BIAK, PAPUA – SUARA ANAK NEGERI. Senandung iman dan keindahan keberagaman budaya Papua berpadu dalam suasana khidmat Misa Penutupan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) II Tingkat Provinsi Papua di Gereja Paroki Santa Maria Biak, Sabtu (31/10/2026). Di bawah naungan rumah Tuhan, ratusan umat dari berbagai kabupaten dan kota berkumpul, menyatukan hati dalam doa, pujian, dan ungkapan syukur setelah seluruh rangkaian perayaan Pesparani berlangsung.
Sekitar 500 umat diperkirakan mengikuti perayaan Ekaristi tersebut. Mereka terdiri atas para kontingen kabupaten/kota se-Provinsi Papua serta umat dari Paroki Santa Maria dan Paroki Kerahiman Ilahi Biak.
Misa dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Jayapura, RD. Barnabas Daryana, sebagai selebran utama, bersama sebelas imam lainnya dari Keuskupan Amboina dan Keuskupan Bogor. Kehadiran dua belas imam dalam perayaan ini menjadi tanda nyata bahwa persaudaraan Gereja tidak dibatasi oleh wilayah, suku, maupun batas-batas geografis.
Baca juga: BENARKAH STATUS BENCANA NASIONAL BISA MEMBEBASKAN KONGLOMERAT DARI JERAT HUKUM KEBAKARAN HUTAN?
Perayaan Ekaristi diawali dengan perarakan yang diiringi tarian etnik Papua. Nuansa budaya semakin terasa melalui tarian perarakan dengan budaya Papua, tarian persembahan tarian etnik Tanimbar, yang menghadirkan kekayaan tradisi Nusantara di tengah perayaan iman dan tarian penutup dengan tarian asal etnik Batak. Sementara itu, Paduan Suara Pesparani II Biak Numfor bersama Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santa Maria dan Paroki Kerahiman Ilahi mempersembahkan puji-pujian yang menghidupkan suasana liturgi.
Di dalam rumah Tuhan, perbedaan bahasa, warna budaya, dan asal daerah seolah melebur menjadi satu alunan. Setiap gerak tari menjadi ungkapan syukur, setiap suara menjadi persembahan, dan setiap doa menjadi jembatan yang mempertemukan umat dalam satu keluarga Allah.
Rosario: Dari Perbedaan Menuju Harmoni Persaudaraan
Baca juga: KETIKA SUARA MENJADI DOA: KEEROM MENGGEMA DI PUNCAK MAZMUR DEWASA PESPARANI II PAPUA
Dalam homilinya, RD. Barnabas Daryana mengajak umat merenungkan pesan Injil tentang Sabda Bahagia sebagaimana tertulis dalam Injil Matius 5:1–12. Yesus mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan semata-mata terletak pada kekayaan, kekuasaan, atau kemegahan duniawi, melainkan pada kemiskinan di hadapan Allah, kelemahlembutan, kemurahan hati, kesucian hati, perjuangan menegakkan kebenaran, dan keberanian membawa damai.
Sabda Bahagia itu, menurut refleksi homili, bukan saja rangkaian kata suci yang didengar dalam liturgi, melainkan jalan hidup yang harus diwujudkan dalam keluarga, lingkungan kerja, Gereja, dan masyarakat.
Menghubungkan bacaan Kitab Suci dengan tema persatuan, ia mengingatkan bahwa Papua merupakan rumah bagi begitu banyak suku, bahasa, dan tradisi. Keberagaman itu bukan alasan untuk terpisah, melainkan kekayaan yang dapat dipersatukan oleh iman dan kasih.
Ia mengangkat gambaran dalam bacaan pertama tentang kumpulan besar orang banyak dari segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa yang berdiri di hadapan takhta Allah. Gambaran yang memperlihatkan wajah Gereja yang universal: satu dalam iman, tetapi kaya dalam bahasa, budaya, dan tradisi.
Dalam konteks itulah doa Rosario mendapat makna yang mendalam. Rosario bukan hanya doa pribadi, melainkan doa Gereja yang mempersatukan umat Katolik di seluruh dunia. Bersama Bunda Maria, umat diajak merenungkan misteri kehidupan Yesus Kristus, mulai dari kelahiran, sengsara, wafat, kebangkitan, hingga kemuliaan-Nya.
Melalui permenungan dalam refleksi khotbahnya, umat dilatih untuk membangun kehidupan rohani yang semakin matang.
“Perbedaan bukan penghalang persatuan. Seperti nada-nada yang berbeda menjadi harmoni, demikian pula suku-suku, budaya, dan tradisi di Papua dapat menjadi satu keluarga Allah yang memuliakan Dia,” demikian pesan yang ditekankan dalam homili tersebut.
Pesan yang menemukan bentuk konkretnya dalam perayaan Pesparani II. Berbagai kontingen datang membawa identitas daerah masing-masing, tetapi ketika berdiri di hadapan altar, semuanya dipersatukan oleh satu iman kepada Kristus.
Tangan yang Suci dan Hati yang Jernih
Lebih jauh, RD. Barnabas mengajak umat merenungkan Mazmur Tanggapan tentang kerinduan manusia untuk mencari wajah Tuhan dan tinggal dalam rumah-Nya.
Siapakah yang layak menghadap Tuhan? Jawabannya adalah mereka yang memiliki tangan bersih dan hati yang murni.
Dalam refleksi itut, Rosario dipahami bukan saja sebuah pengulangan doa, melainkan perjalanan batin yang membentuk karakter dan kehidupan manusia. Pengulangan doa yang dilakukan dengan penuh kesadaran menjadi latihan rohani untuk menata pikiran, membersihkan hati, serta mengarahkan kehidupan kepada kehendak Allah.
Ia mengibaratkan pengulangan doa seperti ritme kehidupan manusia: bernapas, makan, tidur, dan bangun. Semua berlangsung berulang-ulang, tetapi keteraturan yang benar menjadikan kehidupan tetap terpelihara.
Demikian pula Rosario. Ketika didoakan dengan penghayatan, tidak saja diucapkan tanpa permenungan, doa itu menjadi jalan pembentukan iman.
Melalui Pesparani, umat tidak hanya mengenal lagu-lagu liturgi, termasuk kekayaan nyanyian Gregorian dan bahasa Latin, tetapi juga belajar memuji Tuhan serta membangun persekutuan sebagai Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik.
Pesan rohani itu tidak boleh berhenti di dalam gedung gereja. Tangan yang suci dan hati yang jernih harus tampak dalam kehidupan sehari-hari: di rumah, tempat kerja, lingkungan masyarakat, serta dalam hubungan antarsesama.
Anak-Anak Allah, Pewaris Kerajaan Surga
Mengakhiri refleksi Kitab Suci, homili menggarisbawahi pesan bacaan kedua dari Surat Pertama Yohanes tentang identitas umat beriman sebagai anak-anak Allah.
Melalui Sakramen Baptis, manusia diangkat menjadi anak-anak Allah sekaligus menerima panggilan untuk hidup sebagai ahli waris Kerajaan-Nya.
Identitas itu membawa tanggung jawab moral dan spiritual. Menjadi anak Allah berarti menghadirkan kasih, mengusahakan perdamaian, memperjuangkan kebenaran, serta menghormati sesama tanpa memandang latar belakang suku, bahasa, dan budaya.
Di tengah Papua yang kaya akan keberagaman, pesan itu menjadi semakin relevan. Persaudaraan tidak cukup hanya diucapkan dalam slogan, tetapi harus diwujudkan melalui sikap saling menerima, saling menghargai, dan berjalan bersama.
Ketika Pesparani Berakhir, Persaudaraan Terus Bernyanyi
Misa penutupan ini menjadi lebih dari penanda berakhirnya seluruh rangkaian Pesparani II Provinsi Papua. Ia menjadi ruang permenungan bahwa kemenangan terbesar sebuah perayaan iman bukan hanya terletak pada medali, piala, atau predikat juara, melainkan pada tumbuhnya persaudaraan di antara umat.
Dari Biak, pesan itu mengalir kepada seluruh Papua: bahwa perbedaan adalah anugerah, kebudayaan adalah kekayaan, dan iman merupakan kekuatan yang menyatukan.
Pesparani telah mempertemukan suara-suara dari berbagai daerah. Ada suara anak-anak, suara orang muda, suara para pemazmur, dan suara umat yang menyatu dalam pujian. Kini, setelah panggung perlombaan menjadi sunyi, tugas berikutnya justru dimulai: membawa semangat persatuan itu ke dalam kehidupan nyata.
Sebab, satu nada dapat menggetarkan telinga, tetapi satu iman yang diwujudkan dalam kasih mampu menyatukan hati.
Satu Nada, Satu Iman, Satu Papua.
Dari Biak, harmoni itu telah diperdengarkan. Semoga gema persaudaraannya terus hidup di seluruh Tanah Papua.



