Cerpen Fantasi oleh
Leni Marlina
–
Pada malam ketika dokter mengatakan paru-parunya tinggal separuh yang sehat dan separuhnya lagi tidak berfungsi normal, Atmaraga pulang membawa kantong obat kosong. Kantong itu sebenarnya terlalu ringan seperti janji yang sudah terlalu sering dipakai. Tapi entah kenapa malam itu kantong obat terasa sangat berat bagi Atmaraga.
Baca juga: PEREMPUAN DI TIKUNGAN
Di jalan pulang, lampu-lampu kota tergantung di udara seperti buah-buah listrik yang lupa cara menjadi bintang. Motor lalu-lalang. Telepon genggam menyala di tangan orang-orang.
Ratusan wajah menunduk kepada layar ponsel masing-masing seperti sedang berdoa dengan tujuan yang berbeda-beda. Tak seorang pun mengenalnya.
Atmaraga berjalan pelan melewati mereka. Ia merupakan seorang penyair yang sepanjang hidup menulis tentang manusia dan kini bergerak di antara manusia seperti catatan kaki yang terlepas dari halaman.
Baca juga: "Sayap Terakhir di Balinggama"
Ketika sampai di rumah kontrakan, ia menemukan istrinya, Suryandari sedang memindahkan ember.
Tetes air jatuh dari langit-langit. Pluk. Pluk. Pluk. Suara itu terdengar seperti jam yang tidak menjual waktu, melainkan sisa umur.
“Dokternya bagaimana?” tanya Suryandari.
Atmaraga meletakkan resep di atas meja.
“Ternyata untuk mati saja masih sangat mahal biayanya.”
Perempuan itu membaca resep dan lalu melipatnya pelan. Seperti seseorang sedang melipat seekor burung yang patah sayap.
“Mungkin besok kita cari pinjaman.”
Atmaraga tertawa. Tawa pendek. Tawa yang tidak memiliki tujuan selain mencegah dirinya berteriak.
“Dari siapa?”
Tak ada jawaban. Karena kemiskinan sering kali bukan kekurangan uang. Melainkan kekurangan tempat untuk mengetuk.
Di meja tergeletak tiga benda: sertifikat seminar, buku puisi, dan tagihan listrik. Atmaraga menatap ketiganya. Lama. Sangat lama. Lalu ia mengambil sertifikat itu. Namanya tercetak besar. Tebal. Hitam. Lebih hitam daripada atap rumah yang bocor. Lebih hitam daripada kopi yang tidak lagi mampu mereka beli. Lebih hitam daripada malam.
Tiba-tiba ia merobeknya. KRAKK. Suryandari terkejut.
“Mas.”
KRAKK. Robekan kedua.
KRAKK. Robekan ketiga.
Potongan-potongan kertas berjatuhan ke lantai seperti salju yang kehilangan negara asalnya.
“Apa yang kau lakukan?”
Atmaraga tidak menjawab. Matanya menempel pada sobekan namanya sendiri.
ATMA—RAGA
Dua bagian namanya seperti sepanjang hidupnya. Jiwanya pergi ke satu arah. Tubuhnya ke arah lain.
“Aku lelah.”
Suryandari diam.
“Aku lelah menulis tentang kelaparan.”
“Aku lelah menjadi orang yang diminta bicara tentang kemanusiaan lalu pulang naik angkot sambil menghitung uang receh.”
Ia berdiri. Mendadak. Kursi bergeser.
“Puisi”, katanya. Lalu tertawa. Tawa yang terdengar seperti paku dicabut dari kayu tua.
“Puisi.” Ia mengulangi. Seolah sedang menguji rasa sebuah kata yang mulai busuk.
“Apa sebenarnya yang berhasil kuselamatkan?”
Tak ada jawaban. Air terus jatuh dari atap. Pluk. Pluk. Pluk. Seperti seseorang sedang mengetuk peti mati dari masa depan.
“Aku menulis tiga puluh tahun.”
Suara Atmaraga mengecil.
“Hasilnya?”
Ia menunjuk ember bocor.
“Hasilnya itu.”
Ia menunjuk tagihan.
“Hasilnya itu.”
Ia menunjuk resep.
“Hasilnya itu.”
Suryandari memandangnya. Lama sekali. Di wajah perempuan itu ada kelelahan yang tidak pernah sempat dipelajari kamus.
“Aku juga lelah.”
Katanya akhirnya. Pelan. Atmaraga terdiam. Karena selama bertahun-tahun ia tidak pernah membayangkan perempuan itu mengucapkan kalimat tersebut.
“Aku juga lelah, Mas.”
Air menetes. Pluk.
“Kadang aku marah.”
Pluk.
“Kadang aku iri kepada istri pegawai kecamatan.”
Pluk.
“Kadang aku ingin rumah yang atapnya tidak bocor.”
Pluk.
“Kadang aku ingin hidup yang tidak harus dihitung sampai butir beras terakhir.”
Atmaraga tidak bergerak. Setiap kalimat itu terasa seperti batu yang dijatuhkan perlahan ke dalam sumur yang selama ini dihindarinya.
“Tapi setiap kali aku ingin pergi…”
Suryandari tersenyum. Bukan senyum bahagia. Melainkan senyum seseorang yang sudah terlalu lama berteman dengan badai.
“…aku selalu menemukan alasan untuk tinggal.”
Atmaraga ingin menjawab. Tetapi tepat saat itu sesuatu menghantam atap.
BRAKKKK.
Rumah berguncang. Lampu berkedip. Udara berubah. Seolah malam baru saja membuka mata yang lain. Mereka berdua menoleh.
Di atas seng terdengar suara gesekan, langkah dan kepakan. Kemudian suara seseorang yang sudah tua. Dan anehnya terdengar seperti berasal dari dalam dada Atmaraga sendiri.
“Akhirnya.”
Sunyi mendadak membeku.
“Aku menemukanmu.”
Ketika Atmaraga membuka jendela, seekor burung berdiri di sana. Tubuhnya tersusun dari huruf-huruf yang terbakar. Sebagian sayapnya hilang. Sebagian paruhnya retak. Tetapi kedua matanya berisi ribuan puisi yang tidak pernah selesai ditulis.
“Aku Nuriel.”
Burung itu menundukkan kepala. Hujan berhenti. Angin berhenti. Bahkan tetesan dari atap berhenti di udara. Seolah seluruh dunia sedang menahan napas. Karena jauh di suatu tempat yang tidak terdapat pada peta mana pun, sebuah negeri bernama Aksaraya sedang sekarat. Dan malam ini adalah malam terakhirnya.
Mereka berdiri di bawah Pohon Pertama. Begitulah Aksaraya menyebutnya. Pohon yang tidak tumbuh dari tanah. Pohon yang tumbuh dari kalimat pertama yang pernah diucapkan manusia ketika ia menyadari bahwa dirinya tidak sendirian di semesta. Batangnya menjulang menembus langit. Akar-akarnya menembus Sungai Kenangan. Daun-daunnya berupa halaman-halaman yang belum pernah ditulis. Namun kini sebagian besar daunnya menghitam. Seperti dibakar dari dalam.
Atmaraga mendongak. Di antara cabang-cabang yang membentang seperti urat nadi langit, sesuatu berdenyut, bercahaya lemah, nyaris padam.
“Itu Benih Pertama”, kata Nuriel.
“Jantung Aksaraya.”
Peregrinus menatap cahaya itu. Tatapannya seperti seseorang yang memandang kampung halaman yang akan segera ditinggalkan.
“Kita tidak akan mampu menyelamatkannya.”
Nuriel tidak berpaling.
“Kita belum mencoba.”
Melanthis tertawa. Tawa pendek dan pahit. Seperti teh tanpa gula yang terlalu lama dibiarkan dingin.
“Kalian masih mengulang percakapan yang sama.”
“Aku bosan.”
“Aku sudah mendengar perdebatan ini selama tiga abad.”
Nuriel menoleh.
“Dan selama tiga abad kau tetap tinggal.”
Mata Melanthis berkilat. Ia Marah.
“Kau tahu kenapa?”
Ia berdiri perlahan. Sendi-sendi sayapnya berbunyi seperti pintu tua.
“Karena aku pengecut.”
Sunyi. Bahkan angin berhenti bergerak.
“Aku terlalu pengecut untuk pergi”, katanya lagi.
“Aku terlalu pengecut untuk berhenti berharap sepenuhnya.”
Matanya menatap Sungai Kenangan sangat jauh. Seolah sedang melihat masa lalu yang tidak ingin diingatnya.
“Aku pernah sepertimu” katanya kepada Nuriel.
“Aku pernah percaya setiap puisi dapat menyelamatkan dunia.”
Ia tertawa.
“Betapa mudanya aku.”
Langit tiba-tiba bergetar. Mula-mula pelan. Kemudian semakin keras. Gunung-gunung cerita bergemuruh. Sungai Kenangan berputar ke arah yang salah.
Daun-daun Pohon Pertama rontok serentak. Satu. Sepuluh. Seratus. Sejuta. Nuriel mendadak pucat.
“Dia datang.”
Atmaraga merasakan tanah di bawah kakinya bergerak. Bukan gempa. Lebih mirip rasa takut yang berhasil menemukan bentuk. Lalu bayangan raksasa muncul di cakrawala.
Mula-mula tampak seperti badai. Kemudian kelihatan seperti kota. Kemudian pegunungan. Kemudian sesuatu yang terlalu besar untuk diberi nama. Mahkotanya tersusun dari layar-layar bercahaya.
Jutaan wajah menyala di sana. Wajah itu berbicara, berteriak, bernyanyi, mengutuk diri, membanggakan diri, menjual sesuatu, meminta perhatian, menawarkan perhatian. Tak satu pun benar-benar mendengar. Semuanya berbicara bersamaan tanpa akhir.
Raja Kebisingan melangkah. Satu langkah: ribuan puisi berubah menjadi debu. Satu langkah lagi: sebuah kota metafora runtuh. Satu langkah lagi: sebagian Sungai Kenangan mengering. Atmaraga tidak bisa bergerak.
Makhluk itu terlalu besar, terlalu tua, terlalu akrab, sangat aneh. Karena di balik rasa takut itu, ia merasa mengenalnya. Seperti mengenali bayangan sendiri. Raja Kebisingan berhenti. Jutaan mata terbuka pada tubuhnya. Semuanya memandang Atmaraga. Hanya Atmaraga. Kemudian suara itu datang. Bukan dari luar. Melainkan dari dalam kepalanya.
“Akhirnya.”
Suara itu terdengar seperti seluruh pasar di dunia berbicara sekaligus.
“Aku penasaran seperti apa wajahmu.”
Atmaraga menelan ludah.
“Siapa kau?”
Makhluk itu tertawa. Langit retak. Sungai berguncang.
“Aku?”
“Aku adalah semua yang manusia pilih ketika mereka tidak memilih makna.”
Nuriel maju. Cahaya menyala dari sayapnya.
“Kau menghancurkan Aksaraya.”
Raja Kebisingan menoleh. Hanya sedikit. Seperti seseorang memandangi seekor semut.
“Tidak”, katanya.
“Aku tidak menghancurkan apa pun.”
Ia memandang Atmaraga.
“Aku hanya memakan apa yang mereka berikan.”
Kemudian:
“Kau menulis puisi, bukan?”
Atmaraga diam.
“Kau ingin didengar.”
“Ya.”
“Kau ingin dibaca.”
“Ya.”
“Kau ingin dikenang.”
Atmaraga tidak menjawab. Raja Kebisingan tersenyum. Senyum itu membuat langit tampak lebih dingin.
“Lihat?”
“Aku lahir dari tempat yang sama dengan puisimu.”
Melanthis menutup mata. Seolah telah mendengar percakapan ini berkali-kali. Peregrinus justru tersenyum. Karena untuk malam itu seseorang mengatakan sesuatu yang selama ini dipikirkannya.
Raja Kebisingan melanjutkan.
“Kalian menyebutku monster.”
“Tetapi aku tidak pernah memaksa siapa pun.”
Ia mengangkat tangan seluas mata memandang. Di telapak tangannya muncul jutaan manusia. Masing-masing memegang cahaya kecil, perhatian, waktu dan pikiran. Kemudian satu demi satu mereka menyerahkannya kepadanya dengan sukarela.
“Aku tidak mencuri”, katanya.
“Mereka memberi.”
Atmaraga merasa dadanya semakin berat. Karena sebagian dirinya tahu makhluk itu tidak sepenuhnya salah. Ia teringat malam-malam ketika diam-diam memeriksa apakah puisinya dibaca. Ia teringat rasa kecewa ketika namanya tidak disebut. Ia teringat iri hati. Ia teringat kesombongan kecil yang selalu disembunyikannya di balik kata-kata indah.
Dan ia melihat sesuatu yang mengerikan: Raja Kebisingan tidak hanya hidup di luar sana. Ia hidup di dalam dirinya juga.
Saat itulah Peregrinus bergerak sangat cepat. Tak seorang pun sempat mencegahnya. Ia terbang ke cabang tertinggi Pohon Pertama. Langsung menuju Benih Pertama.
“Nuriel!” teriak Melanthis. Namun terlambat.
Peregrinus mencengkeram cahaya itu. Langit berteriak. Benih Pertama tercabut. Aksaraya menggeliat kesakitan. Retakan menjalar ke seluruh negeri. Gunung-gunung cerita longsor. Kota metafora runtuh. Sungai Kenangan surut seketika. Raja Kebisingan tertawa. Tawa yang terdengar seperti jutaan notifikasi lahir bersamaan.
“Peregrinus!” teriak Nuriel.
Burung pengembara itu melayang di udara. Benih Pertama menyala di cakarnya. Matanya dipenuhi kesedihan yang lebih tua daripada marah.
“Kalian masih belum mengerti”, katanya.
“Ini bukan tentang menang.”
“Bukan tentang kalah.”
“Bukan tentang harapan.”
“Bukan tentang keputusasaan.”
Ia memandang bumi yang tampak jauh di bawah sana: berkelap-kelip, sibuk, bising. Bumi tidak sadar bahwa Aksaraya sedang mati.
“Mereka tidak menginginkan kita lagi.”
Nuriel terbang mendekat.
“Mereka masih membutuhkan kita.”
Peregrinus menggeleng.
“Tidak.”
“Kau hanya takut menerima kenyataan.”
Melanthis tidak bergerak. Karenasetelah ratusan tahun, ia tidak tahu pihak mana yang benar.
Atmaraga menyadari bahwa dirinya juga tidak tahu. Sebab di suatu tempat jauh di dalam dadanya, ada bagian kecil yang diam-diam ingin ikut terbang bersama Peregrinus. Meninggalkan semuanya. Selamanya.
Peregrinus terbang semakin tinggi. Benih Pertama berdenyut di cakarnya. Denyut itu mengirimkan retakan baru ke seluruh Aksaraya. Langit mulai pecah. Bukan seperti kaca. Lebih seperti ingatan yang kehilangan alasan untuk tetap utuh.
Potongan-potongan cakrawala berjatuhan ke Sungai Kenangan. Dan setiap kali sebuah pecahan menyentuh air, ribuan kenangan menghilang.
Seorang ibu lupa lagu pengantar tidur yang pernah dinyanyikannya. Seorang anak lupa suara ayahnya. Seorang lelaki tua lupa nama perempuan yang dicintainya selama lima puluh tahun. Semuanya lenyap. Seolah tidak pernah terjadi. Atmaraga merasakan lututnya melemah.
“Kenapa?”, teriaknya. Suara itu nyaris tenggelam oleh runtuhnya langit.
“Kenapa kau melakukan ini?”
Peregrinus menoleh. Matanya tidak berisi kemarahan. Justru itulah yang mengerikan. Ia berisi keyakinan.
“Aku sedang menyelamatkan sesuatu”, katanya.
“Dengan menghancurkannya?”
“Terkadang”, jawab Peregrinus.
“Api hutan bukan musuh pohon.”
“Kadang ia adalah cara hutan mengingat kembali dirinya.”
Nuriel melesat. Cahaya menyembur dari sayapnya. Untuk sesaat langit yang pecah kembali menyatu.
“Jangan lakukan ini!”
Peregrinus berhenti. Kemudian tertawa. Tawa yang sangat lelah dan sangat tua.
“Aku sudah melakukan ini selama berabad-abad, Nuriel.”
“Aku sudah menjaga mereka.”
“Aku sudah mengantar mimpi.”
“Aku sudah membawa puisi.”
“Aku sudah menyelamatkan lagu-lagu yang nyaris mati.” Suaranya pecah.
“Apa hasilnya?”
Ia menunjuk bumi. Di bawah sana jutaan cahaya berkedip. Tak ada satu pun yang menoleh ke Aksaraya.
“Mereka membangun menara yang lebih tinggi.”
“Mereka menciptakan kebisingan yang lebih besar.”
“Mereka memperdagangkan perhatian seperti gandum.”
“Dan setiap tahun semakin sedikit yang mendengar.”
Ia memandang Benih Pertama. Lembut. Hampir penuh kasih.
“Aku lelah memberi makan dunia yang tidak lapar.”
Suasam sunyi mendominasi. Sunyi yang lebih berat daripada gunung. Atmaraga memandang Nuriel. Lalu Melanthis. Lalu Peregrinus. Dan ia mengerti sesuatu. Ketiganya tidak sedang berdebat. Ketiganya sedang terluka.
Nuriel terluka tetapi tetap berharap. Melanthis terluka tetapi tetap bertahan. Peregrinus terluka dan memilih pergi. Tiga bentuk luka. Tiga cara bertahan hidup.
Melanthis akhirnya bergerak. Ia membuka sayapnya yang penuh jahitan.
Jahitan-jahitan itu bersinar. Satu per satu. Seperti luka yang akhirnya memutuskan untuk berbicara.
“Aku ingat.”
katanya pelan. Tak seorang pun menjawab.
“Aku ingat ketika pertama kali lahir.”
Matanya menatap jauh. Melewati malam. Melewati abad.
“Aku adalah puisi tentang seorang anak perempuan yang mengajari adiknya membaca.”
Nuriel menoleh. Peregrinus membeku.
“Aku begitu percaya kepada manusia.”
Suara Melanthis bergetar.
“Aku pikir kebaikan akan menang.”
Ia tertawa. Kecil. Rapuh.
“Aku muda sekali waktu itu.”
Kemudian sesuatu yang tidak pernah dilakukan Melanthis selama ratusan tahun terjadi. Ia menangis. Air matanya jatuh ke tanah. Dan dari setiap tetes tumbuh pohon kecil. Pohon-pohon kenangan. Pohon-pohon harapan. Pohon-pohon yang pernah gagal tumbuh di bumi.
“Aku melihat perang”, katanya.
“Aku melihat pembakaran buku.”
“Aku melihat kebencian diwariskan seperti pusaka.”
“Aku melihat puisi dijadikan hiasan pidato.”
“Aku melihat orang-orang bertepuk tangan untuk kata-kata yang tidak mereka dengarkan.”
Suaranya semakin pelan.
“Aku lelah.”
Ia menatap Nuriel.
“Aku lelah berharap.”
Kemudian menatap Peregrinus.
“Aku juga terlalu takut untuk pergi.”
Melanthis tampak tua. Benar-benar tua. Bukan karena usia. Melainkan karena telah terlalu lama memikul kekecewaan dunia.
Kehancuran menjalar semakin cepat. Pohon Pertama mulai roboh. Akar-akarnya terlepas dari Sungai Kenangan. Benih Pertama berdenyut panik. Nuriel memandang Atmaraga.
“Sudah waktunya.”
Atmaraga tidak mengerti.
“Waktu untuk apa?”
Nuriel tidak langsung menjawab.Tatapannya jatuh kepada Benih Pertama. Kemudian kepada Raja Kebisingan. Kemudian kembali kepada Atmaraga.
“Aksaraya bisa diselamatkan.”
Harapan menyala di dada Atmaraga untuk sesaat. Kemudian mati lagi karena wajah Nuriel terlalu tenang. Terlalu siap.
“Bagaimana caranya?”
Burung cahaya itu tersenyum. Sedih.
“Harus ada yang menggantikan Benih Pertama.”
Atmaraga merasakan udara menjadi dingin. Sangat dingin.
“Siapa?”
Nuriel diam. Melanthis menunduk. Peregrinus memejamkan mata. Bahkan Raja Kebisingan berhenti tertawa. Lalu Atmaraga memahami jawabannya. Dan berharap dirinya salah.
“Bukan tubuh”, kata Nuriel.
“Bukan nyawa.”
“Yang harus diberikan adalah seluruh makna yang pernah kau kumpulkan.”
Atmaraga tidak bergerak. Nuriel melanjutkan.
“Semua puisi.”
“Semua kenangan tentang puisi.”
“Semua penghargaan.”
“Semua nama.”
“Semua jejak.”
“Semua.”
“Kalau aku melakukannya…”
Suara Atmaraga terdengar asing.
“…apa yang tersisa?”
Nuriel menjawab pelan.
“Aku tidak tahu.”
Raja Kebisingan tersenyum. Akhirnya.
“Ah”, katanya.
“Pertanyaan yang sebenarnya.”
Ia mendekat. Begitu dekat hingga Atmaraga dapat melihat wajah-wajah bergerak di dalam tubuh raksasa itu. Tubuh itu memantulkan wajah penyair, wajah penulis, wajah pemimpin, wajah penghibur, wajah para pejuang hidup, wajah orang-orang yang pernah ingin didengar.
“Kau mengira pertarungan ini tentang aku”, katanya.
“Padahal tidak.”
Ia menunjuk dada Atmaraga.
“Pertarungan ini selalu tentang itu.”
“Kau ingin dikenal.”
“Ya.”
“Kau ingin diingat.”
“Ya.”
“Kau ingin puisimu hidup lebih lama daripada tubuhmu.”
Atmaraga menunduk. Karena ia tidak sanggup berbohong. Raja Kebisingan tersenyum lebih lebar.
“Kalau begitu jangan lakukan”, katanya lembut. Hampir seperti teman.
“Hanya orang bodoh yang rela dilupakan.”
Malam itu, Atmaraga tergoda. Sungguh-sungguh tergoda. Ia membayangkan semua puisinya.
Semua malam yang dihabiskan menulis. Semua kegagalan. Semua pengorbanan. Semua rasa lapar. Semua harapan.
Apakah semuanya akan hilang? Begitu saja? Tanpa nama? Tanpa jejak? Tanpa monumen? Tanpa sejarah?
Lalu di tengah kekacauan itu muncul sebuah ingatan. Sangat kecil. Sangat sederhana.
Suryandari. Duduk di bawah atap bocor. Menjahit kancing bajunya. Tanpa berkata apa-apa. Tanpa meminta penghargaan. Tanpa meminta dikenang. Hanya tinggal. Tetap tinggal.
Dan tiba-tiba sesuatu di dalam dirinya terasa koyak. Bukan karena sakit. Melainkan karena pemahaman. Ia melihat betapa banyak hidup dibangun oleh orang-orang yang tidak pernah masuk buku sejarah. Dan betapa sering dunia tetap berdiri karena mereka.
Di kejauhan, fajar mulai bergerak. Tipis. Seperti garis cahaya yang ditarik perlahan pada kulit malam. Dan Atmaraga tahu: ia tidak punya banyak waktu lagi.
Fajar masih jauh. Namun malam sudah mulai kehilangan keberaniannya. Di ufuk timur, sebuah garis pucat menggores kegelapan seperti kuku cahaya pada kulit dunia.
Pohon Pertama terus roboh. Akar-akarnya terlepas dari Sungai Kenangan. Air sungai berubah keruh. Kenangan-kenangan hanyut seperti rumah-rumah yang terbawa banjir, nama, wajah, janji, lagu, doa. Semuanya terseret. Aksaraya sedang melupakan dirinya sendiri.
Atmaraga berdiri di tengah kehancuran itu. Di satu sisi: Raja Kebisingan. Di sisi lain: Nuriell. Melanthis. Peregrinus.
Dan di antara mereka semua, sebuah pertanyaan yang lebih berat daripada kematian:
Jika seluruh hidupmu harus lenyap agar sesuatu yang tidak mengenal namamu dapat hidup, apakah kau bersedia?
“Aku tidak bisa menjawab untukmu”, kata Nuriel.
Suaranya mulai redup. Sebagian bulunya berubah menjadi debu cahaya.
“Aku juga tidak”, kata Melanthis.
“Aku sudah terlalu lama gagal memahami manusia.”
Peregrinus menunduk. Dan ketika akhirnya berbicara, suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang mengucapkan selamat tinggal kepada rumah yang diam-diam masih dicintainya.
“Aku berharap kau memilih tidak melakukannya”, katanya.
“Bukan karena aku ingin Aksaraya mati.”
Ia memandang Benih Pertama yang berdenyut di cakarnya.
“Tetapi karena aku tahu betapa mahal harga yang harus dibayar.”
Atmaraga menutup mata. Di dalam gelap, seluruh hidupnya datang. Tidak berbaris. Tidak teratur. Tidak heroik Justru sebaliknya. Ia melihat dirinya muda. Membaca puisi kepada ruangan yang hampir kosong.
Ia melihat surat penolakan penerbit. Melihat seminar-seminar yang membayar kehormatan lebih mahal daripada honor.
Melihat rumah-rumah kontrakan. Melihat obat yang tak terbeli. Melihat iri hati. Melihat kesombongan. Melihat malam-malam ketika diam-diam ia berharap seseorang mengucapkan namanya. Melihat seluruh kehidupan yang selama ini disebutnya perjuangan.
Kemudian muncul wajah lain. Suryandari. Bukan saat tersenyum. Bukan saat memujinya. Bukan saat mendukungnya. Yang muncul justru hal-hal kecil. Sangat kecil.
Ia sedang menjemur baju. Ia sedang menghitung uang receh. Ia sedang memindahkan ember bocor. Ia sedang memperbaiki halaman manuskrip yang terjatuh. Ia sedang duduk sendirian ketika Atmaraga pergi memberi ceramah. Ia sedang menunggu. Selalu menunggu.
Tiba-tiba Atmaraga memahami sesuatu yang belum pernah diajarkan puisi mana pun. Sebagian besar cinta tidak berbentuk kata-kata. Sebagian besar cinta berbentuk ketahanan.
Ia membuka mata. Lalu berjalan menuju Benih Pertama. Raja Kebisingan tidak bergerak. Nuriel menahan napas. Melanthis memejamkan mata. Peregrinus menunduk.
“Aku akan melakukannya”, katanya.
Langit berhenti runtuh. Sesaat. Seolah semesta ingin memastikan dirinya tidak salah dengar.
“Aku akan melakukannya”, ulang Atmaraga. Lebih pelan. Lebih pasti.
Raja Kebisingan memandangnya. Lama. Kemudian bertanya:
“Apakah kau mengerti?”
Atmaraga mengangguk.
“Namamu akan hilang.”
“Aku tahu.”
“Puisimu akan hilang.”
“Aku tahu.”
“Tak seorang pun akan mengenangmu.”
Atmaraga terdiam sejenak. Lalu menjawab:
“Mungkin memang tidak pernah ada yang perlu dikenang.”
Raja Kebisingan kehilangan senyumnya. Nuriel menangis. Cahaya mengalir dari matanya. Melanthis menunduk. Peregrinus memejamkan mata lebih erat. Seolah tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi.
Atmaraga menyentuh Benih Pertama. Dan seketika seluruh hidupnya terbuka. Bukan seperti buku. Melainkan seperti langit. Ribuan puisi keluar dari tubuhnya. Jutaan kalimat. Ratusan malam.
Seluruh kata yang pernah ditulisnya. Seluruh kata yang gagal ditulisnya. Seluruh harapan. Seluruh luka. Seluruh kesombongan. Seluruh cinta. Semuanya terbang keluar. Berubah menjadi burung-burung cahaya. Tak terhitung. Memenuhi langit.
Nuriel terbang bersama mereka. Melanthis ikut terbang. Bahkan Peregrinus membuka sayapnya.
Ketiganya mengitari langit Aksaraya. Mengawal kawanan cahaya yang lahir dari kehidupan seorang manusia.
Kemudian sesuatu yang aneh terjadi. Burung-burung itu tidak menuju Pohon Pertama. Tidak menuju Benih Pertama. Tidak menuju Raja Kebisingan. Mereka menuju bumi. Menuju manusia. Menuju tempat-tempat kecil yang hampir tak terlihat: perpustakaan desa, kamar kos, bangku sekolah, rumah sakit, ruang tunggu, penjara, rumah tua. Mereka terbang ke sana membawa cahaya sedikit demi sedikit.
Atmaraga tersenyum. Karena akhirnya ia mengerti. Puisi tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi monumen. Puisi dimaksudkan menjadi jembatan. Dan jembatan tidak bertanya siapa yang akan mengingat pembangunnya.
Tubuhnya mulai memudar. Namanya terlepas satu huruf demi satu huruf.
ATMARAGA.
Huruf-huruf itu terbang menjadi burung, lalu menghilang di balik awan. Fajar tiba. Dan Aksaraya selamat. Pohon Pertama kembali tegak. Sungai Kenangan kembali mengalir. Langit kembali utuh. Namun Raja Kebisingan tidak mati. Ia hanya mundur. Berdiri di cakrawala dan menunggu. Karena selama manusia masih menyerahkan perhatian tanpa berpikir, ia akan selalu menemukan jalan pulang.
“Apakah kita menang?”, tanya Nuriel.
Raja Kebisingan tertawa kecil. Kali ini tidak mengerikan tapi menyedihkan.
“Anak muda”, katanya.
“Kemenangan bukan tempat tinggal semesta.”
Kemudian ia menghilang ke balik horizon.
Dan Atmaraga pun pergi. Ketika ia membuka mata kembali, ia berdiri di sebuah lembah yang dipenuhi cahaya. Rumah-rumah bercahaya bertebaran di mana-mana: sebagian berukuran kecil, sebagian besar. Sebagian berbentuk megah, sebagian sederhana.
Ia melihat satu rumah yang sangat terang. Terangnya seperti sinar matahari yang memenuhi rumah dengan kilauan cahaya. Jantungnya berdebar.
“Itu pasti milikku”, gumamnya.
Ia berjalan semakin dekat. Ia berhenti seketiak karena di atas pintu tidak tertulis namanya, tapi di sana tertulis: “SURYANDARI”.
Atmaraga terpaku.
“Tidak mungkin”, bisiknya.
Pintu terbuka dan dari dalam keluar ribuan burung cahaya. Jumlah itu jauh lebih banyak daripada yang lahir dari seluruh puisinya.
Seekor lahir dari cincin yang pernah dijual. Seekor lahir dari malam ketika ia memilih lapar. Seekor lahir dari ember yang menampung bocor. Seekor lahir dari kesabaran. Seekor lahir dari tangis yang tidak pernah dipertontonkan. Seekor lahir dari keputusan-keputusan kecil yang tidak pernah masuk berita. Burung-burung itu memenuhi langit, tak terhitung, tak terukur, tak ternilai.
Atmaraga menatap semuanya. Lalu menangis bukan karena merasa sedih atau terharu bahagia. Melainkan karena akhirnya melihat ukuran yang sebenarnya dari kehidupan. Di sampingnya berdiri seorang Penjaga Kata Tua. Setua bahasa pertama.
Ia berkata pelan:
“Kau memberi dunia kata-kata.”
Kemudian ia menunjuk rumah itu.
“Tetapi Suryandari memberi kata-katamu tempat untuk pulang.”
Atmaraga menunduk Sepanjang keberadaannya, ia tidak merasa kehilangan apa pun.
Besoknya, di sebuah perpustakaan kecil yang nyaris ditutup karena sepi pengunjung, seorang anak menemukan buku tanpa nama. Sampulnya kusam dan halamannya menguning. Tak ada foto dan bionrasi penulis. Tak ada penghargaan. Tak ada jejak siapa yang pernah menulisnya. Anak itu membuka buku itu halaman demi halaman. Di luar jendela hujan turun perlahan. Malam terasa terlalu berat.
Namun ketika sampai pada halaman terakhir, ia duduk sangat lama. Lalu ia menutup buku itu dan menarik napas dengan berat. Ia memutuskan untuk tetap bertahan hidup daripada mengakhiri dirinya dengan cara tragis.
Jauh di suatu tempat yang tidak tercantum pada peta mana pun, seekor burung cahaya mengepakkan sayapnya. Kini langit menjadi sedikit lebih terang.
–
Melbourne, Australia, 2012
——————–
Tentang Penulis – Leni Marlina
Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi asal Sumatera Barat yang menetap di Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.
Sejak tahun 2006, ia mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan.
Bagi Leni, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk Litttalk-C (Literary Talk Community) & Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community).
Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya.
Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id
Wattpad: @lenimarlina_write
Instagram: @lenimarlina_starmoonsun





