Kamis, 06 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

TransJakarta: Membaca Perjalanan sebagai Ruang Alternatif, Berkarya dan Bertumbuh (Bagian 3)

Oleh: Nuyang Jaimee

Kehidupan perkotaan sering dipahami sebagai perlombaan melawan waktu. Sejak pagi hingga malam, masyarakat bergerak dari satu aktivitas ke aktivitas berikutnya dengan ritme yang semakin padat. Dalam situasi seperti itu, perjalanan kerap dipersepsikan sebagai waktu yang terbuang karena tidak menghasilkan sesuatu yang nyata. Semakin lama seseorang berada di perjalanan, semakin besar pula waktunya telah hilang.

Pandangan tersebut sesungguhnya layak dipertanyakan. Waktu perjalanan tidak selalu identik dengan waktu yang kosong. Dalam kondisi tertentu, terutama ketika transportasi publik mampu menghadirkan rasa aman dan nyaman, perjalanan justru dapat menjadi ruang alternatif untuk melakukan berbagai aktivitas intelektual dan kreatif yang sulit dilakukan di tengah kesibukan kerja maupun kehidupan rumah tangga. TransJakarta seharusnya bisa memberikan kemungkinan itu.

Baca juga: Dilema Pengelolaan Wilayah Pesisir Indonesia: Solusi TURBINLAKWAS untuk Konflik dan Degradasi Lingkungan Laut

Ketika seseorang tidak lagi dibebani kewajiban mengemudi, sebagian kapasitas perhatian yang biasanya digunakan untuk mengendalikan kendaraan menjadi tersedia untuk aktivitas lain. Penumpang dapat membaca buku, meninjau kembali catatan pekerjaan, menyusun agenda harian, menulis gagasan, atau sekadar mengamati kehidupan kota dari balik jendela. Perjalanan tidak lagi hanya memindahkan tubuh, tetapi juga memberi kesempatan kepada pikiran untuk bekerja dengan ritme yang berbeda.

 

Baca juga: PENGEMBANGAN HUKUM BERDASARKAN NILAI-NILAI PANCASILA DALAM PEMBENTUKAN HUKUM NASIONAL

Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang tidak selalu ditentukan oleh fungsi fisiknya. Sebuah bus memang dibangun sebagai sarana transportasi, tetapi pengalaman manusia di dalamnya dapat melahirkan fungsi-fungsi baru. Dalam konteks tertentu, ruang yang sama dapat berubah menjadi ruang belajar, ruang membaca, ruang berpikir, bahkan ruang untuk melahirkan karya.

Di tengah budaya kerja yang semakin menuntut kecepatan, ruang-ruang seperti ini menjadi semakin bernilai.

Tidak semua orang memiliki waktu khusus untuk duduk selama satu jam membaca buku di rumah atau di perpustakaan. Tidak semua pekerja memiliki kesempatan menyusun ide secara tenang di kantor yang dipenuhi rapat dan target. Justru dalam perjalanan, ketika tubuh bergerak menuju tujuan, pikiran sering menemukan ruang untuk mengolah berbagai persoalan tanpa tekanan yang berlebihan.

Dalam psikologi kreativitas, munculnya gagasan baru sering berkaitan dengan keadaan mental yang tidak sepenuhnya dibebani oleh tuntutan menyelesaikan pekerjaan saat itu juga. Pikiran memiliki kesempatan menghubungkan pengalaman, pengetahuan, dan ingatan secara lebih bebas. Karena itu, tidak mengherankan apabila banyak orang mengaku menemukan solusi atas persoalan pekerjaan, mendapatkan ide tulisan, atau merumuskan keputusan penting ketika sedang berada dalam perjalanan.

Bagi penulis, perjalanan dapat menjadi waktu untuk menyusun kerangka artikel, mencatat metafora yang tiba-tiba muncul, atau merancang alur sebuah cerita. Bagi mahasiswa, perjalanan dapat dimanfaatkan untuk membaca bahan kuliah atau meninjau kembali materi yang telah dipelajari. Bagi pekerja, perjalanan menjadi kesempatan mengevaluasi pekerjaan hari itu sekaligus mempersiapkan langkah untuk hari berikutnya.

Aktivitas-aktivitas tersebut mungkin tampak sederhana. Namun jika dilakukan secara konsisten, perjalanan harian yang semula dianggap waktu pasif dapat berubah menjadi investasi pengetahuan yang bernilai dalam jangka panjang.

Selain menjadi ruang berkarya, perjalanan juga menghadirkan kesempatan untuk melakukan refleksi. Bagi seorang ibu yang kelelahan di rumah, perjalanan ke suatu tempat bisa menjadi ruang istirahat sejenak, bahkan bagi para pensiunan, perjalanan bisa menjadi ruang mengisi memori kembali masa-masa aktifitas tinggi dan jadi tetapi dan penyembuhan psyikologis perubahan ritme hari-hari yang tajam.

Kota yang terlihat dari balik jendela bus memperlihatkan berbagai wajah kehidupan secara bergantian. Kawasan bisnis berdampingan dengan permukiman padat, gedung-gedung tinggi berhadapan dengan ruang-ruang sederhana tempat masyarakat menjalani kehidupannya. Pergantian penumpang di setiap halte menghadirkan beragam ekspresi, usia, profesi, dan latar belakang sosial. Semua itu merupakan pengalaman sosial yang dapat memperkaya cara seseorang memahami kehidupan kota.

Refleksi yang lahir dari pengamatan semacam ini tidak selalu menghasilkan karya sastra atau tulisan ilmiah. Kadang-kadang, hasilnya berupa keputusan hidup yang lebih matang, cara pandang yang lebih luas terhadap orang lain, atau kesadaran baru mengenai posisi diri di tengah masyarakat. Sabar menunggu bus datang, menghormati kebersamaan, menghargai antrian, Dalam pengertian inilah perjalanan juga menjadi ruang pembelajaran kolektif.

Lebih jauh lagi, perjalanan dapat menjadi ruang untuk merancang pencapaian. Banyak orang menetapkan target hidup, menyusun rencana usaha, mengatur strategi pekerjaan, atau mengevaluasi kemajuan dirinya ketika berada dalam perjalanan. Waktu yang tersedia digunakan untuk berpikir tanpa gangguan yang terlalu intens. Catatan-catatan kecil yang dibuat di telepon genggam atau buku saku sering kali menjadi awal dari proyek yang kemudian berkembang menjadi karya, usaha, penelitian, atau keputusan penting dalam kehidupan.

Hal ini menunjukkan bahwa pencapaian tidak selalu lahir di ruang rapat, ruang kelas, atau kantor. Dalam banyak kasus, ia justru berawal dari proses berpikir yang berlangsung di ruang-ruang sederhana yang memberi kesempatan kepada seseorang untuk mengolah gagasannya secara tenang.

Tentu tidak setiap perjalanan menghadirkan pengalaman yang sama. Kepadatan penumpang, durasi perjalanan, maupun kondisi operasional dapat memengaruhi kenyamanan pengguna. Namun ketika kualitas layanan memungkinkan penumpang melakukan aktivitas secara nyaman, transportasi publik memiliki potensi untuk menghadirkan manfaat yang jauh melampaui fungsi mobilitas.

Di sinilah TransJakarta memperlihatkan makna yang lebih luas sebagai bagian dari kehidupan metropolitan. Ia bukan hanya menghubungkan halte dengan halte, melainkan juga menghubungkan manusia dengan gagasan-gagasannya. Ia menyediakan ruang sementara yang dapat dimanfaatkan untuk belajar, membaca, menulis, merenung, dan menyusun langkah-langkah menuju tujuan yang lebih besar.

Pada akhirnya, perjalanan tidak harus dipahami sebagai jeda yang memisahkan satu aktivitas dari aktivitas berikutnya. Perjalanan dapat menjadi bagian dari proses itu sendiri. Di dalamnya terdapat waktu untuk bertumbuh, memperkaya pengetahuan, memperhalus cara berpikir, dan merancang masa depan.

Mungkin inilah makna yang paling penting dari sebuah perjalanan. Kita memang berpindah tempat, tetapi pada saat yang sama, kita juga diberi kesempatan untuk bergerak sebagai manusia—menambah pengetahuan, memperluas perspektif, melahirkan karya, dan perlahan mendekatkan diri pada berbagai pencapaian yang ingin diwujudkan.

Tentang Penulis

Nuyang Jaimee adalah pegiat seni dan budaya. Ia aktif di seni sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Pernah bekerja di production house dan bermain beberapa FTV, Sinetron dan Channal Youtube. Pernah menjadi kontributor di harian Madina, Bulletin H.B. Jassin dan terakhir bergabung di Suara Anak Negeri Media Group. Sampai sekarang menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru/pengajar/pelatih/narasumber seni sastra dan teater baik pelatihan/workshop umum maupun sekolah. Menjuarai lomba baca puisi se-Asia Tenggara di acara ZKMUA-Malaysia dan menjuarai lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya” terbit 2023.

 

 

Kategori:
Tags:

Terkini