Oleh: joko
http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki, 5 Juli 2026 – Di tengah berbagai persoalan yang menghimpit kehidupan masyarakat, mulai dari tekanan ekonomi, keretakan rumah tangga, kegagalan meraih cita-cita, hingga persoalan kesehatan dan pekerjaan, Pastor Pius Heljanan MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, mengajak umat untuk tidak tenggelam dalam keputusasaan.
Dalam renungan Minggu (5/7/2026), Pastor Pius menegaskan bahwa setiap manusia yang sedang memikul beban kehidupan dipanggil untuk mendekat kepada Tuhan sebagai sumber penghiburan, kekuatan, dan kedamaian sejati.
Baca juga: Bupati Biak Numfor Buka Snap Mor di Mnurwar: Syukur atas Anugerah Alam dan Kearifan Lokal Sasi
Mengangkat bacaan Injil Matius 11:25-30, Pastor Pius mengingatkan bahwa kasih Allah secara istimewa hadir bagi mereka yang rendah hati, berserah, dan tetap menaruh harapan kepada-Nya, bukan kepada kesombongan ataupun kekuatan diri sendiri.
“Marilah kepada-Ku, Aku akan memberikan kelegaan,” demikian kutipan Injil yang menjadi pokok permenungan Pastor Pius Heljanan MSC.
Menurutnya, pesan Injil tersebut tetap relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini yang tidak sedikit diwarnai oleh pergumulan berat. Ada keluarga yang berada di ambang perpisahan karena ketidaksetiaan, pelaku usaha yang mengalami kebangkrutan, pencari kerja yang belum memperoleh kesempatan, hingga pekerja yang menghadapi tekanan di lingkungan kerja.
Baca juga: Snap Mor Kampung Mnurwar Dipadati Pengunjung: Simfoni Alam dan Kearifan Lokal di FBMW 2026
Selain itu, tidak sedikit pula orang yang harus bergumul dengan penyakit, luka batin akibat perkataan maupun perlakuan sesama, bahkan merasa kehilangan arah dan harapan dalam menjalani kehidupan. Kondisi seperti itu, kata Pastor Pius, sering kali membuat seseorang merasa letih, rapuh, dan seolah berjalan sendirian.
Namun, ia menegaskan bahwa setiap persoalan bukanlah akhir dari perjalanan hidup. Justru di tengah kelemahan itulah manusia diajak untuk membuka hati dan mempercayakan seluruh pergumulannya kepada Tuhan.
“Ketika manusia datang dengan kerendahan hati dan penyerahan diri, di sanalah hati memperoleh ketenangan, beban menjadi lebih ringan, dan harapan baru mulai tumbuh,” ungkapnya.
Pastor Pius menjelaskan bahwa kedamaian bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan kemampuan untuk tetap berdiri teguh sekalipun badai kehidupan belum berlalu. Karena itu, ia mengajak umat agar tidak membiarkan persoalan menguasai hati, tetapi menjadikan iman sebagai fondasi dalam menghadapi setiap tantangan.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun kehidupan yang dipenuhi kasih, saling menguatkan, serta tidak mudah menghakimi sesama yang sedang mengalami kesulitan. Menurutnya, kehadiran keluarga, komunitas, dan Gereja memiliki peran penting sebagai ruang untuk saling menopang dalam menghadapi beban kehidupan.
Pastor Pius berharap umat terus memelihara semangat pengharapan dan tidak kehilangan kepercayaan bahwa setiap persoalan memiliki jalan keluar ketika dijalani dengan iman, kesabaran, dan ketekunan.
“Jangan abaikan undangan Tuhan. Datanglah kepada-Nya dengan hati yang terbuka. Di sanalah setiap beban akan menemukan kelegaan, hati memperoleh ketenangan, dan hidup kembali dipenuhi harapan,” pesannya.
Renungan tersebut menjadi pengingat bahwa di balik setiap pergumulan selalu tersedia ruang untuk bangkit. Bagi Pastor Pius Heljanan MSC, harapan tidak pernah padam selama manusia tetap membuka hati kepada kasih Tuhan, hidup dalam kerendahan hati, serta setia melangkah bersama-Nya di setiap musim kehidupan.





