Nasabah BRI Saumlaki

​“Anak-anak kita akan menerima urapan Roh Kudus. Mereka akan diutus untuk menjadi pewarta, tetapi terlebih menjadi saksi Kristus di tengah kehidupan,” ungkapnya.

​Menurut Uskup, tugas perutusan tersebut membutuhkan tempat untuk bertumbuh, memperoleh pembekalan, serta mendapatkan kekuatan rohani. Dalam konteks kehidupan menggereja, paroki memiliki peran penting sebagai tempat umat membangun persekutuan dan memperkuat iman.

​Ia menjelaskan bahwa paroki bukan hanya sebuah struktur administratif gereja, melainkan rumah rohani bagi umat untuk bertumbuh dalam kasih dan pelayanan.

​“Kuasi paroki hari ini diangkat statusnya menjadi paroki. Paroki adalah rumah kedua bagi umat beriman setelah rumah Anda masing-masing. Di tempat inilah seorang pewarta harus mendapatkan kekuatan, mendapatkan bekal agar dia tetap menjalankan tugas perutusan yang dipercayakan kepadanya,” tuturnya.

​Menjadi Terang melalui Kesaksian Nyata

​Dalam homilinya, Mgr. Seno Ngutra mengangkat gambaran pelita yang ditempatkan pada kaki dian agar dapat menerangi semua orang di dalam rumah. Gambaran tersebut digunakan untuk menjelaskan panggilan setiap orang beriman agar menghadirkan kebaikan di tengah kehidupan.

​Ia mengaitkan pesan Injil itu dengan ungkapan yang populer di kalangan anak muda, yakni “menyala”, sebagai ajakan agar para penerima Krisma tidak hanya bersemangat dalam perayaan, tetapi juga memperlihatkan perubahan melalui perilaku sehari-hari.

​“Ada slogan yang beberapa waktu lalu didengungkan oleh anak-anak muda, ‘menyala’. Hari ini mau dikatakan menyala, krismawan dan krismawati. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara Anda menyalakan pelita itu? Dan di mana Anda harus bernyala?” katanya.

​Uskup kemudian mengingatkan bahwa terang iman tidak cukup ditunjukkan melalui perkataan. Kesaksian itu harus terlihat dalam tindakan, kedisiplinan, kesopanan, kerajinan, dan kepedulian terhadap sesama.

​Menurutnya, seseorang dapat menjadi terang bagi orang lain ketika kehadirannya membawa kedamaian, perkataannya membangun, dan perbuatannya mencerminkan nilai-nilai Kristiani.

​Belajar dari Pelayanan Para Imam

​Untuk memperjelas makna pelayanan, Mgr. Seno Ngutra menceritakan pengalaman para imam yang melayani umat di wilayah Kei Besar. Dalam kunjungan pastoral tersebut, para imam menghadapi kondisi geografis yang menantang, dengan jalan berbatu dan medan yang naik turun.

​Namun, tantangan itu tidak menghalangi mereka untuk mengunjungi keluarga-keluarga umat, memasuki rumah-rumah, mendoakan, serta memberikan berkat.

​Bagi Uskup, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan tidak hanya berlangsung di dalam gereja, tetapi juga melalui kehadiran langsung bersama umat, terutama mereka yang membutuhkan pendampingan.

​Ia menegaskan bahwa tugas perutusan bukan hanya menjadi tanggung jawab para imam, biarawan, dan biarawati. Setiap orang yang telah dibaptis juga memiliki panggilan untuk mengambil bagian dalam karya pewartaan.

​Karena itu, para penerima Krisma diharapkan memahami bahwa menjadi saksi Kristus dapat dimulai dari lingkungan terdekat, tanpa harus menunggu kesempatan untuk melakukan pelayanan besar.

​Memulai Misi dari Rumah dan Keluarga

​Uskup Amboina juga mengajak para penerima Krisma untuk menjadikan keluarga sebagai tempat pertama dalam mewujudkan iman.

​Ia mengingatkan agar kaum muda menunjukkan perubahan nyata setelah menerima Sakramen Penguatan, baik dalam hubungan dengan orang tua, saudara, pasangan, maupun anak-anak mereka.

​“Tidak harus Anda menjadi misionaris atau harus pergi ke Afrika atau Amerika atau ke Eropa. Tidak perlu. Kalau pergi, syukur kepada Allah. Tapi kalau tidak, maka mulailah menjadi seorang misionaris di rumah masing-masing,” pesannya.

​Menurut Mgr. Seno Ngutra, kesaksian iman di rumah dapat terlihat melalui sikap jujur, kesopanan, kerajinan, dan tutur kata yang membuat orang lain merasa nyaman.

​Ia mengajak para penerima Krisma agar kehadiran mereka membawa suasana yang baik di lingkungan keluarga, kelompok umat, sekolah, maupun tempat kerja.

​Dengan demikian, pembaruan melalui Roh Kudus tidak berhenti pada penerimaan sakramen, tetapi terus diwujudkan dalam sikap hidup sehari-hari.

​Melakukan Hal Kecil dengan Cinta yang Besar

​Dalam homili tersebut, Uskup juga mengutip teladan Santa Teresa dari Kalkuta yang menekankan pentingnya melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.

​Pesan ini menjadi penegasan bahwa pelayanan tidak selalu harus berupa pekerjaan besar atau tindakan yang menarik perhatian banyak orang. Hal sederhana yang dilakukan dengan tulus pun memiliki arti bagi sesama.

​Ia memberikan contoh melalui tindakan sehari-hari, seperti memenuhi permintaan orang tua dengan sukacita dan membantu orang lain tanpa mengeluh.

​“Tidak semua orang dapat melakukan hal-hal yang luar biasa. Tetapi Santa Teresa dari Kalkuta percaya bahwa Anda masing-masing, krismawan dan krismawati, dapat melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar,” ungkapnya.

​Melalui pesan tersebut, para penerima Krisma diharapkan mampu menjadikan kasih sebagai dasar dalam setiap tindakan, sehingga iman yang mereka hidupi dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

​Sebanyak 68 Umat Dipersiapkan Menerima Sakramen Krisma

​Rangkaian perayaan dilanjutkan dengan ritus penerimaan Sakramen Penguatan yang diawali dengan pengajuan para calon oleh perwakilan Dewan Pastoral Paroki.

​Dalam penyampaian yang tercatat pada transkripsi, perwakilan pastoral menyampaikan bahwa sebanyak 68 calon telah dipersiapkan oleh pastor paroki dan para pembina untuk menerima Sakramen Krisma.

​“Kami mengantar keluarga kami sebanyak 68 keluarga calon yang ingin menerima Sakramen Krisma. Mereka telah disiapkan dengan saksama oleh Pastor Paroki dan para pembina. Menurut pengamatan kami, mereka layak dan pantas untuk menerima Sakramen Krisma sebagai inisiasi dan dengan demikian dikukuhkan dalam Gereja Kristus,” demikian bagian pernyataan yang terekam dalam narasi.

​Permohonan tersebut menjadi bagian dari proses liturgi untuk meneguhkan kesiapan para calon menerima Sakramen Penguatan.

​Selanjutnya, umat diajak untuk bersama-sama memohon kehadiran Roh Kudus melalui nyanyian liturgi “Datanglah, Ya Roh Pencipta”.

​Penutup: Iman yang Menjadi Kesaksian

​Pesan utama Mgr. Seno Ngutra dalam perayaan tersebut menegaskan bahwa Sakramen Krisma membawa panggilan untuk semakin dewasa dalam iman dan bertanggung jawab atas kehidupan sebagai umat Kristiani.

​Menjadi terang tidak selalu dimulai dari panggung besar atau pelayanan di tempat yang jauh. Panggilan itu dapat diwujudkan melalui kejujuran, kerajinan, kesopanan, kepedulian, serta kasih yang diberikan kepada keluarga dan sesama.

​Dengan menerima Sakramen Penguatan, para krismawan dan krismawati diharapkan semakin berani menghadirkan nilai-nilai Kristus dalam kehidupan sehari-hari, sehingga iman tidak hanya diucapkan, tetapi juga terlihat melalui perbuatan nyata.

​(Sumber: Perayaan Ekaristi Kudus dan homili Uskup Diosis Amboina, Mgr. Seno Ngutra, Pr.,)

Kategori:
Tags:

Terkini