Jumat, 07 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

MENYAMBUT KEKERINGAN MUSIM KEMARAU

Secangkir Kopi Cak Mus – 06.08.26

Oleh : Nasih Widya Yuwono

Baca juga: TOKOH 94 TAHUN INI DATANGI MENTERI BARU DAN SAMPAIKAN PESAN YANG BIKIN BANYAK ORANG BERHENTI SEJENAK

Manusia perlu melakukan : “Menahan Air Hujan di Tempat Jatuhnya Selama Mungkin”

Air hujan merupakan sumber utama air tawar bagi ekosistem daratan, pertanian, permukiman, dan kehidupan manusia. Namun, manfaat air hujan sangat ditentukan oleh cara suatu bentang lahan menerima, menyimpan, dan mengalirkannya. Ketika air hujan segera berubah menjadi limpasan permukaan, sebagian besar potensinya hilang dalam waktu singkat. Air mengalir menuju saluran, sungai, dan akhirnya laut, sambil membawa tanah, unsur hara, bahan organik, dan berbagai pencemar. Oleh karena itu, prinsip menahan air hujan di tempat jatuhnya selama mungkin merupakan dasar penting dalam pengelolaan tanah, air, pertanian, dan lingkungan yang berkelanjutan.

Menahan air hujan bukan berarti menghentikan seluruh pergerakan air, melainkan memperlambat alirannya, memperbesar kesempatan infiltrasi, dan meningkatkan penyimpanan air dalam tanah maupun pada berbagai struktur penampung. Semakin lama air berada di suatu tapak, semakin besar peluangnya untuk meresap ke dalam profil tanah, mengisi pori-pori, meningkatkan kelembapan, dan menyuplai air bagi akar tanaman. Sebagian air yang meresap lebih dalam juga dapat mengisi kembali air tanah. Dengan demikian, air hujan tidak hanya bermanfaat pada saat turun, tetapi juga dapat tersedia beberapa hari, minggu, bahkan bulan setelah kejadian hujan.

Baca juga: Transisi Energi Bersih: Komitmen Global dalam Menekan Laju Pemanasan Global

Tanah merupakan tempat penyimpanan air alami yang sangat besar. Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi oleh tekstur, struktur, kedalaman efektif, kandungan bahan organik, porositas, kepadatan, aktivitas organisme, dan penutupan permukaan. Tanah yang gembur, beragregat baik, kaya bahan organik, dan memiliki banyak pori mampu menerima serta menyimpan air lebih banyak daripada tanah yang padat dan terbuka. Karena itu, upaya menahan air hujan harus dimulai dengan memperbaiki kesehatan tanah. Penambahan kompos, pengembalian sisa tanaman, penggunaan mulsa, penanaman tanaman penutup, pengurangan pengolahan tanah berlebihan, dan pencegahan pemadatan merupakan langkah-langkah mendasar.

Permukaan tanah yang tertutup vegetasi juga mampu memperlambat jatuhnya air hujan. Daun, ranting, batang, serasah, dan mulsa memecah energi butir hujan sebelum mencapai tanah. Perlindungan ini mencegah penghancuran agregat, pembentukan kerak permukaan, dan penyumbatan pori. Air kemudian mengalir perlahan melalui tajuk dan lapisan serasah sehingga mempunyai waktu lebih panjang untuk meresap. Sebaliknya, pada tanah terbuka, butir hujan menghantam langsung permukaan, melepaskan partikel halus, menutup pori, dan mempercepat terbentuknya limpasan serta erosi.

Pada lahan miring, prinsip menahan air di tempat jatuhnya dapat diterapkan melalui pengelolaan menurut kontur. Guludan kontur, teras, rorak, parit resapan, pagar vegetatif, dan jalur rumput berfungsi memotong panjang lereng serta memperlambat aliran. Air yang semula bergerak cepat ke bagian bawah lereng ditahan sementara dalam cekungan atau saluran dangkal, kemudian diinfiltrasikan ke dalam tanah. Dalam skala pertanian, pendekatan ini dapat meningkatkan ketersediaan air tanaman sekaligus mengurangi kehilangan lapisan tanah atas yang subur.

Di kawasan permukiman, air hujan dapat ditahan melalui sumur resapan, biopori, taman hujan, kolam retensi, atap hijau, perkerasan berpori, dan penampungan air hujan. Halaman rumah, jalan, tempat parkir, dan bangunan seharusnya tidak seluruhnya ditutup oleh bahan kedap air. Semakin luas permukaan kedap, semakin cepat air terkonsentrasi dalam sistem drainase dan semakin besar risiko genangan atau banjir. Drainase modern seharusnya tidak hanya dirancang untuk membuang air secepat mungkin, tetapi juga untuk meresapkan, menyimpan, dan memanfaatkan air sedekat mungkin dengan lokasi turunnya.

Prinsip menahan air hujan juga memiliki hubungan erat dengan ketahanan terhadap kekeringan. Suatu wilayah dapat menerima curah hujan tahunan yang tinggi, tetapi tetap mengalami kekurangan air pada musim kemarau apabila sebagian besar air hujan hilang sebagai limpasan. Sebaliknya, wilayah yang mampu menyimpan air dalam tanah, waduk kecil, embung, kolam, vegetasi, dan akuifer akan memiliki cadangan air yang lebih stabil. Dengan demikian, persoalan kekeringan tidak hanya berkaitan dengan sedikitnya hujan, tetapi juga dengan rendahnya kemampuan bentang lahan dalam menangkap dan menyimpan hujan.

Menahan air hujan di tempat jatuhnya selama mungkin merupakan upaya memulihkan fungsi alami suatu wilayah. Air harus diperlakukan sebagai sumber daya yang perlu dipanen, bukan sebagai gangguan yang harus segera dibuang. Setiap bidang tanah, kebun, sawah, halaman, hutan, dan kawasan perkotaan dapat berfungsi sebagai ruang penangkap air. Ketika prinsip ini diterapkan secara luas, manfaatnya mencakup pengurangan banjir dan erosi, peningkatan cadangan air tanah, perbaikan produktivitas tanaman, pengurangan kekeringan, serta pemulihan ekosistem. Masa depan pengelolaan air bergantung pada kemampuan manusia untuk memperlambat aliran, memperbesar infiltrasi, dan memberi waktu kepada air hujan agar bekerja bagi kehidupan.

Banjarbaru, 6 Agustus 2026

Kategori:
Tags:

Terkini