Secangkir Kopi Cak Mus
–
Baca juga: Menafsir Ulang Kolaborasi dalam Pembelajaran di Era Kecerdasan Artifisial
manusiaku begitu belam pencapaian
sering sembunyi bawah tanah manusiawi
kemanusiaan yang jahil dan berdebu
insannya hilang berperikehewanan
melata basyar sasar tak berhaluan
setengah abad tidak jadi manusia
serigala berbulu parah domba
halus tutur sesampah di jiwa
menerkam mangsa nafsu serakahnya
kuku-kuku tajam mencakar dalam
tertawa menindih nestapa sesama
wuih, manusiaku begitu jumpalit jumawa
berakrobat menadah husnul khotimah
senyampang napas masih menyembur angkara
menyumbat taubat masih ada waktu
katanya, tiba-tiba maut itu biasa
berharap angin tenggara mengusung doa
padahal senyap peduli nirsembada
Baca juga: Mitos-Dekonstruktif pada Cerpen-Cerpen Karya Heri Isnaini
sesungguhnya manusiaku dalam kerugian
mengapa masih gulita bertahan
tak gegas menuju Cahaya-Nya binar
subtil diri meluruh pekatan
aku tak ingin menyasar jahanam
sia-sia manusiaku di-ada-kan


