Dr. Budhy Munawar-Rachman: Krisis Ekologi Berakar pada Krisis Makna, Cara Pandang, dan Tanggung Jawab Manusia
DISKUSI SERIAL ESOTERIKA KE-75
*( Laporan: Paulus Laratmase
Baca juga: SAYA TAK BISA SEPERTI CHAIRIL ANWAR
–
Krisis lingkungan yang melanda dunia dewasa ini tidak cukup dipahami hanya sebagai persoalan pencemaran, kerusakan hutan, perubahan iklim, atau hilangnya keanekaragaman hayati. Di balik berbagai kerusakan, terdapat persoalan yang lebih mendasar: cara manusia memahami dirinya sendiri, memandang alam, serta menentukan makna kemajuan peradaban.
Persoalan mendasar itulah yang menjadi salah satu pokok pemikiran dalam pemaparan Dr. Budhy Munawar-Rachman, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, pada sesi kedua Diskusi Serial Esoterika ke-75 bertema Kosmologi Baru Thomas Berry: Menemukan Kembali Kisah Kita di Dalam Kisah Semesta, Selasa, 13 Oktober 2026.
Baca juga: IJAZAH GIBRAN DAN UJIAN AKAL SEHAT HUKUM: ANTARA PENDIDIKAN, PEMBUKTIAN, DAN AKUNTABILITAS KEKUASAAN
Dalam presentasi yang mengulas buku terbarunya, Narasi Baru Alam Semesta: Memperkenalkan New Cosmology Thomas Berry dan Dialognya dengan Para Filsuf, Budhy mengajak pembaca menelusuri hubungan antara sejarah alam semesta, kesadaran manusia, spiritualitas, etika, dan tanggung jawab ekologis.
Buku yang diterbitkan Diva Pustaka pada 2026 ini, memperkenalkan pemikiran Thomas Berry (1914–2009), seorang sejarawan budaya, imam Katolik, dan pemikir ekologis. Lebih jauh, buku ini mengajukan pertanyaan mendasar tentang arah peradaban: bagaimana pengetahuan manusia yang semakin maju dapat diterjemahkan menjadi kebijaksanaan untuk menjaga kehidupan?
Pertanyaan di atas menjadi penting karena manusia modern hidup dalam situasi paradoks. Pengetahuan tentang alam berkembang pesat, teknologi semakin canggih, dan kemampuan manusia mengolah sumber daya terus meningkat. Namun, kemajuan modernisasi tidak dengan sendirinya menghasilkan hubungan yang lebih bertanggung jawab dengan Bumi.
Di sinilah gagasan kosmologi baru menemukan relevansinya. Krisis ekologis bukan hanya menuntut perubahan teknologi dan kebijakan, tetapi juga pembaruan cara pandang yang mendasari tindakan manusia.
Thomas Berry dan Gagasan tentang Kisah Besar Semesta
Pokok utama yang diangkat Budhy adalah pemikiran Thomas Berry mengenai New Cosmology, yakni upaya memahami kembali posisi manusia dalam sejarah dan jaringan kehidupan semesta.
Dalam kerangka ini, alam semesta tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai kumpulan benda mati yang tersedia untuk dimanfaatkan. Semesta merupakan sejarah panjang proses pembentukan kosmos, bintang, bumi, kehidupan, dan kesadaran manusia. Seluruh proses semesta memperlihatkan bahwa kehidupan manusia tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh dari kondisi alam yang memungkinkan keberadaannya.
Buku Budhy menempatkan sejarah kosmik sekitar 13,8 miliar tahun sebagai cakrawala untuk memahami betapa singkatnya riwayat manusia dibandingkan dengan perjalanan alam semesta.
Kesadaran atas rentang waktu, seharusnya menumbuhkan kerendahan hati. Manusia bukan pencipta tunggal kondisi yang menopang kehidupannya. Udara yang dihirup, air yang diminum, tanah yang menghasilkan pangan, serta berbagai bentuk kehidupan yang menopang ekosistem merupakan bagian dari jaringan relasi yang mendahului keberadaan setiap individu dan generasi.
Dalam gagasan The New Story atau The Universe Story, yang dikembangkan Thomas Berry bersama fisikawan Brian Swimme, sejarah alam semesta dapat menjadi kisah bersama yang membantu manusia memahami asal-usul, keterhubungan, dan tanggung jawabnya.
Kisah itu bukan pengganti penjelasan ilmiah ataupun penghapusan keragaman keyakinan agama. Sebaliknya, sejarah kosmik menjadi ruang dialog antara pengetahuan ilmiah, refleksi filosofis, kebijaksanaan budaya, dan pengalaman spiritual.
Pesan pentingnya ialah manusia memerlukan lebih dari informasi mengenai alam. Manusia membutuhkan pemahaman tentang tempatnya di dalam alam dan konsekuensi moral dari kekuatan yang dimilikinya.
Dari Alam sebagai Objek Menuju Bumi sebagai Komunitas Kehidupan
Salah satu gagasan Thomas Berry yang menonjol dalam presentasi Budhy adalah pernyataan bahwa alam semesta merupakan a communion of subjects, not a collection of objects persekutuan subjek, bukan kumpulan objek.
Gagasan ini menantang pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat segala sesuatu dan mengukur nilai alam berdasarkan manfaat ekonominya bagi manusia.
Dalam cara pandang yang berorientasi pada eksploitasi, hutan terutama dihitung berdasarkan volume kayu dan nilai jualnya. Sungai dinilai dari potensi energi, irigasi, atau keuntungan ekonomi. Tanah dipandang sebagai aset produksi, sementara makhluk hidup lainnya sering kali hanya diperhitungkan sejauh mendukung kepentingan manusia.
Kosmologi baru menawarkan cara pandang yang berbeda. Hutan bukan hanya persediaan kayu, melainkan komunitas kehidupan yang melibatkan pepohonan, tanah, air, mikroorganisme, hewan, dan manusia. Sungai selain sebagai saluran air tetapi juga bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat dan berbagai spesies.
Dengan demikian, nilai alam tidak habis dijelaskan melalui harga pasar atau kegunaannya bagi manusia. Alam memiliki nilai yang patut dihormati, termasuk ketika manfaat ekonominya tidak dapat dihitung secara langsung.
Pandangan ini membawa perubahan mendasar pada pertanyaan yang diajukan manusia. Pertanyaannya bukan lagi semata-mata, “Apa yang dapat diberikan alam kepada saya?” melainkan, “Bagaimana kehidupan saya ikut menjaga komunitas kehidupan yang memungkinkan saya hidup?”
Perubahan pertanyaan-pertanyaan di atas, mengandung konsekuensi etis. Apabila manusia menyadari dirinya sebagai bagian dari komunitas bumi, maka kebebasan untuk memanfaatkan alam harus berjalan bersama kesediaan untuk membatasi diri, memperhitungkan dampak, dan memulihkan kerusakan.
Manusia tetap mempunyai kebutuhan dan kepentingan yang sah. Namun, kepentingan itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan keberlangsungan ekosistem dan hak generasi mendatang atas lingkungan yang layak.
Dialog dengan Para Filsuf
Sesuai dengan judul bukunya, Budhy tidak membicarakan Thomas Berry secara terpisah dari tradisi pemikiran lain. Ia menghubungkan kosmologi baru dengan sejumlah pemikir yang membantu memperjelas persoalan manusia, alam, etika, spiritualitas, dan peradaban.
Pemikiran Alfred North Whitehead, misalnya, menghadirkan pemahaman tentang realitas sebagai proses, relasi, dan kemunculan kebaruan. Sementara itu, Pierre Teilhard de Chardin membuka ruang pembacaan evolusi dalam cakrawala spiritual dan perkembangan kesadaran.
Dialog dengan Spinoza, Taoisme, dan Buddhisme juga memperlihatkan adanya kemungkinan perjumpaan pemikiran mengenai kesatuan realitas, keselarasan, dan saling ketergantungan. Perjumpaan tersebut tidak berarti semua tradisi memiliki ajaran yang identik. Justru, dialog yang sehat perlu menghormati perbedaan sambil mencari titik temu yang memungkinkan tumbuhnya tanggung jawab terhadap kehidupan.
Budhy juga menghubungkan persoalan ekologis dengan pemikiran Max Weber, René Descartes, dan Martin Heidegger. Melalui perspektif para filsuf, pembaca diajak memeriksa bagaimana rasionalisasi, pemisahan pikiran dan materi, serta kecenderungan melihat alam sebagai cadangan sumber daya dapat memengaruhi cara manusia memperlakukan dunia.
Pada ranah etika, pemikiran Aldo Leopold memperluas komunitas moral hingga mencakup tanah, air, tumbuhan, dan hewan. Hans Jonas menekankan tanggung jawab yang muncul akibat besarnya daya teknologi manusia, terutama terhadap masa depan. Emmanuel Levinas, melalui gagasan tanggung jawab terhadap yang lain, membantu memperdalam pertanyaan mengenai kewajiban moral di hadapan kehidupan yang rentan.
Rangkaian dialog para filsuf, memperlihatkan bahwa persoalan ekologi tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu disiplin ilmu.
Sains diperlukan untuk menjelaskan proses alam melalui bukti dan pengamatan. Filsafat diperlukan untuk memeriksa asumsi, konsep, dan alasan di balik keputusan manusia. Spiritualitas dapat menumbuhkan rasa kagum, syukur, penghormatan, dan komitmen untuk merawat kehidupan.
Ketiganya tidak harus saling meniadakan. Namun, masing-masing perlu memahami batasnya. Klaim ilmiah harus dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan bukti, sedangkan penafsiran filosofis dan spiritual perlu dinyatakan secara jernih sebagai bentuk pemaknaan, bukan disamarkan sebagai temuan ilmiah.
Di sinilah kekuatan pendekatan Budhy: kosmologi baru berusaha menjembatani pengetahuan tentang alam dengan pertanyaan mengenai bagaimana manusia seharusnya hidup di dalamnya.
Spiritualitas Bumi
Dalam bukunya, Budhy Munawar Rachaman menegaskan bahwa spiritualitas tidak berhenti pada pengalaman batin atau pernyataan tentang kesucian alam. Spiritualitas Bumi memperoleh maknanya ketika rasa keterhubungan diterjemahkan menjadi penghormatan dan perawatan nyata.
Air yang diminum setiap hari, makanan yang tersedia di meja, tanah yang menopang pertanian, serta kerja para petani dan masyarakat merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang sering tidak terlihat dalam rutinitas manusia.
Kesadaran terhadap hubungan ini dapat melahirkan rasa syukur. Akan tetapi, rasa syukur yang tidak memengaruhi perilaku berisiko berhenti sebagai ungkapan emosional belaka.
Menghormati air berarti tidak membiarkan sungai tercemar. Menghargai tanah berarti memperhatikan daya dukungnya. Menghormati kehidupan berarti mempertimbangkan dampak kegiatan ekonomi terhadap masyarakat, habitat, dan generasi berikutnya.
Dalam konteks kehidupan beragama, pendekatan ini mengundang umat untuk memperluas perhatian etisnya. Ajaran dan ritual keagamaan dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun tanggung jawab terhadap Bumi, tanpa harus menghapus perbedaan teologis di antara berbagai tradisi.
Dengan demikian, spiritualitas tidak dipisahkan dari persoalan sosial dan ekologis. Pengalaman sakral menemukan wujudnya dalam tindakan yang melindungi kehidupan, memperhatikan kelompok rentan, dan mencegah kerusakan yang dapat dihindari.
Dari Kesadaran Pribadi Menuju Perubahan Sistem
Salah satu kekuatan penting buku Narasi Baru Alam Semesta adalah penekanannya bahwa perubahan cara pandang harus berlanjut menjadi perubahan dalam struktur kehidupan bersama.
Kerusakan ekologis tidak semata-mata disebabkan oleh perilaku individu. Pola produksi dan konsumsi, keputusan investasi, kebijakan publik, tata kelola sumber daya, serta ketimpangan kekuasaan turut menentukan bagaimana alam dimanfaatkan dan siapa yang menanggung akibat kerusakannya.
Karena itu, seruan agar manusia lebih peduli terhadap lingkungan tidak akan cukup apabila sistem ekonomi dan kelembagaan tetap memberi insentif bagi eksploitasi yang merusak.
Budhy mengangkat gagasan The Great Work, yakni tugas besar zaman untuk membangun kembali hubungan manusia dan Bumi agar keduanya dapat saling menopang. Tugas ini membutuhkan perubahan yang berjalan pada tiga tingkatan.
Pertama, tingkat pribadi, melalui kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab, pengurangan pemborosan, dan kesediaan membatasi penggunaan sumber daya.
Kedua, tingkat komunitas, melalui kerja bersama untuk merawat lingkungan, mendengarkan pengalaman warga, dan membangun kebiasaan ekologis yang berkelanjutan.
Ketiga, tingkat kelembagaan, melalui perubahan peraturan, anggaran, infrastruktur, pendidikan, kebijakan ekonomi, dan ukuran keberhasilan pembangunan.
Kerangka ini mengandung kritik terhadap pandangan kemajuan yang terlalu sempit. Pertumbuhan produksi, konsumsi, dan pendapatan memang dapat menjadi indikator ekonomi, tetapi tidak cukup untuk menentukan apakah suatu masyarakat sungguh mengalami kemajuan.
Pembangunan yang bermakna juga perlu memperhitungkan kesehatan masyarakat, keadilan distribusi, kualitas hubungan sosial, kecukupan kebutuhan dasar, serta kemampuan ekosistem untuk pulih.
Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi tidak semestinya menjadi tujuan yang berdiri sendiri. Ekonomi harus ditempatkan kembali di dalam masyarakat dan masyarakat berada di dalam batas-batas ekologis Bumi.
Pertanyaan yang patut diajukan kepada setiap kebijakan pembangunan ialah: apakah kebijakan itu memperbaiki kondisi kehidupan, siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang menanggung bebannya, dan bagaimana dampaknya terhadap generasi mendatang?
Hak Alam dan Keharusan Memperhitungkan yang Tidak Bersuara
Kosmologi baru juga membawa pembaca kepada persoalan hak-hak alam dan tata kelola ekologis.
Apabila sungai, hutan, dan ekosistem mempunyai nilai yang tidak dapat direduksi menjadi kepentingan ekonomi manusia, maka proses pengambilan keputusan harus memberikan ruang bagi perlindungan integritas ekologis.
Buku Budhy mengajak pembaca mempertimbangkan bagaimana kepentingan ekosistem dapat diwakili dalam ruang kebijakan, bagaimana kerusakan harus dipulihkan, dan bagaimana dampak terhadap generasi mendatang diperhitungkan.
Bayangkan sebuah rapat pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sungai. Masyarakat tentu membutuhkan air bersih, penghidupan, dan kesehatan. Namun, keputusan yang bertanggung jawab juga harus mempertimbangkan aliran sungai, habitat yang bergantung padanya, kemampuan ekosistem untuk pulih, serta kualitas lingkungan yang akan diwariskan kepada anak cucu.
Pertanyaan pentingnya bukan hanya siapa yang hadir dalam rapat, melainkan siapa yang belum mempunyai suara.
Meskipun demikian, penghormatan terhadap alam tidak boleh berhenti pada romantisasi kehidupan liar atau pernyataan moral yang abstrak. Pengakuan terhadap nilai alam harus diterjemahkan menjadi mekanisme hukum, tata kelola, pengawasan, pertanggungjawaban, dan pemulihan yang dapat dilaksanakan.
Kosmologi baru justru menjadi lebih kuat ketika kesadaran etis dipertemukan dengan lembaga yang mampu mengubahnya menjadi perlindungan nyata.
Keadilan Ekologis
Dimensi kritis lain dalam buku ini adalah pengakuan bahwa krisis ekologis berkaitan dengan sejarah kekuasaan, kolonialisme, ekstraksi sumber daya, dan ketimpangan sosial.
Bumi memang merupakan rumah bersama, tetapi semua orang tidak mempunyai kuasa, sumber daya, dan kemampuan yang sama untuk menentukan bagaimana rumah itu dikelola. Demikian pula, mereka tidak selalu memberikan kontribusi yang sama terhadap kerusakan atau memiliki kemampuan yang setara untuk menghadapi akibatnya.
Karena itu, gagasan tentang satu komunitas kehidupan tidak boleh digunakan untuk menyamarkan ketidakadilan.
Masyarakat yang hidupnya bergantung langsung pada hutan, sungai, pesisir, atau tanah pertanian harus memperoleh ruang untuk menyampaikan pengetahuan dan pengalamannya. Komunitas yang terdampak keputusan pembangunan perlu dilibatkan secara bermakna dalam menentukan persoalan serta merumuskan penyelesaiannya.
Di sinilah perspektif Global Selatan yang dibicarakan dalam buku memperoleh relevansi. Dialog mengenai masa depan Bumi tidak boleh menjadi transfer gagasan satu arah dari pusat-pusat pengetahuan yang dominan kepada masyarakat lain. Pengetahuan ilmiah, pengalaman lokal, tradisi budaya, dan suara kelompok rentan perlu dipertemukan secara kritis.
Keadilan ekologis dengan demikian memiliki beberapa dimensi: keadilan sosial, keadilan antargenerasi, keadilan historis, dan keadilan dalam pengakuan terhadap pengetahuan masyarakat yang terdampak.
Tanggung jawab ekologis pun perlu bersifat proporsional. Besarnya kekuasaan, kemampuan, dan kontribusi terhadap kerusakan harus menjadi pertimbangan dalam menentukan kewajiban pemulihan dan perlindungan.
Catatan Kritis
Sebagai sebuah tawaran pemikiran, kosmologi baru memiliki kekuatan untuk membangkitkan kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari sejarah alam semesta yang jauh lebih luas daripada kepentingan individualnya.
Namun, kekuatan narasi juga menyimpan tantangan. Kisah besar tentang kesatuan dan keterhubungan dapat menjadi terlalu abstrak apabila tidak menjelaskan bagaimana konflik kepentingan, ketimpangan kekuasaan, dan kerusakan konkret harus dihadapi.
Alam sendiri bukan dunia yang selalu harmonis. Kehidupan juga mencakup persaingan, kematian, bencana, dan perubahan yang tidak selalu menguntungkan setiap makhluk. Oleh karena itu, penghormatan terhadap alam tidak berarti menganggap semua proses alam harus dipertahankan tanpa pertimbangan kritis.
Demikian pula, gagasan mengenai kesatuan semesta tidak boleh menghapus perbedaan agama, kebudayaan, dan pengalaman sejarah. Narasi pemersatu justru harus terbuka terhadap koreksi dan sanggup mendengarkan mereka yang selama ini tidak mempunyai cukup kuasa untuk menentukan arah pembangunan.
Buku Budhy menyediakan ruang bagi kewaspadaan seperti dipaparkan di atas. Kosmologi baru perlu terus diuji melalui pertanyaan mengenai bukti ilmiah, batas penafsiran spiritual, kepentingan ekonomi, ketimpangan sosial, dan bentuk tindakan yang dapat diukur hasilnya.
Dengan pendekatan demikian, gagasan Thomas Berry tidak ditempatkan sebagai jawaban tunggal untuk seluruh persoalan ekologis. Ia menjadi kerangka yang membantu manusia menghubungkan pengetahuan, makna, dan tanggung jawab sambil tetap terbuka terhadap kritik.
Kesimpulan
Pemaparan Dr. Budhy Munawar-Rachman mengenai kosmologi baru Thomas Berry membawa satu pesan mendasar: persoalan ekologis pada akhirnya berkaitan dengan cara manusia memahami keberadaannya sendiri.
Selama manusia memandang dirinya sebagai penguasa yang berdiri di luar alam, Bumi akan terus berisiko diperlakukan sebagai objek pemanfaatan. Sebaliknya, ketika manusia menyadari dirinya sebagai bagian dari komunitas kehidupan, kekuasaan dan pengetahuannya memperoleh ukuran moral baru, yakni tanggung jawab untuk menjaga kondisi yang memungkinkan kehidupan berlangsung.
Namun, kesadaran ini harus melampaui kata-kata. Ia harus hadir dalam kebijakan pembangunan, pendidikan, kegiatan ekonomi, tata kelola lingkungan, dan keputusan sehari-hari. Kepedulian pribadi penting, tetapi tidak dapat menggantikan perubahan kelembagaan. Pertumbuhan ekonomi diperlukan, tetapi tidak boleh mengabaikan daya dukung ekologis dan keadilan sosial.
Di sinilah Narasi Baru Alam Semesta menjadi relevan bagi masyarakat modern. Buku ini mengajak manusia menghubungkan sejarah kosmik yang panjang dengan keputusan-keputusan konkret pada masa kini. Kita mungkin tidak mampu mengendalikan seluruh perjalanan semesta, tetapi kita bertanggung jawab atas bagian kehidupan yang berada dalam jangkauan tindakan kita.
Pada akhirnya, manusia tidak mewarisi Bumi sebagai benda yang bebas dihabiskan. Kita menerima kehidupan melalui jaringan relasi yang tidak terhitung jumlahnya, lalu meneruskannya kepada generasi berikutnya melalui pilihan-pilihan yang kita buat.
Pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa besar alam dapat kita kuasai, melainkan apakah kita mampu menggunakan pengetahuan dan kekuasaan untuk memastikan bahwa kehidupan tetap mempunyai masa depan.
Sebab, apabila hutan kehilangan daya hidupnya, sungai kehilangan kejernihannya, tanah kehilangan kesuburannya, dan masyarakat kehilangan ruang untuk mempertahankan kehidupannya, kemajuan yang kita banggakan patut dipertanyakan kembali.
Kosmologi baru Thomas Berry mengingatkan bahwa kisah manusia tidak terpisah dari kisah semesta. Karena itu, menulis kisah baru tentang peradaban berarti belajar menjadi manusia yang lebih rendah hati, lebih adil, dan lebih bertanggung jawab terhadap Bumi.
Kita tidak hanya hidup di dalam semesta. Kita ikut menentukan, melalui tindakan hari ini, seperti apa kisah kehidupan yang akan diwariskan esok hari.
Biak – Papua, 15 Oktober 2026
*(Paulus Laratmase adalah Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia.



