Oleh: Johanis Kopong
-
Pemberitaan dari Lauran: Menemukan Makna Keselamatan di Balik Kayu Salib
KEPULAUAN TANIMBAR – SUARA ANAK NEGERI | Senin, 14 September 2026. Di tengah tenang dan anggunnya pesisir Desa Lauran, Kepulauan Tanimbar, perenungan mendalam mengenai hakikat iman Kristiani terpancar dari balik altar Gereja Katolik Hati Kudus Yesus. Salib—sebuah lambang yang kerap diasosiasikan dengan penderitaan dan kehinaan—dipahami secara mendalam bukan sekadar sebagai kayu mati, melainkan sebagai manifestasi tertinggi dari kasih ilahi yang menyelamatkan manusia.
Bagi pengikut Kristus, keberadaan salib memuat dimensi spiritual yang sangat intuitif dan personal. Salib mengikat tiga fondasi utama dalam kehidupan beriman: tanda keyakinan yang teguh, manifestasi cinta kasih tanpa syarat, serta jangkar pengharapan di tengah realitas dunia. Melalui pengorbanan di atasnya, perpecahan akibat dosa dipulihkan, membuka kembali ruang rekonsiliasi yang utuh antara manusia dan Sang Pencipta.
Penegasan atas makna mendasar ini disampaikan secara intuitif oleh Pastor Pius Heljanan, MSC, Pastor Umat Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran. Beliau menekankan bahwa penghormatan Gereja terhadap salib tidak terletak pada materi fisiknya, melainkan pada pengorbanan agung yang tercurah di atasnya.
Baca juga: "Si Doel Anak Sekolahan" dari sinetron paling populer sampai ke Buku "Filosofi Orang Kampung"
”Gereja memuliakan salib bukan karena kayunya, tetapi kasih Kristus nampak nyata sempurna tercurah di atas salib melalui wafat-Nya,” ungkap Pastor Pius Heljanan, MSC.
Pertautan Sejarah Iman dan Keselamatan
Mengutip narasi Kitab Suci (Yohanes 3:13-17), peristiwa penjelmaan dan pengorbanan Kristus memiliki tipologi historis yang kuat dengan peristiwa di padang gurun pada zaman Musa. Kala itu, ular tembaga ditinggikan sebagai sarana pemulihan fisik bagi mereka yang terpagut bisa. Dalam analogi yang senada, Kristus yang ditinggikan di kayu salib menjadi sarana pemulihan jiwa bagi manusia yang terbelenggu oleh kuasa dosa menuju maut.
Kepasrahan di atas salib membawa transformasi makna yang radikal. Penderitaan yang semula dipandang sebagai kekalahan dan bentuk penghinaan paling rendah, kini dipahami oleh orang beriman sebagai jembatan menuju kemuliaan abadi. Kehidupan spiritual tidak lagi diukur dari tiadanya penderitaan, melainkan dari bagaimana penderitaan itu ditransformasikan menjadi jalan keselamatan.
Tanda Penghormatan dan Kesadaran Diri
Sebagai bentuk pengejawantahan iman sehari-hari, penghormatan terhadap salib diwujudkan melalui gestur yang sarat makna. Bagi umat Katolik, membuat tanda salib bukan sekadar ritual rutin, melainkan sebuah tindakan reflektif yang membawa kesadaran mendalam akan identitas diri sebagai ciptaan yang telah ditebus.
Melalui tanda salib yang dilakukan dengan penuh hormat, ingatan kolektif umat terus diperbarui akan murni dan sucinya kasih yang tercurah di Kalvari. Pengorbanan tersebut menjadi pengingat abadi bahwa di atas kayu salib itu, keselamatan manusia telah digenapi dengan sempurna.
(Sumber: Pastor Pius Heljanan, MSC, sebagai Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku)


