Senin, 14 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Jumat Aksi Seni 11 September, FPS-TIM Angkat Isu Seni dan Kebebasan Berekspresi

Laporan: Nuyang Jaimee

JAKARTA, 11 September 2026 — Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPS-TIM) kembali menggelar Jumat Aksi Seni (JAS) di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (11/9/2026). JAS kali ini tetap membawa format unjuk rasa dan unjuk karya dengan menghadirkan pembacaan puisi, musik, serta diskusi publik yang mengangkat tema “Seni dan Kebebasan Ekspresi.”

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian JAS yang selama ini digunakan FPS-TIM sebagai ruang menyampaikan aspirasi sekaligus mempertahankan fungsi TIM sebagai ruang kebudayaan. Melalui seni, para seniman tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga menyampaikan pandangan kritis terhadap berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan berkesenian dan kebebasan berekspresi.

Baca juga: Peringati HUT TNI AL ke-81, Wing 3 Puspenerbal Lakukan Aksi Lanjut Peduli Lingkungan dan Ziarah Sejarah di Biak

Salah satu rangkaian utama kegiatan adalah pembacaan puisi oleh Nuyang Jaimee dan Rian dari Teater Tukang. Yang mengisi musik Tora Bunga Genjer dan kawan-kawan lainnya. Pembacaan karya menjadi bagian dari unjuk karya yang menempatkan puisi sebagai medium ekspresi, kritik, dan penyampaian gagasan di ruang publik.

Baca juga: FPS-TIM Audiensi ke DKJ, Dorong Tata Kelola Kesenian Jakarta Lebih Terbuka dan Berpihak pada Komunitas

Rian dari Teater Tukang juga tampil membaca puisi dengan gaya dalang Sunda, membawakan puisi tentang keresahan seniman terhadap nasib Taman Ismail Marzuki dan berbagai persoalan yang dihadapi kehidupan kesenian di TIM. Sementara Tia Fairuz dan Jack Al-Ghozali bertugas sebagai pembawa acara yang mengawal jalannya kegiatan.

Setelah rangkaian pertunjukan seni, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi publik mengenai Seni dan Kebebasan Ekspresi. Diskusi tersebut dipantik oleh Mujib Hermani, Yon Bayu Wahono, dan Dinaldo, serta dimoderatori oleh Den Chupank.

Pembahasan mengenai kebebasan berekspresi menjadi penting dalam konteks kehidupan seni karena seniman membutuhkan ruang untuk menyampaikan gagasan, kritik, keresahan, maupun pandangan terhadap persoalan sosial dan kebudayaan. Seni tidak hanya ditempatkan sebagai tontonan, tetapi juga sebagai medium komunikasi publik dan bagian dari proses demokrasi.

Format JAS yang menggabungkan unjuk rasa dan unjuk karya memperlihatkan karakter gerakan FPS-TIM yang menggunakan ekspresi artistik sebagai bagian dari penyampaian sikap. Aksi tidak hanya dilakukan melalui orasi, tetapi juga melalui puisi, musik, diskusi, dan pertemuan antarseniman.

JAS 11 September juga merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan FPS-TIM sebelumnya. Gerakan tersebut sebelumnya mengangkat berbagai persoalan terkait tata kelola TIM, komersialisasi, keberlangsungan ekosistem seni, hingga tuntutan untuk mengembalikan marwah Taman Ismail Marzuki sebagai Pusat Kesenian.

Dalam perjalanan tersebut, FPS-TIM telah menggelar sejumlah aksi di TIM, termasuk JAS 7 Agustus dengan keranda bertuliskan “TIM Sudah Mati”, JAS bertema “Tumpeng Kemerdekaan” pada 21 Agustus, serta dua kali JAS yang mengangkat “Solidaritas untuk Flores, NTT” pada 28 Agustus dan 4 September.

Dengan mengangkat tema Seni dan Kebebasan Ekspresi, JAS 11 September memperluas pembahasan dari persoalan tata kelola menuju persoalan yang lebih mendasar dalam kehidupan berkesenian: hak seniman untuk berekspresi dan menggunakan ruang kebudayaan sebagai tempat menyampaikan gagasan secara terbuka.

Bagi FPS-TIM, keberadaan ruang seni tidak hanya ditentukan oleh bangunan dan fasilitasnya. Sebuah pusat kesenian juga harus menyediakan ruang bagi kebebasan berpikir, berkarya, berdiskusi, berbeda pandangan, dan menyampaikan kritik.

Karena itu, Jumat Aksi Seni 11 September menjadi ruang pertemuan antara aksi, karya, dan dialog publik, sekaligus bagian dari perjalanan FPS-TIM dalam memperjuangkan ekosistem Taman Ismail Marzuki yang sehat, terbuka, dan memberi tempat bagi kebebasan berekspresi para seniman. [PM].

 

Kategori:
Tags:

Terkini