Selasa, 19 Mei 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Ka’bah Ada di Dalam Hati

Oleh: Muhamad Hasan Basri, S.Ag., M.Pd.| Kasi PAPKI Kantor Kemenag Kabupaten Tanggamus

Setiap musim haji datang, antusiasme umat Islam Indonesia untuk berangkat ke Tanah Suci selalu terlihat begitu besar. Daftar tunggu haji reguler di sejumlah daerah bahkan di beberapa wilayah dapat mencapai lebih dari dua dekade. Dalam situasi tersebut, muncul pula fenomena “haji muda”, ketika orang tua mendaftarkan anak-anak sejak usia sekolah agar memperoleh porsi lebih awal.

Baca juga: Fakultas Hukum UNCRI Gelar Ujian Skripsi dengan Beragam Isu Aktual Hukum dan Adat

Besarnya semangat berhaji tentu merupakan tanda meningkatnya kesadaran beragama di tengah masyarakat. Namun demikian, terdapat satu aspek penting yang perlu terus diperhatikan, yaitu pemahaman tentang istitha’ah atau kemampuan sebagai syarat utama pelaksanaan ibadah haji. Al-Qur’an menegaskan bahwa kewajiban haji berlaku bagi mereka yang mampu menempuh perjalanan ke Baitullah (QS. Ali ‘Imran [3]: 97).

Istitha’ah tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan finansial semata. Lebih dari itu, ia mencakup kesiapan fisik, kesehatan mental, keamanan perjalanan, serta pengetahuan yang memadai tentang tata cara dan makna ibadah haji. Dalam konteks ini, kesiapan spiritual dan intelektual menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kesiapan material.

Baca juga: Hari Pendidikan Versi Anak Sekolah

Fenomena di masyarakat menunjukkan bahwa orientasi sosial kadang turut memengaruhi keputusan berhaji. Tidak jarang seseorang tetap memaksakan diri berangkat meskipun kondisi kesehatan sudah terbatas. Ada pula yang berangkat tanpa pemahaman memadai tentang rukun dan makna ibadah haji, sehingga ibadah tersebut lebih dipahami sebagai simbol status sosial atau tradisi keluarga, bukan sebagai perjalanan spiritual yang mendalam.

Dalam konteks pemikiran Islam kontemporer, Islam: Doktrin dan Peradaban (1992) menegaskan bahwa keberagamaan tidak boleh berhenti pada aspek formal ritual semata, tetapi harus menghadirkan transformasi moral dalam kehidupan manusia. Agama, dalam pandangan ini, harus menjadi kekuatan etis yang membebaskan manusia dari kemunduran spiritual dan sosial.

Sejalan dengan itu, M. Amin Abdullah dalam karyanya Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? (1996) menekankan pentingnya memahami agama secara utuh, tidak hanya dalam dimensi normatif-ritual, tetapi juga dalam keterkaitannya dengan realitas sosial. Dari perspektif ini, kesalehan ritual idealnya melahirkan kesalehan sosial yang berdampak pada tanggung jawab kemanusiaan.

Tentu, ibadah haji tetap merupakan kewajiban syariat bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat istitha’ah. Namun, hakikat haji tidak berhenti pada perjalanan fisik semata. Nilai terdalamnya terletak pada kemampuan seseorang menghadirkan tauhid dalam perilaku sehari-hari: menanggalkan kesombongan, mengendalikan hawa nafsu, menumbuhkan kejujuran, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama.

Pemikir Muslim asal Iran, Ali Shariati dalam bukunya Haji (2000, edisi terjemahan Indonesia oleh Anas Mahyuddin) menjelaskan bahwa haji bukan sekadar perjalanan menuju Makkah, melainkan proses transformasi spiritual untuk membebaskan manusia dari ego dan keterikatan duniawi. Haji dipahami sebagai perjalanan kesadaran menuju nilai tauhid yang murni dan kemanusiaan yang lebih luhur.

Karena itu, pendekatan terhadap penyelenggaraan haji perlu terus diperkuat, terutama dalam aspek edukasi keagamaan dan pembinaan spiritual. Pemahaman tentang istitha’ah hendaknya tidak dibatasi pada aspek administratif dan finansial, tetapi juga mencakup kesiapan kesehatan, mental, serta penghayatan keagamaan yang mendalam. Di sisi lain, masyarakat perlu membangun kesadaran bahwa haji bukanlah simbol prestise sosial, melainkan panggilan ibadah yang menuntut kesiapan lahir dan batin.

Pada akhirnya, Ka’bah tidak hanya dimaknai sebagai bangunan suci di Makkah, tetapi juga sebagai simbol tauhid yang harus hidup dalam hati manusia. Ketika seseorang mampu menjaga kejujuran, merendahkan ego, serta menghadirkan kasih sayang dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari, maka sesungguhnya nilai-nilai haji telah tumbuh dalam dirinya. Di situlah makna terdalam ibadah haji menemukan bentuknya: menghadirkan Tuhan dalam perilaku dan kemanusiaan sehari-hari.

Kategori:
Tags:

Terkini