Rabu, 12 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Seminari Adalah Jantung Masa Depan Gereja

Oleh: johanis kopong

 

Ketika Kerendahan Hati Menjadi Jalan Perutusan
https://suaraanaknegeri.com | Saumlaki, Selasa, 11 Agustus 2026 – Ada tempat-tempat yang tampak sunyi bagi dunia, tetapi sesungguhnya sedang menjadi ruang penting bagi masa depan Gereja. Seminari Santo Yohanis Vianney (SYV) Saumlaki adalah salah satunya. Di balik kehidupan yang berlangsung dalam ritme doa, studi, disiplin, dan pembinaan, terdapat sebuah misteri yang jauh lebih dalam: manusia-manusia muda sedang belajar mendengarkan suara Tuhan dan menemukan ke mana hidup mereka hendak diarahkan.

Baca juga: Puisi Nuyang Jaimee

Pada sore yang dipenuhi suasana syukur itu, pergantian Rektor Seminari SYV Saumlaki tidak berhenti sebagai seremoni pergantian kepemimpinan. Misa Syukur, Lepas Sambut dan Serah Terima Jabatan Rektor menjadi momentum untuk membaca kembali arti sebuah perutusan. RD Ponsianus Ongirwalu, Vikaris Episkopal Kevikepan Kepulauan Tanimbar, membawa refleksi itu ke pusat kehidupan Gereja: kerendahan hati, kesetiaan, pembinaan panggilan, dan keberanian untuk menyerahkan masa depan kepada penyelenggaraan Ilahi.

Bagi Gereja, seorang rektor seminari bukan sekadar pengelola lembaga. Ia berada di jantung proses pembentukan manusia yang kelak dapat dipercayakan menjadi pelayan Altar, pewarta Injil, dan gembala umat. Karena itu, pergantian seorang rektor mengandung makna yang lebih besar daripada pergantian sebuah jabatan. Di sana ada estafet tanggung jawab dan keberlanjutan sebuah harapan.

Kecil Namun Berharga”
Perayaan tersebut berlangsung bertepatan dengan Peringatan Wajib Santa Klara dari Assisi. Dalam sambutannya, RD Ponsianus menghubungkan peringatan tersebut dengan pesan Injil tentang sebuah paradoks yang selalu menjadi inti spiritualitas Kristiani: kebesaran justru ditemukan ketika manusia bersedia menjadi kecil di hadapan Allah.

Baca juga: Antara Pusat Kesenian dan Ruang Kebudayaan: Perdebatan Makna dan Fungsi Taman Ismail Marzuki

“Peringatan Santa Klara dan Injil yang baru saja kita dengarkan membawa pesan yang amat jernih tentang ‘Kecil Namun Berharga.’ Di mata dunia, kepemimpinan sering kali diukur dari megahnya kekuasaan atau ramainya tepuk tangan. Namun di rumah pembinaan calon imam ini, kebesaran diukur dari kesediaan untuk menjadi rendah hati seperti anak kecil, siap melayani, siap menuntun, dan siap mempercayakan seluruh hidup pada penyelenggaraan Ilahi.”

Kalimat tersebut seakan menjadi cermin bagi seluruh proses pembinaan di seminari. Di tengah budaya yang sering menempatkan kekuasaan, popularitas, dan pencapaian sebagai ukuran keberhasilan, panggilan Kristiani justru mengajarkan jalan sebaliknya.

Menjadi kecil bukan berarti kehilangan martabat. Menjadi kecil berarti menyadari bahwa manusia bukan pusat dari segala sesuatu. Dalam kerendahan hati, seorang calon imam belajar bahwa hidupnya bukan terutama tentang dirinya sendiri, melainkan tentang Kristus dan umat yang kelak dipercayakan kepadanya.

Karena itu, seminari bukan tempat untuk membangun ambisi pribadi. Seminari adalah ruang discernment, tempat seorang anak muda belajar membedakan suara Tuhan dari berbagai suara lain yang datang dari dalam dirinya maupun dari dunia di sekitarnya.

Ketika Perutusan Tidak Selalu Terlihat
Dalam kesempatan tersebut, RD Ponsianus menyampaikan penghargaan kepada RD Richardus Sukrisno yang mengakhiri masa perutusannya sebagai Rektor Seminari SYV Saumlaki.

Penghargaan itu tidak hanya diarahkan kepada pekerjaan yang tampak. Lebih jauh, ia menyentuh pekerjaan batin yang berlangsung dalam pembinaan calon imam, sebuah pekerjaan yang sering kali tidak terlihat, tetapi justru menentukan.

“Menjadi Rektor Seminari bukanlah tugas yang ringan. Ia bukan sekadar mengelola administrasi atau menjaga bangunan fisik, melainkan menempa jiwa dan karakter calon-calon pelayan Altar.”

RD Ponsianus kemudian mengingatkan bahwa pembinaan tersebut memiliki harga pengorbanan yang tidak selalu dapat dihitung.

“Bapak Pastor telah menanamkan benih-benih kebaikan, membentuk pola pikir, dan menjadi Bapa spiritual bagi anak-anak kita di seminari ini. Ada tetes keringat, Doa-doa yang tak terdengar dalam hening malam, serta kesabaran yang tak terhitung jumlahnya.”

Di situlah wajah pelayanan Gereja menemukan dimensinya yang paling manusiawi. Ada pekerjaan yang tidak menghasilkan tepuk tangan, tetapi menghasilkan perubahan hidup. Ada doa yang tidak diketahui siapa pun, tetapi mungkin menjadi kekuatan bagi seseorang untuk bertahan. Ada teguran yang pada saat diberikan mungkin terasa berat, tetapi kelak dipahami sebagai bentuk kasih.

“Mungkin tidak semua benih yang Pastor tanam langsung berbuah hari ini, tetapi percayalah, di mata Tuhan, setiap ketulusan dan pengorbanan Pastor adalah persembahan yang amat berharga.”

Ungkapan itu sekaligus mengingatkan bahwa dalam logika Kerajaan Allah, keberhasilan tidak selalu identik dengan hasil yang segera terlihat. Seorang pembina dapat menanam tanpa mengetahui kapan benih itu tumbuh. Ia dapat mendampingi tanpa mengetahui sejauh mana pengaruh pendampingannya kelak. Namun dalam iman, tidak ada ketulusan yang sia-sia.

Estafet yang Tidak Pernah Putus
Setelah satu perutusan selesai, perutusan lain dimulai. RD Denny Rahayaan menerima tanggung jawab baru sebagai Rektor Seminari SYV Saumlaki.

Kepada rektor yang baru, RD Ponsianus menyampaikan ucapan selamat sekaligus sebuah pesan bahwa jabatan tersebut harus dipahami sebagai kepercayaan Gereja. “Selamat datang dan selamat bertugas sebagai Rektor Seminari SYV Saumlaki yang baru.”

“Tugas ini adalah sebuah kepercayaan besar dari Gereja, tetapi lebih dari itu, ini adalah perutusan langsung dari Kristus Sang Gembala Agung.”

Di balik kalimat tersebut terdapat sebuah pemahaman penting tentang kepemimpinan Gereja. Jabatan bukanlah hak untuk berkuasa. Jabatan adalah mandat untuk melayani.

Seorang rektor seminari bukan hanya memimpin institusi. Ia ikut mengambil bagian dalam tugas Gereja untuk membentuk pribadi-pribadi yang kelak akan menjadi pelayan umat. Karena itu, kepemimpinannya harus berakar pada spiritualitas Gembala yang mengenal, mendengarkan, menuntun, dan menjaga kawanan.

“Seminari adalah Jantung Keuskupan”
RD Ponsianus kemudian menggunakan sebuah metafora yang kuat untuk menggambarkan posisi Seminari SYV dalam kehidupan Gereja.

“Seminari adalah ‘jantung’ Keuskupan kita. Jika jantungnya berdetak sehat dan kuat, maka seluruh tubuh Gereja akan merasakan dampaknya.” Ungkapan tersebut bukan sekadar metafora puitis. Ia mengandung konsekuensi pastoral.

Jantung bekerja dalam keheningan, tetapi menentukan kehidupan seluruh tubuh. Demikian pula seminari. Tidak selalu menjadi pusat perhatian publik, tetapi kualitas kehidupan di dalamnya akan turut menentukan kualitas para pelayan Gereja di masa depan.

Jika pembinaan panggilan dilakukan dengan serius, jika spiritualitas dibangun dengan kokoh, jika pendidikan berjalan dengan baik, dan jika para seminaris didampingi dengan kasih serta ketegasan, maka Gereja memperoleh fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi masa depan.

Sebaliknya, ketika pembinaan panggilan kehilangan kedalaman spiritual dan hanya menjadi rutinitas kelembagaan, Gereja berisiko kehilangan dimensi terdalam dari proses mempersiapkan para gembala.

Gembala yang Membawa Kedamaian
Karena itu, RD Ponsianus memberikan sebuah model kepemimpinan kepada RD Denny Rahayaan. “Jadilah Gembala yang membawa kedamaian, Pembina yang bijaksana, dan Bapa yang mendengarkan.”
Pesan itu sederhana, tetapi menuntut kedalaman karakter.

Menjadi gembala berarti bersedia berjalan bersama mereka yang dipercayakan. Menjadi pembina berarti memahami bahwa setiap orang memiliki proses pertumbuhan yang berbeda.

Menjadi seorang bapak berarti mampu memberikan rasa aman tanpa kehilangan ketegasan. RD Ponsianus melanjutkan pesan tersebut dengan menekankan pentingnya kedekatan dengan para seminaris.

“Dekatilah para seminaris kita dengan hati seorang bapak yang memahami kelemahan mereka, namun senantiasa menuntun mereka menuju kepenuhan panggilan Kristus.”

Pembinaan panggilan dengan demikian tidak dapat dilakukan hanya melalui aturan. Aturan memang penting, tetapi aturan tanpa relasi dapat berubah menjadi formalitas. Sebaliknya, kasih tanpa disiplin dapat kehilangan arah.

Keduanya harus berjalan bersama: kebenaran dan kasih, ketegasan dan pengampunan, disiplin dan pendampingan.

Para Seminaris dan Misteri Panggilan
Kemudian perhatian RD Ponsianus diarahkan kepada mereka yang menjadi alasan utama Seminari SYV Saumlaki terus berdiri: para seminaris. “Kalian adalah alasan mengapa rumah pembinaan ini berdiri.”

Kalimat tersebut menempatkan para seminaris bukan sebagai objek pendidikan, melainkan sebagai pribadi yang sedang menjalani sebuah perjalanan rohani.

“Di tempat inilah kalian belajar menjadi pribadi yang rendah hati namun berdampak besar, menjadi kecil di hadapan Tuhan, namun sangat berharga bagi masa depan Gereja.”

Para seminaris mungkin masih muda. Mereka masih belajar memahami diri, dunia, Gereja, dan panggilan hidup. Namun justru dalam proses itulah pembinaan menjadi penting. “Hormatilah para pembina kalian, dan bukalah hati untuk terus dibentuk.”

Membuka hati untuk dibentuk merupakan salah satu tuntutan paling berat dalam kehidupan manusia. Sebab pembentukan berarti bersedia dikoreksi. Bersedia belajar dari kesalahan. Bersedia meninggalkan kebiasaan yang tidak baik. Bersedia mengakui keterbatasan.

Dalam perspektif panggilan, semua itu bukan penghinaan terhadap pribadi, melainkan bagian dari proses pemurnian.
Seorang calon imam tidak dibentuk untuk menjadi manusia tanpa kelemahan. Ia dibentuk agar mengenali kelemahannya, mengolahnya dalam terang iman, dan belajar mengandalkan rahmat Tuhan.

Gereja Tidak Hanya Membutuhkan Imam, tetapi Gembala
Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, Gereja membutuhkan pelayan yang bukan hanya menguasai pengetahuan teologis, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kepekaan pastoral.

Umat membutuhkan imam yang mampu hadir ketika keluarga mengalami krisis. Mereka membutuhkan gembala yang mampu mendengarkan kaum muda, mendampingi mereka yang terluka, menyapa mereka yang merasa tersisih, dan menghadirkan pengharapan ketika kehidupan terasa berat.

Karena itu, proses pembinaan di seminari memiliki konsekuensi langsung terhadap masa depan pelayanan Gereja. Apa yang ditanamkan hari ini dapat menjadi karakter pelayanan bertahun-tahun kemudian.

Doa yang dibiasakan hari ini dapat menjadi kekuatan seorang imam ketika menghadapi masa sulit. Disiplin yang dibangun hari ini dapat menjadi fondasi ketika kelak ia memikul tanggung jawab pastoral yang besar. Dan kerendahan hati yang dilatih hari ini dapat menjadi pelindung ketika suatu hari ia berhadapan dengan kekuasaan, penghormatan, dan berbagai godaan dunia.

Menyerahkan Masa Depan kepada Penyelenggaraan Ilahi
Pada bagian akhir sambutannya, RD Ponsianus membawa seluruh perjalanan Seminari SYV Saumlaki kembali kepada Tuhan. “Marilah kita menyerahkan seluruh peziarahan Seminari SYV Saumlaki ini ke dalam perlindungan, Santo Yohanis Vianney, dan Santa Klara. Semoga rumah pembinaan ini senantiasa melahirkan imam-imam yang tangguh, rendah hati, dan penuh kasih.”

Doa tersebut menjadi pengingat bahwa Gereja tidak pernah sepenuhnya menguasai misteri panggilan. Manusia dapat mendidik, membimbing, mengarahkan, dan mendampingi. Namun panggilan tetap merupakan karya rahmat.
Karena itu, setiap proses pembinaan pada akhirnya harus kembali kepada penyelenggaraan Ilahi.

RD Richardus Sukrisno telah menanam. RD Denny Rahayaan melanjutkan perutusan. Para seminaris meneruskan perjalanan mereka. Para pembina, imam, orang tua, umat, dan para donatur ikut mengambil bagian dalam perjalanan tersebut.

Tidak ada peran yang benar-benar kecil ketika semuanya diarahkan kepada satu tujuan: agar Gereja memiliki pelayan yang tangguh, rendah hati, dan penuh kasih.

Menanam dalam Sunyi, Menanti Buah dalam Iman
“Terima kasih atas seluruh dedikasi RD. Richardus Sukrisno, dan selamat berkarya bagi RD. Denny Rahayaan. Tuhan memberkati kita sekalian.”

Pesan RD Ponsianus pada akhirnya bukan hanya ditujukan kepada dua orang imam yang menjalani pergantian perutusan. Ia menjadi pesan bagi seluruh komunitas Gereja.

Sebab setiap orang yang terlibat dalam kehidupan seminari sesungguhnya sedang mengambil bagian dalam sebuah karya yang buahnya mungkin belum dapat dilihat hari ini.

Seperti seorang petani yang menanam benih, Gereja harus memiliki kesabaran untuk menunggu. Ia harus memiliki iman untuk percaya bahwa benih yang ditanam dalam tanah yang baik, disiram dengan doa, dirawat dengan kasih, dan dijaga dengan disiplin, pada waktunya akan menghasilkan buah.

Di Seminari Santo Yohanis Vianney Saumlaki, masa depan Gereja Tanimbar sedang bertumbuh dalam cara yang mungkin tidak selalu terlihat.
Di sana, para seminaris belajar menjadi kecil.

Bukan untuk kehilangan arti. Bukan untuk mengecilkan diri. Melainkan untuk belajar bahwa seorang pelayan Kristus hanya dapat menjadi besar ketika ia bersedia menempatkan Tuhan dan umat di atas kepentingan dirinya sendiri.

Dan mungkin, di situlah inti pesan RD Ponsianus Ongirwalu: kebesaran dalam Gereja tidak terutama diukur dari seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi dari seberapa dalam ia bersedia merendahkan diri untuk melayani.

Dari rumah pembinaan yang tenang itu, Gereja menanti para gembala masa depan, manusia-manusia yang bukan hanya mampu berbicara tentang Kristus, tetapi juga menghadirkan kasih Kristus melalui kehidupan mereka. Tuhan memberkati.

(Sumber: Sambutan RD Ponsianus Ongirwalu, Vikaris Episkopal Kevikepan Kepulauan Tanimbar, pada Misa Syukur, Lepas Sambut dan Serah Terima Jabatan Rektor Seminari Santo Yohanis Vianney Saumlaki, Selasa, 11 Agustus 2026)

 

 

Kategori:
Tags:

Terkini