/1/
Before You Become a Tree
Poem by Leni Marlina
—
Before you become a tree,
there comes a season
when chlorophyll
no longer believes
in light.
Photosynthesis conceals
its sugars
within the veins of stone,
while roots
find one another
yet no longer remember
the language of water.
Baca juga: KETIKA TEORI KEHILANGAN METODOLOGI: CATATAN KRITIS ATAS PEMBACAAN HAK ULAYAT DALAM POLEMIK ORYOIN
Perhaps it was then
that the earth
began, in secret,
to cultivate your body.
—
Padang, West Sumatra, Indonesia, 2026
—–
/2/
Spores Within Your Ribs
Poem by Leni Marlina
—
You lift your shoulders.
Your ribs are quietly
colonized by mycelium.
No one knocks.
Hyphae creep
through the spaces between osteocytes,
suturing the hollows
your name has never touched.
The mirror
forgets your face.
The moss does not.
Your heart
refuses colour.
It pumps
only spores.
Within the alveoli,
silence divides itself
faster than breath.
Your skin
remembers the earth.
Carbon escapes
without a sound.
Nothing falls.
What changes
is only the way your body
utters life.
Someone calls your name.
Your ribs are the first
to breathe out a forest.
—
Padang, West Sumatra, Indonesia, 2026
—-
/3/
The Tree of Fidelity
Poem by Leni Marlina
—
You have never truly stood still.
Slowly, xylem grows
through your joints,
carrying morning
toward the direction
known only
to the roots.
Each time the earth
rearranges its minerals,
you reorder the rings of your life
until the first fracture
still remembers
your footsteps.
Root hairs quietly emerge
from the soles of your feet.
They pass
through the pores of stone,
tasting the primordial salts,
then come to rest
at the very place
that once welcomed you.
–
Padang, West Sumatra, Indonesia, 2026
——
/4/
Beneath Your Epidermis
Poem by Leni Marlina
—
You don’t need searching
for where your body will end.
Beneath your epidermis,
chloroplasts long accustomed to fasting
gnaw at wavelengths
until green forgets
who first kindled its light.
Within the nucleus of every cell,
a single sequence keeps transcribing absence
more faithfully than any bloodline.
Mycorrhizae slip
through root hairs the earth itself
has not yet learned to recognize.
Minerals no longer fall
into stone.
They slowly pass
into your memory.
Lignin hardens
not in the trunk,
but where echoes
once passed through with ease.
There is no celebration.
Only plasmodesmata
open their walls,
letting water, carbon,
and splinters of night
move from one cell
to the next,
until silence loses its biological vocation.
Then something
no taxonomy has ever captured condenses
beneath the cambium.
It is not an organ.
Not a season.
Not a metabolism.
It grows like a new law quietly being learned by living tissue.
When the earth once more rearranges all its minerals,
you do not endure.
You make direction
lose its oldest habit.
And the mouths of faults,
learn to grow a space that even gravity refuses to name.
—
Padang, West Sumatra, Indonesia, 2026

About the Poet — Leni Marlina
–
Leni Marlina is an Indonesian poet, writer, translator, and lecturer in the English Department, Faculty of Languages and Arts, at Universitas Negeri Padang, where she has served as a civil-service academic since 2006. Her creative and scholarly work spans poetry, fiction, essays, literary criticism, translation, and literacy studies, reflecting a sustained commitment to language as a medium of reflection, empathy, and human dignity.
Among her recent publications are the poetry collections The Beloved Teachers (2025) and L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity (2026), together with the educational trilogy English Stories for Literacy (2024–2025). Through these works, she explores the intersections of literature, education, and humanity, approaching writing as both a creative practice and an ethical dialogue with the world.
In addition to poetry, Marlina writes short fiction, essays, literary criticism, and reviews, while also translating literary and journalistic texts for national and international digital platforms. Her writings frequently engage with education, culture, literacy, peace, environmental consciousness, and humanitarian values, positioning literature as a bridge between knowledge, imagination, and social awareness.
Alongside her academic career, she is actively involved in literary journalism and literacy advocacy. She serves as a writer, contributor, editor, and editorial board member for SAN Media Group—including Suara Anak Negeri News, Suara Anak Negeri, and Negeri News—where she publishes literary works, essays, articles, and reports on education, literature, culture, and humanitarian issues. These platforms share a common mission: “Giving Voice to Those Who Cannot Speak.”
Marlina is also the founder and chair of several international literary and literacy communities, including PPIPM-Indonesia, Poetry Pen International Community (PPIC), Littalk-C Literary Talk Community, Translation Practice Community (Trans-PC), and the World Children’s Literature Community (WCLC). Through these initiatives, she promotes international literary dialogue, translation practices, and cross-cultural literacy development.
She is an active member of several professional writing organizations, including SatuPena West Sumatra, KEAI, and PLS. Since 2012 she has been affiliated with the Victorian Writers Centre in Australia, and since 2024 has also been a member of the Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA).
Her contributions to literature have received both national and international recognition. In 2025 she received the Best Writer Award from SatuPena West Sumatra during the International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) chaired by Sastri Bakry. In the same year, she was honored with the ACC International Literary Prize 2025 from the ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre and also received recognition from the international literary community The Rhythm of Vietnam.
This translation privileges poetic equivalence over literal correspondence, preserving the original’s contemporary ecological poetics, philosophical resonance, and experimental imagery while allowing it to read as an original English-language literary poem.
—-–

INDONESIAN VERSION OF THE POEMS
Puisi – Puisi Karya Leni Marlina: “Spora di Dalam Rusukmu”
/1/
Sebelum Kau Menjadi Pohon
Puisi: Leni Marlina
–
Sebelum kau menjadi pohon,
ada musim ketika klorofil tak lagi percaya kepada cahaya.
Fotosintesis menyembunyikan gulanya di dalam urat batu,
sementara akar-akar saling bersentuhan tanpa lagi mengenali bahasa air.
Barangkali sejak itulah bumi diam-diam menumbuhkan tubuhmu.
–
Padang, Sumbar, 2026
—-
/2/
Spora di Dalam Rusukmu
Puisi: Leni Marlina
–
Kau meninggikan bahumu.
Rusukmu diam-diam ditumbuhi miselium.
Tak ada yang mengetuk.
Hifa merambat
melewati sela osteosit,
menjahit rongga yang tak pernah disentuh namamu.
Cermin kehilangan wajahmu.
Lumut tidak.
Jantungmu menolak warna.
Ia hanya memompa spora.
Di alveolus,
sunyi membelah diri
lebih cepat daripada napas.
Kulitmu mengingat tanah.
Karbon keluar
tanpa suara.
Tak ada yang gugur.
Yang berpindah
hanya cara tubuhmu
menyebut kehidupan.
Seseorang memanggilmu.
Rusukmu lebih dahulu
mengembuskan hutan.
–
Padang, Sumbar, 2026
—-
/3/
Pohon Kesetiaan
Puisi: Leni Marlina
—
Kau tak pernah benar-benar berdiri.
Perlahan, xilem tumbuh di ruas-ruasmu,
mengangkut pagi ke arah yang hanya dikenali oleh akar.
Setiap kali bumi mengubah susunan mineralnya,
kau susun kembali lingkar hidupmu hingga retakan pertama tetap mengenali langkahmu.
Rambut-rambut akar diam-diam keluar dari telapak kakimu.
Mereka melewati pori-pori batu,
mencicipi garam-garam purba,
lalu berhenti tepat di tempat yang pernah sekali menyambutmu.
Di dalam inti setiap selmu ada satu urutan yang berkali-kali disalin,
meski musim terus menawarkan alfabet lain.
Klorofil di bawah kulitmu tidak sekadar mengumpulkan cahaya. Ia menyusun kesabaran dari foton-foton yang pecah di permukaan daun hingga hijau perlahan menjadi cara tubuhmu bernapas.
Mikoriza datang membawa ribuan jalan. Hifanya mengetuk dinding-dinding akar,
menawarkan arah yang lebih mudah.
Kau membiarkannya melewati seluruh tubuhmu.
Namun setiap ujungnya selalu kembali ke jaringan yang mula-mula mengenalmu.
Ada ikatan yang berkali-kali didatangi energi,
namun tak pernah bersedia melepaskan pasangannya.
Ketika musim mengganti susunan udaranya,
kau tak bertanya ke mana daun-daun akan pergi.
Kau biarkan kambium terus menambahkan satu lingkar lagi,
seolah waktu bukan sesuatu yang berlalu, melainkan sesuatu yang perlahan berdiam di dalam kayu.
Dan ketika batangmu akhirnya rebah,
yang kembali ke tanah bukan sekadar lignin, selulosa, atau getah,
melainkan cara sebuah akar tetap mengenali retakan pertama,
meski bumi telah berkali-kali mengganti wajah batunya.
—
Padang, Sumatra Barat, Indonesia, 2026
—–
/4/
Di Bawah Epidermismu
Puisi: Leni Marlina
–
Kau tak perlu mencari
di mana tubuhmu akan berakhir.
Di bawah epidermismu,
kloroplas yang lama berpuasa
mengunyah panjang gelombang
hingga hijau lupa
siapa mula-mula menyalakan dirinya.
Di inti setiap sel,
seutas urutan terus menyalin ketidakhadiran
lebih teliti daripada silsilah darah.
Mikoriza menyusup
melewati rambut-rambut akar yang bahkan tanah
belum sempat mengenali.
Mineral tidak lagi jatuh
ke dalam batu.
Mereka perlahan
berpindah
ke ingatanmu.
Lignin mengeras
bukan pada batang,
melainkan
di tempat-tempat
yang dahulu
mudah ditembus gema.
Tak ada pesta.
Hanya plasmodesmata
membuka dindingnya,
membiarkan air, karbon,
dan serpih malam
beredar dari satu sel
ke sel berikutnya,
hingga kesunyian
kehilangan pekerjaan biologisnya.
Lalu sesuatu
yang belum pernah berhasil ditangkap taksonomi mengembun
di bawah kambium.
Ia bukan organ.
Bukan musim.
Bukan metabolisme.
Ia tumbuh
seperti hukum baru
yang diam-diam
dipelajari jaringan.
Ketika bumi sekali lagi
menukar letak seluruh mineralnya,
kau tidak bertahan.
Kau membuat arah
kehilangan kebiasaannya.
Dan mulut-mulut sesar,
belajar menumbuhkan
ruang yang bahkan
gravitasi enggan
menamainya.
–
Padang, Sumbar, 2026
———
Tentang Penyair – Leni Marlina
Leni Marlina merupakan seorang penyair, penulis, penerjemah, dan dosen asal Indonesia di Departemen Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sebagai dosen pegawai negeri sipil sejak tahun 2006. Karya-karya kreatif dan akademiknya bergerak melintasi berbagai bidang, seperti puisi, fiksi, esai, kritik sastra, penerjemahan, dan kajian literasi, yang mencerminkan komitmennya yang berkelanjutan terhadap bahasa sebagai medium refleksi, empati, dan martabat kemanusiaan.
Di antara publikasi terbarunya adalah kumpulan puisi “The Beloved Teachers” (2025) dan “L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity” (2026), serta trilogi pendidikan English Stories for Literacy (2024–2025). Melalui karya-karya ini, ia mengeksplorasi pertemuan antara sastra, pendidikan, dan kemanusiaan, dengan memandang tulisan sebagai praktik kreatif sekaligus dialog moral dengan dunia.
Selain menulis puisi, Leni juga aktif menulis cerita pendek, esai, kritik sastra, dan ulasan. Ia juga menerjemahkan teks sastra dan jurnalistik untuk berbagai platform digital nasional dan internasional. Tulisan-tulisannya sering mengangkat tema pendidikan, budaya, literasi, perdamaian, dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga menempatkan sastra sebagai jembatan antara pengetahuan, imajinasi, dan kesadaran sosial.
Di samping karier akademiknya, Leni juga aktif dalam jurnalisme sastra dan advokasi literasi. Ia berkontribusi sebagai penulis, kontributor, editor dan redaktur di beberapa platform media digital seperti SAN Media Group (Suara Anak Negeri News, Suara Anak Negeri, dan Negeri News), tempat ia menerbitkan karya sastra, esai, artikel dan berit tentang pendidikan, literasi, sastra, budaya, dan isu-isu kemanusiaan. Semu platform SAN Media Group tersebut memiliki misi yang sama, yaitu “memberi suara bagi mereka yang tidak dapat bersuara.”
Leni juga merupakan pendiri dan ketua dari beberapa komunitas sastra dan literasi, di antaranya PPIPM-Indonesia, Poetry Pen International Community (PPIC), Littalk-C Literary Talk Community, Translation Practice Community (Trans-PC), serta World Children’s Literature Community (WCLC). Melalui komunitas-komunitas ini, ia mendorong dialog sastra internasional, praktik penerjemahan, serta pengembangan literasi lintas budaya.
Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif di beberapa organisasi kepenulisan, termasuk SatuPena Sumatera Barat, KEAI, dan PLS. Sejak tahun 2012, ia juga berafiliasi dengan Victorian Writers Centre di Australia & sejak tahun 2024 juga bergabung sebagai anggota Shanghai Huifeng International Literarty Association (ACC SHILA).
Kontribusinya dalam dunia sastra telah memperoleh berbagai pengakuan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pada tahun 2025, ia menerima Best Writer Award dari SatuPena Sumatera Barat dalam acara International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai oleh Sastri Bakry. Pada tahun yang sama, ia juga dianugerahi ACC International Literary Prize 2025 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre serta menerima penghargaan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam.





