Kamis, 06 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Sebuah Obituari: Diding Boneng Tokoh Teaterawan Indonesia

Putri Miranda| Penulis

Selamat Jalan Sang Aktor Teater & Komedi Indonesia

Baca juga: Menavigasi Masa Depan Wilayah Pesisir: Dilema Ekologis, Tata Kelola Terpadu, dan Realitas Perubahan Iklim

“Kematian menutup usia seseorang, tetapi tidak menutup jejak yang ditinggalkannya dalam kehidupan.”

— Nuyang Jaimee

Ada orang-orang yang jejaknya tidak diukur dari seberapa sering namanya disebut, melainkan dari berapa banyak kehidupan yang berubah karena didikannya. Bagi saya, Diding Boneng adalah salah satunya.

Baca juga: Leni Marlina's Bilingual Poems: "Spores Within Your Ribs" ("Spora di Dalam Rusukmu)

Almarhum adalah salah seorang guru teater saya ketika berproses di Gelanggang Remaja Jakarta Timur, sekitar tahun 2002–2004. Saat itu saya bergabung di kelompok teater yang beliau dirikan. Di pelataran kolam renang Gelanggang Remaja Jakarta Timur, saya dan teman-teman belajar bahwa teater bukan sekadar menghafal dialog atau berdiri di atas panggung, melainkan tentang disiplin, kesungguhan, dan penghormatan terhadap proses.

Diding Boneng dikenal sebagai sutradara yang keras, tegas, dan sangat serius ketika latihan. Tidak ada ruang untuk bermain-main di sesi latihan. Ketika pemain terlihat tidak fokus atau tidak sungguh-sungguh, teguran keras sering kali datang. Bahkan, sesekali bungkus rokok atau apa pun yang ada di dekatnya bisa melayang sebagai peringatan. Saat itu kami mungkin merasa takut. Namun, seiring waktu kami memahami bahwa ketegasan itu lahir dari kecintaannya pada teater dan keinginannya agar murid-muridnya menjadi aktor yang memiliki disiplin dan tanggung jawab yang benar.

Cara beliau mendidik telah melahirkan banyak anak didik yang kemudian tumbuh menjadi pelaku seni. Saya bangga pernah menjadi salah satunya. Ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai yang beliau tanamkan masih saya bawa hingga hari ini.

Namun, di balik sosok sutradara yang keras saat latihan, Bang Diding adalah pribadi yang hangat. Di luar ruang latihan beliau sangat menyenangkan diajak berbincang, berdiskusi, bertukar pikiran, bahkan menghabiskan waktu dengan canda dan tawa. Banyak percakapan sederhana yang kini hanya tinggal kenangan, tetapi terus hidup dalam ingatan.

Dalam salah satu reel di Facebook saya masih tersimpan video ketika saya sedang melatih anak-anak sanggar untuk pementasan teatrikal puisi di PPSB Jakarta Timur. Beliau datang tentu saja untuk silaturahmi dengan teman-teman. Setiap kali melihatnya, yang teringat bukan hanya latihan, melainkan suara, tawa, dan semangat Bang Diding yang selalu mendorong saya untuk menjadi lebih baik.

Bagi dunia seni, seorang sutradara sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia meninggalkan cara berpikir, cara membaca naskah, cara memandang panggung, dan cara memaknai manusia. Semua itu hidup di dalam murid-muridnya, berpindah dari satu pementasan ke pementasan berikutnya, dari satu generasi ke generasi yang lain. Demikian pula Bang Diding. Mungkin tubuhnya telah berhenti menapaki panggung kehidupan, tetapi jejak artistiknya akan terus bergerak melalui mereka yang pernah ditempa oleh ketegasan dan kasih sayangnya.

Dunia teater memang mengenal tepuk tangan yang meriah pada akhir pertunjukan. Namun, tepuk tangan yang paling panjang adalah ketika seorang guru berhasil melahirkan murid-murid yang tetap menjaga api kesenian. Seorang sutradara boleh menutup naskah terakhirnya, tetapi gagasan, disiplin, dan semangat yang diwariskannya tidak pernah ikut diturunkan dari panggung. Ia menjadi bagian dari ingatan kolektif, hidup dalam dialog, latihan, pementasan, dan keberanian generasi berikutnya untuk terus berkarya.

Dunia teater juga telah mengantarkan Diding Boneng menjadi salah satu aktor komedi Indonesia yang legend. Aktingnya di banyak film terutama yang paling terkenal adalah peran-peran ikoniknya sebagai seorang hansip/securiti/anggota keamanan wilayah di film-film komedi legendaris Warkop DKI mengangkat namanya di blantika perfilman Indonesia era tahun 80-90an.

Hari ini, satu tokoh teater telah menyelesaikan pementasan hidupnya. Tirai memang telah ditutup oleh waktu, tetapi karya dan pengabdiannya tidak pernah benar-benar selesai. Seni selalu memiliki cara untuk mengabadikan orang-orang yang mendedikasikan hidupnya bagi proses, bukan sekadar popularitas. Bang Diding memilih jalan itu. Jalan yang sunyi, penuh disiplin, tetapi melahirkan begitu banyak seniman yang kemudian berjalan dengan kakinya sendiri.

Hari ini, kepergian beliau membawa duka yang mendalam. Saya merasa kehilangan seorang guru, seorang pembimbing, sekaligus seorang sahabat dalam perjalanan berkesenian.
Selamat jalan, Bang Diding Boneng. Terima kasih atas setiap pelajaran, setiap teguran, setiap tawa, dan setiap proses yang telah Abang berikan kepada kami. Apa yang Abang tanamkan dahulu akan terus kami bawa, bukan hanya di atas panggung, tetapi juga dalam menjalani kehidupan. Sebab pada akhirnya, teater bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan cara manusia belajar menjadi manusia.

“Barangkali itulah keabadian seorang seniman: tubuhnya kembali kepada tanah, tetapi proses yang diwariskannya terus tumbuh dalam generasi berikutnya.”

— Nuyang Jaimee

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilaf, melapangkan alam kubur, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Husnul khotimah insya Allah bang.  Al-Fatihah.

Kategori:
Tags:

Terkini