Pesan Spiritual Central Seminary Manila: Melayani Manusia, Merawat Keteladanan
Oleh: Johanis Kopong
Baca juga: TORA BUNGA GENJER — “DUKA IBU PERTIWI”
Kepulauan Tanimbar | suaraanaknegeri.com – Senin, 07 September 2026 – Di tengah riuk-pikuk kesibukan dunia modern yang kerap mengukur segala sesuatu dari formalitas hukum dan aturan, panggilan untuk kembali merenungkan kebenaran hakiki menjadi sebuah urgensi spiritual. Kesadaran akan pentingnya menempatkan kemanusian dan kasih di atas kekakuan norma menjadi perenungan mendalam yang dipancarkan dari ruang keheningan akademis dan spiritual di Manila, Filipina.
Moralitas Pribadi dan Dampaknya Bagi Kemanusiaan
Perjalanan spiritual setiap insan tidak pernah berdiri sendiri. Kebajikan maupun ketimpangan moral yang dilakukan oleh seseorang senantiasa memancarkan riak yang memengaruhi lingkungan sosial di sekitarnya. Kejahatan moral bukan sekadar noktah yang merusak diri secara pribadi, melainkan sebuah potensi kekeruhan yang dapat mencemari tatanan kehidupan bersama. Oleh karena itu, komitmen untuk menjaga integritas kebaikan dan menjauhi yang jahat menjadi fondasi utama dalam membangun keharmonisan hidup bermasyarakat.
Baca juga: Menjadi Penjaga Kasih: Menegur Tanpa Melukai, Mengasihi Tanpa Henti
Kedalaman spiritualitas ini juga menuntut penanggalan terhadap ego dan kesombongan. Dalam kerendahan hati, seseorang mampu melihat sesamanya secara utuh tanpa dibatasi oleh keangkuhan diri. Kesombongan hanya akan menutup mata hati dari keindahan empati dan kebenaran sejati.
Merawat Sesama dengan Kasih yang Memulihkan
Panggilan keberimanan yang utuh mewujud dalam tanggung jawab moral untuk merangkul sesama yang terjatuh dalam khilaf dan dosa. Kerap kali, stigma sosial membuat manusia cenderung menghakimi dan menganggap orang lain tidak layak di hadapan Sang Pencipta. Namun, pendekatan spiritual yang murni justru mengajarkan untuk tidak pernah menolak mereka yang bernoda, melainkan mendampingi setiap jiwa dengan penuh kasih agar dapat menemukan jalan kembali.
Prinsip ini sejalan dengan penegasan bahwa hukum dan aturan hadir semata-mata untuk kebaikan dan keselamatan manusia, bukan sebaliknya. Membantu serta menyelamatkan sesama yang menderita merupakan panggilan kemanusiaan primer yang tidak boleh tertunda hanya karena terbenteng oleh formalitas aturan yang kaku.
Keberanian Moral dan Peringatan atas Kesalehan Semu
Keberanian untuk terus menegakkan kebaikan di tengah ancaman, kritik, maupun keengganan pihak lain merupakan keteladanan tertinggi yang ditunjukkan oleh Yesus. Melakukan kebajikan membutuhkan keteguhan nurani yang tidak tergoyahkan oleh tekanan eksternal.
Di sisi lain, cermin kehidupan beragama mengisyaratkan peringatan keras terhadap bahaya kesalehan semu—sebagaimana yang kerap diperlihatkan oleh kaum Farisi dan ahli Taurat pada zamannya. Ketaatan yang hanya berfokus pada ritus dan aturan tanpa diimbangi kerendahan hati berisiko menjerumuskan seseorang pada dosa kesombongan rohani. Ketika seseorang merasa lebih suci, kecenderungan yang muncul adalah fokus mencari kesalahan sesama, bahkan memadamkan rasa sukacita atas pemulihan hidup orang lain.
Dalam keterangan resminya yang disampaikan langsung dari Central Seminary UST Manila, Filipina, RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di UST Manila, menegaskan pentingnya kedalaman nurani tersebut dalam perenungan bertajuk Sejenak Sabda:
”Kejahatan moral yang kita lakukan bukan hanya sekadar merusak diri kita secara pribadi, tetapi dapat juga merusak dan memengaruhi kehidupan sesama yang berada di sekitar kita. Oleh karena itu, hendaklah kita berusaha untuk senantiasa melakukan yang baik dan jauhi yang jahat. Tidak baik bagi kita untuk hidup dalam kesombongan. Hendaklah kita berusaha untuk menanggalkan kesombongan kita dan selalu hidup dalam kerendahan hati.”
”Kepedulian terhadap sesama yang jatuh dalam dosa adalah tanggung jawab dari kita umat beriman. Oleh karena itu, hendaklah kita jangan menolak sesama yang berdosa dan melihat mereka sebagai orang tidak layak di hadapan Tuhan. Hendaklah kita berusaha untuk dengan penuh kasih mendampingi sesama untuk kembali kepada Tuhan. Hukum Sabat diciptakan untuk kebaikan manusia, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, membantu dan menyelamatkan sesama yang menderita tidak boleh ditunda hanya karena aturan formal yang kaku.”
”Jangan pernah takut untuk melakukan kebaikan. Mari kita belajar dari Yesus yang menunjukkan keberanian moral untuk tetap melakukan kebaikan meskipun dihadang ancaman, kritik, dan kebencian dari pihak lain. Hendaklah hidup keagamaan kita jangan seperti ahli taurat dan orang farisi. Mereka bangga dengan ketaatan pada aturan beragama tetapi jatuh dalam dosa kesombongan. Mereka merasa diri lebih suci dari orang lain sehingga selalu fokus mencari kesalahan orang lain.”
Perenungan mendalam dari Pekan Biasa XXIII ini diakhiri dengan sebuah pembumian doa: Ya Allah berkatilah kami agar kami mampu menjadi orang rendah hati dan menjadi berkat keselamatan bagi sesama. Sebuah keheningan yang mengajak seluruh pembaca untuk kembali menata hati, merajut kasih, dan menempatkan nilai kemanusiaan di atas segalanya.
(Sumber: Keterangan RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di Central Seminary UST Manila, Filipina)


