Oleh : Akaha Taufan Aminudin
–
SATUPENA BATU — SUARA ANAK NEGERI| Pentas Silaturahmi Musik Literasi di Zync Space and Cafe, Kota Batu, Sabtu malam, 12 September 2026, menjadi ruang perjumpaan musisi, penyair, pegiat literasi, komunitas seni, dan penikmat kebudayaan dari berbagai daerah.
Baca juga: Jumat Aksi Seni 11 September, FPS-TIM Angkat Isu Seni dan Kebebasan Berekspresi
Sebanyak 15 penampil hadir dari Batu dan Malang, Pekalongan, Batang, Yogyakarta, Jakarta, Dayak Kalimantan hingga Gayo Aceh. Mereka membawakan musik, puisi, musikalisasi puisi, sastra, dan pertunjukan lintas disiplin.
Para penampil tersebut adalah Senja Kala, Selumpring, Cahaya Kecil, Joel Tampeng, Herman Aga, Raudal Tanjung Banua, Untung Basuki feat. Aisyka, Institut Sapek Dayak Yogya, Punden Musik Puisi, Ben Lazuardi, Agik Kiswanto, Abror Y Prabowo, DS Priyadi, Barasua, dan Gus Yasin.
Baca juga: KUCUCI OTAKKU
Keragaman menjadi kekuatan utama pentas. Setiap seniman membawa karakter dan pengalaman masing-masing, sementara Batu menjadi salah satu simpul perjalanan acara yang sebelumnya menyambangi Blora, Pati, Rembang, dan Batang.
Seni
Batu Jadi Titik Temu Seni Lintas Kota 1
Dari Musik hingga Tradisi Dayak
Istilah “musik literasi” dalam kegiatan ini memiliki makna luas. Musik menjadi pintu masuk, sementara puisi, sastra, tradisi, dan pengalaman kebudayaan turut hadir.
Joel Tampeng dan Herman Aga membawakan puisi WS Rendra, “Blues untuk Bonnie”, dengan iringan gitar dan nuansa blues. Dari Yogyakarta, Untung Basuki feat. Aisyka menghadirkan musik puisi, sedangkan Institut Sapek Dayak Yogya membawa sape dan khazanah Dayak.
Dari Batang hadir Punden Musik Puisi, sementara Abror Y Prabowo dan DS Priyadi memperkaya unsur sastra serta eksperimentasi bunyi.
Para seniman dari Batu dan Malang membawa warna lokal yang berinteraksi dengan penampil dari luar daerah. Pertemuan itu menjadikan panggung seperti “prasmanan kebudayaan”: beragam sajian dalam satu meja.
Membangun Ekosistem Seni
Nilai pertunjukan tidak hanya terletak pada penampilan di panggung, tetapi juga pada kemungkinan kolaborasi dan jejaring baru yang lahir dari perjumpaan.
Herman Aga, pegiat budaya Kota Batu, menilai ruang seni alternatif penting bagi ekosistem kebudayaan.
“Zync Cafe bukan sekadar tempat bertemu, melainkan ruang persinggahan bagi talenta-talenta muda, ladang yang menumbuhkan benih kreativitas baru bagi Kota Batu dan Indonesia,” ujarnya.
Seni
Batu Jadi Titik Temu Seni Lintas Kota 2
Menurut Herman, Pentas Silaturahmi Musik Literasi merupakan gerakan untuk membangun ekosistem seni yang hidup, berkembang, dan produktif.
Zync sebagai Rumah Bersama
Bagi Aris Setiawan, selaku tuan rumah, kegiatan tersebut menjadi momentum memperkenalkan Zync Space and Cafe sebagai ruang alternatif seni dan kebudayaan.
“Yakinlah tempat ini adalah rumah kita bersama—ruang untuk berekspresi dan berkarya demi kemajuan Kota Batu tercinta,” ujar Aris.
Malam itu, Zync telah menjalankan fungsi penting ruang kebudayaan: mempertemukan manusia dan gagasan. Musisi bertemu penyair, seniman lokal bertemu seniman luar kota, dan tradisi berjumpa dengan eksperimentasi.
Silaturahmi sebagai Cara Berkebudayaan
Silaturahmi dalam kegiatan ini bukan sekadar basa-basi sosial, melainkan cara bekerja dalam kebudayaan: datang, bertemu, mendengar, berbagi, dan membuka kemungkinan untuk berjalan bersama.
Perbedaan bentuk kesenian justru menjadi kekuatan. Musik folk bertemu blues, musik puisi berdampingan dengan soundscape, sementara tradisi sape hadir di tengah pergaulan seniman kontemporer.
Pentas ini menjadi ruang laboratorium kebudayaan yang mempertemukan berbagai pengalaman secara langsung.
Perjalanan Berlanjut
Rangkaian Pentas Silaturahmi Musik Literasi direncanakan berlanjut ke Samarinda, Tenggarong, dan Bontang, sebelum Yogyakarta menjadi salah satu titik puncak pada akhir 2026.
Baca Juga: Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Kota Batu Capai 4,4 Juta Jiwa
Jejaring tersebut tidak berhenti pada satu malam dan satu kota. Batu menjadi simpul pergaulan kesenian yang menghubungkan komunitas, pengalaman, dan tradisi.
Pada akhirnya, yang tersisa bukan hanya ingatan tentang penampil atau karya yang dibawakan, melainkan perjumpaan dan kemungkinan baru: persahabatan, gagasan, perjalanan, dan karya.
Malam itu, Batu bukan sekadar lokasi pertunjukan. Kota Batu menjadi titik temu Musik Sastra dan Budaya.
Senin, 14 September 2026
Akaha Taufan Aminudin
SATUPENA JAWA TIMUR


