Minggu, 06 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Menghadirkan Wajah Kasih Yesus: Sebuah Refleksi Pengampunan dan Merangkul Sesama

Oleh: Johanis Kopong

Bukan Menjadi Wasit Peniup Peluit: Belajar Merangkul yang Jatuh dalam Kasih Persaudaraan

Baca juga: Jiwa di Balik Hukum: Wewangian Kasih dan Kerendahan Hati dari UST Manila

Kepulauan Tanimbar | suaraanaknegeri.com – Minggu, 6 September 2026 – ​Dalam dinamika kehidupan bermasyarakat, tak jarang manusia berhadapan dengan kekhilafan dan ketidaksempurnaan sesamanya. Di tengah kecenderungan sosial yang acapkali bergegas menghakimi, hadir sebuah pencerahan rohani yang mengajak setiap pribadi untuk kembali merenungkan kedalaman makna kasih, empati, dan pengampunan sejati.

​Pesan mendalam tersebut ditegaskan kembali oleh Pastor Pius Heljanan, MSC, Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Dalam permenungannya yang berakar pada Injil Matius 18:15-20, beliau mengajak umat untuk merenungkan kembali esensi panggilan sebagai pengikut Kristus dalam merangkul jiwa yang sedang kehilangan arah.

Merangkul dengan Kelembutan Kasih

​Pendekatan yang penuh belas kasih menjadi kunci utama ketika berhadapan dengan sesama yang berbuat salah. Pastor Pius Heljanan menekankan bahwa merangkul kembali saudara yang tersesat memerlukan kesabaran serta keteguhan hati, meskipun perjalanan tersebut kerap dipenuhi oleh tantangan.

Baca juga: Semburat Kasih di Altar Olilit Barat: Saat Ketulusan Pelayanan Kecil Membawa Berkah Besar

“Jika seorang berdosa mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatnya kembali. Saudaraku, Yesus minta kita mendekati sesama yang sesat jalannya dan mengajak kembali pada jalan benar dengan penuh kasih. Mungkin kita akan berhadapan dengan penolakan dan kecurigaan, tapi jangan putus asa,” tutur Pastor Pius Heljanan, MSC.

Menghadirkan Wajah Yesus, Bukan Menjadi Wasit

​Lebih lanjut, beliau menggarisbawahi pentingnya mengubah pola pikir dalam memandang kesalahan orang lain. Kehadiran setiap individu di tengah masyarakat hendaknya membawa ketenangan dan pemulihan, bukan sekadar penjatuhan hukuman moral.

“Kita berjumpa dengan sesama yang jauh dari Tuhan bukan sebagai wasit yang berlari mencari kesalahan untuk meniup peluit pelanggaran bagi sesama, tapi kita mendekati dengan menghadirkan wajah Yesus yang penuh kasih, kelembutan, ramah dan pengampunan bagi mereka,” tegas beliau.

Menuntun dan Mengangkat yang Jatuh

​Di akhir permenungannya, Pastor Pius mengimbau agar kebiasaan membicarakan keburukan orang lain digantikan dengan dialog yang konstruktif dan saling menghargai. Sikap saling mendukung menjadi fondasi utama dalam membangun komunitas iman yang sehat.

“Hindari kebiasaan suka membicarakan orang lain, tapi biasakan berbicara dengan sesama dengan sikap saling menghargai. Kita dipanggil untuk mengajak sesama kembali pada Tuhan, bukan membiarkan jatuh dalam dosa. Kita menuntun, bukan menendang, mengangkat yang jatuh, bukan menolak dan jatuh. Mari bersama sesama kita berjalan menuju Tuhan dalam hidup benar,” pungkasnya.

​(Sumber: Pastor Pius Heljanan, MSC, sebagai Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku)

Kategori:
Tags:

Terkini