Kamis, 10 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Dari Bung Karno ke Megawati: Kisah Ayah dan Anak Penyiar

Kim, Young Soo, Penyair Korea Selatan

Saya, Kim Young Soo pernah bekerja di dunia penyiaran selama kurang lebih tiga puluh tahun lamanya. Tugas dan tanggung jawab saya di dunia penyiaran adalah memproduksi program sebagai produser serta mengurus dan mengontrol siaran-siaran berbahasa untuk wilayah Asia Tenggara, termasuk bahasa Vietnam, Siaran Internasional, KBS (Korean Broadcasting System), satu-satunya badan penyiaran nasional Korea Selatan, sebagai chief producer (CP). Karena saya adalah seorang produser dan berpartisipasi langsung dalam siaran bahasa Indonesia, suara saya setiap hari, dipancarkan melalui siaran gelombang pendek KBS Radio, Internet, radio FM lokal untuk wilayah Asia Tenggara, terutama untuk wilayah Indonesia.

Baca juga: SMAN 2 MANOKWARI BEKERJA SAMA DENGAN BPMP PAPUA BARAT MENINGKATKAN KUALITAS PENGELOLAAN SEKOLAH

Seperti ungkapan, “meskpun salju turun, atau hujan turun, tiga ratus enam puluh lima hari sepanjang tahun tanpa menghiraukan kondisi apapun”, suara saya tetap berkunjung ke tempat-tempat pendengar setiap hari, tak cepat atau tak lambat melalui waktu dan frekuensi yang ditentukan sesuai dengan jadwal siarannya. Melalui siaran, saya berusaha keras untuk menyampaikan “masyarakat Korea dan negara Korea hari ini yang sebenarnya” secara nyata dan tepat. Di sisi lain, saya melakukan persaingan tak terbatas dengan badan-badan penyiaran raksasa negara lain untuk melancarkan ‘perang frekuensi yang tak terlihat’. Perang frekuensi di mana yang lebih kuat daya pemancarannya menguasai dunianya, bertujuan untuk melindungi kepentingan nasional masing-masing. Oleh karena itu, selama tiga puluh tahun di dunia penyiaran, saya mencurahkan usaha saya sebagai penjaga untuk melindungi serta mengutamakan kepentingan nasioanl Korea Selatan.

Sehubungan dengan karir saya di dunia penyiaran yang tak begitu pendek, secara alamiah mengalami berbagai episode yang berkaitan dengan siaran. Banyak hal yang sudah terlupakan, tapi masih ada juga yang teringat seperti kemarin.

Episode yang paling teringat adalah terkait dengan ayah angkat saya, almarhum Bapak Sudjarwo bin Kastaredja (1925-2013) berlandaskan jalinan penyiarannya. Pada awal 1980-an, saya pernah tinggal di rumah beliau, jalan Radio Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta selama tiga bulan. Bapak Sudjarwo, seorang senior, angkatan pertama di dunia penyiaran Indonesia, pernah memegang jabatan kepala bagian pemberitaan pertama RRI (Radio Republik Indonesia. Pak Sudjarwo lahir di Surabaya dan besar di Jombang. Keluarganya terdiri dari Ibu, enam anak perempuan, dan satu anak laki-laki.

Baca juga: Ketika Buku Menjadi Pelita: Dua Srikandi SMP Negeri 2 Padang Menyalakan Api Literasi dari Panggung Nasional

Sambil menginap di rumah beliau, saya mulai ikut latihan penyiaran di RRI. Di antara anak-anaknya, saya paling tua, secara otomatis saya mulai bertindak sebagai anak sulung di rumah itu. Ketika saya pergi keluar, beliau selalu bertanya secara teliti, siapa yang saya akan temui, jam berapa saya akan pulang rumah, makan siang apa dan lain-lain. Lama-lama, saya mendampingi ayah angkat, Pak Sudjarwo untuk menghadiri berbagai acara dan upacara keluarga besar beliau. Melalui kehadiran itu, saya mendapati pengalaman berharga di kehidupan orang Indonesia khususnya suku Jawa seperti sunatan, pernikahan, pemakaman, dan selamatan. Dan hampir setiap malam, ayah angkat saya mengajar huruf bahasa Jawa (hanacaraka), aksiologi suku Jawa, agama Islam, sejarah Indonesia, misalnya Mataram, Sriwijaya, Sailendra dan masa depan bangsa dan negara Indonesia. Saya dan ayah angkat saya hampir semalam suntuk berdiskusi segala hal secara mendalam dan luas. Di antara semua orang Indonesia yang pernah saya temui sampai sekarang, saya belum pernah bertemu orang yang memiliki pengetahuan seluas ayah angkat saya — baik tentang Indonesia, tentang segala bidang ilmu, maupun tentang segala urusan dunia. Puisi ayah angkat saya waktu itu dikirim kepada ayah saya di Korea Selatan untuk membuat lagu. Sayang sekali, note balok itu sudah hilang, tapi masih ingat judul puisinya yakni (Pantai Sanur).

Adegan yang masih saya ingat adalah pada suatu hari waktu hujan, saya duduk di atas genteng untuk memperbaiki atap rumah yang bocor di gang Radio Dalam, Kebayoran Baru. Tetangganya melihat saya sambil tertawa. Ibu Sudjarwo bilang, “ini anakku dari Korea Selatan”. Semuanya berbahak-bahak. Ibu angkat saya, hampir setiap kali waktu makan, tak lupa menyajikan lalapan, karena beliau orang Sunda. Lama-lama akhirnya saya mengeluh “Bu, saya bukan kambing”. Ibu Sudjarwo terbahak. Hampir setiap hari, saya dan adik-adik suka makan jajan. Waktu itu orang Jakarta suka makan jagung bakar. Kami juga begitu. Pada malam harinya, kami mendatangi kuburan umum, karena penjual jagung bakar ada di situ. Sebenarnya, jagung bakar itu enak sekali.

Hubungan antara saya dengan ayah angkat saya, Pak Sudjarwo, semakin mendalam. Alamat e-mail yang saya pakai sekarang, yakni (soekiman@hanmail.net) adalah nama laki-laki Indonesia yang diberikan oleh ayah angkat saya, Bapak Sudjarwo. ‘Soe’ ambil dari nama saya sendiri, Young Soo, ‘Ki’ dari nama marga saya, Kim, dan ‘man’ berarti laki-laki dalam bahasa Indonesia. Waktu diberikan nama ‘Soekiman’, beliau mengatakan, pejabat-pejabat tinggi dan orang-orang terkenal di Indonesia ada banyak orang yang bernama ‘Soekiman’. Beliau menegaskan, harus pakai ejaan lama, ‘Soekiman’, tak boleh diubah atau diganti ejaannya. Tapi, lama-lama saya tahu, ada juga tukang becak di Jakarta, namanya ‘Soekiman’.

Waktu saya pulang ke Korea setelah selesai latihan penyiaran di RRI, beliau mengantarkan saya ke lapangan terbang Halim Perdana Kusma. Sesaat sebelum berpisah, beliau mengatakan “Selamat jalan anandaku,” sambil bercucuran air mata. Saya juga sampaikan ucapan “Selamat tinggal ayahanda saya. Semoga tetap sehat walafiat,” saya juga menangis tersedu-sedu.

Sebagai wartawan RRI yang mengontrol warta berita, ayah angkat saya, Bapak Sudjarwo pernah berwawancara dengan Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno pada tahun 1965 di Istana Negara, Jakarta.

Namun entah kebetulan atau memang sudah menjadi takdir, seperti ayah angkat saya, saya pun pernah melakukan wawancara tunggal dengan Presiden Republik Indonesia, Ibu Megawati Soekarnoputri, anak perempuan Bung Karno. Tepat 37 tahun setelah ayah angkat saya mewawancarai Presiden Ir. Soekarno, pada bulan Maret 2002, saya mewawancarai Presiden Ibu Megawati Soekarnoputri — putri Presiden Soekarno — di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Seoul, setelah beliau menyelesaikan kunjungan ke Korea Utara dan melakukan kunjungan resmi ke Korea Selatan.

Mungkin dalam sejarah penyiaran dunia, kasus di mana seorang ayah angkat dan anak angkatnya masing-masing mewawancarai dua presiden yang juga merupakan ayah dan anak perempuan dipandang sebagai peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dan diperkirakan tidak akan pernah terulang kembali.

Ayah angkat saya, Bapak Sudjarwo telah beristirahat abadi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kali Bata. Pada bulan November 2023, saya dan seorang teman saya berkesempatan ke Indonesia untuk mengadakan ceramah di perguruan tinggi di kota Bandung. Sebelum berangkat ke Bandung, saya menengok sebentar ibu angkat saya, Bu Sudjarwo yang sudah lanjut usia dan kondisi jasmaninya juga kurang baik. Beliau yang duduk di kursi roda, menyambut hangat saya dengan gaya keibuan, tetap ingat saya, anak sulung beliau. Dalam suasana terharu, saya memberikan salam hormat dengan membungkukkan badan saya, seperti gaya tradisional Korea. Setelah itu, kita bersama-sama ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kali Bata untuk bertemu dengan ayah angkat saya tercinta dan terhormat, Almarhum Bapak Sudjarwo.

Melalui kesempatan ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya sebagai seorang anak angkat, bahwa pada tanggal 11 September 2025, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun RRI (Radio Republik Indonesia), Direktur Utama RRI, Bapak Hendrasmo, beserta stafnya, telah berkenan mengunjungi makam ayah angkat saya, almarhum Bapak Sudjarwo, di TMP Kalibata sebagai tanda penghormatan.

Hingga saat ini, saya telah berusaha sekuat tenaga untuk tidak mencemarkan nama Sudjarwo dan akan tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga nama baik itu di masa mendatang.

Sokcho, Korea Selatan 10 September 2026,

Kim, Young Soo

Kategori:
Tags:

Terkini