Selasa, 13 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

SAYA TAK BISA SEPERTI CHAIRIL ANWAR

Secangkir Kopi Cak Mus – 13.10.26

Wawancara Eka Kurniawan, Pengarang Indonesia yang Mendunia
(Jawa Pos, 11 Oktober 2015)

–

Baca juga: IJAZAH GIBRAN DAN UJIAN AKAL SEHAT HUKUM: ANTARA PENDIDIKAN, PEMBUKTIAN, DAN AKUNTABILITAS KEKUASAAN

Eka Kurniawan menjawab wawancara ini lewat e-mail dari Seattle, Amerika Serikat, pertengahan bulan lalu. Di sana, dia mewakili penulis Asia menjadi pembicara di sebuah perhelatan Asia Talk di Seattle Asian Art. Dia bertemu pengarang yang juga idolanya: Salman Rushdie. Belum berselang lama, dia menghadiri Brisbane Writers Festival di Australia. Pengarang kelahiran Tasikmalaya, 28 November 1975, itu kini benar-benar tak terhentikan untuk memasuki pergaulan sastra dunia.

Tiga belas tahun setelah terbit novel pertamanya, Cantik Itu Luka, tahun ini buku itu sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam tujuh bahasa. Terakhir dalam bahasa Swedia dan disambut dengan hujan pujian dari jurnal sastra serta reviewer ternama. Terjemahan novelnya yang lain, Lelaki Harimau, juga telah terpajang di toko-toko buku luar negeri. Buku-buku itulah yang kini membawa ayah satu anak tersebut mengglobal. Pemikiran-pemikirannya bisa diikuti di blognya: Eka Kurniawan Journal (ekakurniawan.com).

Baca juga: Menimbang Deep Learning dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Berikut petikan wawancara wartawan Batam Pos (Jawa Pos Group) HASAN ASPAHANI dengan Eka Kurniawan.

Anda membaca karya-karya sastra klasik dunia dan novel-novel mutakhir yang belum ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Anda ingin membesarkan diri sebagai pembaca, tapi juga untuk membesarkan Anda sebagai pengarang, bukan?

Sejujurnya, waktu kecil dan remaja, saya tak punya impian menjadi penulis. Seperti kebanyakan anak muda masa itu, saya lebih tertarik menjadi anak band (saya mendengarkan Nirvana, Pearl Jam, Guns N’ Roses, bahkan band-band tua macam The Rolling Stones, Rush, dan Led Zeppelin). Saya pergi ke Jogja, awalnya karena ikut teman dan berpikir ingin main musik di sana (tentu tidak saya lanjutkan setelah sadar bakat musik saya payah).

Tapi, di sisi lain, saya senang membaca. Sejak kecil, saya membaca apa saja dan tak punya gambaran bahwa buku ini dan buku itu berbeda (sekolah tak mengajari saya itu). Jadi, ketika saya membaca Abdullah Harahap, saya hanya berpikir ceritanya seru dan saya menikmatinya. Ketika kuliah dan menghabiskan banyak waktu di perpustakaan, karena kebetulan bisa bahasa Inggris, saya baca Gogol, Melville, Hamsun, Marquez, Dostoyevsky, sesederhana karena mereka menulis novel dan ceritanya seru.

Bayangan tentang sastra “serius” dan barangkali “tidak serius” baru muncul setelah setengah jalan kuliah (di Fakultas Filsafat UGM). Saya mulai bergaul dengan anak-anak sastra, mulai membaca koran di hari Minggu, di mana ada cerpen. Ketika saya mulai berpikir ingin menjadi penulis, baik Abdullah Harahap, Kho Ping Hoo, Pramoedya, bahkan Gogol, Cervantes, juga Barbara Cartland, komik Jepang, sudah terlalu tertanam di kepala saya.

Itu sesuatu yang tak terduga, tapi pada akhirnya saya ambil sebagai bagian dari hidup dan kesusastraan saya. Membaca tak pernah gagal membuat saya terhibur dalam kategori hedonistis maupun intelektual. Dan saya pikir, salah satu cara agar saya tetap membaca ada- lah menjadi penulis.

Goenawan Mohamad bilang, “Penyair yang baik adalah penulis esai yang baik.” Bagaimana Anda melihat saling mengait antara posisi-posisi itu: penulis prosa, penyair, esais, dalam konteks menghasilkan karya sastra yang bagus?

Saya selalu kagum kepada para penyair. Sebelum menulis cerpen dan novel, saya ingin menjadi penyair. Saya mengubur impian itu karena dua hal. Pertama, dulu saya berpikir menjadi penyair berarti harus siap membacakan puisi di depan orang. Saya tak sanggup puisi di depan orang. Saya tak sanggup memikirkan itu. Saya tak terlalu suka berada di depan umum.

Kedua, ini alasan yang lebih serius. Saya membaca puisi-puisi Chairil Anwar dan saya tak percaya bahwa saya bisa menulis puisi sebagus dia. Tak ada harapan, lebih baik saya tak menulis puisi. Tapi, kecintaan saya kepada puisi tak pernah padam dan pada akhirnya saya sering membayangkan bahwa prosa yang baik, novel terutama, haruslah sejenis puisi. Bayangkan peristiwa-peristiwa di dalam novel disusun sedemikian rupa, seperti kata-kata disusun dalam baris-baris puisi. Saya sering melihat novel dengan cara seperti itu. Sejenis permainan yang serius (seperti umumnya puisi). Setiap peristiwa memiliki makna, susunannya memiliki arti, bahkan panjang-pendeknya dihitung secara cermat (Kundera membayangkan novel seperti komposisi musik, yang saya rasa maksudnya tak jauh dengan bayangan saya tentang puisi). Seorang penyair pasti punya kepekaan itu.

Tantangannya hanya pada bentuk. Orang sering berpikir bahwa menulis prosa berarti berpanjang-panjang. Tidak. Menulis prosa seperti menulis puisi, dengan peristiwa-peristiwa sebagai kata-kata. Plot sebagai komposisi. Tapi, tentu saja itu prosa ideal dalam benak saya, prosa yang dibangun dengan pikiran berharap merupakan salah satunya. seorang penyair, yang diam-diam saya selalu

Saya melihat, ada peran agen naskah dalam “industri” sastra dunia. Bagaimana Anda bisa menemukan pintu masuk ke sana?

Sebenarnya saya memiliki “agen naskah” belakangan saja, setelah kedua novel awal saya terjual kurang lebih ke tujuh bahasa. Sebagian besar bisa dibilang kebetulan: Ada penerjemah yang tertarik, versi terjemahannya memperoleh sejenis beasiswa atau penghargaan, lalu penerbit tertarik. Setelah satu penerbit tertarik, penerbit di bahasa lain penasaran dan mencoba membaca drafnya (para penerbit ini biasanya saling memperlihatkan naskah yang mereka punya karena yakin, semakin penulisnya dikenal di mana-mana, semakin baik untuk mereka). Beberapa penerbit suka dan membeli hak terjemahannya.

Awalnya, sangat merepotkan berhubungan dengan mereka satu per satu, bernegosiasi, dan lain sebagainya. Ketika saya punya “agen naskah” (saya ditangani Pontas Agency yang berkantor di Barcelona), segalanya menjadi lebih mudah. Mereka memiliki hubungan dengan banyak penerbit di banyak negara. Mereka bahkan bisa berhubungan dengan beberapa penerbit sekaligus di satu negara, membujuk mereka, bernegosiasi, dan membujuk mereka, bernegosiasi, dan menemukan yang paling cocok.

Bagaimana Anda sekarang melihat dunia kepenulisan di tanah air?

Melihat kesusastraan kita, saya rasa apa yang terjadi pada saya hampir sama terjadi pada banyak penulis yang karyanya diterjemahkan ke bahasa lain: kebetulan. Seandainya kita punya sistem yang lebih baik, barangkali saya tak perlu menunggu 13 tahun. Penulis-penulis seumuran saya di negara lain (tengok Andres Neuman dari Argentina, Juan Gabriel Vasquez dari Kolombia, atau Alejandro Zabra dari Cile, mereka hanya butuh 3-4 tahun untuk diterbitkan dalam bahasa Inggris karena bahasa Spanyol mereka relatif seperti pintu terbuka untuk industri buku Amerika/Inggris).

Kita harus mengganti faktor kebetulan ini dengan sistem yang baik. Misalnya, membuat akses yang mudah untuk para penerjemah membaca keragaman karya sastra kita (saya perlu sepuluh tahun sebelum Annie Tucker membaca Cantik Itu Luka; entah apa yang terjadi jika dia tak ke Indonesia dan tak ke toko buku lalu membeli novel itu), membuat mudah ketika mereka tertarik menerjemahkannya, dan selebihnya karya itu akan bicara kepada agensi naskah atau bahkan para editor di penerbit-penerbit luar. Kita tak mungkin menembus mereka tanpa penerjemah (yang baik).

Melihat wilayah keluyuran Anda yang makin liar, saya yakin tak lagi ada masalah dengan bahasa.

Sejujurnya, saya tak menyiapkan diri untuk seperti ini. Tentu saja ketika kali pertama memutuskan untuk menjadi penulis, untuk menulis novel, saya ingin menulis novel yang bagus. Itu terjadi di akhir ’90-an, tak lama setelah Soeharto jatuh. Kami bisa kembali kuliah, kelas dibuka lagi, dan saya kembali menghabiskan waktu di perpustakaan kampus. Saya baru saja memutuskan untuk menjadi penulis, tapi belum tahu bagaimana memulainya.

Saya duduk di ruang baca (ada bagian di perpustakaan UGM yang disebut American Studies), memandangi satu rak yang penuh dengan buku-buku klasik karya Gogol, Melville, Dostoyevsky, Cervantes, dan Flaubert. Mungkin saya naif, tapi saya bilang pada diri sendiri ingin menulis novel seperti mereka (sampai sekarang saya selalu senang kembali ke karya- karya klasik). Tapi, saya tak pernah membayangkan ketika menjadi penulis, apalagi setelah diterjemahkan, saya akan diundang ke beberapa negara, bicara di depan pembaca asing, diwawancarai media asing. Itu tak terjadi di Indonesia, setidaknya dalam kasus saya, sehingga saya tak memikirkan itu.

Boro-boro ada persiapan. Saya mahir membaca dalam bahasa Inggris karena terbiasa membaca buku dalam bahasa itu sejak lama, tapi tak terlalu biasa bicara. Sekarang saya terpaksa melakukannya. Dan itu satu-satunya bahasa asing yang saya bisa pergunakan. Dan, tentu saja saya akan tetap menulis dalam bahasa Indonesia. Saya hanya menulis dalam bahasa Inggris untuk surel dan sedikit wawancara. (*)

Sumber: Jawa Pos, 11 Oktober 2015

Kategori:
Tags:

Terkini