Menurut Y.B. Mangunwijaya*)
Oleh Budhy Munawar- Rachman
–
Baca juga: KETIKA LANGIT MENULIS TAKDIR DI DAUN-DAUN WAKTU
Pendahuluan
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, yang akrab disapa Romo Mangun, adalah sosok langka dalam sejarah intelektual Indonesia: seorang imam Katolik, arsitek, novelis, sekaligus aktivis pembela wong cilik. Di antara warisan pemikirannya, salah satu gagasan yang paling berpengaruh dan terus dikutip hingga kini adalah pembedaannya antara religiositas dan agama. Gagasan ini pertama kali ia sampaikan sebagai ceramah di Taman Ismail Marzuki pada Oktober 1980, kemudian dibukukan dengan judul Sastra dan Religiositas (Sinar Harapan, 1982), yang meraih penghargaan buku nonfiksi terbaik pada tahunnya.
Religiositas Bukan Agama
Kalimat pembuka esai Romo Mangun yang paling terkenal berbunyi: “Pada awal mula, segala sastra adalah religius.” Dari titik ini ia membangun sebuah pembedaan konseptual yang tajam. Baginya, religiositas adalah dimensi batin, sesuatu yang bersemayam “di dalam lubuk hati” — getaran hati nurani pribadi yang bersifat personal dan sedikit banyak tetap menjadi misteri bagi orang lain. Agama, sebaliknya, adalah institusi: struktur, dogma, dan organisasi kelembagaan yang mewadahi kehidupan beriman secara sosial dan formal.
Dengan kata lain, agama adalah bentuk lahiriah yang dapat diamati — ritual, kitab suci, hierarki, dan aturan — sementara religiositas adalah denyut batin yang mendasarinya, yang tidak selalu tunduk pada batas-batas kelembagaan. Seseorang bisa saja taat menjalankan agama tanpa memiliki religiositas yang hidup, dan sebaliknya, religiositas yang mendalam bisa tumbuh pada seseorang tanpa harus terikat rapat pada institusi agama tertentu.
Baca juga: 23 Mahasiswa Manajemen UNCRI Tuntaskan Ujian Skripsi, Wisuda Angkatan II Digelar Agustus 2026
Religiositas sebagai Kesadaran Kemanusiaan
Bagi Romo Mangun, religiositas sejati tidak berhenti pada kontemplasi batin semata. Ia menegaskan bahwa religiositas manusia yang utuh justru terwujud dalam kesadaran untuk beramal dan menolong sesama. Dimensi spiritual, dalam pandangannya, harus mengejawantah dalam sikap peduli terhadap penderitaan orang lain — bukan sekadar kesalehan personal yang tertutup dari dunia luar.
Pandangan ini sejalan dengan seluruh perjalanan hidupnya: keberpihakannya pada masyarakat pinggiran Kali Code di Yogyakarta, pembelaannya terhadap korban ketidakadilan seperti warga Kedung Ombo, serta karya-karya sastranya yang sarat kritik sosial. Ia bahkan mempertanyakan secara tajam relevansi agama-agama besar di dunia apabila agama tersebut tidak mampu berperikemanusiaan — sebuah tantangan yang menurutnya akan semakin serius dihadapi semua agama di masa depan.
Akar Religiositas dalam Pendidikan: Konsep Ajrih-Asih
Gagasan religiositas Romo Mangun juga mewarnai eksperimen pendidikannya di Sekolah Dasar Eksperimental Mangunan (1994–1999), yang ia dokumentasikan dalam buku Sekolah Merdeka. Di sana ia memperkenalkan konsep ajrih-asih sebagai pondasi menumbuhkan religiositas pada anak. Religiositas, tulisnya, adalah sikap dasar manusia sebagai ciptaan terhadap Sang Pencipta, yang terekspresikan dalam perpaduan dua rasa: ajrih (rasa gentar, hormat) dan asih (kasih sayang).
Menurut Romo Mangun, pendidikan yang hanya menanamkan kasih tanpa rasa hormat akan menghasilkan pemanjaan yang mengacaukan anak, sementara pendidikan yang hanya menanamkan rasa gentar tanpa kasih akan merusak jiwa anak. Hanya perpaduan keduanya, dengan porsi kasih yang jauh lebih besar, yang dapat menumbuhkan religiositas sejati serta pribadi yang utuh.
Religiositas dan Humanisme
Dalam sebuah diskusi memperingati 15 tahun wafatnya Romo Mangun, filsuf A. Sudiarja SJ menegaskan bahwa humanisme Mangunwijaya tidak dapat dipisahkan dari religiositasnya — tanpa religiositas, humanisme tidak mungkin terefleksi secara utuh dalam sikap dan tindakan manusia. Religiositas inilah yang mendasari karya sastra, karya arsitektur, hingga pemikiran politik Romo Mangun. Namun, sebagaimana ditegaskan Sudiarja, religiositas Romo Mangun tidak dapat dikotak-kotakkan ke dalam agama tertentu; ia lebih merupakan kesadaran mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan yang bersifat universal, melampaui sekat-sekat kelembagaan agama meskipun ia sendiri adalah seorang imam Katolik.
Penutup
Pemikiran religiositas Y.B. Mangunwijaya menawarkan sebuah tawaran reflektif yang tetap relevan di tengah masyarakat yang kerap mencampuradukkan kesalehan formal dengan kedalaman batin. Bagi Romo Mangun, iman sejati bukan diukur dari ketaatan ritual semata, melainkan dari sejauh mana getaran hati nurani itu berbuah dalam kepedulian terhadap sesama manusia dan semesta. Religiositas, dalam pengertiannya, adalah jembatan antara kedalaman spiritual pribadi dan tanggung jawab sosial — sebuah gagasan yang menjadikan Romo Mangun bukan hanya rohaniwan, tetapi juga humanis sejati.
——-
*) Berdasarkan pemikiran Y.B. Mangunwijaya sebagaimana tertuang dalam karya-karyanya, terutama Sastra dan Religiositas (1982) dan Sekolah Merdeka, serta berbagai kajian dan diskusi tentang pemikirannya.





