Senin, 14 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Menatap Meja Makan yang Kosong: Refleksi di Balik Riuh Program Makan Bergizi Gratis

Menatap Meja Makan yang Kosong: Refleksi di Balik Riuh Program MBG (Makan Bergizi Gratis)

Esai:  Romy Sastra

Baca juga: Ketika Padel Mempertemukan dua Generasi

Suara bising perkotaan siang malam kalah riuh oleh obrolan para pedagang kaki lima di sudut trotoar sambil kelakar berlagak pintar. Di sana, di antara aroma minyak goreng, pedagang yang tengah memasak menu jajanan, pedagang sayur mayur, dan pedagang pakaian bergelut dengan debu jalanan. Saya rakyat kecil bertanya kepada pemerintah dan pengusaha yang turut bermain politik, bagaimana hidup rakyat ini kian hari terasa kian menjerit. Antara pedagang dan pembeli sama-sama berada di suasana pemikiran, kenapa daya jual beli kok sepi?

Sebagai bagian dari mereka, saya tidak sedang ingin mendiskreditkan siapa pun. Tulisan ini lahir murni dari rasa peduli dan keprihatinan yang mendalam, sebuah refleksi jujur dari sudut pandang masyarakat bawah yang menyaksikan langsung denyut nadi perekonomian bangsa yang kian melemah.

Belakangan ini, perhatian kita semua bolehlah jujur, kita tersedot oleh mega proyek ambisius pemerintah: program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (KopDes). Di atas kertas, program-program ini tampak indah dan mulia. Namun, dari balik gerobak dan lapak dagangan, realitas yang terlihat justru sebaliknya. Kita menyaksikan bagaimana efisiensi anggaran dipaksakan di segala lini. Anggaran sektor lain dipotong, beban pajak rakyat ditingkatkan, semua demi menyuntik dana ke program yang ternyata tak pernah benar-benar cukup. Ironisnya, untuk menutupi lubang besar itu, negara terpaksa terus menumpuk hutang yang kian membengkak, ironis.

Baca juga: Dinamika Identitas dan Hak Kolektif: Membedakan Konsep Orang Asli Papua dan Masyarakat Adat dalam Perspektif Hukum dan Sosiologi

Sebagai rakyat, saya termenung dan bertanya dalam hati yang terdalam dengan penuh kesadaran: sudahkah program MBG ini dikaji dengan matang? Ketika melangkah ke lapangan, sebuah pemandangan miris kerap mengusik nurani. Alih-alih melahirkan generasi emas, kita justru sering melihat sisa menu makanan terbuang mubazir di mana-mana yang ada rasa cemas.

Lebih jauh lagi, kita disuguhi berita pilu tentang kasus keracunan massal di beberapa daerah akibat menu yang tidak layak masak, hingga gangguan pada kegiatan belajar-mengajar. Asupan yang diharapkan mencerdaskan anak sekolah kerap menjadi petaka. Apakah itu sabotase? Perlu tinjauan ke dapur-dapur MBG tersebut, pun tak kalah khawatir MBG terhadap lansia, dan ibu hamil, lebih berisiko dengan asupan yang kasusnya sama terhadap anak sekolah, justru berubah menjadi risiko kesehatan yang fatal akan keberlangsungan program.

Refleksi saya membawa pada satu kesimpulan pahit: program ini goyah karena sejak awal tidak dirancang dengan matang. Alih-alih membawa manfaat bagi sasaran utamanya, program MBG sudah terjebak ke lumpur konflik keuangan pemerintah, dan juga KopDes dikhawatirkan akan menjelma menjadi ladang subur baru bagi konflik kepentingan dan praktik korupsi yang memilukan.

Sangat ironis ketika mendengar kabar penangkapan para pengelola di lapangan secara terstruktur. Anggaran besar itu bocor di tengah jalan, dinikmati oleh segelintir oknum yang memanipulasi keadaan. Jika sistem ini terus dipertahankan, saya khawatir keuangan negara akan keropos, berujung chaos. Bangunan-bangunan KopDes yang dipaksakan tanpa eksperimen matang berisiko mangkrak, dan bangunan-bangunan KopDes tersebut menjelma menjadi “candi-candi rusak” yang tak berpenghuni di ribuan desa. Semestinya kita optimis, tapi program-program pemerintah yang digadang-gadangkan kenapa terjadi ironis? Melahirkan fatalis.

Sebenarnya, ada jalan yang lebih sederhana dan minim birokrasi jika pemerintah mau melihat dengan kepala dingin dan hati yang jernih. Masa depan generasi bangsa ini tidak dimulai dari dapur umum yang dikelola birokrat, melainkan bermula dari meja makan di rumah mereka sendiri. Orang tua siswalah yang paling tahu apa yang dibutuhkan oleh anak-anak mereka tentang gizi.

Pandangan saya, mengapa pemerintah tidak mengalokasikan anggaran raksasa tersebut dalam bentuk bantuan dana tunai langsung kepada orang tua siswa? Solusi ini jauh lebih efisien, memangkas rantai birokrasi, dan menutup celah penyelewengan korupsi. Masa depan anak-anak akan futuristic dan cemerlang jika ekonomi keluarga mereka diperkuat. Dalam hal ini, terbukanya lapangan kerja yang luas, ketika orang tua mereka memiliki penghasilan yang layak, kesehatan keluarga akan terjaga secara mandiri, dan ekonomi rakyat akan hidup serta berkelanjutan secara alami.

Memang tidak ada salahnya sebuah program lahir dari janji kampanye. Namun, seorang pemimpin yang terpuji adalah mereka yang berani mengevaluasi diri ketika kebijakannya ternyata tidak populer dan terjadi banyak konflik di dalamnya atau belum layak diterapkan secara nasional. Sebagai langkah awal, alangkah bijaksananya jika program seperti MBG ini diuji coba terlebih dahulu di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Jika berhasil di sana, barulah dikembangkan secara bertahap ke skala yang lebih besar.

Kini, bola salju itu terus menggelinding, memicu riak-riak ketidakpuasan yang mengancam kestabilan sosial dan menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah. Sudah saatnya pemerintah, khususnya Presiden selaku ujung tombak kepemimpinan, bertindak cepat untuk menurunkan ego. Menghentikan atau mengkaji ulang sebuah program yang terbukti menguras anggaran dan meresahkan perekonomian bangsa.

Introspeksi atau pun evaluasi antara manfaat dan lebih banyak mudharat, lebih baik hentikan! Tindakan legowo bukanlah sebuah kekalahan. Sebaliknya, itu adalah tindakan yang sangat gentleman dan terhormat demi menyelamatkan masa depan bangsa ini.

Jakarta, 1 September 2026

—–

Tentang Penulis – Romy Sastra


Romy Sastra penulis penyair berdarah Minang berdomisili di Jakarta Barat. Telah menerbitkan tiga buku puisi tunggal (Tarian Angin 2019, Alegori 2023, Heraldik Berwajah Seribu 2025). Karya-karyanya tergabung di 150 lebih antologi buku puisi bersama. Romy Sastra peraih anugerah puisi terbaik 2023 media apajake, dll. Nama Romy Sastra tergabung di buku besar “Apa dan Siapa Penyair Indonesia, edisi Yayasan Hari Puisi Indonesia 2019

Kategori:
Tags:

Terkini