http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki – Pagi itu, Rabu, 27 Mei 2026, suasana di Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Olilit Barat, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, terasa berbeda dari biasanya.
Sesudah Misa Harian dan Novena Hati Kudus Yesus hari ketiga yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 10.30 WIT, umat di Rukun Santo Yoseph berkumpul dalam suasana syukur yang sederhana namun penuh haru. Hari itu menandai berakhirnya enam bulan rangkaian kunjungan pastoral keluarga yang dipimpin Pastor Paroki, RD Ponsianus Ongirwalu.
Bukan sekadar agenda rutin gereja, perjalanan pastoral itu telah menjadi ruang perjumpaan antara gembala dan umat, antara altar gereja dan kehidupan sehari-hari keluarga kecil di rumah-rumah sederhana umat Olilit Barat.
Baca juga: SIAPA YANG MELEDAKKAN MINYAK DI LAUT?
Selama enam bulan, langkah pelayanan itu menyusuri lorong kampung, melewati panas matahari, hujan, bahkan badai. Namun bagi RD Ponsianus Ongirwalu dan para pengurus rukun, kelelahan bukan alasan untuk berhenti mengetuk pintu umat. “Hari ini menjadi sebuah tonggak sejarah kecil yang penuh rahmat,” demikian refleksi yang disampaikan dalam penutupan kunjungan pastoral tersebut.
Kunjungan terakhir dilakukan kepada lima kepala keluarga di Rukun Santo Yoseph. Meski rangkaian formal berakhir, Pastor Paroki menegaskan bahwa pelayanan gereja tidak pernah selesai hanya karena sebuah program ditutup. “Langkah kaki Pastor Paroki dan segenap pengurus tidak akan pernah berhenti untuk terus berjalan bersaudara bersama umat,” demikian pesan yang disampaikan dalam refleksi pastoral itu.
Di balik perjalanan enam bulan tersebut, tersimpan banyak kisah iman yang tumbuh dalam kesederhanaan rumah-rumah umat.
Keluarga Bapak C. Yanuby menggambarkan kunjungan pastoral itu sebagai “oase di tengah padang gurun.” “Kehadiran Pastor dan Pengurus Rukun di dalam rumah kami bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan tanda nyata bahwa Gereja itu hidup, dekat, dan peduli pada pergumulan harian keluarga kami,” ungkap keluarga tersebut.
Baca juga: Ziarah Kubur 'Apa Pentingnya Chairil Anwar Bagi Indonesia' Bersama TISI ke TPU Karet Bivak
Hal senada disampaikan keluarga Bapak Nicky Ametembun. Dalam kesederhanaan ruang tamu mereka, doa bersama justru menghadirkan makna mendalam tentang kehidupan keluarga Kristiani. “Kami diingatkan kembali akan pentingnya meletakkan Hati Kudus Yesus sebagai pusat dan raja di dalam rumah tangga,” tuturnya.
Sementara itu, keluarga Bapak Marsianus Tormyar melihat perjalanan pastoral tersebut sebagai bentuk nyata pengorbanan seorang gembala. “Panas dan hujan yang ditempuh Pastor dan Ketua Rukun demi mengetuk pintu rumah kami adalah khotbah nyata tentang kasih dan pengorbanan,” katanya.
Bagi Ibu Fransina Marsyembun, kunjungan itu menghadirkan ketenangan batin di tengah kehidupan keluarga. “Doa-doa yang dipanjatkan bersama membawa kesembuhan dan kedamaian bagi jiwa kami,” ujarnya.
Sedangkan Ibu Patricia Ratuanak menyebut kunjungan terakhir itu bukan sekadar penutup, tetapi awal baru bagi pertumbuhan iman keluarga. “Kami belajar bahwa kekuatan sebuah paroki dimulai dari mezbah-mezbah doa kecil di dalam keluarga,” katanya.
Ketua Rukun Santo Yoseph dalam refleksinya juga mengakui bahwa pelayanan selama enam bulan itu bukan perjalanan yang ringan. Namun di balik kelelahan fisik, tersimpan sukacita karena melihat umat tetap membuka hati bagi pelayanan gereja.
“Saya menyaksikan sendiri bagaimana umat menyambut kami dengan tangan terbuka dan air mata haru,” ujarnya.
Menurutnya, berakhirnya kunjungan pastoral bukan akhir pelayanan, melainkan awal untuk membangun solidaritas umat yang lebih kuat sebagai satu keluarga dalam iman.
Pada puncak refleksi pastoral itu, RD Ponsianus Ongirwalu menyampaikan pesan yang terasa sederhana, tetapi memiliki kedalaman spiritual yang kuat. “Langkah kaki kami boleh saja lelah, tubuh bisa basah karena hujan atau peluh karena panas, tetapi cinta Hati Kudus Yesus di dalam diri kami membuat semangat ini selalu baru setiap hari,” ungkapnya.
Dalam nasihat pastoralnya, RD Ponsianus Ongirwalu menekankan tiga hal penting kepada umat. Pertama, menjadikan rumah sebagai gereja domestik dengan terus menghidupkan doa bersama dalam keluarga. “Jangan biarkan doa bersama hanya terjadi saat Pastor datang,” pesannya.
Kedua, ia mengajak umat meneladani Santo Yoseph sebagai pribadi yang tulus, pekerja keras dan taat kepada kehendak Allah.
Ketiga, ia mengingatkan agar umat tidak berjalan sendiri dalam kehidupan menggereja. “Gereja Olilit Barat ini kuat karena kita bersatu,” tegasnya.
Di tengah kehidupan modern yang perlahan mengikis kedekatan sosial dan spiritual, langkah pastoral dari rumah ke rumah yang dilakukan RD Ponsianus Ongirwalu itu seakan menjadi pengingat bahwa gereja sejatinya bukan hanya bangunan ibadah, melainkan kehadiran yang berjalan bersama umat dalam suka maupun duka. “Kunjungan rumah boleh berakhir, tetapi pintu hati saya sebagai gembala dan langkah kaki pelayanan ini akan selalu berjalan terus bersama umat,” tutup RD Ponsianus Ongirwalu.(Jk)





