Minggu, 06 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Menjadi Penjaga Kasih: Menegur Tanpa Melukai, Mengasihi Tanpa Henti

Oleh: Johanis Kopong

​Merangkul dengan Ketulusan: Pedoman Ketenangan Jiwa dalam Kasih yang Menyelamatkan

Baca juga: Jiwa di Balik Hukum: Wewangian Kasih dan Kerendahan Hati dari UST Manila

Kepulauan Tanimbar | suaraanaknegeri.com – Minggu, 06 September 2026 – ​Di tengah perhentian rohani dan suasana ketenangan akademik Central Seminary UST Manila, Filipina, terangkai sebuah permenungan mendalam yang mengajak kita menilik kembali hakikat relasi antarsesama. Keterangan permenungan liturgis ini disampaikan langsung oleh Pastor Mahasiswa di UST Manila, RD. Domincs Baldawins Masriat, sebagai fondasi pijakan iman bagi perjalanan spiritual umat pada Hari Minggu Biasa XXII.

​Dalam tradisi peribadatan Gereja Katolik, permenungan ini dilandasi oleh serangkaian Bacaan Liturgi yang kaya akan pesan moral dan keutamaan hidup. Pembacaan terdiri dari Kitab Nabi Yehezkiel (Yeh 33:7-9) pada Bacaan Pertama, Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma (Rom 13:8-10) pada Bacaan Kedua, serta Injil Kudus menurut Matius (Mat 18:15-20).

Tanggung Jawab Moral sebagai Penjaga Sesama

Baca juga: Semburat Kasih di Altar Olilit Barat: Saat Ketulusan Pelayanan Kecil Membawa Berkah Besar

​Pesan spiritual hari ini menggarisbawahi tiga pilar utama dalam kehidupan beriman. Pertama, sebagaimana Tuhan menetapkan Nabi Yehezkiel sebagai “penjaga” bagi keselamatan rohani umat-Nya, setiap individu sejatinya dipanggil untuk memiliki rasa tanggung jawab moril terhadap perjalanan iman sesama.

​Membiarkan sesama jatuh ke dalam kekhilafan tanpa adanya kepedulian atau karena didorong rasa takut merupakan suatu kelalaian moral. Menegur saudara yang berbuat salah bukanlah wujud sikap menghakimi, melainkan manifestasi tertinggi dari kepedulian iman yang murni.

Kasih sebagai Kegenapan Hukum Allah

​Pilar kedua menyoroti pengajaran Rasul Paulus yang menegaskan bahwa satu-satunya utang abadi yang tidak pernah lunas diselesaikan manusia adalah kewajiban untuk saling mengasihi. Seluruh Hukum Taurat pada hakekatnya bermuara pada satu perintah utama: mengasihi sesama manusia seperti mencintai diri sendiri. Kasih secara hakiki tidak pernah berniat maupun berbuat jahat, sehingga kasih merupakan kegenapan dari seluruh hukum Allah.

​Tindakan mengasihi tidak hanya hadir sebagai wujud kebaikan yang mendatangkan keberkahan bagi orang lain, melainkan pula memancarkan kelimpahan rahmat bagi kedamaian diri sendiri.

Menjaga Martabat dalam Membimbing Sesama

​Selanjutnya pada pilar ketiga, disadari sepenuhnya bahwa tiada seorang pun yang luput dari kekhilafan dan dosa. Oleh sebab itu, kepedulian harus ditunjukkan melalui keberanian untuk saling menasihati. Kendati demikian, pendampingan rohani tersebut senantiasa menuntut pendekatan yang bijaksana, santun, dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan.

​Sikap dan tutur kata dalam membimbing jangan sampai melukai hati, yang pada akhirnya justru menjauhkan jiwa sesama dari kehangatan kasih Tuhan. Sebaliknya, pendekatan yang halus dan penuh penghargaan akan membawa pemulihan rohani yang sejati.

​”Semoga kasih Allah memberkati kita selalu,” tutur RD. Domincs Baldawins Masriat secara langsung saat menyampaikan permenungan tersebut.

​Beliau menutup pencerahan rohani ini dengan untaian doa yang mendalam agar setiap umat diberi keteguhan hati dalam bersikap: “Ya Allah berkatilah kami agar kami mampu menjadi penasehat yang baik bagi sesama kami.”

​(Sumber: Keterangan RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa UST Manila – Filipina)

Kategori:
Tags:

Terkini