Ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam adalah kontributor utama emisi gas rumah kaca. Untuk menekan laju pemanasan global di bawah $1,5^\circ\text{C}$ sesuai Perjanjian Paris, transisi energi menuju sumber yang bersih dan terbarukan menjadi harga mati. Transisi ini bukan hanya soal mengganti sumber daya, melainkan perombakan total cara dunia memproduksi dan mengonsumsi energi.
Potensi energi terbarukan sangatlah melimpah, mulai dari energi surya, angin, panas bumi, hingga hidro. Di Indonesia, sebagai negara kepulauan di khatulistiwa, potensi energi surya dan panas bumi sangat luar biasa namun belum tergarap maksimal. Investasi besar dalam teknologi penyimpanan energi (baterai) dan penguatan jaringan transmisi listrik menjadi tantangan teknis yang harus segera diatasi. Meskipun biaya awal transisi ini terlihat mahal, kerugian ekonomi akibat bencana iklim di masa depan akan jauh lebih mahal jika kita tidak bertindak sekarang.
Komitmen global melalui kerja sama pendanaan dan transfer teknologi dari negara maju ke negara berkembang sangat krusial dalam mempercepat proses ini. Transisi energi juga harus dilakukan secara berkeadilan (just transition), dengan memastikan pekerja di sektor energi fosil mendapatkan pelatihan untuk beralih ke sektor energi hijau. Dengan visi yang jelas dan kemauan politik yang kuat, transisi energi bersih akan menjadi motor penggerak ekonomi baru yang lebih sehat bagi manusia dan planet bumi.
Baca juga: Keindahan Likupang

