Era Nurza
—–
Di jantung Bukittinggi ia berdiri
di antara kabut dan riuh wisata.
Wajahnya tua, angka-angka berputar setia
menyimpan langkah generasi
yang pernah singgah
tertawa, lalu hilang ditelan musim
Jarumnya menggores langit
mengiris waktu tanpa darah tanpa suara
namun selalu tepat pada luka perubahan
Baca juga: MEMIMPIN RUPS DAN SEJARAH KOMISARIS
Di bawah atap gonjongnya yang menyerupai doa
anak-anak berlarian memburu bayang sendiri
sementara sejarah mengendap di sela batu
yang tak pernah tidur
Ia telah melihat kota tumbuh
aspal menggantikan tanah
lampu neon menelan bintang
gawai lebih sering disentuh
daripada tangan sesama
Namun Jam Gadang tak gentar
Ia menatap esok dengan ketenangan batu tua
yang percaya bahwa akar tak pernah kalah
oleh gemuruh zaman
Setiap dentangnya bukan sekadar penanda jam
melainkan pengingat waktu tak bisa dibeli
masa depan tak bisa ditunda
Ia berdiri di antara tradisi dan teknologi
adat dan algoritma
menjadi saksi bahwa kemajuan tak harus melupakan asal
Kabut pagi memeluk menaranya
matahari sore mencium puncaknya
malam menaburkan cahaya pada wajah empat sisinya
seolah semesta bersepakat menjaganya tetap tegak
Jam Gadang menatap esok bukan dengan cemas
melainkan dengan keyakinan bahwa setiap detak
adalah janji
Janji bahwa generasi baru
akan belajar menghargai waktu
menjaga warisan, membaca sejarah
sebelum menulis masa depan
Dan ketika suatu hari langit berubah warna
zaman berganti wajah ia tetap berdiri
menjadi saksi bahwa harapan
selalu lahir dari mereka yang tak lelah
menunggu dan menjaga
Di bawahnya kota terus bergerak
Di dalamnya waktu terus hidup
Dan di atasnya esok menunggu
ditatap dengan tenang oleh menara
yang tak pernah berhenti berdetak
Padang, Februari 2026





