Senin, 07 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

TORA BUNGA GENJER — “DUKA IBU PERTIWI”

Oleh: Nuyang Jaimee

Tora Bunga Genjer menghadirkan nada yang berbeda melalui puisi “Duka Ibu Pertiwi”. Puisi ini bergerak dari kesedihan menuju kritik sosial. Ia berbicara tentang kemiskinan, ketimpangan, korupsi, buruh, petani, penggusuran, bencana, serta jarak antara rakyat dan penguasa.

Ketika dibawakan dalam JAS Solidaritas NTT, 4 September 2026 lalu, puisi yang ditulis pada Mei 2020 ini menemukan kembali relevansinya. Bencana menjadi pintu untuk melihat persoalan yang lebih luas: bagaimana rakyat miskin menghadapi krisis dan bagaimana negara menjalankan keberpihakannya.

Baca juga: Tiga Puluh Dua Tahun di Depan Papan Tulis, 28  Tahun Mengabdi: Purna Bakti Guru dan Tenaga Kependidikan SMK Negeri 1 Biak

Sejak larik pertama, “Kita miskin di negeri kaya raya/Jutaan warga lapar di negara pancasila”, Tora langsung membuka puisi dengan paradoks. Indonesia disebut negeri kaya, tetapi rakyatnya masih lapar. Kekayaan dan kesejahteraan tidak otomatis berjalan bersama. Pertanyaan yang muncul kemudian bukan hanya tentang kekayaan negeri, melainkan siapa yang menikmatinya.

Larik “Makna merdeka hanya milik penguasa/Pejabat korup rumahnya bagai istana” memperkeras kritik. Kemerdekaan dipertanyakan ketika sebagian rakyat masih hidup dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan. “Merdeka” tidak lagi sekadar slogan nasionalisme, tetapi menjadi pertanyaan tentang siapa yang benar-benar merasakan kemerdekaan.

Baca juga: Jiwa di Balik Hukum: Wewangian Kasih dan Kerendahan Hati dari UST Manila

Kritik itu kemudian diarahkan kepada kehidupan buruh:

“Sementara buruh terusir dari gubuk sewa/Kehilangan pekerjaan hidup terlunta/Para pemimpin sibuk menyusun kata/Pidato di layar kaca mahal harganya”.

“Gubuk sewa”, “kehilangan pekerjaan”, dan “hidup terlunta” menghadirkan penderitaan secara konkret. Di sisi lain, pemimpin digambarkan sibuk dengan kata-kata dan pidato. Larik “Pidato di layar kaca mahal harganya” menjadi sindiran terhadap retorika kekuasaan yang tidak selalu berbanding lurus dengan tindakan. Ketika rakyat membutuhkan pekerjaan, pangan, rumah, dan perlindungan, pidato saja tidak akan cukup.

Bait berikutnya mempertemukan rakyat dengan kekuasaan ketika bencana datang:

“Semua ribut bantuan setiap bencana tiba/Solusi terjebak dalam diskusi dimeja kerja/Warga miskin bahu membahu berbuat nyata/Pejabat dan pengusaha asik bercengkrama”.

Di sini bencana menjadi ujian bagi negara. Bantuan dan solusi ramai dibicarakan, tetapi rakyat justru digambarkan bergerak lebih nyata. “Warga miskin bahu membahu berbuat nyata” menjadi salah satu larik penting karena menunjukkan solidaritas dari bawah. Mereka yang mengalami kesulitan justru saling membantu.

Sebaliknya, pejabat dan pengusaha ditempatkan dalam gambaran “asik bercengkrama”. Kontras ini sederhana, tetapi satir. Ada rakyat yang bekerja menghadapi penderitaan, sementara mereka yang memiliki kekuasaan dan modal digambarkan berada dalam ruang yang berbeda.

Puisi kemudian kembali pada pengalaman pandemi:

“Bencana wabah menyerang dada dan perut kita/Semua teringat falsafah dan keberkahan desa/Petani ditengah sawah kembali jadi garda/Banyak rakyat perutnya lapar tak bisa ditunda”.

Karena ditulis pada Mei 2020, pengalaman pandemi menjadi latar penting. Namun Tora tidak hanya melihat wabah sebagai persoalan kesehatan. “Dada dan perut” membawa persoalan pada tubuh dan kebutuhan hidup. Wabah menyerang kesehatan, sementara krisis ekonomi membuat rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Di tengah keadaan tersebut, petani kembali menjadi garda. “Petani ditengah sawah kembali jadi garda” menunjukkan pentingnya sektor pertanian ketika sistem kehidupan terguncang. Mereka memastikan pangan tetap tersedia. Namun di sinilah ironi muncul: petani yang menjadi penyangga kehidupan justru sering berada dalam posisi rentan.

Bait terakhir menjadi puncak kritik:

“Meski sering petani digusur tanahnya/Dihilangkan nyawa oleh aparat negara/Tapi petani tetap sedia menjadi garda/Sebab istana sibuk melayani pengusaha”.

Puisi masuk lebih jauh ke persoalan agraria dan kekuasaan. Petani digambarkan mengalami penggusuran, bahkan kehilangan nyawa. Aparat negara hadir dalam gambaran kekerasan, sementara “istana” menjadi simbol kekuasaan yang disebut sibuk melayani pengusaha.

Larik terakhir tersebut menjadi pukulan paling keras. Pertanyaannya sederhana: kepada siapa negara berpihak? Kepada rakyat yang menjaga pangan dan menjadi bagian terbesar dari kehidupan negeri, atau kepada kepentingan modal?

Judul “Duka Ibu Pertiwi” memperkuat ironi tersebut. Ibu Pertiwi adalah metafora tanah air. Dalam puisi Tora, tanah air sedang berduka karena anak-anaknya mengalami kelaparan, kehilangan pekerjaan, kehilangan tanah, bahkan kehilangan nyawa. Dukanya bukan hanya akibat bencana, tetapi akibat ketidakadilan yang terus berlangsung.

Dalam konteks JAS Solidaritas NTT, puisi ini mendapatkan lapisan makna baru. Bencana tidak hanya dilihat sebagai peristiwa alam. Ia membawa kita kepada persoalan tentang kelompok rentan, solidaritas masyarakat, kemiskinan, dan tanggung jawab negara. Puisi mengingatkan bahwa penderitaan korban tidak boleh berhenti menjadi angka atau berita sesaat.

Kekuatan “Duka Ibu Pertiwi” terletak pada bahasa yang langsung. Tora tidak menggunakan metafora yang rumit. Kata-kata seperti “miskin”, “lapar”, “penguasa”, “korup”, “buruh”, “petani”, “digusur”, “aparat”, dan “pengusaha” menjadi perangkat kritik yang mudah ditangkap. Kesederhanaan ini justru sesuai dengan karakter puisi perlawanan yang dibawa ke ruang publik.

Dalam pembacaan di panggung JAS, kata-kata tersebut membutuhkan tekanan vokal yang jelas. Puisi ini tidak membutuhkan gestur berlebihan. Energinya berada pada keberanian menyampaikan kritik. Jeda dapat digunakan untuk memberi bobot pada larik-larik penting, terutama ketika puisi berpindah dari penderitaan rakyat menuju kritik terhadap kekuasaan.

Pada akhirnya, “Duka Ibu Pertiwi” bukan sekadar puisi tentang kesedihan. Duka digunakan sebagai jalan menuju pertanyaan tentang keadilan. Siapa yang menikmati kemerdekaan? Siapa yang menanggung beban ketika bencana datang? Mengapa petani yang menjadi garda pangan justru dapat kehilangan tanahnya?

Dalam JAS Solidaritas NTT, Tora Bunga Genjer menghadirkan puisi sebagai suara kritik dari bawah. Solidaritas tidak hanya berarti membantu korban, tetapi juga berani membaca akar persoalan yang membuat rakyat miskin selalu menjadi kelompok paling rentan. “Duka Ibu Pertiwi” akhirnya menjadi pertanyaan kepada kekuasaan: ketika rakyat terus lapar, kehilangan pekerjaan, terusir dari tanahnya, bahkan kehilangan nyawa, sebenarnya siapa yang sedang dilayani oleh negara?

 

Tentang Penulis:

Nuyang Jaimee adalah pegiat seni dan budaya. Ia aktif di seni sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Pernah bekerja di production house dan bermain beberapa FTV, Sinetron dan Channal Youtube. Pernah menjadi kontributor di harian Madina, Bulletin H.B. Jassin dan terakhir bergabung di Suara Anak Negeri Media Group. Sampai sekarang menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru/pengajar/pelatih/narasumber seni sastra dan teater baik pelatihan/workshop umum maupun sekolah. Menjuarai lomba baca puisi se-Asia Tenggara di acara ZKMUA-Malaysia dan menjuarai lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya” terbit 2023.

 

 

 

 

Kategori:
Tags:

Terkini