Minggu, 26 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: “PABRIK YANG MENGALENGKAN HUJAN”

/1/

PABRIK YANG MENGALENGKAN HUJAN

Puisi: Leni Marlina

Baca juga: Dari Ruang Sidang Doktor untuk Keluarga Indonesia: Smart-Parent ADLs, Inovasi Digital bagi Anak Disabilitas Intelektual

Siapa yang memberi hak kepadamu?
Siapa yang menyuruhmu menghitung denyut awan seperti menghitung laba?
Siapa yang membisikkan
bahwa hujan dapat dijinakkan oleh baut, angka dan pagar-pagar logam?

Di pinggir musim,
kau mendirikan sebuah pabrik.
Cerobong-cerobongnya menjulur ke tubuh langit,
seperti jarum raksasa
yang menyedot darah dari urat cuaca.

Baca juga: FANCY 2026 Resmi Dibuka: UKBA Universitas Negeri Padang Undang Pelajar dan Mahasiswa Tampilkan Talenta Bahasa dan Sastra di Ajang Nasional

Setiap pagi, awan keluar dari sana lebih kurus daripada kemarin.
Perutnya kempis hingga kelihatan tulang-tulang kapasnya.
Dan angin berjalan terpincang-pincang
membawa sisa napas yang belum habis diperah.

Kau menangkap gerimis.
Mengalengkannya.
Menyusunnya berjajar
di rak-rak baja yang dingin seperti buku besar utang.
Semua kaleng diberi label.
Semua tetes diberi harga.
Semua musim diberi nomor inventaris.
Bahkan bau lumpur
kau pisahkan dari tanahnya.
Bahkan suara katak
kau cabut dari rawa.
Bahkan desir padi
kau keluarkan dari tubuh sawah,
seperti mencabut lidah
dari mulut yang lapar.

Di gudang penyimpananmu,
hujan-hujan tergantung terbalik.
Dari tubuhnya menetes
sisa kabut pegunungan, doa para benih,
sungai yang belum selesai dilahirkan.
Kau menyebutnya kemajuan.
Kau menyebutnya pengelolaan.
Kau menyebutnya masa depan.
Namun malam selalu menyimpan sesuatu yang gagal dihitung oleh mesinmu.

Dari kedalaman bumi,
seuntai akar beringin mulai bergerak.
Ia tidak datang
membawa pidato,
tidak datang
membawa dokumen,
tapi datang
membawa ingatan.

Ia mencium warna karat,
meraba bau keserakahan
yang merembes dari pondasi.
Ia mendengar angka-angka
menggerogoti tulang hujan
hingga tinggal kerangka statistik.
Perlahan, akar itu menyelinap
ke jantung bangunan.
Melilit baut dan mengunyah semen.
Menyeret gelap keluar dari tempat persembunyiannya.

Dan ketika pondasi retak,
yang muncrat terlebih dahulu
bukan air.
Melainkan segala yang selama ini
kau rampas dari namanya sendiri: desir padi, napas sungai,
lumut yang dipenjara,
kabut yang diborgol,
dan suara anak-anak
yang pernah menggambar hujan
dengan krayon biru.

Pabrik itu berguncang.
Cerobong-cerobongnya patah
seperti sumpah yang terlalu lama berdusta.
Kaleng-kaleng pecah.
Label-label beterbangan.
Nomor-nomor berjatuhan
seperti daun-daun kering
yang akhirnya menyadari
mereka bukan pohon.
Lalu hujan keluar berlari menuju sungai dan sawah.
Menuju segala tempat
yang masih mengingat namanya.

Dan kau, berdiri di tengah reruntuhan,
menyaksikan sesuatu
yang tak pernah diajarkan oleh kepemilikan:
bahwa hujan tidak diciptakan
untuk menjadi barang dagangan.
Ia diciptakan untuk jatuh,
hingga bumi kembali percaya kepada langit.

Padang, Sumbar, 2026

—-

/2/

SEGALA YANG KAU RAMPAS

Puisi: Leni Marlina


Untuk kau
yang selalu mengira
dunia diciptakan
agar dapat dimiliki.

Kau mengalengkan hujan.
Kau memajang tulang matahari.
Kau menyelundupkan cakrawala.
Kau memaksa pohon
menandatangani akarnya sendiri.
Kau membekukan fajar.
Kau memberi nomor pada embun.
Kau memberi label pada angin.
Kau menimbang bayangan gunung.
Kau mengukur panjang sungai
dengan penggaris yang tak pernah mengenal haus.

Kau percaya
segala yang bernapas
dapat diubah menjadi arsip.
Kau percaya
segala yang tumbuh
dapat dipindahkan ke kolom kepemilikan.
Kau percaya
nama lebih tua daripada asal-usul.

Padahal sebelum kertas ditemukan,
hujan telah mengenal jalannya.
Sebelum stempel dilahirkan,
akar telah berbicara dengan tanah.
Sebelum inventaris disusun,
cakrawala telah mengajari laut
cara memandang jauh.
Sebelum kontrak ditandatangani,
matahari telah membagikan terang
tanpa memilih wajah.

Dan sebelum siapa pun menyebut dirinya pemilik,
fajar telah membuka pintu pagi
untuk semua makhluk.

Maka berkali-kali
kau membangun kurungan.
Dan berkali-kali pula
kehidupan menemukan celah.
Sebab hujan selalu mengingat awan.
Cahaya selalu mengingat langit.
Cakrawala selalu mengingat kejauhan.
Akar selalu mengingat bumi.
Dan fajar selalu mengingat Timur.

Inilah kisah
tentang segala yang kau rampas.
Dan segala yang,
meski terluka,
tetap menemukan jalan pulang
kepada dirinya sendiri.

Padang, Sumbar, 2026

—-

/3/

MUSEUM PENYIMPAN TULANG MATAHARI

Puisi: Leni Marlina

Kau menggantung kerangka matahari di leher sebuah jam, sejak itu waktu berbau gandum hangus.
Siapa mengajari angka memakan cahaya sampai tulang-tulang siang terdengar berderak dari balik kaca?

Sepotong fajar duduk di kursi inventaris,
pergelangan jingganya diborgol oleh huruf-huruf yang terlalu dingin untuk menjadi bahasa.

Di luar, ladang menumbuhkan bayangan lebih cepat daripada padi.
Lebah-lebah pulang membawa debu senja pada lututnya, bunga-bunga sibuk melupakan warna mereka sendiri.
Bukankah langit hanya museum yang belum selesai ditutup?

Pada etalase ketiga,
sepotong terang diawetkan dalam formalin,
ia masih bergerak seperti ikan yang memimpikan api.
Malam mengunyah sisik-sisik emas yang rontok dari tubuhnya,
lalu menyembunyikan kunyahan itu di bawah kuku marmer.
Dari sana tumbuh akar-akar pijar yang minum karat, menyusu pada baut, dan tidur di paru-paru gedung.

Tidakkah kau mendengar dinding-dinding itu mulai berfotosintesis dalam gelap?
Anak-anak menggambar matahari dengan arang; lingkaran hitam mereka berkicau di halaman buku.

Pada malam kesepuluh, sumsum tulang matahari menetas menjadi kawanan burung yang terbuat dari arah timur.
Paruh mereka mematuki kata “milik” sampai huruf-hurufnya berubah menjadi kawat berdarah.
Kaca pecah bukan ke luar,
melainkan ke dalam,
seperti danau yang tenggelam ke dasar dirinya sendiri.

Apakah cahaya pernah meminta alamat sebelum menyentuh wajah-wajah yang letih?
Dan kau tinggal sendiri bersama segenggam angka yang menggigil,
sementara langit mengenakan kembali tulang-tulangnya.

Padang, Sumbar, 2026

/4/

KAPAL YANG MENYELUNDUPKAN CAKRAWALA

Puisi: Leni Marlina

Kau melipat cakrawala seperti surat tua,
sejak itu laut berjalan pincang di atas tongkat ombaknya sendiri.
Siapa mengajarimu bahwa kejauhan dapat dilipat tanpa membuat langit berdarah?

Di lambung kapalmu, garis-garis ufuk ditumpuk seperti kulit ular yang gagal berganti musim.
Burung camar terbang membawa kompas patah di paruhnya;
arah utara bocor dari matanya sepanjang pelayaran.
Bukankah angin terdengar lebih tua ketika kehilangan tempat untuk pulang?

Di geladak, matahari mentah diasinkan dalam tong-tong besi,
aromanya mengundang kawanan senja yang lapar.

Nelayan melempar pandangan ke laut, tetapi pandangan itu jatuh sebelum mencapai jarak.
Jaring-jaring terangkat penuh dengan bayangan, ikan-ikan telah berubah menjadi pertanyaan.

Di ruang muatan, cakrawala berdenyut pelan seperti insang paus yang sedang memimpikan benua.
Malam memerah susu bintang ke dalam peti-peti kayu,
lalu menyegelnya dengan lilin dari bulan yang meleleh.

Tidakkah kau dengar samudra mulai berbicara melalui retakan paku-paku kapal?
Seekor ikan terbang menabrak lambung; sisiknya berhamburan menjadi kawanan mata yang memandang ke segala arah.

Retakan itu tumbuh seperti akar cahaya, menjalar melalui papan, tali, dan tulang pelayaran.

Dari celahnya, horizon-horizon meloloskan diri,
berlari di atas ombak seperti kuda biru yang baru dilepaskan dari kandang badai.

Apakah kejauhan pernah meminta izin sebelum memanggil manusia untuk berlayar?
Kau hanya menyisakan segenggam peta yang menggigil,
sementara cakrawala mengenakan kembali tubuhnya pada pertemuan laut dan langit.

Padang, Sumbar, 2026

/5/

MUSEUM PENYIMPAN TULANG MATAHARI

Puisi: Leni Marlina

Kau menggantung kerangka matahari di leher sebuah jam,
sejak itu waktu berbau gandum hangus.
Siapa mengajari angka memakan cahaya sampai tulang-tulang siang terdengar berderak dari balik kaca?

Sepotong fajar duduk di kursi inventaris,
pergelangan jingganya diborgol oleh huruf-huruf yang terlalu dingin untuk menjadi bahasa.
Di luar, ladang menumbuhkan bayangan lebih cepat daripada padi.
Lebah-lebah pulang membawa debu senja pada lututnya, bunga-bunga sibuk melupakan warna mereka sendiri.
Bukankah langit hanya museum yang belum selesai ditutup?

Pada etalase ketiga,
sepotong terang diawetkan dalam formalin,
ia masih bergerak seperti ikan yang memimpikan api.
Malam mengunyah sisik-sisik emas yang rontok dari tubuhnya,
lalu menyembunyikan kunyahan itu di bawah kuku marmer.

Dari sana tumbuh akar-akar pijar yang minum karat,
menyusu pada baut,
tidur di paru-paru gedung.
Tidakkah kau mendengar dinding-dinding itu mulai berfotosintesis dalam gelap?

Anak-anak menggambar matahari dengan arang; lingkaran hitam mereka berkicau di halaman buku.
Pada malam kesepuluh, sumsum tulang matahari menetas menjadi kawanan burung yang terbuat dari arah timur.
Paruh mereka mematuki kata “milik” sampai huruf-hurufnya berubah menjadi kawat berdarah.
Kaca pecah ke dalam seperti danau yang tenggelam ke dasar dirinya sendiri.

Apakah cahaya pernah meminta alamat sebelum menyentuh wajah-wajah yang letih?
Dan kau tinggal sendiri bersama segenggam angka yang menggigil,
sementara langit mengenakan kembali tulang-tulangnya.

Padang, Sumbar, 2026

—–

/6/

KAPAL YANG MENYELUNDUPKAN CAKRAWALA

Puisi: Leni Marlina

Kau melipat cakrawala seperti surat tua,
sejak itu laut berjalan pincang di atas tongkat ombaknya sendiri.
Siapa mengajarimu bahwa kejauhan dapat dilipat tanpa membuat langit berdarah?

Di lambung kapalmu, garis-garis ufuk ditumpuk seperti kulit ular yang gagal berganti musim.
Burung camar terbang membawa kompas patah di paruhnya,
arah utara bocor dari matanya sepanjang pelayaran.
Bukankah angin terdengar lebih tua ketika kehilangan tempat untuk pulang?

Pada geladak, matahari mentah diasinkan dalam tong-tong besi,
aromanya mengundang kawanan senja yang lapar.
Nelayan melempar pandangan ke laut,
tetapi pandangan itu jatuh sebelum mencapai jarak.
Jaring-jaring terangkat penuh dengan bayangan,
ikan-ikan telah berubah menjadi pertanyaan.

Di ruang muatan, cakrawala berdenyut pelan seperti insang paus yang sedang memimpikan benua.
Malam memerah susu bintang ke dalam peti-peti kayu,
lalu menyegelnya dengan lilin dari bulan yang meleleh.
Tidakkah kau dengar samudra mulai berbicara melalui retakan paku-paku kapal?

Seekor ikan terbang menabrak lambung,
sisiknya berhamburan menjadi kawanan mata yang memandang ke segala arah.
Retakan itu tumbuh seperti akar cahaya,
menjalar melalui papan, tali, dan tulang pelayaran.

Dari celahnya, horizon-horizon meloloskan diri,
berlari di atas ombak seperti kuda biru yang baru dilepaskan dari kandang badai.
Apakah kejauhan pernah meminta izin sebelum memanggil manusia untuk berlayar?

Dan kau hanya menyisakan segenggam peta yang menggigil,
sementara cakrawala mengenakan kembali tubuhnya pada pertemuan laut dan langit.

Padang, Sumbar, 2026

—-

/7/

POHON YANG DIPAKSA MENANDATANGANI AKARNYA

Puisi: Leni Marlina

Kau menggelar selembar kertas di bawah pohon,
sejak itu tanah berbau arsip yang baru digali dari kubur.
Siapa mengajarimu bahwa akar membutuhkan tanda tangan untuk mengenali bumi?

Tinta hitam merangkak di batangnya seperti kawanan semut yang sedang memindahkan malam.
Daun-daun saling berbisik dengan lidah hijau yang gemetar,
angin mengumpulkan ketakutan mereka di saku-saku senja.

Bukankah hujan selalu menemukan pohonnya tanpa membaca dokumen apa pun?
Satu per satu akar ditarik keluar,
tanah mengerang seperti mulut tua yang kehilangan seluruh giginya sekaligus.

Cacing-cacing memikul serpihan gelap di punggungnya; mereka tampak seperti huruf-huruf yang melarikan diri dari kontrak.
Pada lubang bekas akar,
mata air menutup wajahnya dengan lumpur.

Burung-burung hinggap pada cabang yang kosong,
paruh mereka dipenuhi serbuk sejarah yang belum selesai dikisahkan.
Malam menjahit kembali retakan bumi dengan benang kabut,
namun luka itu terus bernapas di bawah permukaan.
Tidakkah kau dengar batu-batu menghafal nama yang lebih tua daripada peta?

Jauh di kedalaman, sehelai akar rambut masih hidup,
ia meminum gelap seperti susu purba dari rahim tanah.
Dari tubuhnya tumbuh ribuan urat cahaya yang menjalar melalui batu, fosil, dan tulang hujan yang terkubur.
Ketika fajar tiba,
akar-akar itu muncul ke permukaan seperti tangan-tangan yang bangkit dari mimpi bumi.

Apakah sejarah pernah benar-benar mati hanya karena dikubur di bawah cap dan meterai?
Dan kau hanya menyisakan segenggam kertas yang basah oleh embun,
sementara pohon mengenakan kembali namanya pada tanah.

Padang, Sumbar, 2026

/8/

KETIKA KATA ITU KEHILANGAN SUARANYA

Puisi: Leni Marlina

Pada akhir zaman inventaris,
kata yang kaut emukan dahulu
terbaring sendirian
di antara karat dan lumut.
Sayap hitamnya rontok.
Giginya tanggal satu per satu.

Tak ada lagi yang takut kepadanya.
Hujan telah melarutkan sebagian hurufnya.
Akar telah meminum sisanya.

Angin membawa serpihan vokalnya
ke sarang burung.
Laut menggulung konsonannya
ke dasar samudra.
Matahari membakar bunyi-bunyi yang tersisa
hingga menjadi abu cahaya.

Kini tak ada lagi pagar
yang mampu mengurung cakrawala.
Tak ada lagi label
yang mampu menempel pada fajar.
Tak ada lagi angka
yang mampu menghitung
berapa kali musim harus lahir.
Siapa dapat memiliki hujan
ketika hujan berubah menjadi awan?

Siapa dapat memiliki cahaya
ketika cahaya berubah menjadi langit?
Siapa dapat memiliki bumi
ketika bumi sedang bermimpi
menjadi hutan?

Malam itu,
seluruh arsip dunia
pelan-pelan berubah
menjadi kawanan kunang-kunang.
Mereka terbang
membawa lembar demi lembar
kepemilikan yang terbakar.

Dan dari abu yang jatuh,
rumput-rumput liar tumbuh sangat kecil.
Dari sanalah
dunia memulai dirinya lagi.
Tanpa pagar, label dan inventaris.

Padang, Sumbar, 2026

———

Tentang Penulis – Leni Marlina

 

Leni Marlina merupakan penyair, penulis dan akademisi asal Sumatera Barat yang menetap di Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.

Sejak tahun 2006, ia mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan. Ia juga mengabdikan diri sebagai kontributor dan redaktur di beberap media termasuk SAN (Suara Anak Negri) Media Group.

Bagi Leni, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Litterary Talk Community) & Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community).

Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya.

Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id
Wattpad: @lenimarlina_write
Instagram: @lenimarlina_starmoonsun

Ilustrasi Cover Kumpulan Puisi “Pabrik yang Mengalengkan Hujan” Karya Leni Marlina. Sumber gambar: Starcom Indonesia’s Cover No.922.21072026-LM.

Kategori:
Tags:

Terkini