BIAK — SUARA ANAK NEGERI | Ada perpisahan yang tidak pernah benar-benar selesai ketika sebuah pintu sekolah ditutup untuk terakhir kalinya.
Sebab yang tertinggal bukan hanya meja, kursi, papan tulis, buku-buku pelajaran, atau halaman sekolah yang setiap pagi menjadi tempat langkah kaki para guru. Yang tertinggal adalah suara tawa, teguran, nasihat, wajah anak-anak didik, kebersamaan dengan rekan kerja, dan ribuan kenangan yang selama puluhan tahun diam-diam tumbuh menjadi bagian dari kehidupan.
Suasana haru menyelimuti keluarga besar SMK Negeri 1 Biak ketika tiga sosok yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya akhirnya memasuki masa purna bakti sebagai aparatur sipil negara: Jefry Uneputy, Dra. Agustina Mane, dan Andris Rumaikeuw.

Bagi mereka, sekolah bukan saja tempat bekerja.
Sekolah adalah rumah kedua.
Baca juga: FORUM KOMUNITAS SENI GUGAT PENGUKUHAN 25 ANGGOTA DKJ
Di tempat itulah sebagian besar usia mereka dititipkan untuk mendidik generasi demi generasi anak Papua.
Dan ketika masa pengabdian itu berakhir, yang terasa bukan saja lega karena tugas telah selesai. Ada ruang kosong yang perlahan terasa di dalam dada.
Jefry: Dari SMEA Negeri 1 hingga SMK Negeri 1 Biak
Jefry Uneputty, yang akrab disapa Jefry, mengenang perjalanan panjangnya sejak bergabung dengan SMEA Negeri 1, yang kemudian berubah menjadi SMK Negeri 1 Biak.
Ia mulai bekerja sejak 1993 dan memasuki masa purna tugas pada 2026.
Dalam kenangannya, SMEA Negeri 1 Biak pada masanya merupakan salah satu sekolah yang memiliki reputasi kuat di kawasan Indonesia Timur.
“Saya bekerja di SMK Negeri 1 Biak, dulunya SMEA Negeri 1 sejak tahun 1993 dan baru purna tugas tahun 2026,” tutur Jefry.
Ia mengingat bagaimana para lulusan SMEA Negeri 1 Biak pada masa itu kemudian tersebar dan menduduki berbagai posisi penting di birokrasi maupun dunia usaha.
Menurutnya, selama sekitar satu dekade hingga 2003, SMEA Bosnik menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dan menjadi bagian penting dalam pembangunan.
Kenangan itu semakin kuat ketika ia mengingat masa ketika sarana dan prasarana sekolah masih menjadi salah satu yang terbaik di kawasan Indonesia Timur, setelah sekolah SMEA diresmikan oleh Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro.
Namun perjalanan waktu membawa perubahan.
Penerapan otonomi daerah, menurut Jefry, ikut mengubah perhatian terhadap sekolah. Berbagai fasilitas yang dahulu menjadi kebanggaan perlahan tertinggal oleh perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan.
SMEA pun berganti nama menjadi SMK Negeri 1 Biak.
Konsep link and match yang dahulu menjadi semangat pendidikan kejuruan pun, menurutnya, menghadapi tantangan baru ketika sarana pembelajaran tidak lagi bergerak secepat perkembangan zaman.
“Motto link and match kini sedikit bergeser dengan kurangnya sarana dan prasarana pembelajaran yang update,” katanya.
Namun di tengah segala keterbatasan itu, Jefry justru menemukan sesuatu yang lebih penting: manusia-manusia yang tetap bertahan.
Ia mengaku bangga terhadap guru dan tenaga kependidikan SMK Negeri 1 Biak yang tetap menjalankan tugas dengan disiplin meskipun berbagai fasilitas pendukung masih terbatas.
“Saya bangga dengan para guru dan tenaga kependidikan SMK Negeri 1 Biak. Biarpun sarana pendukung sangat minim, namun disiplin melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai pendidik dan pengajar.”
Ia juga mengenang kepemimpinan para kepala sekolah, dari Drs. Soehadi hingga Drs. Maskur Bora, yang menurutnya terus berjuang mengoptimalkan apa yang tersedia demi masa depan para siswa.
Tetapi ketika harus mengucapkan selamat tinggal, Jefry tidak memilih membawa keluhan.
Ia memilih membawa terima kasih.
“Terima kasih atas kerja sama selama ini. Mohon maaf jika selama mengabdi ada kekurangan. Mohon dimaafkan.”
Ada kalimat yang kemudian terasa lebih dalam dari sebuah ucapan perpisahan.
Setelah puluhan tahun bekerja, katanya, hal yang paling berkesan bukanlah jabatan, bukan pula fasilitas sekolah.
Melainkan kebersamaan.
“Apa yang terkesan bagi saya adalah bisa bergabung dengan teman-teman dalam tawa, sukacita sepanjang kita ada bersama-sama sebagai keluarga besar SMK Negeri 1 Biak.”
Ia pun menitipkan estafet pengabdian kepada generasi berikutnya.
“Semoga anak-anak, adik-adik yang ada, melanjutkan estafet yang kami taruh hari ini untuk dilanjutkan demi masa depan anak-anak kita.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi bagi seseorang yang telah menghabiskan puluhan tahun di sekolah, kata estafet berarti menyerahkan sebagian dari hidupnya kepada mereka yang datang setelahnya.
Agustina Mane: Ketika Papan Tulis Menjadi Bagian dari Kehidupan
Jika Jefry mengenang perjalanan sekolah, Dra. Agustina Mane, guru Pendidikan Kewarganegaraan, mengenang sesuatu yang jauh lebih personal: kehidupan yang hampir seluruhnya berlangsung di lingkungan sekolah.
Sejak menjadi tenaga honorer hingga diangkat sebagai ASN, Agustina telah mengabdi sekitar 32 tahun.
Tiga puluh dua tahun.
Waktu yang cukup panjang untuk membuat sekolah, rekan kerja, dan anak-anak didik menjadi bagian dari denyut kehidupannya.
Karena itu, ketika masa pengabdian harus berakhir, ada rasa haru yang tidak mudah diterjemahkan dengan kata-kata.
Ia mengaku bangga sekaligus terharu karena perjalanan panjangnya sebagai guru akhirnya sampai pada titik purna bakti.
Selama menjadi guru, ia tidak hanya menjalankan tugas mengajar.
Ia membangun relasi sosial dengan sesama guru, berinteraksi dengan kepala sekolah, mendampingi siswa, dan menjalani kebiasaan-kebiasaan kecil yang selama bertahun-tahun terasa biasa.
Namun justru kebiasaan-kebiasaan itulah yang kemudian terasa paling berat untuk ditinggalkan.
Setiap pagi datang ke sekolah.
Bertemu rekan-rekan.
Masuk ke ruang kelas.
Mengajar.
Menegur.
Tertawa.
Mendidik.
Kemudian pulang.
Esok hari kembali lagi.
Berulang selama puluhan tahun.
Kini semuanya harus berubah.
Agustina menyadari bahwa secara psikologis, kerinduan untuk kembali menjadi guru mungkin akan tetap tinggal dalam ingatan.
Sebab seseorang yang puluhan tahun hidup bersama dunia pendidikan tidak mungkin begitu saja mematikan rasa cintanya kepada sekolah hanya karena surat keputusan purna tugas telah diterima.
Kini waktunya melangkah ke kehidupan yang baru.
Menikmati hari-hari bersama anak dan cucu.
Menemukan kebahagiaan dalam rumah yang selama ini mungkin hanya menjadi tempat pulang setelah seharian mengajar.
Namun jauh di dalam dirinya, sekolah akan tetap menjadi bagian dari kenangan.
“Terima kasih SMK Negeri 1 Biak, tempat mengabdi selama ini. Terima kasih kepada Bapak Kepala Sekolah Drs. Maskur Bora, rekan-rekan guru dan tenaga kependidikan atas kebersamaan selama ini.”
Dan doa yang ia titipkan bukan untuk dirinya.
Melainkan untuk sekolah yang pernah menjadi rumah pengabdiannya.
“Doa saya dan kami bertiga, semoga sekolah kita SMK Negeri 1 Biak bangkit dari kekurangan yang ada demi masa depan anak-anak didik.”
Andris Rumaikeuw: 28 Tahun Menjaga Sekolah dari Balik Layanan
Di balik keberhasilan proses pendidikan, ada mereka yang jarang disebut namanya.
Mereka yang tidak selalu berdiri di depan kelas.
Mereka yang bekerja memastikan administrasi berjalan, kebutuhan sekolah tertangani, dan roda pelayanan pendidikan tetap bergerak.
Salah satunya adalah Andris Rumaikeuw, tenaga kependidikan yang telah mengabdi selama 28 tahun.
Andris mengawali pengabdiannya sejak diangkat sebagai CPNS di SMEA Bosnik.
Ia melewati berbagai periode kepemimpinan kepala sekolah hingga akhirnya sampai pada masa kepemimpinan Drs. Maskur Bora.
Ia menyaksikan perubahan nama SMEA menjadi SMK Negeri 1 Biak.
Ia juga menyaksikan perubahan generasi.
Anak-anak yang dahulu datang sebagai siswa kini telah menjadi pegawai pemerintah, pekerja swasta, pengusaha, bahkan mungkin telah menjadi orang tua yang mengantar anak-anak mereka ke sekolah.
“Bangga bahwa selama mengabdi, banyak output yang kini telah bekerja di berbagai instansi pemerintah dan swasta,” ujar Andris.
Namun ia tidak menutup mata bahwa tidak semua perjalanan hidup anak didik berakhir dengan keberhasilan.
“Ada juga yang tidak berhasil. Namun itulah realitas hidup yang harus diterima.”
Kalimat itu mengandung kebijaksanaan seorang pendidik dan pekerja sekolah yang telah melihat kehidupan dari dekat.
Tidak semua benih tumbuh menjadi pohon.
Tidak semua siswa berjalan pada jalan yang sama.
Tetapi tugas mereka adalah menanam.
Setelah itu, kehidupanlah yang menentukan ke mana setiap anak akan melangkah.
Kepada kepala sekolah dan seluruh rekan kerja, Andris menyampaikan terima kasih.
“Terima kasih Drs. Maskur Bora, rekan-rekan guru dan tenaga kependidikan atas kepedulian dan perhatian selama bekerja di SMK Negeri 1 Biak.”
Dan seperti kedua rekannya, ia juga meminta maaf atas segala kekurangan selama menjalankan tugas.
Kini ia akan kembali ke lingkungan keluarga.
Kembali kepada rumah.
Kembali kepada kehidupan yang selama puluhan tahun mungkin sering ditinggalkan demi kewajiban sebagai abdi negara.
Maskur Bora: Purna Tugas Bukan Akhir dari Pengabdian
Di hadapan para guru dan tenaga kependidikan, Kepala SMK Negeri 1 Biak, Drs. Maskur Bora, menyampaikan penghargaan kepada ketiga orang yang memasuki masa purna bakti.
Menurutnya, purna tugas bukanlah akhir dari nilai sebuah pengabdian.
Purna tugas hanyalah batas administratif dari perjalanan seseorang sebagai ASN.
“Purna tugas adalah sebuah batas pengabdian bagi kita semua sebagai ASN.”
Tetapi pengabdian itu sendiri akan tetap hidup melalui jejak yang ditinggalkan.
Melalui siswa-siswa yang pernah dididik.
Melalui teman-teman yang pernah bekerja bersama.
Melalui nilai-nilai yang pernah ditanamkan.
“Kebersamaan membangun iklim yang kondusif bagi kemajuan pendidikan di Biak, Tanah Papua, merupakan sebuah tanggung jawab moril yang dipercayakan negara di pundak kita semua.”
Maskur Bora menyadari bahwa hari ini adalah milik Jefry, Andris, dan Agustina.
Tetapi suatu saat, semua guru dan tenaga kependidikan yang hadir akan mengalami hari yang sama.
Hari ketika meja kerja harus ditinggalkan.
Hari ketika kartu identitas pegawai tidak lagi digunakan setiap pagi.
Hari ketika nama seseorang tidak lagi dipanggil untuk mengikuti rapat.
Hari ketika langkah kaki yang selama puluhan tahun menuju sekolah perlahan berbelok menuju rumah.
“Hari ini Bapak Jefry, Bapak Andri dan Ibu Agustina Mane purna tugas sebagai ASN. Kami semua akan mengikuti apa yang sekarang dialami.”
Karena itu, kenangan menjadi sesuatu yang tidak bisa dipensiunkan.
“Kebersamaan selama ini menjadi sebuah kenangan yang akan menjadi cerita kapan saja.”
Maskur secara khusus memberikan penghormatan kepada Agustina Mane yang, meskipun memiliki keterbatasan untuk mengendarai kendaraan sendiri, tetap menunjukkan semangat luar biasa dalam menjalankan tugas sebagai guru.
Ia melihat keteguhan itu sebagai teladan.
“Ibu Agustina yang memiliki keterbatasan tidak bisa membawa kendaraan sendiri, tetap semangat menjalankan tanggung jawab sebagai guru, mengajar dan mendidik adalah sebuah model attitude yang perlu dicontohi.”
Begitu pula Jefry dan Andris, yang menurutnya telah melewati suka dan duka dalam kebersamaan sebagai keluarga besar SMK Negeri 1 Biak.
Yang Pensiun Hanya Tugas, Bukan Kenangan
Ada sesuatu yang barangkali tidak pernah diajarkan dalam buku pelajaran.
Bahwa seorang guru bisa meninggalkan sekolah, tetapi tidak pernah benar-benar meninggalkan murid-muridnya.
Sebab sebagian dari dirinya telah tinggal dalam ingatan anak-anak yang pernah diajar.
Dalam sebuah nasihat.
Dalam sebuah teguran.
Dalam sebuah pelajaran.
Dalam sebuah kalimat sederhana yang mungkin dahulu dianggap biasa, tetapi bertahun-tahun kemudian baru disadari maknanya.
Begitu pula Jefry, Agustina, dan Andris.
Mereka mungkin tidak lagi datang setiap pagi ke SMK Negeri 1 Biak.
Tidak lagi duduk bersama dalam rapat.
Tidak lagi berjalan menuju ruang kelas atau ruang kerja seperti dahulu.
Namun puluhan tahun pengabdian tidak mungkin hilang hanya karena hari terakhir telah tiba.
Ada jejak mereka pada sekolah.
Ada jejak mereka pada para lulusan.
Ada jejak mereka pada rekan-rekan kerja.
Dan ada jejak mereka pada sejarah panjang SMEA Negeri 1 hingga menjadi SMK Negeri 1 Biak.
Hari itu, mungkin ada tawa.
Ada salaman.
Ada ucapan selamat.
Tetapi di balik semua itu, mungkin ada mata yang diam-diam basah.
Sebab setiap perpisahan selalu menyimpan satu kesadaran yang pahit:
bahwa kebersamaan yang selama ini dianggap biasa ternyata adalah kemewahan yang tidak akan pernah terulang dalam bentuk yang sama.
Jefry pulang membawa kenangan dari 1993.
Agustina pulang membawa kisah 32 tahun pengabdian.
Andris pulang membawa jejak 28 tahun perjalanan.
Dan SMK Negeri 1 Biak tetap berdiri.
Menunggu langkah-langkah baru.
Menunggu guru-guru baru.
Menunggu anak-anak baru.
Sementara nama-nama mereka bertiga perlahan akan berubah dari orang yang setiap hari hadir menjadi bagian dari cerita.
Namun sejarah sekolah akan selalu memiliki ruang untuk mereka.
Sebab sekolah bukan hanya dibangun oleh tembok dan gedung.
Sekolah dibangun oleh orang-orang yang bersedia memberikan sebagian terbaik dari hidupnya.
Dan tiga orang itu telah melakukannya.
Selamat memasuki kehidupan baru, Bapak Jefry Uneputy, Bapak Andris Rumaikeuw, dan Ibu Dra. Agustina Mane.
Tugas boleh berakhir. Masa kerja boleh selesai. Tetapi pengabdian tidak pernah benar-benar pensiun.
Jejak itu akan tetap berjalan bersama langkah anak-anak didik yang dahulu pernah kalian tuntun menuju masa depan.
Biak, 5 September 2026
Opa Paulus Laratmase


