Rabu, 30 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Pembelajaran Teks Hikayat di SMK: Menghidupkan Sastra Lama dalam Pengalaman Siswa

Oleh: Yulia Herliani

–

Sejak menjadi guru di SMK Profita pada 2018, saya semakin menyadari bahwa pembelajaran sastra di kelas tidak cukup jika hanya diarahkan pada kemampuan siswa untuk mengenali pengertian, struktur, ciri kebahasaan, dan unsur intrinsik sebuah karya. Sastra memiliki ruang yang jauh lebih luas.

Baca juga: RUMAH YANG TAK BOLEH ROBOH

Sastra dapat menjadi jalan bagi siswa untuk mengenali dirinya, memahami orang lain, membaca kebudayaan, sekaligus melihat bahwa pengalaman manusia pada masa lampau ternyata masih memiliki resonansi dengan kehidupan mereka hari ini. Salah satu teks sastra yang menurut saya memiliki kemungkinan besar untuk menghadirkan pengalaman pembelajaran semacam itu adalah hikayat.

Pada awalnya, hikayat mungkin tampak sebagai materi yang jauh dari kehidupan siswa SMK. Bahasa yang digunakan terasa asing, tokoh-tokohnya sering kali berada dalam dunia kerajaan, peristiwa yang ditampilkan penuh kemustahilan, dan alurnya berbeda dengan cerita yang biasa mereka baca atau tonton melalui media digital.

Baca juga: Ketika Puisi Sapardi Djoko Damono Mengajarkan Kita Merawat Dunia

Akan tetapi, justru jarak tersebut dapat dijadikan pintu masuk pembelajaran. Guru tidak perlu memaksa siswa untuk segera menyukai hikayat, tetapi perlu membantu mereka menemukan alasan mengapa cerita tersebut masih layak dibaca.

Bagi saya, pembelajaran hikayat yang efektif dimulai dari perubahan cara pandang terhadap teks. Hikayat tidak diperlakukan sebagai benda mati dari masa lalu yang harus dihafalkan, melainkan sebagai karya yang menyimpan sistem pengetahuan, nilai, imajinasi, pandangan tentang kekuasaan, relasi sosial, keberanian, kesetiaan, pengkhianatan, cinta, keadilan, dan hubungan manusia dengan dunia yang lebih luas. Ketika siswa mulai melihat bahwa persoalan-persoalan tersebut ternyata juga hadir dalam kehidupan mereka, jarak antara hikayat dan kehidupan siswa perlahan menjadi lebih dekat.

Hikayat sebagai Pengalaman Membaca

Pembelajaran hikayat sebaiknya diawali dengan pengalaman membaca yang menarik. Guru dapat menghadirkan sebuah potongan cerita yang memiliki unsur ajaib atau konflik yang kuat, kemudian meminta siswa memberikan respons sebelum mereka mengetahui bahwa teks tersebut merupakan hikayat.

Misalnya, guru dapat bertanya: “Bagaimana jika seseorang tiba-tiba memiliki kemampuan yang tidak dimiliki manusia biasa? Apakah kekuatan tersebut selalu membawa kebahagiaan? Bagaimana jika seseorang harus memilih antara kepentingan dirinya dan kepentingan orang lain?”

Pertanyaan semacam itu dapat menjadi jembatan menuju teks hikayat. Guru kemudian dapat memperkenalkan beberapa hikayat yang memiliki karakteristik dan persoalan berbeda sehingga siswa tidak memperoleh kesan bahwa seluruh hikayat hanya berkisah tentang kerajaan dan kesaktian.

Beberapa teks yang dapat digunakan antara lain Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Indera Bangsawan, Hikayat Si Miskin, Hikayat Abu Nawas, Hikayat Raja-Raja Pasai, dan Hikayat Amir Hamzah.

1. Hikayat Bayan Budiman: Sastra sebagai Nasihat dan Kecerdasan

Hikayat Bayan Budiman sangat menarik digunakan dalam pembelajaran karena menghadirkan persoalan tentang kesetiaan, godaan, kecerdikan, dan kemampuan menggunakan bahasa untuk menyelamatkan seseorang dari keputusan yang tergesa-gesa.

Tokoh Bayan dapat dijadikan pintu masuk untuk membicarakan fungsi cerita dalam kehidupan manusia. Bayan tidak sekadar menjadi burung yang berbicara, tetapi berfungsi sebagai pencerita yang menggunakan kisah untuk memengaruhi tindakan tokoh lain. Dari sini, siswa dapat diajak memahami bahwa cerita memiliki kekuatan persuasif.

Pembelajaran dapat dimulai dengan pertanyaan: “Mengapa seseorang terkadang lebih mudah menerima nasihat melalui cerita daripada melalui nasihat secara langsung?” Pertanyaan tersebut dapat dilanjutkan dengan kegiatan storytelling. Siswa memilih salah satu cerita yang disampaikan Bayan, kemudian menceritakannya kembali menggunakan gaya bahasa mereka sendiri. Setelah itu, mereka diminta menjelaskan perubahan makna yang terjadi ketika cerita lama disampaikan dalam konteks kehidupan sekarang.

Untuk siswa SMK, kegiatan tersebut dapat dikembangkan menjadi siniar cerita hikayat. Siswa bekerja dalam kelompok sebagai penulis naskah, pengisi suara, penyunting audio, dan penata musik. Dengan demikian, satu teks hikayat dapat sekaligus menjadi materi literasi, berbicara, menulis, menyimak, dan produksi media.

2. Hikayat Hang Tuah: Kepahlawanan, Kesetiaan, dan Identitas

Hikayat Hang Tuah dapat digunakan untuk membicarakan kepahlawanan dan kesetiaan. Tokoh Hang Tuah memiliki posisi penting dalam tradisi sastra Melayu karena kisahnya memperlihatkan hubungan antara individu, kerajaan, kehormatan, dan kesetiaan.

Namun, pembelajaran tidak perlu berhenti pada pertanyaan mengenai siapa Hang Tuah dan apa saja kesaktiannya. Justru bagian yang menarik adalah mengajak siswa mempertanyakan konsep kepahlawanan itu sendiri.

Guru dapat mengajukan pertanyaan: “Apakah seorang pahlawan hanya ditentukan oleh keberanian? Apa hubungan antara kesetiaan dan tanggung jawab? Apakah seseorang boleh mempertanyakan perintah ketika perintah tersebut dianggap tidak adil?”

Diskusi tersebut dapat membawa siswa kepada pembacaan kritis tanpa harus menghilangkan penghargaan terhadap teks. Siswa kemudian dapat membuat monolog tokoh Hang Tuah. Mereka diminta menulis monolog seolah-olah Hang Tuah sedang menjelaskan keputusan-keputusan penting yang pernah diambilnya. Kegiatan ini melatih kemampuan memahami karakter sekaligus kemampuan menulis kreatif.

Hikayat Hang Tuah juga dapat dibandingkan dengan figur kepahlawanan dalam kehidupan kontemporer. Perbandingan tersebut tidak diarahkan untuk mencari siapa yang paling hebat, tetapi untuk melihat bagaimana suatu masyarakat membangun konsep tentang keberanian, pengabdian, dan kehormatan.

3. Hikayat Indera Bangsawan: Imajinasi, Petualangan, dan Kemustahilan

Hikayat Indera Bangsawan sangat sesuai untuk memperkenalkan karakteristik hikayat berupa kesaktian, perjalanan, tokoh luar biasa, dan berbagai peristiwa yang berada di luar logika kehidupan sehari-hari.

Bagian ini dapat menjadi kesempatan bagi guru untuk menjelaskan konsep kemustahilan dalam karya sastra. Siswa dapat mengidentifikasi peristiwa yang secara logika tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata, kemudian mendiskusikan fungsi kemustahilan tersebut.

Guru dapat bertanya: “Mengapa pengarang menghadirkan tokoh yang memiliki kemampuan luar biasa? Apakah sesuatu yang mustahil secara logika selalu tidak memiliki makna?” Dari sini, siswa dapat memahami bahwa sastra tidak selalu bertujuan menggambarkan realitas secara faktual. Sastra juga menciptakan dunia imajinatif untuk menyampaikan gagasan tertentu.

Sebagai proyek, siswa dapat diminta membuat hikayat modern. Mereka mempertahankan karakteristik hikayat, misalnya tokoh luar biasa, perjalanan, konflik, dan unsur ajaib, tetapi latarnya ditempatkan di dunia kontemporer.

Misalnya, seorang siswa dapat menciptakan tokoh yang memiliki kemampuan luar biasa dalam teknologi, tetapi kemampuan tersebut digunakan untuk menyelesaikan persoalan sosial. Dengan cara demikian, siswa belajar bahwa bentuk lama dapat mengalami transformasi tanpa kehilangan identitas dasarnya.

4. Hikayat Si Miskin: Kemiskinan, Perubahan Nasib, dan Harapan

Hikayat Si Miskin dapat digunakan untuk mengembangkan pembelajaran yang berhubungan dengan kehidupan sosial. Cerita tentang kemiskinan dan perubahan nasib memungkinkan siswa mendiskusikan bagaimana masyarakat memandang orang yang berada dalam kondisi kurang beruntung.

Teks ini dapat dibaca melalui dua lapis. Pertama, siswa memahami jalan cerita dan karakteristik hikayat. Kedua, siswa diajak membaca nilai sosial yang berada di balik cerita. Guru dapat bertanya: “Bagaimana masyarakat memperlakukan seseorang berdasarkan status sosialnya? Apakah kekayaan selalu menjadi ukuran keberhasilan seseorang? Mengapa cerita tentang perubahan nasib begitu banyak ditemukan dalam sastra tradisional?”

Pertanyaan tersebut dapat dikembangkan menjadi kegiatan menulis refleksi. Siswa tidak diminta menceritakan pengalaman pribadi secara langsung, tetapi dapat menulis tentang bagaimana mereka melihat hubungan antara usaha, kesempatan, keadaan sosial, dan keberhasilan.

Untuk siswa SMK, pembahasan ini dapat dikaitkan dengan dunia kerja. Siswa dapat mendiskusikan bahwa keberhasilan profesional tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kesempatan, lingkungan, etos kerja, jaringan sosial, dan kemampuan beradaptasi.

5. Hikayat Abu Nawas: Kecerdikan sebagai Strategi Menghadapi Kekuasaan

Hikayat Abu Nawas menarik karena menghadirkan humor, kecerdikan, permainan bahasa, dan hubungan antara rakyat dengan penguasa. Cerita Abu Nawas sangat potensial untuk membangun pembelajaran yang menyenangkan karena konflik sering kali diselesaikan melalui kecerdikan tokohnya.

Guru dapat meminta siswa membaca satu cerita Abu Nawas, kemudian mengidentifikasi bagaimana tokoh tersebut menggunakan bahasa dan logika untuk menghadapi persoalan.

Pertanyaan pemantik dapat berupa: “Mengapa kecerdikan dapat menjadi kekuatan? Bagaimana bahasa dapat digunakan untuk menyelesaikan konflik? Apa perbedaan antara kecerdikan dan kelicikan?” Bagian terakhir sangat penting karena siswa dapat membedakan strategi berpikir dengan manipulasi.

Aktivitas yang menarik adalah debat tokoh. Separuh kelas berperan sebagai pihak yang mendukung tindakan Abu Nawas, sementara kelompok lain mencari kelemahan dari tindakan tersebut. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami isi cerita, tetapi juga belajar menyusun argumentasi.

6. Hikayat Raja-Raja Pasai: Hikayat sebagai Ingatan Sejarah

Hikayat Raja-Raja Pasai dapat memperluas pemahaman siswa bahwa hikayat tidak hanya berisi cerita ajaib, tetapi juga berkaitan dengan sejarah dan ingatan kolektif masyarakat. Melalui teks ini, guru dapat memperkenalkan perbedaan antara sejarah sebagai rekonstruksi akademik dan hikayat sebagai representasi sastra terhadap masa lalu.

Siswa dapat diberikan dua jenis sumber tentang suatu peristiwa: satu berupa sumber sejarah dan satu berupa bagian hikayat. Mereka kemudian membandingkan cara kedua sumber tersebut menggambarkan tokoh dan peristiwa.

Kegiatan ini sangat baik untuk melatih literasi informasi. Siswa belajar bahwa sebuah teks perlu dibaca berdasarkan jenis, tujuan, konteks, dan cara pembentukannya.

7. Hikayat Amir Hamzah: Keberanian dan Dunia Kepahlawanan

Hikayat Amir Hamzah dapat digunakan untuk membahas kepahlawanan, keberanian, pengorbanan, dan perjalanan tokoh. Guru dapat meminta siswa membuat peta perjalanan tokoh, mulai dari latar belakang, konflik, perjalanan, lawan yang dihadapi, keputusan penting, hingga perubahan karakter.

Kegiatan tersebut dapat dilakukan secara visual menggunakan mind map atau story map. Siswa kemudian mempresentasikan bagaimana perjalanan fisik tokoh sekaligus dapat dibaca sebagai perjalanan psikologis dan moral.

Dari Hikayat ke Cerita Kontemporer

Salah satu strategi yang menurut saya paling efektif dalam pembelajaran hikayat adalah transformasi teks. Setelah memahami sebuah hikayat, siswa tidak langsung diberikan tugas untuk menjawab soal, tetapi diberi kesempatan untuk menghidupkan kembali cerita tersebut.

Salah satu tantangan terbesar dalam pembelajaran hikayat adalah persepsi siswa bahwa hikayat merupakan cerita kuno yang tidak memiliki hubungan dengan kehidupan mereka. Tantangan tersebut menurut saya tidak perlu dilawan dengan penjelasan teoritis yang panjang. Cara yang lebih efektif adalah memperlihatkan hubungan tersebut melalui pengalaman membaca.

Ketika siswa membaca Hikayat Bayan Budiman, mereka dapat menemukan persoalan tentang nasihat dan godaan. Ketika membaca Hikayat Hang Tuah, mereka berhadapan dengan persoalan kesetiaan dan kehormatan. Ketika membaca Hikayat Si Miskin, mereka menemukan persoalan status sosial dan perubahan kehidupan. Ketika membaca Hikayat Abu Nawas, mereka menemukan kecerdikan dalam menghadapi persoalan. Ketika membaca Hikayat Indera Bangsawan, mereka menemukan dunia imajinasi dan kemustahilan.

Artinya, yang berubah adalah bentuk ceritanya, sementara persoalan kemanusiaan yang dibawanya tetap dapat ditemukan dalam kehidupan. Di sinilah saya melihat pentingnya guru sastra. Guru tidak sekadar menjelaskan bahwa hikayat memiliki ciri-ciri tertentu, tetapi membantu siswa menemukan mengapa ciri tersebut penting dan apa maknanya bagi pembaca hari ini.

Saya menyukai pembelajaran hikayat karena teks ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perjalanan lintas waktu. Mereka membaca bahasa yang mungkin terasa asing, bertemu dengan tokoh yang hidup dalam dunia kerajaan, menyaksikan kesaktian dan kemustahilan, tetapi kemudian menemukan bahwa di balik semua itu terdapat persoalan manusia yang masih mereka kenali.

Dengan demikian, pembelajaran hikayat di SMK bukanlah usaha untuk memaksa siswa mencintai karya lama. Pembelajaran tersebut merupakan usaha untuk memperkenalkan kepada mereka bahwa sastra selalu memiliki kemungkinan untuk dibaca kembali.

Hikayat dapat menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah kebudayaan, perkembangan bahasa, sistem nilai, imajinasi masyarakat, sekaligus cara manusia memandang dirinya dan dunia. Ketika siswa mampu membaca hikayat dengan kesadaran semacam itu, mereka tidak lagi melihat sastra lama sebagai teks yang berjarak, melainkan sebagai bagian dari perjalanan panjang manusia dalam menciptakan cerita.

Bagi saya, keberhasilan pembelajaran hikayat bukan ketika seluruh siswa mampu menghafalkan definisi hikayat, ciri-cirinya, atau struktur teksnya. Keberhasilan itu mulai tampak ketika seorang siswa yang semula mengatakan, “Hikayat itu membosankan,” kemudian menemukan satu tokoh, satu konflik, atau satu gagasan yang membuatnya ingin membaca lebih jauh. Pada saat itulah teks yang berasal dari masa lampau mulai menemukan kehidupan barunya di dalam pengalaman pembaca masa kini.

Bandung, 27 September 2026

–

Penulis

Yulia Herliani lahir di Bandung, 31 Juli. Saat ini ia bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di SMK Profita Kota Bandung. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beberapa media massa daring. Selain menjadi guru, Yulia sangat menikmati perannya sebagai istri dan ibu dari tiga anaknya. Yulia dan keluarga tinggal di Kota Bandung.

Kategori:
Tags:

Terkini