Diskusi Serial Esoterika ke-70
Bersama:
Budhy Munawar Rachman
Elga J Sarapung
Zakaria J Ngelow
Selasa, 28 April 2026
19:00-21.00
Link Zoom:
Baca juga: Bilingual Poems on Happy World Book Day 2026 by Leni Marlina, Anto Narasoma and Ramli Djafar
https://s.id/Esoterika70
atau
https://us02web.zoom.us/j/89073922560?pwd=uScUhnQ2LdwOAC2arWZyT5Epv0ZEFX.1
Baca juga: Sukses Festival Pantun ASEAN, Penyala Literasi Semesta Siap Gelar PIL-Fest 2026
Meeting ID: 890 7392 2560
Passcode: diskusi70
Sinopsis Diskusi
Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian pembacaan buku Delapan Tokoh Gerakan Pluralisme Indonesia yang bertujuan menggali pemikiran tokoh-tokoh kunci dalam gerakan pluralisme di Indonesia. Sesi pertama akan membahas Th. Sumartana, seorang teolog Protestan dan pendiri Interfidei yang memiliki kontribusi besar dalam mengembangkan dialog antariman di Indonesia.
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Selasa, 28 April 2026 pukul 19.00 WIB sebagai ruang refleksi bersama atas makna pluralisme dalam kehidupan berbangsa.
Pemikiran Th. Sumartana berangkat dari kesadaran bahwa kemajemukan agama dan kepercayaan merupakan realitas yang tidak dapat dihindari, sekaligus harus dimaknai secara konstruktif. Ia melihat pluralisme bukan sekadar pengakuan atas perbedaan, tetapi sebagai proses aktif untuk mengelola perbedaan tersebut menjadi kekuatan bersama demi terwujudnya keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian. Dalam kerangka ini, agama tidak boleh berhenti pada klaim kebenaran, melainkan harus hadir sebagai kekuatan yang membebaskan dan memanusiakan.
Salah satu kontribusi penting Sumartana adalah pengembangan gagasan dialog antariman sebagai jalan damai dalam menghadapi potensi konflik berbasis agama. Dialog dipahami bukan hanya sebagai percakapan, tetapi sebagai praksis hidup bersama yang menuntut keterbukaan, kesediaan belajar, dan keberanian untuk melampaui batas-batas eksklusivisme.
Melalui Interfidei, ia mendorong perjumpaan lintas iman yang kritis, reflektif, dan berorientasi pada transformasi sosial.
Diskusi ini juga akan menyoroti relevansi pemikiran Sumartana dalam konteks Indonesia saat ini, di mana pluralisme sering menghadapi tantangan seperti politisasi agama, intoleransi, dan konflik identitas. Dengan membaca kembali gagasannya, peserta diajak untuk melihat bagaimana pluralisme dapat menjadi fondasi etis dan sosial dalam membangun kehidupan bersama yang lebih adil dan damai, bukan sekadar slogan normatif.
Melalui diskusi ini, diharapkan peserta tidak hanya memahami pemikiran Th. Sumartana secara konseptual, tetapi juga terdorong untuk merefleksikan dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, diskusi ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang harus dikelola secara dialogis demi masa depan Indonesia yang inklusif dan berkeadaban.



