Minggu, 16 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

RD Ponsianus Ongirwalu: Seabad PBHK dan Estafet Iman

Oleh: johanis kopong

 

Suara Muda, Warisan Misi, Seabad yang Tidak Sekadar Dirayakan
suaraanaknegeri.com | Olilit Barat, Kepulauan Tanimbar – Sabtu, 15 Agustus 2026 – Ada sejarah yang tidak selesai ketika kalender berganti halaman. Ia hidup dalam ingatan, dalam karya, dalam perubahan wajah sebuah masyarakat, dan terutama dalam iman yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Baca juga: Jalan Pulih, Kemerdekaan Hadir di Atubul Dol

Di bumi Tanimbar, perjalanan seratus tahun kehadiran para Suster Misionaris Putri Bunda Hati Kudus (PBHK) merupakan sejarah semacam itu. Seabad bukan sekadar angka yang dirayakan dalam sebuah yubileum, melainkan jejak panjang pengabdian yang meninggalkan benih iman, pendidikan, kesehatan, pembinaan moral, dan pelayanan kemanusiaan bagi umat.

Dalam suasana itulah RD Ponsianus Ongirwalu, selaku Vikaris Episkopal Kevikepan Kabupaten Kepulauan Tanimbar, menyampaikan sambutan pada perayaan Yubileum 100 Tahun Kehadiran Empat Suster Misionaris Pertama PBHK di Tanimbar, yang dirangkaikan dengan Lomba Paduan Suara Orang Muda Katolik (OMK) tingkat paroki se-Kevikepan Kepulauan Tanimbar di Gedung Natar Kaumpu, Olilit Barat.

Bagi RD Ponsianus, perayaan tersebut merupakan perjumpaan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan Gereja. Masa lalu hadir melalui kesetiaan para misionaris. Masa kini dirayakan melalui syukur umat. Sementara masa depan tampak melalui wajah kaum muda yang mengambil bagian dalam kehidupan Gereja.

Baca juga: JALAN PANJANG: JEJAK KESENIAN DIDING BONENG (Bagian 2)

Ketika Sejarah Menjadi Kesaksian Iman
Seabad perjalanan PBHK di Tanimbar, dalam refleksi RD Ponsianus, tidak dapat dipisahkan dari penyelenggaraan Allah.
Ia mengajak umat melihat sejarah bukan semata-mata sebagai rangkaian peristiwa manusia, melainkan sebagai ruang di mana kesetiaan Tuhan bekerja melalui orang-orang yang bersedia memberikan hidupnya bagi pelayanan.

“Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa, karena atas limpahan kasih, rahmat dan penyertaan-Nya, pada hari yang berbahagia ini kita dapat berkumpul bersama dalam keadaan sehat walafiat untuk merayakan sebuah momen iman yang sangat bersejarah,” tutur RD Ponsianus.

Di balik kalimat itu tersimpan sebuah kesadaran teologis yang mendalam: karya Gereja tidak pernah hanya bertumpu pada kekuatan manusia. Ada rahmat yang bekerja melalui pengorbanan, kesetiaan, kesabaran, bahkan air mata mereka yang menjalankan panggilan pelayanan.

Empat Suster dan Sebuah Jalan Panjang
Tepat satu abad silam, empat suster misionaris pertama PBHK menapakkan kaki di tanah Tanimbar.

Mereka datang dalam konteks zaman yang tentu berbeda dengan hari ini. Sarana terbatas, perjalanan tidak mudah, tantangan sosial dan budaya tidak ringan.Namun, keterbatasan itu tidak memadamkan keberanian mereka.

RD Ponsianus menyebut kedatangan para suster sebagai sebuah perjalanan iman yang dibangun dengan keberanian dan pengorbanan.

“Atas nama pimpinan Gereja di Kevikepan Kepulauan Tanimbar, saya menyampaikan proficiat, rasa bangga, dan limpahan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Kongregasi Suster-Suster PBHK,” katanya.

Ia mengenang para misionaris pertama sebagai pribadi-pribadi yang datang membawa terang Injil sekaligus mengabdikan diri pada kebutuhan konkret masyarakat. “Mereka datang membawa terang Injil, membina moral umat, serta merintis karya pendidikan dan kesehatan yang telah melahirkan banyak generasi hebat di kepulauan ini.”

Dengan demikian, karya misi tidak berhenti pada pewartaan melalui kata-kata. Injil menjadi nyata ketika diwujudkan dalam pendidikan, pelayanan kesehatan, pembinaan manusia, dan keberpihakan kepada kehidupan.

Benih yang Ditanam dengan Air Mata
Ada metafora penting dalam refleksi RD Ponsianus: benih. Benih tidak langsung menjadi pohon. Ia membutuhkan tanah, air, waktu, ketekunan dan kesetiaan. Demikian pula karya misi. Apa yang ditanam satu generasi mungkin baru dapat dipetik hasilnya oleh generasi berikutnya.

“Benih iman yang ditaburkan dengan air mata dan kerja keras di masa lalu, kini telah tumbuh subur dan menghasilkan buah-buah keselamatan yang kita nikmati bersama hari ini,” ujarnya.

Kalimat tersebut memberi kedalaman pada makna yubileum. Seratus tahun bukan hanya tentang lamanya sebuah karya bertahan, tetapi tentang seberapa jauh karya itu mampu mengubah kehidupan.

Di situlah sejarah pelayanan PBHK mendapatkan relevansinya. Pendidikan dan kesehatan bukan sekadar program sosial, melainkan bagian dari upaya memuliakan martabat manusia.

Pembinaan iman bukan hanya pewarisan doktrin, melainkan proses membentuk manusia agar mampu hidup dalam kasih, tanggung jawab dan pengabdian.

Yubileum sebagai Syukur, Bukan Nostalgia
Perayaan yubileum juga tidak diarahkan untuk menjadikan masa lalu sebagai nostalgia. RD Ponsianus menempatkan peringatan seratus tahun sebagai momentum untuk membaca kembali karya Allah dalam perjalanan Gereja.

“Perayaan Yubelium ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi menjadi momentum syukur atas kesetiaan Allah yang senantiasa menyertai karya pelayanan Gereja-Nya di Tanimbar.”

Perspektif tersebut penting bagi Gereja masa kini. Sejarah yang hanya dikenang akan berhenti sebagai memori. Namun sejarah yang direnungkan dapat menjadi sumber keberanian untuk melanjutkan misi.

Seabad PBHK, dengan demikian, bukan garis akhir. Ia menjadi titik jeda untuk bertanya: apa yang akan diwariskan oleh generasi hari ini kepada generasi berikutnya?

Ketika Kaum Muda Menjadi Suara Gereja
Pertanyaan itu menemukan jawabannya dalam kehadiran Orang Muda Katolik.
Perayaan Yubileum 100 Tahun PBHK dirangkaikan dengan Lomba Paduan Suara OMK tingkat paroki se-Kevikepan Kepulauan Tanimbar. Di sini, suara kaum muda tidak sekadar menjadi hiburan dalam sebuah perayaan.

Ia menjadi simbol keberlanjutan.
RD Ponsianus mengutip Mazmur 96:1:
“Bernyanyilah bagi Tuhan sebuah nyanyian baru, bernyanyilah bagi Tuhan, hai segenap bumi!”

Ayat tersebut memperoleh makna baru ketika dibawa ke tengah kehidupan OMK. Nyanyian menjadi doa. Harmoni menjadi simbol persaudaraan. Paduan suara menjadi gambaran Gereja yang terdiri atas banyak pribadi dengan karakter dan suara berbeda, tetapi dipanggil untuk menemukan kesatuan dalam Tuhan.

“Kehadiran OMK sekalian dalam perlombaan ini adalah wujud nyata dari dinamika kaum muda Katolik Tanimbar yang hidup, kreatif, dan penuh talenta,” kata RD Ponsianus.

Dari Panggung Lomba Menuju Panggung Kesaksian
Bagi RD Ponsianus, kompetisi bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana kaum muda menemukan ruang untuk bertumbuh, berjumpa, dan membangun persaudaraan.

“Melalui alunan suara dan harmoni paduan suara yang dibawakan, OMK dipanggil untuk tidak hanya bernyanyi, tetapi juga mewartakan kebaikan Tuhan dan meneruskan tongkat estafet pelayanan di tengah Gereja dan masyarakat.”

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa Gereja membutuhkan kaum muda bukan hanya sebagai peserta kegiatan, melainkan sebagai subjek misi.

Kaum muda dipanggil untuk hadir dalam realitas masyarakat, membaca tantangan zaman, mengembangkan talenta, menjaga persaudaraan, serta menghadirkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan sehari-hari.

Sportivitas yang Berakar pada Persaudaraan
Karena itu, RD Ponsianus mengingatkan seluruh peserta agar mengikuti perlombaan dengan sukacita dan semangat sportivitas. “Tampilkan kemampuan terbaik kalian dengan penuh sukacita dan semangat sportivitas. Jadikan ajang ini sebagai sarana mempererat tali persaudaraan (solidaritas) antar-OMK lintas paroki.”

Pesan tersebut menggeser perspektif perlombaan dari sekadar persoalan menang dan kalah menuju sebuah perjumpaan.

Dalam kehidupan Gereja, kemenangan terbesar bukanlah ketika satu kelompok mengalahkan kelompok lain. Kemenangan yang lebih hakiki adalah ketika setiap peserta pulang dengan persaudaraan yang lebih kuat dan iman yang semakin diteguhkan.

Seabad PBHK dan Estafet yang Belum Berakhir
Jika empat suster pertama datang membawa semangat misioner satu abad lalu, maka pertanyaan penting bagi generasi sekarang adalah siapa yang akan melanjutkan semangat tersebut.

Jawabannya tidak hanya berada di tangan para imam, biarawan, biarawati atau pengurus Gereja. Estafet itu juga berada di tangan keluarga, pendidik, komunitas umat, dan terutama kaum muda.

Sejarah Gereja selalu membutuhkan generasi penerus. Karena itu, kehadiran OMK dalam perayaan yubileum menjadi simbol penting. Di tengah perubahan zaman, digitalisasi, arus informasi, dan berbagai tantangan kehidupan kaum muda, Gereja membutuhkan generasi yang tidak kehilangan akar iman sekaligus mampu membaca masa depan.

Doa bagi Gereja Tanimbar
Menutup sambutannya, RD Ponsianus menyampaikan apresiasi kepada panitia penyelenggara, Dewan Pastoral Kevikepan, para pendamping OMK, serta seluruh pihak yang bekerja menyukseskan rangkaian kegiatan.

Ia berharap perayaan yubileum dan perjumpaan akbar OMK menghasilkan buah rohani yang lebih panjang daripada sekadar kemeriahan sebuah acara.

“Semoga melalui perayaan Yubelium 100 Tahun PBHK dan perjumpaan akbar OMK ini, iman kita semakin diteguhkan, kaum muda kita semakin dibakar oleh semangat misioner, dan Kevikepan Kepulauan Tanimbar terus diberkati dalam lindungan Hati Kudus Yesus dan doa perantaraan Bunda Maria.” Doa tersebut menjadi penutup yang sekaligus membuka sebuah perjalanan baru.

Seratus tahun telah berlalu. Empat suster pertama telah meninggalkan jejak. Generasi demi generasi telah menerima benih iman. Kini, tanggung jawab itu berpindah kepada generasi yang hidup pada zaman ini.

Dari Empat Suster kepada Generasi Berikutnya
Seabad PBHK di Tanimbar pada akhirnya bukan hanya cerita tentang empat perempuan yang pernah datang ke sebuah tanah kepulauan. Ia adalah cerita tentang keberanian menjawab panggilan, kesetiaan merawat kehidupan, dan kesediaan menanam benih yang mungkin baru dipanen puluhan tahun kemudian.

Di Gedung Natar Kaumpu, ketika suara OMK menggema dalam harmoni, masa lalu dan masa depan seolah bertemu dalam satu ruang. Suara itu membawa pesan yang sederhana: iman yang diwariskan tidak boleh berhenti sebagai kenangan. Ia harus menjadi kehidupan.

Dan ketika sejarah pelayanan PBHK memasuki usia seratus tahun, Gereja Tanimbar kembali diingatkan bahwa misi tidak pernah selesai. Ia hanya berpindah tangan.

Dari mereka yang dahulu datang membawa Injil, kepada mereka yang hari ini menerima warisan iman, lalu kepada generasi yang kelak akan meneruskannya.

Selamat Yubileum 100 Tahun Suster PBHK. Selamat berfestival bagi OMK Kevikepan Kepulauan Tanimbar. Tuhan memberkati. Salve. (RD Ponsianus Ongirwalu
Vikaris Episkopal Kevikepan Kabupaten Kepulauan Tanimbar)

Kategori:
Tags:

Terkini