Minggu, 23 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

PUISI  Rizal Tanjung

PUISI
Rizal Tanjung

Barangkali,
yang mati lebih dahulu
bukanlah kebebasan.

Baca juga: TRIO SRIKANDI KOTA BATU

Melainkan
telinga.

Sebab di negeri ini,
kata-kata
telah kehilangan
tempat bersandar.

Ia mengetuk
pintu-pintu istana
dengan buku-buku puisi
yang harum oleh luka.

Baca juga: Semesta Berkata

Tetapi pintu itu
dibangun
dari batu kesombongan,
sementara gagangnya
terbuat
dari kepentingan.

Tak ada yang membuka.

Tak ada yang menjawab.

Yang terdengar
hanya gema
tepuk tangan
yang dipelihara
untuk memuji dirinya sendiri.

Puisi datang
tanpa senjata.

Ia hanya membawa
selembar nurani
yang dilipat
menjadi metafora.

Namun penguasa
telah lama
belajar
menjadikan diam
sebagai benteng.

Mereka menutup telinga
bukan dengan tangan,
melainkan
dengan gemuruh pujian.

Mereka menutup mata
bukan dengan kain,
melainkan
dengan kilau kekuasaan.

Dan mereka menutup hati
bukan dengan besi,
melainkan
dengan keyakinan
bahwa suara sendiri
adalah satu-satunya
kebenaran.

Pamflet-pamflet
berguguran.

Bukan karena hujan.

Melainkan karena
tak ada lagi
yang mau membaca
bahasa penderitaan.

Satire
mengasah lidahnya
hingga setajam mata pisau.

Namun pisau itu
tak pernah menyentuh
kulit keangkuhan.

Sebab kesombongan
telah mengenakan
baju zirah
yang ditempa
dari pujian
para penjilat.

Aku melihat
kritik
berjalan pincang.

Satu kakinya
dirantai rasa takut.

Kaki yang lain
ditertawakan
oleh mereka
yang menganggap
kekuasaan
adalah puncak gunung
yang tak mungkin longsor.

Padahal sejarah
adalah sungai.

Ia sabar.

Tetapi tak pernah lupa
membawa batu-batu
ke muara.

Di ruang-ruang megah
tempat keputusan dilahirkan,

puisi
hanya menjadi
hiasan dinding.

Ia dibacakan
ketika upacara.

Dikutip
ketika pidato.

Dipuji
ketika perayaan.

Lalu dibuang
ketika ia mulai
bertanya.

Betapa murahnya
harga kata-kata
di hadapan
mereka
yang lebih mencintai
gema kekuasaan
daripada suara kebenaran.

Kini
puisi tak lagi
berteriak
di depan pagar besi.

Ia berdesakan
di media sosial.

Menjadi tagar.

Menjadi unggahan.

Menjadi komentar
yang tenggelam
di bawah banjir
hiburan.

Di sana,
demonstrasi
tak lagi memakai
spanduk kain.

Ia memakai
layar kaca.

Namun layar
tak memiliki hati.

Ia hanya memantulkan
apa yang ramai,
bukan apa
yang benar.

Aku melihat
algoritma
menjadi raja baru.

Ia memilih
mana tangisan
yang layak didengar.

Mana luka
yang harus disembunyikan.

Mana kritik
yang dikubur
di dasar sunyi.

Dan puisi
berjalan
bagai pengemis
dari satu linimasa
ke linimasa lainnya,
meminta sedikit perhatian
agar nurani
tidak mati
sebelum tubuhnya.

Wahai penguasa,

jangan takut
kepada puisi.

Puisi
tidak sedang
merebut singgasana.

Ia hanya
mengembalikan cermin
yang lama
engkau pecahkan.

Tetapi engkau
lebih memilih
mengumpulkan
pecahan sanjungan,
daripada menatap
wajahmu sendiri.

Sebab cermin
tak pernah pandai
berbohong.

Dan itulah
yang paling ditakuti
oleh setiap kekuasaan
yang mulai lupa
bahwa dirinya
lahir
untuk mendengar.

Hari ini,

puisi
tak mampu lagi
berunjuk rasa.

Bukan karena
ia kehilangan suara.

Tetapi karena
terlalu banyak telinga
yang memilih
menjadi batu.

Terlalu banyak kursi
yang lebih sibuk
menjaga dirinya sendiri
daripada menopang
punggung rakyat.

Terlalu banyak jendela
yang dibangun
menghadap langit,
namun ditutup rapat
dari arah bumi.

Maka biarlah
puisi
tetap menulis.

Meski setiap bait
hanya dibaca angin.

Meski setiap metafora
hanya dipeluk hujan.

Meski setiap kritik
harus berjalan
sendirian
di antara sorak-sorai
yang memuliakan
kebisuan.

Sebab sejarah
telah berkali-kali
membuktikan:

yang paling menakutkan
bagi sebuah bangsa
bukanlah
teriakan rakyat.

Melainkan saat
penguasanya
tak lagi mampu
mendengar
bisikan
nurani.

Karena ketika telinga
ditutup
oleh kesombongan,

kata-kata
akan mencari jalannya sendiri.

Ia akan hidup
di dada anak-anak.

Ia akan tumbuh
di ingatan para ibu.

Ia akan menetap
di hati mereka
yang tak rela
kemanusiaan dikalahkan
oleh keangkuhan.

Dan pada hari
ketika singgasana
hanya tinggal
debu sejarah,

puisi itu
masih akan berdiri,

membacakan
nama-nama
yang pernah memilih
mendengar,

dan nama-nama
yang terlalu sibuk
memuji dirinya sendiri
hingga tak sadar,

bahwa sebuah negeri
tidak pernah runtuh
karena terlalu banyak kritik,

melainkan karena
terlalu sedikit
telinga
yang bersedia
mendengarkan.


Sumatera Barat, Indonesia, 2026.

Kategori:
Tags:

Terkini