Penulis: Yohanis Rumaropen
–
BIAK – PAPUA | SUARA ANAK NEGERI, – Semangat persatuan dan integrasi sosial kembali ditunjukkan di Kabupaten Biak Numfor melalui perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-19 Paguyuban Warga Jawa Timur (PW Jatim) sekaligus pengukuhan pengurus periode 2025–2030. Acara yang berlangsung khidmat di Pantai Water Basis Lanal Biak, Kelurahan Waupnor, Distrik Biak Kota, pada Minggu (31/5/2026), menjadi simbol kuat dari harmoni lintas budaya di Tanah Papua.

Bupati Biak Numfor, Markus O. Mansnembra, S.H., M.M., bertindak sebagai inspektur upacara dan secara resmi mengukuhkan struktur pengurus baru. Dalam momen puncak acara, Bupati menerima gelar kehormatan adat Jawa Timur, “Den Mas”, serta pemasangan Senwong dan pakaian adat Basofi dari Ketua PW Jatim, Iwan Ismulyanto, AP., M.M. Langkah simbolis ini menegaskan kedekatan emosional antara pemimpin daerah dengan komunitas perantau, sekaligus mengakui kontribusi warga Jawa Timur dalam pembangunan Biak Numfor.
Sinergi Lintas Instansi dan Diplomasi Budaya
Acara yang dihadiri oleh sekitar 250 peserta ini menampilkan sinergi kuat antara elemen sipil, militer, dan organisasi masyarakat. Turut hadir sejumlah pejabat strategis, termasuk:
* Danlanal Biak, Kolonel Laut (P) Dexa Septian Burlis.
* Danlanudal Biak, Kolonel Laut (P) Candra Budiharjo, M.Tr. Opsla.
* Perwakilan Guskamla Koarmada III, Kapten Laut (P) Teguh.
* Kepala Dinas Lingkungan Hidup Biak Numfor, Iwan Ismulyanto (Ketua PW Jatim).
* Kepala BPKAD Biak Numfor, Gunadi (Ketua PW Jateng).
* Kepala Dinas Pariwisata Biak Numfor, Turbey Onny (Ketua Ikatan Keluarga Maluku).

Kehadiran para pejabat militer dan sipil ini mencerminkan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap keberadaan paguyuban sebagai mitra strategis dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkaya keragaman budaya di Biak Numfor. Rangkaian acara dibuka dengan penampilan seni budaya, termasuk tarian adat Jawa Timur dan Pencak Silat Madura, yang menunjukkan kekayaan identitas kultural anggota paguyuban.
Pidato Kebangsaan: Personalisasi Persaudaraan
Dalam sambutannya, Bupati Markus O. Mansnembra menyampaikan pesan mendalam tentang esensi keberagaman. Ia tidak hanya berbicara sebagai kepala daerah, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar Jawa Timur melalui ikatan personal.

“Tahun 1995, kami dipertemukan dengan seorang perempuan yang ibunya berasal dari Malang, Jawa Timur. Dan perempuan itulah yang sampai hari ini setia mendampingi kami. Karena itu, jika hari ini kami merasa menjadi bagian dari keluarga besar Jawa Timur, maka itu lahir dari ikatan persaudaraan dan kasih sayang yang tulus,” ujar Bupati Markus, disambut tepuk tangan meriah.
Pernyataan tersebut memperkuat narasi bahwa integrasi sosial di Biak Numfor bukan sekadar kebijakan formal, melainkan hasil dari interaksi manusiawi yang terbangun selama puluhan tahun. Bupati menekankan bahwa Pemerintah Daerah berkomitmen untuk menghormati otonomi setiap paguyuban tanpa intervensi, sehingga setiap kelompok dapat hidup berdampingan secara damai, saling menghargai, dan menjaga persaudaraan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kontribusi Nyata bagi Pembangunan Daerah
Bupati Markus juga memberikan apresiasi tinggi atas kontribusi nyata warga Jawa Timur dalam proses pembangunan Kabupaten Biak Numfor. Ia menyebut bahwa semangat kebersamaan yang solid telah menjadi modal sosial (social capital) penting bagi kemajuan daerah.

“Kami percaya dan telah melihat secara nyata bahwa keluarga besar Jawa Timur telah memberikan kontribusi luar biasa. Semoga di usia ke-19 ini, semangat kebersamaan terus terjaga dan terus memberikan dampak positif bagi pembangunan daerah,” tambahnya.
Acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur, doa bersama, serta kunjungan Bupati ke stan pameran karya anggota paguyuban. Kegiatan berakhir pada pukul 15.30 WIT dengan sesi hiburan yang semakin mempererat tali silaturahmi.
Implikasi Sosial: Model Integrasi di Papua
Perayaan HUT PW Jatim ini menjadi contoh praktis dari keberhasilan model integrasi sosial di Papua. Dengan adanya ruang bagi ekspresi budaya daerah asal (Jawa Timur) yang diakomodasi oleh pemerintah lokal, tercipta rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat among perantau. Hal ini berkontribusi langsung pada stabilitas keamanan dan ketahanan sosial di wilayah Biak Numfor.
Melalui pengukuhan pengurus periode 2025–2030, PW Jatim diharapkan dapat terus menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara masyarakat perantau dan pemerintah, serta tetap menjadi agen pemersatu bangsa di ujung timur Indonesia.





