Kamis, 08 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Menafsir Ulang Kolaborasi dalam Pembelajaran di Era Kecerdasan Artifisial  

Heri Isnaini| Penulis

–

Beberapa tahun lalu, ketika seorang guru meminta peserta didiknya menulis esai, ruang belajar hampir selalu dapat dibayangkan dengan cara yang sederhana. Seorang siswa membuka buku, mencatat beberapa gagasan, mencari artikel di perpustakaan, bertanya kepada guru, lalu mendiskusikan persoalan yang belum dipahaminya dengan teman-teman sekelas. Pengetahuan bergerak dari satu manusia kepada manusia lain melalui percakapan, pembacaan, pengalaman, dan perdebatan kecil yang sering kali justru melahirkan pemahaman baru.

Baca juga: Waropen Sehat, Cerdas, dan Terkoneksi: Visi F.X. Mote–Yoel Boari Mendorong Waropen Keluar dari Ketertinggalan

Proses itu tidak selalu cepat, tetapi di dalam kelambatan tersebut terdapat sesuatu yang penting: siswa mengalami sendiri bagaimana sebuah pengetahuan ditemukan, dipertanyakan, diuji, dan kemudian menjadi bagian dari cara berpikirnya.

Ruang belajar hari ini tidak lagi sesederhana itu. Ketika seorang siswa mendapatkan tugas menulis tentang sastra, sejarah, bahasa, atau bahkan persoalan sosial, sebuah mesin dapat hadir di sampingnya dan memberikan respons dalam hitungan detik. Ia dapat meminta penjelasan tentang teori, memperoleh contoh, menyusun kerangka tulisan, membandingkan beberapa konsep, meminta alternatif judul, bahkan menyerahkan draf tulisannya untuk memperoleh masukan. Percakapan yang dahulu berlangsung antara siswa dengan guru, siswa dengan buku, atau siswa dengan teman sebaya, kini memiliki satu interlocutor baru: kecerdasan artifisial.

Perubahan tersebut tentu menghadirkan kegelisahan. Guru bertanya-tanya apakah siswa masih benar-benar berpikir ketika sebagian proses berpikir dapat dibantu mesin. Dosen mempertanyakan keaslian tulisan mahasiswa ketika sebuah esai dapat disusun dengan bantuan AI. Orang tua mungkin khawatir anak-anak menjadi terlalu bergantung pada teknologi. Kekhawatiran semacam itu mempunyai alasan, terutama jika kecerdasan artifisial digunakan sekadar sebagai jalan pintas untuk menghindari proses belajar.

Baca juga: BAYANG-BAYANG PENGGUSURAN

Namun, saya kira persoalannya menjadi terlalu sederhana jika AI hanya ditempatkan sebagai ancaman. Teknologi tidak pernah hadir dalam ruang pendidikan tanpa mengubah cara manusia berhubungan dengan pengetahuan. Yang perlu kita perhatikan bukan hanya apa yang dapat dilakukan oleh teknologi, melainkan apa yang terjadi pada manusia ketika teknologi tersebut menjadi bagian dari proses belajar.

Di sinilah gagasan tentang pembelajaran kolaboratif perlu dibaca kembali. Selama ini, kolaborasi dalam pembelajaran terutama dipahami sebagai aktivitas beberapa orang yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan tertentu. Siswa berdiskusi, membagi tugas, mengemukakan pendapat, memberi tanggapan, dan menyusun kesimpulan bersama. Guru berperan sebagai pendamping yang mengarahkan proses agar kegiatan tersebut tidak berhenti pada pembagian pekerjaan, tetapi menghasilkan pertukaran gagasan. Kolaborasi dengan demikian bukan sekadar bekerja dalam kelompok. Intinya terletak pada proses ketika seseorang belajar melalui keberadaan orang lain.

Kehadiran AI membuat konfigurasi tersebut berubah. Seorang siswa kini dapat bekerja dalam kelompok bersama teman-temannya, tetapi pada saat yang sama kelompok tersebut dapat menggunakan AI untuk menguji gagasan, mencari kemungkinan penjelasan, atau memperoleh perspektif alternatif. Seorang siswa yang mengalami kesulitan memahami konsep tertentu dapat berdialog dengan AI sebelum membawa persoalan itu ke dalam diskusi kelompok. Bahkan, dalam situasi tertentu, AI dapat menjadi semacam ruang latihan sebelum siswa berhadapan dengan guru atau teman-temannya.

Perubahan ini menarik sebab memperluas pengertian tentang siapa atau apa yang dapat hadir dalam ekosistem belajar. Jika dahulu kolaborasi hampir selalu berarti manusia dengan manusia, sekarang kita berhadapan dengan kemungkinan manusia belajar bersama manusia melalui perantaraan mesin, bahkan manusia berdialog dengan mesin untuk mempersiapkan dialog berikutnya dengan manusia.

Namun, di sinilah kita perlu berhati-hati. AI dapat memberikan respons, tetapi respons bukanlah pengalaman. AI dapat menjelaskan konsep, tetapi penjelasan bukanlah pemahaman. AI dapat menyusun argumentasi, tetapi argumentasi yang dihasilkan mesin tidak serta-merta menjadi sikap intelektual orang yang menggunakannya. Sebuah jawaban dapat benar secara informasi, tetapi tetap tidak memiliki makna bagi seseorang yang tidak pernah menguji, mempertanyakan, atau menghubungkannya dengan pengalaman dan pengetahuannya sendiri.

Persoalan tersebut menjadi semakin jelas jika kita kembali kepada pemikiran Lev Vygotsky. Belajar, dalam perspektif Vygotsky, berlangsung melalui proses sosial. Seseorang dapat berkembang melampaui kemampuan aktualnya melalui bantuan dari pihak lain dalam wilayah yang dikenal sebagai zone of proximal development. Guru, teman sebaya, orang tua, dan lingkungan sosial dapat menjadi bagian dari proses scaffolding yang membantu peserta didik melakukan sesuatu yang sebelumnya belum mampu dilakukan secara mandiri.

Dalam konteks baru, sebagian fungsi scaffolding tersebut memang dapat dibantu oleh AI. Ketika seorang siswa tidak memahami istilah tertentu, AI dapat memberikan penjelasan. Ketika siswa kesulitan mencari contoh, AI dapat menyediakannya. Ketika siswa ingin menguji sebuah gagasan, AI dapat memberikan respons awal. Dalam batas tertentu, AI dapat menjadi semacam pendamping kognitif yang membantu siswa bergerak dari ketidaktahuan menuju pemahaman.

Akan tetapi, pendampingan pedagogis tidak berhenti pada pemberian jawaban. Guru mengetahui bahwa seorang siswa yang diam belum tentu memahami materi, sebagaimana siswa yang banyak bertanya belum tentu mengalami kesulitan. Guru dapat membaca ekspresi, intonasi, kebiasaan, latar belakang, bahkan perubahan kecil dalam perilaku peserta didik. Pengetahuan pedagogis tumbuh dari hubungan yang berlangsung terus-menerus. Di dalam hubungan tersebut terdapat empati, keteladanan, teguran, kesabaran, dan keputusan-keputusan yang tidak selalu dapat dirumuskan menjadi algoritma.

Oleh sebab itu, AI dapat membantu proses pedagogis, tetapi tidak otomatis menjadi hubungan pedagogis. Perbedaan tersebut penting sebab pendidikan pada dasarnya tidak hanya berurusan dengan transfer informasi. Pendidikan berurusan dengan manusia yang sedang tumbuh. Seorang siswa tidak hanya perlu mengetahui bagaimana menulis paragraf argumentatif, tetapi juga perlu belajar mengapa sebuah argumen harus bertanggung jawab. Ia tidak hanya perlu mengetahui cara mencari informasi, tetapi perlu memahami mengapa informasi harus diperiksa. Ia tidak hanya membutuhkan jawaban, tetapi juga membutuhkan pengalaman ketika jawaban yang diyakininya ternyata keliru.

Di sinilah teknologi justru menghadirkan sebuah paradoks. Semakin mudah informasi diperoleh, semakin penting kemampuan untuk menilai informasi. Semakin mudah teks diproduksi, semakin penting kemampuan untuk menentukan apakah teks tersebut memiliki gagasan. Semakin cepat sebuah jawaban tersedia, semakin penting kemampuan untuk menunda penerimaan dan mengajukan pertanyaan: benarkah demikian?

Marshall McLuhan pernah menunjukkan bahwa medium bukan sekadar saluran yang membawa pesan. Medium turut membentuk cara manusia mengalami pesan tersebut. Jika gagasan ini ditempatkan dalam konteks AI, maka kecerdasan artifisial tidak cukup dipahami sebagai perangkat yang membantu menyelesaikan tugas. Ia merupakan bagian dari perubahan ekologi belajar. Ketika siswa terbiasa memperoleh jawaban melalui dialog dengan mesin, cara mereka bertanya, membaca, menulis, mengingat, dan memeriksa informasi pun berpotensi berubah.

Perubahan semacam ini menuntut reposisi pembelajaran kolaboratif. Guru tidak cukup hanya mengatakan bahwa siswa boleh atau tidak boleh menggunakan AI. Yang lebih penting adalah mengajarkan bagaimana AI ditempatkan dalam proses berpikir. Misalnya, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, siswa dapat diminta menulis sebuah esai tentang cerita rakyat Nusantara. Tahap pertama tidak harus langsung menggunakan AI. Mereka dapat membaca teks, mendiskusikan persoalan, menentukan pertanyaan, dan merumuskan tafsir awal.

Setelah itu, AI dapat digunakan sebagai mitra untuk menguji kemungkinan pembacaan: apakah terdapat perspektif lain, apakah argumentasi tertentu memiliki kelemahan, atau adakah konteks yang belum dipertimbangkan. Setelah memperoleh respons dari AI, siswa kembali kepada teks dan memeriksa apakah respons tersebut benar-benar sesuai dengan data yang mereka temukan.

Dalam pola seperti itu, AI tidak menjadi penulis pengganti. Ia menjadi bagian dari proses negosiasi pengetahuan. Siswa tetap membaca. Siswa tetap menafsirkan. Siswa tetap berdiskusi. Siswa tetap mengambil keputusan. Mesin memberikan kemungkinan, sementara manusia menentukan arah.

Gagasan George Siemens tentang connectivism menjadi relevan dalam konteks tersebut. Dalam pembelajaran digital, pengetahuan tidak hanya berada di dalam diri seseorang, tetapi tersebar dalam jaringan yang menghubungkan manusia, informasi, teknologi, dan berbagai sumber pengetahuan. Kemampuan belajar kemudian tidak cukup diukur dari seberapa banyak seseorang mampu mengingat, tetapi juga dari kemampuannya menemukan, memilih, menghubungkan, dan mengevaluasi pengetahuan.

Persoalannya, jaringan pengetahuan yang semakin luas juga membawa risiko yang semakin besar. AI dapat menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan meskipun tidak selalu benar. Ia dapat menyusun referensi, tetapi pengguna tetap harus memeriksa keberadaan dan relevansinya. Ia dapat menghasilkan tafsir sastra yang tampak canggih, tetapi tafsir tersebut tetap perlu diuji melalui teks. Ia dapat menyusun argumen yang rapi, tetapi kerapian bahasa tidak menjamin kedalaman pemikiran.

Oleh sebab itu, literasi AI pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari literasi kritis. Siswa perlu belajar bukan hanya bagaimana menggunakan AI, tetapi juga bagaimana meragukannya secara sehat. Mereka perlu mengetahui kapan harus menerima sebuah jawaban sebagai hipotesis, kapan harus mencari sumber lain, dan kapan harus mengatakan bahwa mesin tersebut keliru.

Bagi pembelajaran Bahasa Indonesia, persoalan ini menjadi semakin menarik sebab bahasa merupakan wilayah tempat manusia membentuk dan mengekspresikan pikirannya. Jika siswa menyerahkan seluruh proses penulisan kepada mesin, yang hilang bukan sekadar latihan menulis. Yang berpotensi hilang adalah proses menemukan suara. Padahal, dalam pembelajaran bahasa dan sastra, suara personal merupakan bagian penting dari perkembangan intelektual.

Seseorang belajar menulis bukan hanya agar dapat menghasilkan teks yang benar secara gramatikal, tetapi agar mampu mengatakan sesuatu dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai gagasannya sendiri. Sebab itu, penggunaan AI dalam pembelajaran menuntut perubahan tugas. Guru tidak cukup memberikan perintah, “Tulislah esai tentang tema tertentu.” Tugas semacam itu terlalu mudah dialihkan kepada mesin. Guru dapat merancang tugas yang meminta siswa menunjukkan proses: bagaimana pertanyaan dirumuskan, sumber apa yang digunakan, bagaimana AI dimanfaatkan, jawaban mana yang ditolak, mengapa sebuah argumen dipilih, dan bagaimana hasil akhir mengalami perubahan setelah melalui diskusi.

Dengan cara tersebut, yang dinilai bukan hanya produk, tetapi juga perjalanan intelektual yang menghasilkan produk tersebut. Saya kira di sinilah masa depan pembelajaran kolaboratif menemukan persoalan yang sesungguhnya. Kita tidak sedang menuju kelas yang seluruhnya dikuasai mesin, sebagaimana kita juga tidak sedang kembali kepada kelas yang sepenuhnya bergantung pada buku dan papan tulis. Kita sedang memasuki ruang belajar yang lebih berlapis. Guru, siswa, teman sebaya, buku, internet, dan AI berada dalam satu ekosistem yang saling berhubungan.

Namun, semakin banyak unsur yang hadir dalam ekosistem tersebut, semakin penting manusia menentukan pusatnya. Pusat pendidikan tetap manusia. AI dapat membantu siswa menemukan kemungkinan, tetapi siswa harus menentukan makna. AI dapat mempercepat pencarian informasi, tetapi manusia tetap harus menentukan apakah informasi tersebut layak dipercaya. AI dapat memberikan alternatif argumentasi, tetapi manusia harus bertanggung jawab terhadap argumen yang akhirnya dipilih. AI dapat membantu memperbaiki kalimat, tetapi manusia tetap harus mengetahui apa yang sebenarnya ingin dikatakannya.

Pada titik ini, pertanyaan tentang AI dalam pendidikan bergeser. Kita tidak lagi cukup bertanya apakah AI akan menggantikan guru atau membuat siswa malas berpikir. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah “Manusia seperti apa yang sedang kita bentuk melalui pembelajaran yang semakin dekat dengan mesin?”

Pertanyaan tersebut penting sebab pendidikan selalu mempunyai dimensi yang lebih luas daripada teknologi yang digunakannya. Mesin dapat berubah, aplikasi dapat berganti, dan algoritma dapat berkembang, tetapi pendidikan tetap berhadapan dengan manusia yang harus belajar mengambil keputusan. Ia harus belajar mendengarkan orang lain, menerima perbedaan, menguji pendapat, mengakui kesalahan, dan mempertanggungjawabkan pilihan.

Oleh sebab itu, saya tidak melihat kehadiran AI sebagai alasan untuk mengakhiri pembelajaran kolaboratif. Sebaliknya, AI justru memberi alasan yang lebih kuat untuk memperluas dan memperdalamnya. Jika sebelumnya siswa belajar bekerja sama dengan manusia, kini mereka juga perlu belajar bagaimana menggunakan mesin tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir bersama manusia.

Barangkali inilah reposisi yang diperlukan. Kolaborasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai pembagian tugas dalam kelompok. Kolaborasi perlu dipahami sebagai proses mempertemukan gagasan, sumber pengetahuan, teknologi, pengalaman, dan pertimbangan manusia untuk menghasilkan pemahaman yang lebih matang. Dalam proses itu, AI boleh menjadi mitra, tetapi tidak boleh menjadi pusat kesadaran belajar.

Sebab, belajar pada akhirnya bukan perkara siapa yang paling cepat memberikan jawaban. Belajar adalah proses ketika seseorang perlahan-lahan menemukan cara untuk mengajukan pertanyaan yang lebih baik, mempertimbangkan jawaban dengan lebih hati-hati, dan memahami alasan di balik keputusan yang diambilnya.

Mesin mungkin dapat membantu kita sampai lebih cepat. Akan tetapi, pendidikan tetap mempunyai tugas yang lebih panjang, yakni memastikan bahwa manusia yang sampai di sana memahami mengapa ia pergi, apa yang ditemukannya, dan untuk apa pengetahuan itu digunakan.

Di tengah kecerdasan artifisial yang semakin dekat dengan ruang kelas, mungkin itulah bentuk kolaborasi yang perlu kita pertahankan bahwa manusia menggunakan kecanggihan mesin tanpa menyerahkan kemanusiaannya kepada mesin.

Bandung, 6 Oktober 2026

–

Penulis:

Heri Isnaini, dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Email: heriisnaini.heriisnaini@gmail.com

Kategori:
Tags:

Terkini