Senin, 14 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

“Ketika Tuhan Menenun Persaudaraan: Refleksi Duan Lolat dan Pesan Pengampunan dari Misa Inkulturasi Tanimbar di Katedral Timika”

Laporan Paulus Laratmase

_

TIMIKA, SUARA ANAK NEGERI — Ada pagi ketika gereja tidak hanya menjadi tempat umat berkumpul untuk merayakan Ekaristi, tetapi juga menjadi ruang tempat kebudayaan, iman dan pengalaman hidup manusia bertemu dalam satu altar.

Baca juga: Bidik Ekosistem Umrah Terintegrasi, JARDY Travel Gandeng BPRS Harum Hikmahnugraha

Itulah suasana yang terasa dalam Misa Inkulturasi Etnis Tanimbar di Gereja Katedral Kristus Raja Timika, yang dipimpin Romo RD. Amandus Rahadat, pada Minggu, 13 September 2026. Pakaian khas etnik Tanimbar, lantunan lagu-lagu koor dalam bahasa Tanimbar, serta kehadiran umat dalam balutan identitas budaya leluhur menghadirkan warna tersendiri dalam perayaan ekaristi kudus.

Namun, yang membuat perayaan itu terasa lebih dalam bukan semata-mata keindahan busana dan lantunan lagu daerah. Ada sebuah pesan yang mengalir dari homili Romo Amandus: bahwa iman Kristiani tidak pernah meminta manusia meninggalkan akar budayanya, tetapi justru mengajak budaya menjadi jalan untuk semakin memahami kasih Allah.

Di hadapan umat Paroki Katedral Kristus Raja Timika, khususnya umat Tanimbar, Romo Amandus membuka refleksinya dengan dua pokok pikiran yang kemudian dirajut menjadi satu pesan besar tentang persaudaraan dan pengampunan.

Baca juga: TORA BUNGA GENJER — “DUKA IBU PERTIWI”

Duan Lolat: Sebuah Cara Menghidupi Persaudaraan

Romo Amandus mengangkat filosofi Duan Lolat, sebuah sistem hukum adat sekaligus filosofi hidup masyarakat Tanimbar yang mengatur hubungan antarmanusia dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Dalam pemahamannya, Duan merupakan pihak pemberi, sementara Lolat adalah pihak penerima. Relasi ini, selain bermakna memberi dan menerima dalam arti material, tetapi sebuah ikatan timbal balik yang melahirkan tanggung jawab, penghormatan, solidaritas dan keharmonisan.

“Duan itu pihak pemberi, sementara lolat itu pihak penerima,” demikian penjelasan Romo Amandus dalam homilinya.

Dalam perspektif itu, Tuhan dapat dipahami sebagai Duan, demikian pula orang tua, kakak atau mereka yang berada dalam posisi memberi. Sebaliknya, ibu, adik, hamba atau mereka yang menerima dapat ditempatkan dalam posisi Lolat.

Tetapi hubungan itu tidak berhenti pada siapa memberi dan siapa menerima.

Di sanalah letak kedalaman filosofi Duan Lolat.

Hubungan tersebut melahirkan ikatan timbal balik yang kuat. Hubungan antara Tuhan dan manusia, orang tua dan anak, kakak dan adik, pemberi dan penerima, semuanya diarahkan kepada satu tujuan: kehidupan bersama yang harmonis dan teratur.

“Duan Lolat menghadirkan nilai kebersamaan dan nilai solidaritas,” ungkap Romo Amandus.

Kalimat sederhana itu terasa seperti sebuah pintu yang membuka pemahaman lebih luas: bahwa kebudayaan dapat menjadi sumber nilai untuk membangun kehidupan bersama pada masa kini.

Ketika Gereja Menjadi Kain Tenun

Refleksi kemudian bergerak dari Duan Lolat menuju kain tenun Tanimbar.

Romo Amandus mengingatkan bahwa Tanimbar dikenal dengan tradisi tenunnya. Kain bukan hanya benda budaya yang dikenakan tubuh. Di balik setiap benang, warna dan motif, tersimpan sebuah cara pandang mengenai kehidupan.

Dan di sinilah muncul sebuah metafora yang sangat indah.

Gereja adalah kain tenun yang sedang dikerjakan oleh Allah.

“Gereja adalah kain tenun yang sudah dan sedang dikerjakan oleh Tuhan Allah,” kata Romo Amandus.

Metafora itu membawa umat masuk ke dalam pemahaman eklesiologis yang dekat dengan kehidupan masyarakat Tanimbar.

Sebagaimana perempuan-perempuan Tanimbar menata benang, menyusun warna dan merangkainya menjadi sehelai kain yang utuh, demikian pula Allah menghimpun manusia yang berbeda-beda ke dalam Gereja.

Ada benang putih.

Ada benang hitam.

Ada benang merah.

Ada benang biru.

Semuanya berbeda.

Namun ketika berada dalam tangan seorang penenun, perbedaan itu tidak menjadi alasan untuk dipisahkan. Justru perbedaan itulah yang membuat kain menjadi indah.

“Demikian pula Tuhan Allah menghimpun orang yang berbeda-beda, berbeda latar belakang, menjadi satu di dalam Gereja,” tutur Romo Amandus.

Pesan ini menjadi sangat relevan di tengah kehidupan masyarakat yang tidak pernah lepas dari perbedaan pandangan, pilihan, latar belakang dan pengalaman.

Bahkan mereka yang berbeda ide dan berbeda paham, menurut refleksi Romo Amandus, tidak semestinya menjadi musuh.

Mereka tetap dapat dirangkul menjadi satu oleh Tuhan.

Seperti benang yang berbeda warna, manusia tidak harus menjadi sama untuk dapat menjadi satu.

Dari Kain Tenun Menuju Pengampunan

Dari metafora kain tenun itu, homili kemudian membawa umat menuju inti bacaan Kitab Suci: pengampunan.

Dalam Injil, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang seorang hamba yang telah memperoleh pengampunan atas hutangnya, tetapi kemudian tidak mau mengampuni sesamanya yang memiliki hutang kepadanya.

Pesannya tegas.

Orang yang telah menerima pengampunan dipanggil untuk menjadi pribadi yang juga mampu mengampuni.

Romo Amandus menghubungkan pesan Injil  dengan bacaan pertama dari Kitab Putra Sirakh yang juga mengajarkan pentingnya mengampuni kesalahan sesama.

“Maafkanlah kesalahan sesamamu, niscaya dosamu akan diampuni,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam refleksinya.

Di titik ini, Duan Lolat, kain tenun dan Injil bertemu dalam satu benang merah: relasi.

Manusia tidak pernah hidup seorang diri.

Ada Tuhan.

Ada keluarga.

Ada sesama.

Ada masyarakat.

Ada Gereja.

Dan dalam semua relasi itu, manusia dipanggil untuk memberi ruang bagi kasih, rekonsiliasi dan pengampunan.

Tujuh Puluh Kali Tujuh: Kasih yang Tidak Menghitung

Pengampunan dalam ajaran Yesus bukan matematika yang berhenti pada angka.

Ketika Petrus bertanya berapa kali harus mengampuni saudaranya, jawaban Yesus tentang tujuh puluh kali tujuh menggambarkan keluasan hati yang tidak membatasi kasih dengan hitungan.

Karena kasih Allah sendiri tidak pernah bekerja dengan kalkulator.

Ia mengampuni bukan karena manusia layak, tetapi karena kasih adalah hakikat-Nya.

Dalam konteks kehidupan masyarakat Tanimbar, pesan Romo Amandus menemukan rumahnya dalam filosofi Duan Lolat. Relasi tidak dibangun di atas perhitungan untung-rugi semata, melainkan pada kewajiban moral untuk menjaga ikatan persaudaraan.

Maka pengampunan menjadi semacam benang yang menyatukan kembali kain yang hampir terurai.

Perutusan: Membawa Kabar Baik kepada Dunia yang Terluka

Refleksi Romo Amandus tidak berhenti pada pengampunan sebagai sesuatu yang hanya terjadi di dalam gereja.

Ia menghubungkannya dengan tema perutusan dalam pendalaman Kitab Suci.

Umat Kristiani diutus untuk menghadirkan kebaikan di tengah dunia yang terasa semakin tawar dan gelap.

“Kita diutus untuk membawa kabar baik bagi mereka yang letih, mereka yang kecewa akibat absennya pengampunan,” demikian pesan yang disampaikan dalam homilinya.

Kalimat itu terasa seperti sebuah seruan yang melampaui dinding gereja.

Sebab di luar gereja masih ada manusia yang terluka oleh kata-kata.

Ada keluarga yang retak karena dendam.

Ada persaudaraan yang renggang karena perbedaan pilihan.

Ada sahabat yang menjadi jauh karena salah paham.

Ada masyarakat yang terbelah karena perbedaan pandangan.

Dan kepada dunia seperti itulah umat Kristiani diutus.

Bukan untuk memperlebar luka, melainkan menjadi pembawa penyembuhan.

Bukan untuk menambah permusuhan, melainkan menghadirkan rekonsiliasi.

Bukan untuk menghapus perbedaan, melainkan menenun perbedaan itu menjadi persaudaraan.

Dari Tanimbar untuk Gereja dan Dunia

Misa Inkulturasi Etnis Tanimbar di Katedral Kristus Raja Timika akhirnya tidak hanya menjadi perayaan tentang sebuah identitas etnik.

Ia menjadi sebuah refleksi bahwa kebudayaan dapat menjadi bahasa iman.

Duan Lolat mengajarkan tentang relasi dan solidaritas.

Kain tenun mengajarkan tentang keberagaman yang dirajut menjadi kesatuan.

Dan Injil mengajarkan bahwa kesatuan itu hanya dapat bertahan ketika manusia bersedia mengampuni.

Di antara benang-benang kehidupan yang berbeda, Allah hadir sebagai Penjunan Agung.

Ia tidak membuang benang yang berbeda warna.

Ia tidak memisahkan benang yang berbeda karakter.

Ia justru menenunnya.

Satu demi satu.

Dengan sabar.

Dengan kasih.

Hingga terbentuk sebuah kain yang indah: Gereja.

Karena itu, pesan Misa Inkulturasi Tanimbar di Katedral Kristus Raja Timika seakan meninggalkan satu pertanyaan sederhana sekaligus mendalam kepada setiap umat:

Jika Allah bersedia menenun kita yang berbeda menjadi satu, mengapa manusia masih memilih untuk saling merobek?

Dan mungkin, jawaban paling sederhana telah diberikan oleh Injil:

“Ampunilah saudaramu.”

Sebab pengampunan adalah benang yang menyambung kembali persaudaraan yang putus.

Dan kasih adalah tangan Allah yang terus menenun Gereja-Nya.

 

Kategori:
Tags:

Terkini