SIDOARJO, Suara Anak Negeri – Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Desa Bulang, Kecamatan Prambon, Kabupaten Sidoarjo, tidak sekadar menghadirkan program pengabdian masyarakat. Perjumpaan mahasiswa dengan warga RW 04 Dusun Tangunan menjadi ruang belajar bersama tentang gotong royong, ketahanan pangan, potensi ekonomi lokal, serta kehidupan sosial masyarakat.
Kelompok KKN UMM 2026 yang ditempatkan berdasarkan domisili mahasiswa di Kabupaten Sidoarjo kemudian menggali berbagai potensi Desa Bulang. Salah satunya adalah UMKM klepon yang didorong agar semakin dikenal masyarakat melalui promosi serta pembuatan video profil desa.
Ketua KKN UMM 2026, Robi Pramudito, mengatakan salah satu program yang dilaksanakan bersama warga adalah penanaman cabai, tomat, dan terong sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan. Selain itu, mahasiswa turut menggelar berbagai perlombaan dalam rangka memeriahkan kemerdekaan yang menjadi momentum mempererat hubungan antarwarga di RW 04.
Baca juga: KAPP Waropen: Implementasi Otsus Harus Berbasis Pemberdayaan Ekonomi Mandiri bagi OAP dan UMKM
“Proker kami tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya partisipasi dan kerja sama dari warga Desa Bulang,” ujar Robi.
Ketua RW Dusun Tangunan, Basuni, menyambut positif kehadiran mahasiswa KKN UMM. Menurutnya, berbagai kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa memberikan energi baru sekaligus mencairkan suasana di tengah masyarakat.
“Mahasiswa KKN UMM bisa mencairkan suasana menjadi lebih guyub, rukun, penuh canda dan tawa, terutama dengan akhlak yang sopan dan santun,” kata Basuni.
Hal serupa dirasakan Zalfa Zahirah Septriasa, anggota Tim Publikasi dan Dokumentasi KKN UMM 2026. Interaksi bersama ibu-ibu dan anak-anak di Dusun Tangunan membuat rasa canggung yang awalnya dirasakan mahasiswa perlahan berubah menjadi kedekatan dan rasa memiliki terhadap masyarakat.
“Kami belajar bahwa kebersamaan dan gotong royong bukan hanya teori yang dipelajari di kampus, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan masyarakat,” ujar Zalfa.
Menurut Zalfa, perempuan di Dusun Tangunan memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan melalui keterampilan, kreativitas, dan kebersamaan. Potensi tersebut antara lain dapat diarahkan pada pengembangan UMKM, pengolahan hasil lokal, pemasaran digital, hingga pelatihan berbagai keterampilan.
Ia berharap program KKN tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, tetapi mampu meninggalkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat dilanjutkan masyarakat secara mandiri.
Sementara itu, pegiat literasi dan praktisi lingkungan hidup sekaligus guru keliling desa dan Founder Jelajah Selindu, Moh Makrus Sahlan, memandang kegiatan tersebut sebagai bentuk pembelajaran berbasis masyarakat.
Menurutnya, dusun bukan hanya lokasi pengabdian, melainkan ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman hidup masyarakat.
“Mahasiswa datang membawa pengetahuan, tetapi mereka juga harus pulang membawa pengetahuan baru dari masyarakat. Banyak pelajaran tentang gotong royong, ketahanan pangan, lingkungan, budaya, dan kehidupan sosial yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas,” ujar Makrus.
Pendekatan tersebut sejalan dengan gerakan Jelajah Selindu melalui program Jelajah Dusun dan Jendela Dunia, yang menjadikan pengalaman masyarakat sebagai sumber pembelajaran sekaligus sarana mengenali dan mendokumentasikan berbagai potensi lokal.
Bagi Makrus, keberhasilan pengabdian masyarakat tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, tetapi juga dari sejauh mana hubungan dan pengetahuan yang terbangun dapat terus hidup setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Dari bibit cabai, tomat, dan terong, warga belajar tentang pentingnya ketahanan pangan. Dari UMKM klepon, mahasiswa belajar membaca potensi ekonomi lokal. Dari kegiatan kemerdekaan, mereka menemukan kekuatan gotong royong. Sementara dari kehidupan warga, mahasiswa belajar bahwa dusun bukan sekadar tempat untuk mengabdi, tetapi juga ruang untuk belajar.
Pada akhirnya, keberhasilan KKN bukan hanya tentang berapa banyak program yang berhasil diselesaikan, melainkan tentang apa yang tetap tumbuh setelah mahasiswa meninggalkan desa: pengetahuan, kemandirian, kepedulian, dan semangat gotong royong.
Dari RW 04 Dusun Tangunan, Desa Bulang, praktik tersebut menunjukkan bahwa ketika kampus dan masyarakat saling belajar, program pengabdian dapat meninggalkan kebiasaan baik yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Laporan : Akbar Arianto


