Oleh: Novita Sari Yahya.
–
Saya pernah membaca sebuah kutipan dari merek kreatif Indonesia Yajugaya yang berbunyi, “Lekuk badan siapa tak doyan, tapi kecerdasan bikin penasaran. Karena isi kepala ada-ada saja, dan isi celana itu-itu saja.” Kalimat itu terdengar ringan, jenaka, bahkan sedikit nakal. Namun di balik kesederhanaannya, kutipan tersebut menyimpan refleksi yang cukup dalam tentang manusia, tentang cara kita tertarik satu sama lain, dan tentang mengapa sebagian orang tetap tinggal dalam ingatan meskipun penampilannya biasa saja.
Baca juga: Di Tengah Letusan Dukono: Ketika Alam Menguji Nyawa dan Kemanusiaan
Manusia memang makhluk visual. Ketika pertama kali bertemu seseorang, mata bekerja lebih cepat dibanding pikiran. Wajah, tubuh, cara berpakaian, ekspresi, suara, dan bahasa tubuh menjadi kesan awal yang membentuk ketertarikan. Dunia modern bahkan bergerak semakin jauh ke arah budaya visual. Media sosial dipenuhi foto, video pendek, pencitraan diri, dan standar estetika yang berubah mengikuti algoritma. Penampilan sering menjadi pintu pertama menuju perhatian.
Namun daya tarik fisik memiliki sifat yang unik: ia mudah memikat, tetapi juga mudah menjadi biasa. Sesuatu yang awalnya terasa menakjubkan perlahan kehilangan efek kejutnya ketika terus-menerus dilihat. Dalam psikologi, manusia memiliki kecenderungan untuk beradaptasi terhadap stimulus yang berulang. Apa yang dulu terasa istimewa bisa berubah menjadi rutinitas. Karena itu tidak sedikit hubungan yang dimulai dengan gairah besar justru kehilangan kedalaman setelah fase ketertarikan fisik mulai mereda.
Tubuh dapat menarik perhatian dalam hitungan detik, tetapi belum tentu mampu mempertahankan rasa ingin tahu dalam jangka panjang. Di titik inilah pikiran mulai memainkan peran yang berbeda. Cara seseorang berbicara, memandang dunia, memahami penderitaan, atau menafsirkan kehidupan sering kali jauh lebih sulit ditebak dibanding penampilan fisiknya. Pikiran manusia terus berkembang, berubah, dan bertumbuh mengikuti pengalaman hidupnya.
Baca juga: SIAPA YANG MELEDAKKAN MINYAK DI LAUT?
Ada orang-orang yang mungkin tidak memenuhi standar kecantikan populer, tetapi menjadi sangat menarik ketika mulai berbicara. Percakapan mereka terasa hidup. Cara mereka menjelaskan sesuatu membuka perspektif baru. Kehadiran mereka membuat orang lain merasa didengar dan dipahami. Dalam banyak hubungan, rasa nyaman justru lahir bukan dari penampilan, melainkan dari kemampuan seseorang menghadirkan ruang dialog yang bermakna.
Karena itu sebagian orang akhirnya jatuh cinta bukan hanya pada rupa, melainkan pada cara berpikir. Ada daya tarik tertentu ketika seseorang mampu membuat orang lain penasaran terhadap isi kepalanya. Ketika dua manusia dapat berbicara berjam-jam tentang sejarah, sastra, musik, politik, agama, atau pengalaman hidup tanpa merasa bosan, hubungan mereka sering memiliki kedalaman emosional yang berbeda. Percakapan semacam itu bukan sekadar komunikasi biasa, melainkan pertukaran dunia batin.
Pandangan seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sejak masa filsafat Yunani kuno, Plato pernah menggambarkan bahwa cinta manusia dapat bergerak dari ketertarikan terhadap tubuh menuju penghargaan terhadap jiwa dan pengetahuan. Tubuh dipandang fana karena akan berubah dimakan usia, sedangkan pemikiran dapat hidup jauh melampaui keberadaan fisik manusia itu sendiri.
Pandangan tersebut terasa relevan hingga hari ini. Sejarah menunjukkan bahwa manusia lebih lama mengenang gagasan dibanding rupa. Banyak tokoh besar dunia tetap hidup dalam ingatan kolektif bukan karena wajah mereka, tetapi karena ide-ide yang mereka tinggalkan.
Di Indonesia, Tan Malaka tetap dikenang melalui karya monumentalnya, Madilog. Buku itu terus dibicarakan karena menawarkan cara berpikir rasional dan kritis dalam melihat masyarakat. Orang mungkin tidak mengetahui bagaimana ekspresi wajah Tan Malaka ketika berjalan di jalanan Batavia, tetapi pemikirannya masih dibahas di ruang akademik hingga sekarang.
Hal serupa juga terlihat pada Hamka melalui Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Novel tersebut bertahan lintas generasi bukan semata karena kisah cintanya, melainkan karena refleksi tentang adat, ketidakadilan sosial, dan pergulatan manusia menghadapi tradisi. Pembaca kembali membuka halaman-halamannya bukan untuk membayangkan rupa Hamka, tetapi untuk memahami isi pikirannya.
Begitu pula karya-karya Pramoedya Ananta Toer seperti Bumi Manusia yang terus hidup dalam percakapan lintas generasi. Novel itu tidak hanya menjadi karya sastra, tetapi juga refleksi tentang kolonialisme, pendidikan, martabat manusia, dan kebebasan berpikir. Banyak pembaca merasa dekat dengan Pramoedya bukan karena penampilannya, melainkan karena keberanian dan keluasan pikirannya.
Di era digital sekarang, perbedaan antara daya tarik visual dan daya tarik intelektual justru terasa semakin jelas. Budaya media sosial bergerak sangat cepat. Wajah baru muncul setiap hari. Standar kecantikan berubah mengikuti tren. Hari ini seseorang bisa viral karena penampilan, tetapi beberapa minggu kemudian sudah tergantikan oleh figur lain yang lebih segar dan lebih menarik secara visual. Popularitas berbasis penampilan sering bersifat sementara.
Sebaliknya, gagasan yang kuat biasanya memiliki umur lebih panjang. Tulisan, musik, karya sastra, pemikiran, dan ide-ide besar dapat terus hidup bahkan setelah penciptanya meninggal dunia. Sebab pada akhirnya manusia tidak hanya mencari hiburan visual, tetapi juga mencari makna. Orang ingin merasa dipahami, diajak berpikir, dan dibantu melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.
Tentu saja ini bukan berarti penampilan fisik tidak penting. Ketertarikan biologis tetap menjadi bagian alami dari kehidupan manusia. Hubungan yang sehat biasanya membutuhkan keseimbangan antara chemistry fisik, emosional, dan intelektual. Namun ketika hubungan hanya berdiri di atas rupa, fondasinya sering menjadi rapuh karena tubuh akan berubah oleh usia, rutinitas, dan realitas kehidupan.
Sebaliknya, hubungan yang dibangun melalui percakapan dan pertumbuhan intelektual sering lebih tahan menghadapi waktu. Sebab manusia berkembang. Cara berpikir berubah. Pengalaman hidup membentuk perspektif baru. Dalam proses itu, dua orang dapat terus menemukan sisi-sisi baru satu sama lain. Rasa penasaran tidak berhenti hanya karena penampilan telah menjadi familiar.
Mungkin itulah inti sebenarnya dari kutipan Yajugaya tadi. Tubuh memang bisa menarik perhatian, tetapi pikiran membuat seseorang sulit dilupakan. Penampilan dapat memancing ketertarikan awal, tetapi kecerdasan menciptakan rasa ingin tahu yang terus hidup. Ada orang-orang yang setelah diajak berbicara sekali justru membuat kita ingin kembali mendengar isi kepalanya.
Pada akhirnya manusia bukan hanya membutuhkan keindahan visual, tetapi juga koneksi batin dan intelektual. Tubuh suatu hari akan menua, sedangkan gagasan dapat terus berbicara melampaui zaman. Itu sebabnya karya-karya seperti Madilog, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan Bumi Manusia masih dibaca hingga sekarang. Yang bertahan bukan rupa para penulisnya, melainkan isi kepala mereka.
Dan mungkin memang benar, tubuh bisa memikat mata, tetapi pikiranlah yang membuat manusia tetap hidup dalam ingatan.
Referensi
American Psychological Association. (2023). The value of physical attractiveness in romantic partners. APA PsycNet.
Kendra Cherry. (2024). Habituation in psychology: Definition, examples, and impact. Verywell Mind.
Brian Duignan. (2025). Plato: Biography, philosophy, & works. Encyclopaedia Britannica.
Hamka. (1938). Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Balai Pustaka.
Richard Kraut. (2022). Plato’s Ethics and Love. Stanford Encyclopedia of Philosophy.
Tan Malaka. (1943). Madilog: Materialisme, Dialektika, dan Logika. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Pramoedya Ananta Toer. (1980). Bumi Manusia. Gramedia.
Yajugaya. (n.d.). Instagram Posts. Instagram.



