Jumat, 06 November 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

DEWAN ADAT PAPUA TETAPKAN 2 NOVEMBER SEBAGAI HARI PERKABUNGAN NASIONAL BANGSA PAPUA: WUJUD PENGHORMATAN ATAS PENGABDIAN MANANWIR YAN PIETER YARANGGA

Laporan Paulus Laratmase

–

Biak, Suara Anak Negeri News – Persatuan Dewan Adat Papua secara resmi menetapkan tanggal 2 November sebagai Hari Perkabungan Nasional Bangsa Papua. Penetapan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa, pengabdian, keteladanan, dan warisan perjuangan almarhum Mananwir Beba Yan Pieter Yarangga, Ketua Pimpinan Kolektif Dewan Adat Papua, yang wafat pada 2 November 2026.

Baca juga: SMP NEGERI 2 BIAK, MENJAGA SEKOLAH DARI PUNGUTAN: SPMB, KOPERASI, DAN KOMITMEN TATA KELOLA BERBASIS REGULASI

Penetapan ini tertuang dalam Surat Pemberitahuan Nomor 005/SP-DAP/XI/2026, Perihal Penetapan Hari Perkabungan Nasional Bangsa Papua, tertanggal 5 November 2026, yang dikeluarkan oleh Sekretariat Persatuan Dewan Adat Papua di Jayapura, dibacakan di Kantor Dewan Adat Biak, di hadapan Jenazah Almarhum Yan Pieter Yarangga, Pimpinan Kolektif Dewan Adat Papua, Dewan Adat Biak dan seluruh pelayat yang hadir.

Dalam surat itu dijelaskan bahwa kepergian almarhum merupakan kehilangan besar dan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, keret, kampung, suku, dan wilayah adat, melainkan juga bagi seluruh masyarakat adat dan bangsa Papua.

Baca juga: MEMBACA JOKOWI DAN PRABOWO DARI TANDA TANGAN: DUA GAYA, DUA KARAKTER?

Almarhum Mananwir Beba Yan Pieter Yarangga dinilai sebagai salah satu tokoh dan pemimpin adat yang telah mendedikasikan hidup, pikiran, tenaga, serta pengabdiannya bagi perjuangan, persatuan, martabat, dan masa depan masyarakat adat Papua.

2 November Diperingati Setiap Tahun

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdian tersebut, Dewan Adat Papua menetapkan hari wafat almarhum, yakni 2 November, sebagai Hari Perkabungan Nasional Bangsa Papua yang akan diperingati setiap tahun.

Penetapan ini diharapkan menjadi momentum bersejarah untuk mengenang keteladanan seorang pemimpin adat sekaligus merefleksikan perjalanan perjuangan masyarakat adat Papua dalam menjaga identitas, martabat, dan hak-hak dasarnya.

Sekretariat Persatuan Dewan Adat Papua juga mengharapkan seluruh jajaran Dewan Adat Papua, mulai dari Dewan Adat Wilayah, Dewan Adat Daerah, Dewan Adat Suku, hingga masyarakat adat Papua di tujuh wilayah adat dan di mana pun berada, turut mengambil bagian dalam menyatakan duka, penghormatan, dan solidaritas sesuai tradisi serta kearifan lokal masing-masing.

Perkabungan sebagai Simbol Persatuan dan Solidaritas

Selain menetapkan tanggal 2 November sebagai hari perkabungan nasional, Dewan Adat Papua mengimbau seluruh komponen masyarakat adat di tujuh wilayah adat untuk memasang tanda-tanda perkabungan sesuai tradisi dan ketentuan adat masing-masing.

Pemasangan tanda perkabungan simbol kesedihan, juga merupakan ungkapan penghormatan kepada almarhum serta doa dan pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Lebih jauh, Hari Perkabungan Nasional Bangsa Papua diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, persatuan, solidaritas, rekonsiliasi, dan komitmen kolektif dalam menjaga martabat, identitas, hak-hak dasar, serta masa depan masyarakat adat Papua.

Generasi Muda Diminta Melanjutkan Warisan Perjuangan

Perhatian khusus juga diberikan kepada generasi muda Papua. Mereka diharapkan menjadikan kehidupan, keteladanan, pengabdian, dan perjuangan almarhum sebagai warisan nilai serta sumber inspirasi untuk meneruskan perjuangan masyarakat adat.

Warisan yang mencakup tanggung jawab menjaga tanah, hutan, laut, adat, budaya, identitas, martabat, dan masa depan masyarakat adat Papua.

Penetapan ini sekaligus menjadi landasan moral dan kelembagaan bagi Dewan Adat Papua untuk membangun tradisi penghormatan terhadap jasa dan pengabdian setiap pemimpin adat serta tokoh bangsa Papua yang telah wafat, melalui mekanisme dan keputusan kelembagaan sesuai kedudukan serta kontribusi masing-masing.

Duka Seorang Pemimpin, Duka Seluruh Bangsa

Sekretariat Persatuan Dewan Adat Papua menegaskan bahwa kepergian almarhum hendaknya tidak hanya meninggalkan kesedihan, tetapi menjadi panggilan sejarah bagi seluruh masyarakat adat Papua untuk semakin memperkuat persatuan, menjaga rumah besar Dewan Adat Papua, dan meneruskan perjuangan demi keselamatan manusia, tanah, hutan, laut, udara, serta seluruh sumber daya alam Papua.

Pesan yang menjadi penegasan moral dalam surat tersebut berbunyi:

“Duka seorang pemimpin adalah duka seluruh bangsa. Pengabdian dan perjuangannya menjadi warisan bagi generasi yang akan datang.”

Surat pemberitahuan dan penetapan ditandatangani oleh Yan Christian Warinussy, S.H. dan Willem Rumaseb, atas nama Sekretariat Persatuan Dewan Adat Papua, di Jayapura, 5 November 2026.

Dengan penetapan ini, 2 November tidak hanya menjadi tanggal mengenang wafatnya seorang pemimpin adat, tetapi juga momentum untuk mewariskan nilai-nilai kepemimpinan, persatuan, penghormatan terhadap adat, dan tanggung jawab menjaga masa depan Tanah Papua.

 

Kategori:
Tags:

Terkini