Dua Wisatawan Asing Tersihir oleh Sejarah dan Alam Pulau OwI di FBMW 2026
BIAK| SUARA ANAK NEGERI – Di balik riuh rendah aktivitas Tour Wisata Padaido dalam Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026, tersimpan renungan mendalam dan kebahagiaan murni dari dua pelancong internasional asal Jerman dan Selandia Baru. Bagi mereka, kunjungan ke Tanjung Sauw Andar, Pulau OwI, Jumat (3/7/2026), bukan sekadar perjalanan wisata biasa, melainkan sebuah dialog batin antara kekaguman terhadap keindahan alam yang masih perawan dan ketegangan emosional saat menyentuh jejak sejarah Perang Dunia II. Meskipun mengakui hambatan informasi digital sebelum kedatangan, apa yang mereka temukan di lapangan justru melampaui ekspektasi: sebuah harmoni sempurna antara tema “Elok Alamku, Pesona Budayaku”.

Baca juga: Wisatawan Internasional Apresiasi Tour Padaido dan Tema "Elok Alamku, Pesona Budayaku" di FBMW 2026
Kebahagiaan Gary: “Keputusan Terbaik Tahun Ini”
Nada kebahagiaan yang setara juga terpancar dari Gary, pria asal Jerman yang kini menetap di Filipina. Ia mengungkapkan bahwa keputusan spontannya untuk datang ke Biak setelah mendengar kabar tentang festival tersebut saat berada di Manila ternyata membawa kepuasan batin yang luar biasa.
Baca juga: Wisatawan Internasional Apresiasi Tour Padaido dan Tema "Elok Alamku, Pesona Budayaku" di FBMW 2026
“Saya mendapat info tentang Festival Biak Munara Wampasi saat berada di Filipina, dan datang ke sini adalah keputusan terbaik yang saya ambil tahun ini. Pulau OwI sangat indah, masyarakatnya ramah, dan kombinasi antara wisata alam serta situs sejarah perang ini luar biasa. Saya sangat senang bisa melihatnya langsung hari ini,” ungkap Gary sambil tersenyum lebar.
Bagi Gary, kehadiran fisik di lokasi memberikan validasi emosional yang tidak bisa digantikan oleh foto atau video. Ia merasa beruntung dapat menjadi bagian dari momen di mana sejarah dan alam bertemu dalam satu frame pengalaman wisata yang autentik.

Renungan di Atas Jejak Sejarah: “Ini Bukti Nyata”
Senada dengan Gary, Alistair McGregor (warga Selandia Baru yang bermukim di Australia) dan rekan seperjalanannya merasakan gelombang emosi yang kuat saat menginjakkan kaki di situs landasan pacu peninggalan Pasukan Amerika Serikat di bawah komando Jenderal MacArthur. Dalam benak mereka, reruntuhan beton tua itu bukan sekadar objek foto, melainkan saksi bisu pergolakan masa lalu yang kini bertransformasi menjadi monumen perdamaian.
“Hari ini kami bisa menyaksikan sendiri landasan pacu yang dikerjakan Pasukan Amerika. Ini adalah bukti sejarah,” ungkap mereka dengan nada penuh takzim. Pengalaman napak tilas ini menambah dimensi edukatif yang dalam, menegaskan bahwa Biak Numfor memiliki paket wisata holistik (war tourism) yang potensinya masih sangat besar untuk pasar global.

Kekaguman pada Keaslian: Melampaui Transaksi Bisnis
Selain dimensi sejarah, apa yang paling menghanyutkan perasaan mereka adalah interaksi sosial dengan masyarakat lokal. Alistair McGregor, yang sudah tiga kali mengunjungi Biak, merasakan perbedaan mendasar antara keramahtamahan di Biak dengan destinasi wisata massal di negara lain. Baginya, senyuman warga Kampung Yendakam bukanlah bagian dari skenario pelayanan pariwisata, melainkan cerminan tulus dari karakter manusia Papua.
“Ini adalah salah satu tempat paling ramah di dunia,” puji McGregor. Ia merasa bahwa modal sosial berupa ketulusan warga adalah aset terbesar Biak. Tidak ada kesan transaksional yang kaku; yang ada hanyalah penerimaan hangat terhadap tamu asing, membuat mereka merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar konsumen.

Harapan Besar: Dari Kekaguman Pribadi Menuju Promosi Global
Di tengah euforia tersebut, terhanyut pula harapan konstruktif agar potensi besar ini tidak hanya dinikmati oleh segelintir penjelajah. Mereka sangat mengapresiasi inisiatif Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, namun menyarankan agar promosi dilakukan lebih agresif melalui kanal digital internasional untuk menarik wisatawan dengan daya beli tinggi dan minat pada ekowisata.
Harapan utamanya adalah agar Pemkab Biak Numfor dapat mempertahankan keaslian budaya dan alam sambil mempercepat transformasi digital. Narasi unik seperti sejarah landasan pacu Amerika dan keindahan bawah laut Padaido perlu dikemas dalam pusat informasi terpadu (one-stop information center) yang multibahasa. Dengan demikian, kekayaan alam dan sejarah Biak dapat diakses secara luas oleh komunitas global, memastikan bahwa Biak Numfor benar-benar bertransformasi menjadi destinasi wisata kelas dunia yang berkelanjutan, sebagaimana dialami dan dirasakan oleh Gary, Alistair, dan rekan-rekan mereka hari ini.
✍️: Anis R





