Minggu, 13 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Menjaga Kedalaman Hati di Tengah Riuk Dunia

Panggilan Menghidupi Sabda: Refleksi Kasih dan Ketaatan Nyata

​Oleh: Johanis Kopong

Baca juga: Revitalisasi Ekonomi Kerakyatan: Pemprov Papua Fokuskan Pemberdayaan UMKM di Daratan Biak Melalui Pelatihan Koperasi

Kepulauan Tanimbar | suaraanaknegeri.com – Sabtu, 12 September 2026

​Kehidupan manusia modern kerap dihadapkan pada godaan untuk menempatkan pencapaian material di atas segalanya. Dalam permenungan spiritual hari ini, umat diajak untuk kembali mengevaluasi arah dan prioritas hidup agar tidak terjebak dalam riuk kemewahan duniawi yang fana.

Menempatkan Tuhan di Atas Segala-galanya

Baca juga: Kasih Tanpa Syarat: Meniti Keheningan Sabda bersama RD. Domincs Baldawins Masriat di UST Manila

​Di tengah kejaran kekuasaan, materi, dan kenikmatan, sering kali mata hati perlahan tertutup dari kehangatan kasih Ilahi. Peringatan mendalam disampaikan agar setiap insan tidak membiarkan hal-hal duniawi menggeser posisi Tuhan sebagai pusat kehidupan.

“Hendaklah kita berusaha agar jangan menjadikan hal-hal duniawi sebagai hal yang utama dalam hidup kita. Ingat bahwa Tuhan harus di atas segala-galanya. Dengan kata lain, jangan sampai kekuasaan, uang, dan kenikmatan duniawi menutup hati kita pada persatuan dengan kasih Allah,” ungkap RD. Dominics Baldawins Masriat.

Kehadiran Nyata dalam Sakramen Ekaristi

​Persatuan dengan Sang Pencipta bukan sebatas konsep abstrak, melainkan dihidupi secara nyata melalui perayaan Sakramen Ekaristi. Mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus menjadi sarana rohani bagi umat untuk menyatu dengan Tubuh dan Darah Kristus.

“Ketika mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus (Ekaristi), seseorang menyatu secara riil dengan Tubuh dan Darah Kristus yang menyelamatkan dan membahagiakan. Oleh karena itu, hadirlah selalu dalam Ekaristi agar kita dipersatukan dengan Kristus dan diberikan jaminan keselamatan,” tuturnya.

Pancaran Kebajikan dari Dalam Hati

​Kualitas tindakan moral seseorang pada hakikatnya merupakan cerminan dari kondisi batinnya. Hati yang telah diperbarui oleh kasih Allah secara alami akan memancarkan ketulusan, kebaikan, dan kebenaran dalam kehidupan bermasyarakat.

“Perbuatan moral luar selalu bersumber dari perbendaharaan hati. Dengan kata lain, apa yang dilakukan selalu menggambarkan hati seseorang. Oleh karena itu, kita berusaha agar selalu menyatukan hati kita dengan kasih Tuhan. Hal ini penting karena hati yang disatukan dan dibaharui oleh kasih Tuhan akan secara alami memancarkan kebajikan, kebaikan, dan kebenaran,” lanjutnya.

Keteguhan Iman di Tengah Badai Hidup

​Iman yang sejati tidak cukup hanya berhenti pada pengakuan lisan atau pemahaman intelektual semata. Diperlukan tindakan nyata dan ketaatan penuh pada ajaran Kristus agar fondasi kehidupan spiritual berdiri kokoh saat menghadapi gelombang godaan dan krisis.

“Iman tidak cukup berhenti pada pengakuan lisan atau wawasan intelektual. Ketaatan nyata pada ajaran Kristus adalah bukti imannya hidup. Oleh karena itu, kita harus menghidupi sabda Kristus dalam tindakan nyata agar fondasi iman kita menjadi kokoh. Ketika badai krisis, penderitaan, atau godaan moral datang, orang beriman yang taat tidak akan goyah,” tegas RD. Dominics Baldawins Masriat mengakhiri pesannya.

​Sebagai penutup permenungan ini, doa sederhana dipanjatkan agar setiap hati senantiasa dianugerahi kekuatan iman: “Ya Allah, berikanlah kekuatan iman kepada kami.”

​(Sumber: Keterangan ini disampaikan oleh RD. Dominics Baldawins Masriat sebagai Pastor Mahasiswa di UST Manila – Filipina, bertempat di Central Seminary UST Manila, Filipina.)

Kategori:
Tags:

Terkini