Era Nurza
–
Jam Gadang tegak di dada Bukittinggi
gugus ingatan berputar
pada empat wajah senja.
Jarum-jarum tua
menggiring langkah pedagang
membelah kabut pagi
menghitung denyut pasar
mengukur lelah tanah Minang
Baca juga: AKAR-AKAR YANG MENYANGGA FAJAR
Di bawah gonjong langit
angin membawa dendang saluang
lalu singgah pada batu-batu sejarah
berlumur jejak perantau
Jam Gadang
engkau tidak hanya penanda waktu
melainkan urat nadi bagi ranah penuh petuah
bentang adat
teguh dalam arus zaman
Malam turun
Lampu-lampu menyala
cahaya berhambur dari jantung kota
Detik demi detik mengasah usia bangsa
mengukir sabar
menempa mimpi
membakar nyali generasi
Baca juga: UNIPAR HADIR LEBIH DEKAT DI SITUBONDO, BANGUN SEMANGAT GENERASI MUDA MELANJUTKAN KULIAH
Pada puncakmu
aku membaca makna pulang,
kampung halaman selalu hidup
dalam dentang
Jam Gadang, engkau tugu sunyi
penuh suara , m enjaga arah
bagi langkah-langkah masa depan
Dentangmu tak pernah tua
Dentangmu menjelma api
menyala pada dada ranah
hingga fajar terakhir
menyebut nama Minangkabau.
Padang, Juni 2026





