Sabtu, 31 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

ANA MARIA RENWARIN: PESPARANI BUKAN SEKADAR ARENA LOMBA, MELAINKAN RUANG MERAWAT KEBERSAMAAN DAN KESETARAAN

“Ketua Kontingen Kabupaten Kepulauan Yapen berharap dukungan pemerintah daerah terhadap umat minoritas semakin nyata, serta komunikasi dan koordinasi panitia Pesparani terus diperkuat.”

BIAK, PAPUA – SUARA ANAK NEGERI | Di balik setiap perlombaan, ada harapan yang tidak selalu tercatat dalam daftar perolehan medali. Di balik setiap penampilan, ada kerinduan untuk dihargai, diperhatikan, dan diterima sebagai bagian yang utuh dari kehidupan bersama. Itulah pesan yang disampaikan Ketua Kontingen Kabupaten Kepulauan Yapen, Ana Maria Renwarin, S.Pd., ketika menyampaikan refleksi dan harapannya terhadap penyelenggaraan Pesparani II Tingkat Provinsi Papua di Biak.

Bagi Ana Maria, Pesparani tidak semestinya berhenti pada panggung perlombaan, kemenangan, ataupun penghargaan. Lebih dari itu, kegiatan ini harus menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, membangun solidaritas, dan menumbuhkan semangat saling mendukung di antara umat.

Baca juga: BENARKAH STATUS BENCANA NASIONAL BISA MEMBEBASKAN KONGLOMERAT DARI JERAT HUKUM KEBAKARAN HUTAN?

Ia berharap kebersamaan yang terbangun selama Pesparani dapat terus hidup setelah seluruh rangkaian kegiatan berakhir. Sebab, nilai terbesar sebuah perjumpaan bukan hanya terletak pada apa yang dipertandingkan, melainkan pada hubungan persaudaraan yang tetap terpelihara ketika semua peserta kembali ke daerah masing-masing.

Minoritas juga membutuhkan perhatian dan kehadiran

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Yapen, Ibu Adolina Wopi, S.Th, sejak dari Yapen menumpang KM. Sabuk 58 sampai pada Acara Penutupan Pesparani II Provinsi Papua di Biak dengan setia mendampingi kontingen dari Kabupaten Yapen. Sebuah komitmen luar biasa bagi tim yang hadir dengan jumlah peserta sedikit.

Baca juga: KETIKA SUARA MENJADI DOA: KEEROM MENGGEMA DI PUNCAK MAZMUR DEWASA PESPARANI II PAPUA

Salah satu harapan yang disampaikan Ana Maria secara khusus ditujukan kepada pemerintah daerah. Ia berharap pemerintah semakin memberikan perhatian kepada umat Katolik sebagai bagian dari kelompok minoritas, termasuk dengan menunjukkan dukungan melalui kehadiran dalam kegiatan keagamaan dan pembinaan umat.

Menurutnya, dukungan pemerintah tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk alokasi anggaran. Kehadiran seorang kepala daerah atau perwakilan pemerintah dalam sebuah kegiatan pun memiliki makna yang sangat besar bagi umat.

“Kami berharap pemerintah daerah lebih mendukung kami. Jangan hanya melihat yang mayoritas, tetapi minoritas juga perlu diperhatikan dan didukung. Tidak harus selalu dengan anggaran dana. Kehadiran pemerintah saja sudah menjadi kebanggaan bagi kami,” ungkapnya.

Ana Maria mengakui bahwa pemerintah daerah tentu memiliki berbagai kesibukan dan agenda pemerintahan. Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan yang selama ini telah diberikan. Namun, ia berharap perhatian tersebut dapat semakin ditingkatkan agar seluruh kelompok masyarakat merasakan kehadiran pemerintah secara setara.

Ia mencontohkan kehadiran kepala daerah dari kabupaten lain yang datang memberikan dukungan kepada kontingennya. Pemandangan tersebut, menurutnya, menjadi penyemangat tersendiri bagi para peserta sekaligus menghadirkan kerinduan agar kontingen Kepulauan Yapen juga memperoleh perhatian serupa.

Sebab, bagi sebuah kontingen, kehadiran pemimpin daerah bukan sekadar kunjungan seremonial. Ada pesan moral yang dibawa: bahwa perjuangan para peserta diperhatikan, bahwa identitas mereka dihargai, dan bahwa mereka tidak berjalan sendirian.

Komunikasi panitia menjadi pekerjaan rumah bersama

Selain dukungan pemerintah, Ana Maria juga menaruh perhatian pada penyelenggaraan kegiatan, terutama komunikasi dan koordinasi antara panitia tingkat provinsi dan panitia kabupaten.

Ia mengakui bahwa komunikasi sebenarnya telah berjalan. Namun, berdasarkan pengalaman dan pengamatan selama kegiatan, masih ada beberapa hal yang menurutnya perlu diperbaiki agar koordinasi semakin terbuka, terpadu, dan efektif.

Baginya, panitia provinsi dan panitia kabupaten merupakan bagian dari satu kesatuan penyelenggaraan. Karena itu, keduanya perlu membangun pemahaman bersama, sehingga setiap persoalan teknis maupun administratif dapat dikomunikasikan tanpa menimbulkan kesalahpahaman.

“Harapan kami, ke depan komunikasi antara panitia kabupaten dan provinsi lebih ditingkatkan. Panitia di sana dan di sini harus bisa bekerja sama dengan baik. Kalau ada hal-hal yang dirasakan kurang, semuanya menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan berikutnya,” tuturnya.

Ia juga memahami bahwa dalam sebuah kegiatan besar yang melibatkan banyak daerah, perbedaan pandangan dan persoalan teknis merupakan hal yang mungkin terjadi. Namun, pengalaman tersebut semestinya tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan bahan pembelajaran untuk memperbaiki tata kelola kegiatan.

Dari perlombaan menuju persaudaraan

Harapan Ana Maria Renwarin sesungguhnya melampaui urusan teknis penyelenggaraan. Ia menginginkan agar Pesparani menjadi ruang yang menghadirkan kesetaraan, bukan hanya dalam kesempatan mengikuti perlombaan, tetapi juga dalam perhatian, penghargaan, dan dukungan.

Sebab, sebuah perhelatan keagamaan akan kehilangan sebagian maknanya apabila hanya merayakan mereka yang menang, tetapi melupakan mereka yang datang dengan segala keterbatasan dan pengorbanan.

Pesparani II Papua di Biak pada akhirnya bukan semata-mata tentang siapa yang membawa pulang medali emas, perak, atau penghargaan lainnya. Ia juga tentang bagaimana setiap kontingen pulang dengan pengalaman persaudaraan, semangat pelayanan, dan keyakinan bahwa setiap umat memiliki tempat yang sama dalam kehidupan bersama.

Dari Kepulauan Yapen, Ana Maria menitipkan sebuah pesan sederhana, tetapi bermakna: jangan biarkan perbedaan jumlah menjadi alasan untuk membedakan perhatian. Jangan biarkan status minoritas membuat sebuah komunitas merasa berjalan sendiri.

Karena dalam rumah besar persaudaraan, setiap orang berhak memperoleh tempat, setiap suara pantas didengar, dan setiap kehadiran layak dihargai.

Itulah harapan yang ingin dibawa pulang oleh Kontingen Kabupaten Kepulauan Yapen: bahwa setelah lagu-lagu pujian berhenti berkumandang dan panggung perlombaan kembali sunyi, persaudaraan tetap menyala dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kategori:
Tags:

Terkini