Puisi Humoris untuk H. Muhammad Yusuf alias Siman
Oleh: Akaha Taufan Aminudin
–
Baca juga: Leni Marlina's Bilingual Poems "The Heart's Activation Energy" ("Energi Aktivasi Hati")
Dulu namanya Siman,
anak Batu yang suka bermain,
sekarang dipanggil Haji Yusuf,
wah… gelarnya sudah naik level,
tetapi kalau ketemu konco lama,
tetap saja: “Man!”
Lima puluh tahun lebih berlalu,
rambut memutih, langkah agak pelan,
tetapi kalau urusan reuni,
semangatnya jangan ditanya,
lebih cepat daripada grup WhatsApp
ketika ada kabar:
“Kopi gratis, dulur!”
Dari Batu pergi merantau,
sampai Magelang membuat bangunan,
kampus berdiri, masjid berdiri,
pesantren pun ikut berdiri.
Baca juga: Di Mimbar Doa, Di Persimpangan Peradaban
Piagam datang bertubi-tubi,
disimpan rapi menjadi bukti.
Teman bertanya:
“Man, piagam kok akeh?”
Siman menjawab santai:
“Ya piagamé kerja,
dudu hasil lomba makan kerupuk!”
Ada piagam tahun dua ribu sebelas,
ada lagi tahun dua ribu lima belas,
tahun dua ribu dua puluh pun datang,
dua ribu dua puluh tiga ikut bertandang.
Kalau semuanya dipajang di ruang tamu,
tamu belum tentu sempat duduk,
sudah membaca dari pintu
sampai sandal di depan rumah.
“Wah, hebat!”
Siman cuma tersenyum:
“Sing penting bangunane isih ngadeg.”
—
Pagi-pagi di Masjid An-Nur,
habis Subuh bertemu Taufan,
yang dicari bukan jabatan,
bukan proyek,
bukan urusan tender,
yang dicari:
“Konco TK endi?”
Lalu pelukan.
“Man, kowe tambah tua!”
“Lha sampeyan piye?”
“Ya podo!”
Akhirnya keduanya sepakat:
umur boleh naik,
tetapi kenangan jangan pensiun.
—
Lalu pindah ke Lorong Ketan,
kopi datang, ketan datang,
STMJ juga ikut bergabung.
Taufan bertanya:
“Man, reuni berikutnya kapan?”
Siman menjawab:
“Jangan lima puluh tahun lagi!”
Semua tertawa.
Karena kalau lima puluh tahun lagi,
yang hadir mungkin bukan alumni,
tetapi foto alumni.
—
Kemudian Siman berkata:
“Reuni harus bikin buku!”
Teman-teman terdiam.
“Buku apa?”
“Buku tentang kita.”
“Isinya apa?”
“Nama, alamat, pekerjaan,
foto, cerita, pengalaman…”
Ada yang nyeletuk:
“Termasuk utang waktu sekolah?”
Siman langsung menjawab:
“Itu masuk lampiran rahasia!”
—
Begitulah Wong Mbatu.
Merantau boleh jauh,
membangun boleh banyak,
piagam boleh bertumpuk,
tetapi ketika pulang ke Batu,
Siman tetap Siman.
Teman TK tetap teman TK.
Ketan tetap ketan.
Kopi tetap kopi.
Dan cerita masa kecil
tidak pernah kalah
oleh usia.
Maka tulislah biografinya.
Bukan supaya Siman terlihat hebat,
tetapi supaya generasi berikutnya tahu:
pernah ada seorang Wong Mbatu
yang pergi membawa mimpi,
pulang membawa karya,
dan tetap membawa humor
agar hidup tidak terlalu serius.
Terus bergerak,
terus berkarya,
terus tertawa—
sepanjang masa bahagia!





