Rabu, 26 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

KETIKA ESAI MEMBAWA INSPIRASI

Membaca Denny JA Sebagai Seorang Master

Oleh Narudin Pituin

Baca juga: Robert Frost’s Poems Translated (English – Indonesia) by Leni Marlina

Bukanlah suatu kemustahilan apabila tulisan ini dimulai dengan sebuah pertanyaan serius: apakah kualitas esai Denny JA yang belakangan banyak beredar sudah sekelas master?

Pertanyaan itu mudah dijawab dengan pujian. Tetapi pujian bukanlah kritik sastra. Kekaguman baru bernilai apabila kita mampu menjelaskan mengapa sesuatu memang layak dikagumi.

Seorang master bukan sekadar orang yang mampu menulis dengan baik. Ia telah lama bergulat dengan bahasa sehingga teknik tidak lagi tampak sebagai teknik.

Baca juga: Kritik Pedas Connie Bakrie ke Pemerintahan Prabowo soal Gempa NTT: Ke Paris Pakai APBN, Ke Flores Open Donasi

Pada tingkat itu, bentuk dan isi menyatu. Pengetahuan dan perasaan tidak lagi berebut ruang. Gagasan berat terasa ringan, tetapi meninggalkan gema panjang.

Di sanalah saya hendak meletakkan esai-esai Denny JA: bukan pada kesempurnaan setiap karya, melainkan pada kematangan bentuk yang telah menemukan sidik jarinya.

-000-

Dalam Structuralist Poetics (1977), Jonathan Culler berbicara mengenai literary competence: kemampuan memahami konvensi yang memungkinkan sebuah teks bekerja dan diterima sebagai karya sastra.

Dalam konteks lebih luas, esai yang kuat setidaknya memerlukan tiga lapisan: kompetensi bahasa, kompetensi sastra, dan kekuatan gagasan yang menghidupkan keduanya.

Kompetensi bahasa membuat penulis mampu mengatakan sesuatu secara jernih. Kompetensi sastra memberi daya hidup. Kekuatan gagasan memberi alasan mengapa tulisan itu perlu dikenang.

Ketiga lapisan tersebut semakin terlihat dalam esai-esai Denny JA belakangan ini. Ia tidak sekadar menyampaikan gagasan kepada pembaca. Ia berusaha membangun pengalaman membaca.

Semiotika memberikan pintu masuk lainnya. Ferdinand de Saussure mengajarkan bahwa tanda bekerja melalui hubungan antara signifier dan signified, antara penanda dan petanda.

Dalam esai, bahasa membawa pembaca menuju gagasan, pengalaman, ingatan, dan emosi yang lebih luas daripada sekadar rangkaian kata yang tercetak pada halaman.

Esai matang karena itu tidak berhenti pada apa yang dikatakan. Ia juga hidup melalui bagaimana sesuatu dikatakan dan bagaimana pembaca mengalami perkataan tersebut.

Justru pada wilayah “bagaimana” inilah kekhasan Denny JA semakin terlihat, tumbuh dari kebiasaan panjang mempertemukan bahasa publik dengan sensibilitas seorang penulis sastra.

-000-

Perhatikan bagaimana esainya sering dimulai. Bukan dengan definisi, statistik, atau deretan teori. Ia acap kali membuka sebuah pintu kecil menuju kehidupan seorang manusia.

Contoh yang sangat jelas tampak dalam esai “Kalimantan Menangis Ketika Pohon Menjadi Api dan Langit Menjadi Abu.”

Esai itu tidak langsung berbicara mengenai angka karhutla. Ia dimulai dengan seorang anak di Kalimantan yang memandang keluar jendela ketika langit kehilangan warna birunya.

Ibunya menutup jendela rapat-rapat. Namun asap tetap mencari celah. Sang anak bertanya mengapa matahari memerah, seolah ikut terbakar bersama pepohonan.

Di luar rumah, orang-orang mengejar api dengan selang dan doa. Di dalam rumah, sebuah keluarga menunggu sesuatu yang tak dapat mereka beli: udara bersih.

Baru setelah emosi pembaca terbangun, esai bergerak kepada pengertian karhutla, penyebab kebakaran, kerentanan ekologis, tanggung jawab manusia, dan persoalan kebijakan publik.

Di sini teknik Denny JA tampak sangat konkret: tragedi ekologis yang besar terlebih dahulu dipersempit menjadi pengalaman satu keluarga dan satu pertanyaan seorang anak.

Kita mula-mula diajak merasakan. Baru kemudian kita diajak memikirkan. Pergerakan dari hati menuju kepala inilah salah satu kekuatan penting teknik esai Denny JA.

Sesudah pembukaan naratif, kamera intelektualnya perlahan menjauh. Kisah seorang manusia berkembang menjadi persoalan masyarakat, lalu menjadi persoalan bangsa dan bahkan dunia.

Persoalan memperoleh data. Data memperoleh konteks sejarah. Konteks nasional dipertemukan dengan pengalaman global. Kemudian hadir buku, penelitian, pemikir, atau pengalaman negara lain.

Sebuah kisah kecil tiba-tiba memiliki cakrawala luas. Yang personal menjadi sosial. Yang sosial menjadi politik. Yang politik kemudian menjelma menjadi pertanyaan filosofis.

Di tangan penulis yang matang, perluasan itu tidak terasa sebagai perpindahan bab. Pembaca seolah dibawa berjalan semakin jauh tanpa kehilangan rumah tempat berangkat.

-000-

Struktur seperti ini tidak lahir dalam semalam. Ia biasanya muncul setelah penulis cukup lama mengalami kegagalan bahasa dan menemukan sendiri batas-batas dari setiap teknik.

Terlalu akademis membuat tulisan berjarak. Terlalu sentimental membuat gagasan kehilangan tulang. Terlalu penuh data membuat manusia menghilang di balik angka dan tabel.

Pengalaman kemudian mengajarkan sesuatu yang tidak selalu diajarkan teori: kapan harus berbicara, kapan menjelaskan, dan kapan membiarkan sebuah kalimat berhenti serta bergema sendiri.

Esai-esai Denny JA belakangan memperlihatkan kesadaran tersebut. Paragrafnya cenderung ramping. Kalimatnya relatif pendek. Ruang putih bahkan memperoleh fungsi dalam pengalaman membaca.

Pembaca diberi kesempatan bernapas. Namun di balik kesederhanaan permukaan itu terdapat arsitektur kompleks berupa narasi, data, referensi, perbandingan, argumentasi, dan refleksi.

Sederhana di permukaan, tetapi berlapis di kedalaman. Bukankah salah satu tanda kematangan justru kemampuan seorang penulis membuat sesuatu yang rumit terasa sederhana?

-000-

Contoh kedua tampak dalam esai yang bertolak dari film Ikiru karya Akira Kurosawa, sebuah kisah mengenai manusia yang baru menyadari hidup ketika kematian mendekat.

Denny JA tidak berhenti pada sinopsis film. Tokoh Kanji Watanabe dijadikan pintu masuk menuju pertanyaan yang lebih besar: untuk apa sebenarnya seseorang menjalani hidup?

Watanabe adalah birokrat yang mengetahui hidupnya segera berakhir. Pada saat itulah ia menyadari bahwa puluhan tahun bekerja belum tentu berarti puluhan tahun benar-benar hidup.

Ia akhirnya menemukan makna bukan dalam jabatan, kekuasaan, atau prestise, melainkan dalam tindakan sederhana: memperjuangkan sebuah taman bermain bagi masyarakat kecil.

Dari satu film Jepang, esai bergerak menuju persoalan universal tentang usia, warisan kehidupan, power of giving, pelayanan, dan keberanian menambahkan gelora pada sisa waktu.

Di sinilah tampak teknik lain Denny JA: karya seni tidak diperlakukan sebagai objek ulasan, tetapi sebagai cermin untuk membaca kehidupan pembacanya sendiri.

Film selesai di layar. Tetapi pertanyaannya berpindah ke dalam diri pembaca: jika waktu kita terbatas, apakah hidup yang dijalani sekarang sungguh-sungguh berarti?

Teknik seperti ini penting karena gagasan filosofis yang abstrak tidak disampaikan sebagai khotbah. Ia dihadirkan melalui cerita manusia yang sudah terlebih dahulu menyentuh emosi.

Dua contoh itu memperlihatkan pola yang sama. Kebakaran hutan dimulai dari seorang anak. Pertanyaan tentang hidup dimulai dari seorang birokrat yang menunggu kematian.

Denny JA tidak memulai dari teori besar. Ia memulai dari manusia, lalu perlahan membawa manusia itu menuju persoalan yang jauh lebih besar daripada dirinya.

-000-

Di sinilah pengalaman Denny JA sebagai penggagas puisi esai terasa meninggalkan jejak. Puisi esai sejak awal mencoba mempertemukan fakta dengan kekuatan imajinasi.

Jejak poetika itu terasa dalam esai-esainya. Bukan berarti esainya berubah menjadi puisi. Yang terjadi lebih subtil: sensibilitas sastra memasuki wilayah argumentasi publik.

Fakta tidak dibiarkan menjadi angka yang dingin. Namun emosi juga tidak dibiarkan berjalan sendirian tanpa pengujian oleh fakta dan pengetahuan yang relevan.

Narasi membuka hati. Data menguji narasi. Referensi memperluas perspektif. Argumentasi memberi arah. Refleksi akhirnya mengembalikan keseluruhan perjalanan tersebut kepada kehidupan manusia.

Pada titik terbaiknya, esai Denny JA bekerja menggunakan dua energi sekaligus: ketepatan seorang analis dan kepekaan seorang pencerita terhadap pengalaman manusia.

Otak tidak diminta mengalah kepada hati. Hati juga tidak diminta tunduk kepada statistik. Keduanya dipertemukan dan diajak duduk pada meja yang sama.

-000-

Bagian tengah esainya biasanya menjadi arena perluasan intelektual. Di sana hadir penelitian, teori, ucapan tokoh, peristiwa sejarah, kebijakan publik, dan berbagai perbandingan antarnegara.

Namun referensi terbaik dalam esai bukanlah referensi yang dipamerkan. Ia adalah bacaan yang telah dicerna sehingga pembaca memperoleh pengetahuan tanpa merasa sedang berkuliah.

Dalam esai-esai Denny JA yang berhasil, referensi mempunyai fungsi seperti jendela. Ia tidak meminta kita memandang bingkai, melainkan dunia luas yang terbentang di belakangnya.

Di sinilah terlihat perbedaan antara tulisan yang sekadar penuh bacaan dengan tulisan yang telah mengolah bacaan menjadi perspektif dan menghubungkannya dengan kehidupan konkret.

Pengetahuan berhenti menjadi pajangan intelektual. Ia berubah menjadi alat untuk memahami persoalan yang sebelumnya tampak sederhana, tetapi ternyata memiliki akar dan konsekuensi luas.

-000-

Lalu datanglah bagian akhir. Dalam psikologi memori dikenal kecenderungan primacy dan recency: manusia sering memberikan bobot khusus kepada awal dan akhir pengalaman.

Seorang penulis berpengalaman secara intuitif memahami pentingnya kedua wilayah tersebut. Denny JA tampaknya sadar bahwa pembukaan mengundang pembaca, sedangkan penutupan menentukan gema.

Jika pembukaan esainya mengajak kita memasuki persoalan melalui kisah, bagian akhir biasanya membawa persoalan besar tersebut kembali kepada manusia dan kehidupan sehari-hari.

Ia tidak puas jika pembaca hanya pulang membawa data. Ia ingin pembaca pulang membawa pertanyaan, kegelisahan, harapan, atau kesadaran baru tentang kehidupan.

Kadang hanya satu kalimat sederhana yang diam-diam mengikuti pembaca setelah layar telepon ditutup dan hiruk-pikuk dunia kembali mengambil perhatian kita.

Pada saat seperti itulah esai berhenti menjadi informasi. Ia berubah menjadi pengalaman, dan pengalaman memiliki umur yang sering kali jauh lebih panjang daripada data.

-000-

Dalam tradisi esai dunia, kita mengenal sejumlah penulis yang mampu mempertemukan kekuatan sastra dengan persoalan publik tanpa mengorbankan salah satu di antaranya.

James Baldwin menulis tentang ras, identitas, agama, dan Amerika dengan bahasa personal sekaligus politis dalam Notes of a Native Son dan The Fire Next Time.

Pengalaman individual pada Baldwin menjadi pintu menuju luka sosial yang lebih besar. Yang intim tidak mengecilkan politik, tetapi justru membuat politik mempunyai wajah manusia.

Susan Sontag mengambil jalan berbeda. Dalam Illness as Metaphor dan Regarding the Pain of Others, ia memasuki penyakit, perang, fotografi, kebudayaan, dan penderitaan melalui ketajaman konseptual.

Denny JA tentu bukan Baldwin. Ia juga bukan Sontag. Dan ia tidak perlu menjadi keduanya untuk menemukan kedudukannya sendiri dalam tradisi penulisan esai.

Perbandingan tersebut berguna bukan untuk menyamakan pencapaian, melainkan melihat sebuah tradisi: esai terbaik sering lahir ketika kekuatan sastra bertemu kehidupan dan persoalan publik.

Pada Baldwin, pertemuan itu menyala melalui ras dan identitas. Pada Sontag, ia bergerak melalui kritik kebudayaan, representasi, penderitaan, dan pertarungan gagasan.

Pada Denny JA, pola khasnya bergerak dari kisah manusia menuju data, dari data menuju persoalan sosial, kemudian dari persoalan sosial kembali kepada manusia.

Di situlah sidik jarinya mulai tampak. Kita dapat mengenali sebuah esai Denny JA bahkan sebelum nama penulisnya kembali disebut pada bagian akhir tulisan.

-000-

Namun seorang master bukanlah penulis yang telah selesai. Justru sebaliknya. Ia telah menemukan suaranya, tetapi tetap mempunyai keberanian untuk mengubah dan mempertanyakannya.

Sebab musuh terbesar penulis yang telah mempunyai gaya bukan lagi ketidakmampuan. Musuh terbesarnya justru gaya sendiri ketika keberhasilan perlahan berubah menjadi formula.

Pola yang berhasil dapat menggoda penulis mengulang keberhasilan sama: kisah, data, referensi, refleksi, lalu sebuah penutup yang sengaja dirancang untuk menyentuh pembaca.

Karena itu tantangan berikutnya bagi Denny JA bukan menemukan bentuk. Bentuk tersebut tampaknya sudah ditemukan dan semakin mudah dikenali oleh pembacanya sendiri.

Tantangannya ialah terus mengejutkan bentuk tersebut agar tidak membeku menjadi kebiasaan. Seorang master harus sesekali berani meninggalkan jalan yang membuatnya dikenal banyak orang.

Kematangan bukanlah titik ketika seorang penulis berhenti belajar. Ia justru dimulai ketika keberhasilan masa lalu tidak lagi cukup untuk memuaskan kegelisahan kreatifnya.

-000-

Jika dibaca melalui semiotika Peircean, sebagaimana saya kembangkan pula dalam Sintesemiotik: Teori dan Praktik (2023), esai matang membangun proses interpretasi yang berlapis.

Kata melahirkan tanda. Tanda membuka konteks. Konteks membangun argumentasi. Argumentasi kemudian menggerakkan pembaca untuk menafsirkan kembali kenyataan yang sebelumnya dianggap sudah dipahami.

Dua contoh tadi menunjukkan mekanisme tersebut. Anak di tengah asap bukan sekadar tokoh. Watanabe bukan sekadar tokoh film. Keduanya menjadi tanda yang berkembang.

Anak itu membuka konteks karhutla, ekologi, dan kebijakan. Watanabe membuka konteks usia, makna, pelayanan, dan keterbatasan waktu yang dimiliki setiap manusia.

Di sanalah esai memperoleh kekuatannya. Ia bukan lagi sekadar pertarungan gagasan melawan gagasan ataupun fakta melawan fakta dalam ruang intelektual yang tertutup.

Ia menjadi perjumpaan antara kebenaran faktual, kebenaran intelektual, dan kebenaran pengalaman manusia, tiga wilayah yang tidak selalu mudah dipertemukan dalam satu tulisan.

Dan barangkali di sanalah kita menemukan jawaban atas pertanyaan yang sejak awal mengiringi tulisan ini: apakah kualitas esai Denny JA sudah sekelas master?

Saya menjawab: ya. Bukan karena setiap esainya sempurna. Tidak ada master yang setiap karyanya sempurna, dan kesempurnaan bukanlah ukuran yang masuk akal.

Ia sekelas master karena telah menemukan bentuk yang dapat dikenali sebagai miliknya sendiri, sekaligus memiliki perangkat intelektual untuk membawa bentuk tersebut memasuki beragam persoalan.

Ada narasi yang mengundang emosi, data yang menjaga kaki berpijak pada kenyataan, referensi yang membuka cakrawala, serta argumentasi yang membawa pembaca untuk berpikir.

Kemudian datang penutup yang mengembalikan semuanya kepada manusia. Sebab sebanyak apa pun teori dikutip, pada akhirnya tulisan hanya hidup apabila manusia menemukan dirinya di sana.

Mungkin itulah ukuran paling sederhana bagi seorang penulis matang. Kita membaca kalimat pertama karena ingin mengetahui kisah, lalu bertahan karena ingin memahami dunia.

Tetapi ketika sampai pada kalimat terakhir, kita menemukan sesuatu yang ternyata jauh lebih dekat daripada seluruh teori, data, sejarah, dan persoalan besar tersebut.

Kita menemukan diri kita sendiri.

25 Agustus 2026

DAFTAR PUSTAKA

Culler, Jonathan. 1977. Structuralist Poetics: Structuralism, Linguistics and the Study of Literature. London: Routledge & Kegan Paul.

Narudin. 2023. Sintesemiotik: Teori dan Praktik. Batam: MirNov.

Saussure, Ferdinand de. 1974. Course in General Linguistics. London: Fontana/Collins.

-000-

Esai tentang Denny JA dan esai oleh Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.

https://www.facebook.com/share/1FFBYGqYGi/?mibextid=wwXIfr

Kategori:
Tags:

Terkini