Oleh: Dr. Frits Herman Pangeman, M.Sc.
–
“Keuskupan Agung Merauke Memrakarasai Seminar AI & Filsafat Pendidikan bagi Para Guru YPPK Pertama di seluruh Papua Selatan.”
Baca juga: Leni Marlina's Bilingual Poems "The Heart's Activation Energy" ("Energi Aktivasi Hati")
MERAUKE – SUARA ANAK NEGERI| Sebanyak 52 perwakilan persekolahan PAUD, SD, SMP hingga SMA di bawah Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK), Keuskupan Agung Merauke, mengadakan seminar artificial intelligence (AI: Kecerdasan Buatan), dampak digitalisasi medsos, dan filsafat pendidikan bertempat di Rumah Bina Pankat, Kelapa Lima (Merauke), 27 Juli hingga 1 Agustus 2026. Seminar ini dipuncaki dengan Perayaan Hari Lahir Ke-63 (Agustus 1963-2026) SMA St. Yoanes XXIII sebagai SMA pertama di Papua Selatan, yang diawali Misa Mulia di Gereja Katedral Merauke dan dilanjutkan dengan ramah-tamah di kompleks SMA itu.
Seminar ini dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Selatan yang diwakili Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Akademik Komunitas Ibu Oliva Koneng, disaksikan Ketua Yayasan YPPK Keuskupan Agung Merauke, RD. Alowisius Kelbulan, didampingi pemateri seminar AI, RD. Christy Mahendra M.Kom, dan Anggota YPPK Richard Dumatubun. Mengangkat tema “Pelatihan AI, Coding, serta Penguatan Esensi Dasar Pendidikan”, seminar ini diikuti oleh lebih 460 guru dan sekitar 40 Kepala Sekolah jenjang pendidikan dasar hingga menengah dari wilayah Kota Merauke dan daerah-daerah pelosok seluruh Papua Selatan.
Pengadaan seminar ini merupakan langkah strategis YPPK bersama Tim Mutu dan pengelola Sekolah-Sekolah Katolik se-Keuskupan Agung Merauke untuk mencerdaskan para Insan Pendidikan Katolik (IPK) dalam isu-isu terkini medsos, termasuk dampak AI, serta penguatan hakikat dasar Pendidikan Katolik dari sisi filosofi pendidikan.
“Melihat antusias para guru dalam seminar ini, terutama topik AI (Kecerdasan Buatan) bagi pembelajaran sekolah dan dampak medsos bagi dunia pendidikan, kami merencanakan untuk melanjutkan seminar serupa ke lebih banyak sekolah di wilayah-wilayah pelosok Papua selatan,” ujar Ketua YPPK Pastor Kelbulan.

Mandat Piagam Sinodal
Langkah Strategis seminar ini, menurut Ketua YPPK Pastor Kelbulan, sejalan dengan Piagam Sinodal Pendidikan Katolik Indonesia hasil Konferensi Sinodal Pendidikan Katolik (KOSDIK II) 24-26 Juni 2026 di Jakarta, yang mendorong Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) untuk menyikapi secara serius dampak teknologi, medsos, terutama kecerdasan buatan. Mengikuti mandat Piagam Sinodal: “LPK harus menyiapkan murid agar mampu memahami, menggunakan, dan mengkritisi teknologi –termasuk kecerdasan buatan– tanpa kehilangan kebijaksanaan, relasi personal, hati nurani, dan tanggung jawab moral” (No. 25).
Karena alasan itu, YPPK Keuskupan Agung Merauke menegaskan tujuan seminarnya “Untuk lebih memerkaya potensi Guru dan Kepala Sekolah agar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi demi pengembangan ekosistem pendidikan Katolik yang bermutu, berkarakter, bermartabat, dan berkelanjutan.” Karena visi dasar pemberdayaan Insan Pendidikan Katolik (IPK), seperti ditegaskan Piagam Sinodal, adalah menjadikan mereka “kurikulum hidup dan saksi iman” lewat kaderisasi kepemimpinan yang melayani dan profetik…” (No. 34).
Mengikuti Piagam Sinodal, Yayasan Pendidikan Katolik secara nasional ditugaskan menjadi pengarah kebijakan makro, penjaga misi, pengawal akuntabilitas dan penjaminan mutu internal (No. 11). “Lembaga Pendidikan Katolik sebagai unit operasional perlu diberi ruang gerak untuk lebih mengembangkan pembelajaran, kurikulum lokal, relasi orangtua, dan inovasi sesuai konteks,” lanjut Piagam Sinodal (No. 11b).

Suasana Seminar para Guru & Kepala Sekolah dari YPPK Keuskupan Agung Merauke yang berlangsung di Aula Wojtyla, Rumah Bina Pankat, Kelapa Lima, Merauke, Juli 2026 (file YPPK & FHP)
Mengenal Koding & Kecerdasan Artifisial
Hari-hari awal seminar para guru dibuka dengan pembahasan penting teknologi pembelajaran menyangkut koding dan seluk beluk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence: AI), yang mencakup penulisan instruksi pemrograman komputer, simulasi pemikiran manusia, serta pengembangan berpikir komputasional. Program ini telah menjadi bagian penting pendidikan nasional jenjang pendidikan dasar-menengah untuk mengubah peran generasi muda dari sekadar pengguna menjadi inovator teknologi.
Para guru dipandu oleh pemateri Pastor Christy Mahendra, M.Kom., yang juga Dosen Teknik Informatika Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Yos Sudarso (Purwokerto), yang menyajikan seluk-beluk AI, Sejarah dan Evolusi AI yang meliputi Expert System, Machine Learning, Big Data, hingga AI modern.

Para guru dengan antusias mengikuti pengenalan Bahasa Pemrograman AI, yang meliputi “Bahasa tingkat rendah yang cepat & efisien; dipakai untuk optimasi algoritma dan sistem AI tertanam (embedded): C” — “Performa tinggi untuk mesin AI; menjadi basis backend banyak library seperti TensorFlow dan OpenCV: C++” — Penggunaan Unity ML-Agents dan aplikasi AI enterprise berbasis .NET: C#“ – “Bahasa utama AI & Machine Learning; ekosistem lengkap: TensorFlow, PyTorch, scikit-learn: Python”.
Para guru juga diperkaya dengan variasi Bahasa Pemograman yang meliputi PHP — Bahasa web sisi server; menghubungkan aplikasi web dengan layanan AI melalui API; JavaScript – Operasi AI langsung di browser (TensorFlow.js), chatbot & antarmuka interaktif; Node.js — Runtime JavaScript di server untuk backend AI dan integrasi API secara real-time; serta Program R — Bahasa statistik yang kuat untuk analisis data dan riset machine learning.
Para guru YPPK dari pelosok daerah Papua Selatan ini tidak ketinggalan diperkenalkan Cara Kerja AI (Simulasi) yang meliputi Alur data, pelatihan model, hingga hasil-hasil prediksi AI; Algoritma dalam AI yang mencakup Machine learning klasik, deep learning, dan reinforcement learning; serta Teknologi AI, Generative AI dan Tren Terbarunya yang mencakup Hierarki AI, LLM, Agentic AI, dan arah perkembangan terkini.
Secara umum, para guru diperkenalkan dengan Proses Coding (Koding) teknologi AI yang memungkinkan para guru mampu menulis perintah dalam bahasa pemrograman agar komputer dapat menjalankan tugas secara otomatis. Dengan piawai Pst. Christy mengajak para guru berpikir komputasional yang melatih logika dan pemecahan masalah rumit dengan skema-skema kerja AI yang menuntun pada literasi teknologi dengan memahami cara kerja mesin cerdas, pengelolaan data, dan dasar pemgraman.
Semua ini sangat berguna bagi para guru untuk mengaplikasikannya pada pembelajaran kelas yang menggunakan teknologi modern. Secara bersamaan para guru dilengkapi dengan Standar Etika Digital yang membantu para guru maupun siswa di kelas memiliki kesadaran dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi secara aman dan bijak untuk terhindar dari rambu-rambu hukum IT.

Esensi Dasar Pendidikan: Wacana Filosofis
Trilogi filosofi pendidikan Yunani ala Sokrates, Plato, dan Aristoteles yang hingga kini menjadi pilar pendidikan modern mengantar seminar para guru YPPK pada penggalian makna Pembelajaran Mendalam (PM: Deep Learning) dari kurikulum Kemendikdasmen 2025 guna mendukung fungsi stragis belajar-mengajar guru. Sejumlah filosofi modern ikut memerkaya seminar para guru ini, seperti Maria Montessori, John Dewey, dan Alfred N. Whitehead. Sejalan dengan kebijakan Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses PM, pemateri Dr. Frits H. Pangemanan mengangkat trilogi filsafat Yunani yang menawarkan lima hakikat dasar pendidikan yang tetap relevan hingga kini.
Kelima faktor itu, mencakup (1) Identitas guru dengan hakikat tugas dan misi dalam pendidikan; (2) Metode pembelajaran sebagai seni-mengajar untuk melahirkan pengetahuan anak didik; (3) Tools sebagai teknik-teknik khusus pembelajaran; (4) Hakikat pendidikan yang mendasari seluruh proses belajar-mengajar; dan (5) Paradigma yang membentuk model pembelajaran membatin dalam diri pendidik.
Mengikuti cara berpikir Yunani, identitas guru ibarat bidan ide, pengetahuan, dan pengenalan diri. Ia hadir di kelas sebagai bidan yang melahirkan pengetahuan lewat dialog-dialog. Sokrates memerkenalkan kearifan Elenchos sebagai seni dialog interaktif guru dan siswa (metode & teknik dialog) yang mengantar pada penggalian akar setiap masalah. Dialog interaktif ini membentuk citra pendidikan sebagai wadah critical thinking menuju apa yang Sokrates sebut Self-Examination = pengenalan diri (Gnoti Seauton: know thyself). Hakikat pendidikan, menurutnya, adalah pengenalan dan penemuan utuh diri manusia. Ucapan masyhur Sokrates diabadikan Plato dalam karyanya Apology: “Tanpa pengenalan diri, hidup manusia tidak bermakna, tak layak dihidupi — The unexamined life is not worth living. Paradigma pendidik dalam perspektif ini bak penemu harta karun di hati murid yang belum tercerahkan.
Mengikuti gurunya, Plato memahami identitas guru sebagai pawang pengetahuan penyibak tabir (curtain raiser) kegelapan. Seni penyingkapan tabir merujuk pada alegori-gua (cave allegory) sebagai metode pembelajaran yang mengantar anak pada realitas di belakang hal-hal ilusi seperti yang dialami tahanan gua yang menganggap bayang-bayang sebagai hal riil (Plato: Republic, Book VII; 514a-520a). Fungsi guru lalu menjadi pembawa pencerahan siswa tentang realitas sesungguhnya yang belum terpahami. Tools ke arah pengetahuan ini oleh Plato disebut dialektika yang memberi penyelarasan atas Tripartite Soul antara nalar (kepala), moralitas dan keyakinan (dada & hati), serta (3) nafsu dan kecenderungan jasmani (perut). Proses akhir dialektika ini melahirkan “hakikat pendidikan”, yang disebut Aristoteles sebagai metamorphosis, yakni transformasi menuju pengetahuan. Dalam perspetif Platonik, paradigma pendidik bak pematung Totem Papua yang melihat jiwa di dalam kayu saat memahat patung.
Kekayaan pedagogi Yunani diteruskan Aristoteles yang memerkaya peran guru sebagai obor budi dan moralitas. Guru bagaikan pelita yang membawa terang melalui apa yang disebutnya Eudaimonia: kearifan menempa nalar dan moral siswa untuk tumbuh secara penuh. Eudaimonia adalah guide guru guna melahirkan Phronesis, yakni pembiasaan mengerjakan hal baik/benar (Practical Wisdom) lewat tempaan budi dan moral. Mengikuti Aristoteles, hakikat pendidikan adalah Mese hodos (golden mean/middle way), yakni kearifan menemukan titik-tengah budi (science: pengetahuan) dan moralitas guna meraih kepenuhan diri. Mengikuti dunia biologi, profesi guru mengekspresikan paradigma pertanian di mana petani memahami natura bibit dan seluruh mekanisme penanaman yang membutuhkan proses penggarapan.
Pedagogi Sokratesian, Platonik dan Aristotelian, seperti sharing guru-guru di seminar, meneguhkan profesi mereka sebagai kurikulum hidup, saksi iman, bahkan inspirator moral bagi anak didik. Profesi pendidikan yang bertahun-tahun dijalankan ternyata memiliki nilai luhur, walau kerap tak disadari telah membidani lahirnya tokoh-tokoh berdedikasi dalam konteks daerahnya, ungkap para guru. Mereka telah menjadi bidan dan pawang pengetahuan, juga obor budi dan moral siswa, meski dalam waktu bersamaan bergulat dengan kesejahteraan hidup yang kurang memadai, ungkap sejumlah peserta seminar.
Dengan peran penting ini, para guru mengakui bahwa kemajuan teknologi & informasi dengan sumber belajar semakin luas telah membuat tugas guru kian berat untuk menguasai disiplin ilmu yang kian meluas. Kemajuan dunia medsos sekaligus membawa tantangan para guru untuk mengimbangi pengetahuan siswa yang tak kalah maju dan bermutu akibat adanya fasilitas lebih besar yang kerap dimiliki orangtua siswa sendiri.
HUT Ke-63 SMA St. Yoanes XXIII
Seminar guru dan kepala sekolah YPPK itu dimerihkan dengan Perayaan Hari Lahir Ke-63 SMA St. Yoanes XXIII Merauke pada hari terakhir rangkaian seminar di lokasi SMA. Perayaan usia ke-63 SMA ini sangat berarti bagi umat Katolik Keuskupan Merauke mengingat sekolah, yang berdiri 1 Agt. 1963 di era Paus Yohanes XXIII ini, merupakan SMA pertama yang ada di seluruh Papua Selatan.
SMA St. Yoanes XXIII ini berdiri pada tahun 1963, dua tahun setelah wilayah Vikariat Apostolik Merauke ini berubah statusnya menjadi Keuskupan Agung Merauke pada 15 Nov. 1961 di bawah kepemimpinan Mgr. Herman Tillemans MSC (1902-1975). Semboyan yang digunakan sekolah ini adalah ‘Widyatama’, yang berarti ‘Ilmu pengetahuan utama’ atau ‘Insan pendidikan berilmu dan berwatak keutamaan luhur’. Diangkat dari bahasa Sansekerta, kata Widya berarti ilmu, pengetahuan, atau dunia ilmu; sementara Tama bermakna utama, luhur, sejati dan amat baik, ugkap Ketua YPPK Pst. Kelbulan dalam sambutannya.
Kegembiraan perayaan usia 63 tahun itu semakin berarti mengingat sekolah ini baru saja meraih juara umum se-Kabupaten Merauke. Juara umum tingkat SMA ini meliputi lomba OSN (Olimpiade Sains Nasional) sebanyak 8 siswa di Bidang Astronomi, Biologi, Ekonomi, Geografi (2 orang), Kebumian (2 orang) dan Metematika. Sementara di lomba FLS3N (Festival dan Lomba Seni & Sastra Siswa Nasional) Bidang Penulisan Cerpen terdapat seorang siswa. Kesembilan pemenang Lomba OSN dan FLS3N ini lolos ke babak penyisihan lanjut di tingkat Provinsi Papua Selatan.
Pada seleksi akhir di tingkat Provinsi Papua Selatan, dua orang siswa SMA St. Yoanes XXIII keluar sebagai pemenang di Lomba OSN Bidang Ekonomi atas nama Levaneyckha Guevara Lefteuw dan di Bidang Biologi atas nama Grace Natalia Priciliya Apitulay. Sedangkan di Lomba FLS3N Bidang Penulisan Cerpen, siswa SMA St. Yoanes XXIII hanya menempati urutan kedua. Dua siswa Pemenang Lomba OSN Bidang Ekonomi (L. G. Lefteuw) dan Bidang Biologi (GNP Apitulay) tingkat Provinsi Papua Selatan berhak mengikuti Lomba Semifinal tingkat nasional dalam tahun ini. Perayaan Usia 63 SMA St. Yoanes XXIII menjadi sangat berarti dengan kemenangan-kemenangan akademis dari para siswanya.
Puncak Seminar Guru & Kepala Sekolah YPPK dimeriahkan dengan HUT Ke-63 SMA St. Yoanes XXIII Merauke dalam Misa Sekolah dan ramah-tamah seluruh staf SMA dan para siswa, 1 Agustus 2026 (file FHP)
*(Dr. Frits Herman Pangemanan, M.Sc. Dosen dan Kepala Pusat Publikasi Ilmiah Institut Ilmu-Ilmu Sosial Asia (Asian Social Insitute) Manila, juga Pengamat Sosial dan Pendidikan.





