Oleh: joko
http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki, Minggu, 5 Juli 2026 – Pagi itu, suasana di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Miracle of the Lord in Solafide (Milos) Saumlaki, Jalan Ir. Soekarno, dipenuhi nuansa damai dan sukacita. Alunan pujian yang dipimpin Pelayan Tuhan Ibu Mery Batmomolin, bersama tim singer dan pemusik dengan iringan keyboard, drum, serta gitar, mengajak jemaat meninggalkan sejenak beban kehidupan dan memasuki hadirat Tuhan.
Kalimat sederhana namun sarat makna, “Mari kita hampiri Tuhan dengan rasa syukur,” menjadi pintu pembuka ibadah Minggu Raya. Ajakan itu tidak sekadar menjadi liturgi, melainkan pengingat bahwa syukur merupakan fondasi iman orang percaya, baik ketika hidup dipenuhi berkat maupun saat sedang bergumul menghadapi pencobaan.
Baca juga: Bupati Biak Numfor Buka Snap Mor di Mnurwar: Syukur atas Anugerah Alam dan Kearifan Lokal Sasi
Syukur Tidak Boleh Bergantung pada Keadaan
Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Haris Boritnaban, S.Th., yang mengajak jemaat memahami bahwa anugerah Tuhan tidak pernah berhenti mengalir dalam kehidupan umat-Nya.
Mengawali khotbahnya, ia mengingatkan bahwa kesetiaan Allah tidak pernah berubah meski manusia sering kali gagal menunjukkan kesetiaan kepada-Nya.
“Anugerah Tuhan melimpah dalam kehidupan kita. Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Alkitab menjelaskan bahwa sekalipun kita tidak setia, Tuhan tetap setia,” ujar Pdt. Haris Boritnaban.
Baca juga: Snap Mor Kampung Mnurwar Dipadati Pengunjung: Simfoni Alam dan Kearifan Lokal di FBMW 2026
Menurutnya, banyak orang mudah mengucapkan syukur ketika usaha berjalan lancar, kesehatan baik, dan kebutuhan tercukupi. Namun syukur yang sejati tidak boleh ditentukan oleh keadaan ataupun perasaan manusia.
“Ucapan syukur bukanlah respons atas keadaan yang baik semata, tetapi lahir dari keyakinan bahwa Tuhan tetap memegang kendali atas kehidupan kita,” pesannya.
Allah, Sumber Segala Penghiburan
Mengulas 2 Korintus 1:3, Pdt. Haris menegaskan bahwa Allah adalah Bapa yang penuh belas kasihan dan sumber segala penghiburan.
“Allah adalah sumber dari segala penghiburan yang sejati. Itulah alasan mengapa kita tetap bersyukur,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa dunia menawarkan banyak cara untuk memperoleh ketenangan, namun tidak satu pun mampu memberikan penghiburan yang kekal. “Di dunia tidak ada tempat penghiburan yang abadi. Dalam Tuhan ada penghiburan yang sejati,” ungkapnya.
Firman kemudian diperdalam melalui 2 Korintus 1:4, yang menjelaskan bahwa Allah menghibur umat-Nya dalam setiap penderitaan agar mereka pun mampu menghibur sesama. “Tuhan selalu siap. Dua puluh empat jam Dia terbuka untuk menolong saudara,” tegasnya.
Kesaksian tentang Ketergantungan kepada Tuhan
Untuk memperjelas pesan firman, Pdt. Haris membagikan pengalaman pribadinya.
Ia mengaku memiliki relasi dengan sejumlah orang yang berpengaruh dan kerap menghubungi mereka ketika menghadapi persoalan. Namun tidak semua mampu memberikan bantuan ketika dibutuhkan.
“Ada saat mereka merespons, tetapi ada juga saat mereka tidak merespons. Itu menjadi bukti bahwa hanya Allah sumber penghiburan yang sejati,” tuturnya.
Ia mengingatkan agar orang percaya tidak mengecilkan kuasa Tuhan. “Terkadang kita mengerdilkan Tuhan, seolah-olah Tuhan tidak tahu pergumulan kita,” katanya.
Menjadi Pembawa Damai dan Penyalur Anugerah
Mengutip Matius 5:9, Pdt. Haris menegaskan bahwa setiap orang percaya dipanggil menjadi pembawa damai.
“Anak Tuhan harus kuat menghadapi tekanan. Kita adalah penyalur anugerah Allah,” ujarnya.
Ia kemudian mengajak jemaat merenungkan Filipi 4:4, yang menyerukan agar umat Tuhan senantiasa bersukacita.
“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah. Itulah yang dinamakan hidup dalam kelimpahan sukacita,” katanya.
Melalui Yakobus 1:2, ia kembali mengingatkan bahwa pencobaan bukan alasan kehilangan sukacita.
Menurutnya, orang dunia mudah diliputi stres ketika menghadapi kesulitan, tetapi orang percaya dipanggil tetap bersukacita karena memahami bahwa Tuhan sedang bekerja melalui setiap proses kehidupan.
Penderitaan Membentuk Kedewasaan Iman
Mengulas 2 Korintus 1:5, Pdt. Haris menjelaskan bahwa semakin dewasa seseorang dalam iman, semakin besar pula kemampuannya mengucap syukur, bahkan kepada orang yang menyakitinya.
Pesan itu dipertegas melalui 1 Petrus 4:1-2, yang mengajarkan bahwa penderitaan bersama Kristus membentuk kehidupan yang tidak lagi dikuasai keinginan manusia, melainkan hidup menurut kehendak Allah.
Menurutnya, penderitaan bukan tanda Allah meninggalkan umat-Nya, melainkan proses pembentukan karakter agar semakin serupa dengan Kristus.
Apresiasi atas Pelayanan Firman
Memasuki sesi persembahan, Worship Leader mewakili jemaat menyampaikan apresiasi kepada hamba Tuhan yang telah melayani firman.
“Atas nama jemaat, kami mengucapkan terima kasih kepada hamba Tuhan yang telah memberkati kami dengan kebenaran firman Tuhan,” ujarnya.
Gembala sidang bersama seluruh staf pelayanan juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada jemaat yang baru pertama kali mengikuti ibadah di GBI Milos Saumlaki.
Dalam penyampaiannya, pihak gereja mengundang para jemaat baru untuk kembali beribadah pada minggu-minggu berikutnya. Informasi mengenai ibadah kelompok sel (komsel) disampaikan melalui grup WhatsApp masing-masing komsel.
Pulang Membawa Sukacita
Rangkaian ibadah ditutup dengan doa dan berkat yang dipimpin Pdt. Johan Batmomolin, S.Th.
Setelah ibadah usai, jemaat saling berjabat tangan, berbagi salam damai, dan meninggalkan rumah ibadah dengan wajah penuh sukacita.
Khotbah yang disampaikan pada Minggu Raya itu meninggalkan satu pesan yang kuat: syukur sejati tidak lahir karena hidup tanpa masalah, melainkan karena keyakinan bahwa Allah tetap setia menjadi sumber penghiburan dalam setiap musim kehidupan.
Di tengah tekanan, pencobaan, dan berbagai pergumulan, orang percaya dipanggil untuk tetap bersukacita, menjadi pembawa damai, serta menyalurkan kasih dan penghiburan yang terlebih dahulu diterima dari Tuhan.





