Senin, 11 Mei 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

MENUNGGU BULAN MEMUDAR

Oleh Rizal Tanjung

Aku takut pada malam-malam
yang bersinar terlalu terang,
karena terkadang
cahaya terindah
adalah hal yang
membuat jiwa lain
lenyap dari pandangan.

Baca juga: Senja yang Tak Diizinkan

Dan malam ini
aku hanya bisa melihat satu bintang—
kecil, jauh, hampir terhapus—
memudar di bawah bulan
yang begitu berbakat
dalam menjadi pusat alam semesta.

Aku tidak membencimu,
Bulan.

Bagaimana mungkin seseorang membenci
sesuatu yang mengajarkan laut
cara berkilau,
dan membujuk langit
untuk membuka semua rahasia tersembunyinya?

Baca juga: Mengikhlaskan Soeharto?

Aku hanya iri
pada cara cahaya mencintaimu.

Sementara aku
hanyalah sepotong keheningan
yang terjebak di suatu tempat
antara pukul dua pagi
dan lagu-lagu patah hati
yang dimainkan cukup lembut
untuk mencegah hati
menjadi terlalu keras.

Tahukah kau bagaimana rasanya
menjadi seseorang
yang keberadaannya tidak lebih dari
sebuah kesalahan ketik
di dalam kisah orang lain?

Aku memang begitu.

Aku tinggal di sana.

Di tempat itu
di mana pesan hanya dijawab jika perlu,
di mana kerinduan harus berpura-pura
biasa saja,
di mana “jaga diri”
lebih lama bertahan daripada
“aku mencintaimu.”

Dan tetap saja
aku tetap di sana.

Masih mencintaimu,
meskipun tahu
aku hanyalah bintang kecil
yang dikalahkan, lebih lama bertahan,
dan kurang diinginkan
daripada pancaran cahaya bulanmu.

Kau sangat cantik.

Seperti kota
yang masih basah setelah hujan.

Seperti kopi pahit
yang diseruput perlahan
sambil mengingat seseorang
yang telah memilih untuk pergi.

Aku sering mengamatimu dalam diam
dari jauh,
seperti seseorang yang sepenuhnya sadar
bahwa perasaannya
tidak akan pernah mengumpulkan cukup keberanian
untuk menjadi nyata.

Terkadang aku ingin menyerah.

Untuk memadamkan setiap perasaan
dan hidup biasa saja,
seperti orang-orang
yang tidak menjadikan cinta
sebagai alasan
mereka untuk kehilangan tidur.

Namun setiap kali aku mencoba melupakanmu,
namamu kembali
seperti notifikasi tengah malam
yang tiba-tiba membuat jantungku
lupa
bagaimana berdetak dengan tenang.

Kau adalah kecanduan
yang tak pernah sekalipun meminta
untuk dicintai sedalam ini.

Dan aku—
aku telah tenggelam terlalu jauh
di dalam matamu,
yang mungkin
tidak pernah benar-benar mencariku
sama sekali.

Malam terus bergerak.

Bulan semakin tinggi.

Aku menjadi semakin kecil.

Langit terasa seperti
garis waktu tak berujung
yang dipenuhi orang-orang bahagia,
sementara aku hanyalah
satu akun kesepian
yang masih online,
menunggu balasan
yang mungkin tak akan pernah datang.

Lucu, bukan,
bagaimana seseorang bisa menjadi
begitu ramai di dalam pikiran kita
namun tetap
begitu asing
dalam kehidupan nyata?

Dulu, aku berharap
kau akan melihatku
seperti aku melihatmu:
utuh, indah,
dan layak diperjuangkan.

Namun harapan terkadang
hanyalah cara hati
untuk menunda rasa sakit
agar tidak datang
sekaligus.

Jadi aku belajar diam.

Belajar menerima
bahwa tidak setiap cinta
ditakdirkan
untuk menjadi rumah.

Beberapa hanya datang
untuk mengajari kita
betapa menyakitkannya
menjadi hujan
bagi seseorang
yang lebih suka tetap kering di bawah naungan.

Namun bahkan sekarang
aku masih menunggumu.

Menunggu bulan memudar.

Menunggu alam semesta
lelah
menjadikanmu
pusat segalanya.

Mungkin suatu hari nanti,
ketika malam menjadi sunyi
dan semua tepuk tangan cahaya
akhirnya berhenti,
kau akan menyadari
masih ada satu bintang
yang tak pernah pergi.

Aku.

Masih berdiri di tempat yang sama.

Masih menyimpan namamu
di antara puisi, kopi dingin,
dan insomnia
yang tak kunjung sembuh.

Dan jika suatu hari nanti
kau akhirnya kembali,
aku tak ingin menjadi langit.

Aku hanya ingin menjadi sebuah rumah—
tempat di mana kau bisa kembali
setelah lelah
menjadi bulan
bagi orang lain.


Sumatera Barat, Indonesia, 2026.

Kategori:
Tags:

Terkini