Puisi Esai
Oleh: Akaha Taufan Aminudin
Rabu pagi, 5 Agustus 2026.
Langit PIK 2 tampak cerah.
Di Menara Syariah, para pemikir, akademisi, ulama, praktisi keuangan, dan pemimpin lembaga berkumpul.
Tema yang mereka usung besar:
Baca juga: TransJakarta: Membaca Perjalanan sebagai Ruang Alternatif, Berkarya dan Bertumbuh (Bagian 3)
“Shariah-Intelligence: Navigating the Future of Islamic Finance Through AI and Digital Innovation.”
Di tengah kemajuan teknologi,
seorang lelaki sepuh melangkah perlahan menuju podium.
Namanya
Dr. Drs. H. Sugiarto, MM., MBA.
Baca juga: TransJakarta: Transportasi Publik sebagai Ruang Istirahat di Tengah Kota (Bagian 2)
Tak membawa laptop.
Tak membawa presentasi.
Yang dibawanya
hanyalah doa.
—
Suasana mendadak hening.
Suara mikrofon tak lagi sekadar pengeras suara,
melainkan jembatan
antara bumi dan langit.
Ia memulai dengan basmalah.
Al-Fatihah mengalun.
Bukan hanya dibaca,
tetapi dihayati.
Di hadapan para ahli kecerdasan buatan,
doa mengingatkan
bahwa kecerdasan tertinggi
tetaplah milik Sang Pencipta.
> “Ya Allah,
jadikan ilmu ini membawa keberkahan,
teknologi ini menghadirkan kemaslahatan,
dan ekonomi syariah menjadi jalan keadilan bagi umat.”
Tak ada tepuk tangan.
Yang terdengar hanyalah
“Aamiin…”
yang mengalir serempak.
—
Di layar raksasa,
terpampang wajah para pembicara internasional.
Mereka berbicara tentang algoritma.
Tentang blockchain.
Tentang artificial intelligence.
Tentang digital transformation.
Namun sebelum semua gagasan dimulai,
doa lebih dahulu membuka pintu.
Seolah mengingatkan,
masa depan tidak hanya dibangun oleh mesin,
tetapi juga oleh hati.
—
Aku memandang ruangan itu.
Begitu modern.
Lampu-lampu terang.
Layar digital membentang.
Para peserta datang dari berbagai profesi.
Namun justru pada saat doa dipanjatkan,
semua gelar menjadi sama.
Tak ada profesor.
Tak ada direktur.
Tak ada menteri.
Tak ada ekonom.
Yang ada hanyalah
hamba-hamba
yang berharap ridha-Nya.
—
Kita sedang memasuki zaman
ketika mesin mampu menulis puisi,
komputer mampu membaca wajah,
dan kecerdasan buatan mampu mengambil keputusan.
Tetapi
belum ada teknologi
yang mampu menggantikan
keikhlasan sebuah doa.
Belum ada algoritma
yang mampu mengukur
ketulusan hati manusia.
—
Di situlah
aku memahami makna sesungguhnya
ekonomi syariah.
Ia bukan sekadar angka.
Bukan sekadar keuntungan.
Tetapi menghadirkan nilai.
Menghadirkan amanah.
Menghadirkan keberkahan.
—
Dr. H. Sugiarto
menutup doa dengan tenang.
Beliau melangkah turun dari podium.
Tak membawa piala.
Tak membawa penghargaan.
Namun membawa sesuatu
yang jauh lebih mahal.
Kepercayaan.
Bahwa ilmu
dan iman
harus berjalan berdampingan.
Bahwa inovasi
harus disertai integritas.
Bahwa masa depan
tak cukup dibangun oleh kecerdasan,
tetapi juga oleh kebijaksanaan.
—
Mungkin,
kelak orang hanya mengingat
simposium itu
karena membahas AI.
Tetapi aku ingin mengingatnya
karena di awal acara
ada seorang lelaki sepuh
yang mengajarkan,
bahwa sebelum manusia menciptakan masa depan,
ia harus lebih dahulu
bersujud kepada Tuhan.
Karena
di atas segala kecerdasan,
tetap ada
hikmah.
Dan di atas segala ikhtiar,
tetap ada
doa.





